<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129</id><updated>2012-02-11T09:03:17.833+07:00</updated><category term='Gallery'/><category term='Puisi'/><category term='Diary'/><category term='Pendidikan'/><category term='Informasi'/><category term='Agama'/><category term='Buku'/><category term='Sosial'/><category term='Cerpen'/><category term='Wacana'/><category term='Renungan'/><category term='Info Lomba'/><title type='text'>jendela habibi</title><subtitle type='html'>di sini aku melihat dunia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>86</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2135342063578684222</id><published>2012-02-11T08:50:00.000+07:00</published><updated>2012-02-11T09:03:17.875+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Jika Rasa Itu Hilang....</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Yi7tcT5Dn4A/TzXJVa3L31I/AAAAAAAAAV4/0s6Ma4O5aFQ/s1600/Image228.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="190" src="http://2.bp.blogspot.com/-Yi7tcT5Dn4A/TzXJVa3L31I/AAAAAAAAAV4/0s6Ma4O5aFQ/s200/Image228.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saat menjadi mahasiswa, saya sering diminta untuk memandu pelatihan mahasiswa. Bagi saya memandu sebuah pelatihan adalah suatu hal yang menyenangkan, karena selain saya dapat mentransfer pengetahuan saya, saya juga dapat belajar lebih banyak hal lagi. Namun ada hal lain yang bersifat eksterna yang membuat saya senang, yaitu saya bisa mengaktualisikan hobi saya: bermain kamera. Dengan kamera saya bisa mengambil gambar peserta (baik berupa video maupun foto). Hasil jepretan dan shoot saya itu kemudian saya edit dan saya tayangkan setelah seremonial penutupan. Wal hasil, para peserta pelatihan pada tertawa melihat gambar-gambar mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;  &lt;br /&gt;Tentulah tidak semua peristiwa dalam pelatihan tersebut bisa saya abadikan. Hanya beberapa peristiwa “yang menarik” saja yang saya ambil seperti penjelasan pemateri yang unik, aktivitas peserta yang bersemangat, saat mereka makan bersama atau saat ada yang tertidur saat pemateri sedang sibuk dengan segudang teori. Bagi saya, peristiwa-peristiwa itu sangat eksotik untuk didokumentasikan dan dikenang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala pasti beda. Itu pula yang dapat saya tarik kesimpulan saat saya mengoprasikan kamera saya. Ekspresi tiap orang berbeda-beda. Jika mau digolongkan, setidaknya ada tiga tipe orang dalam menghadapi kamera. Yang pertama, orang tersebut tidak sadar bahwa dirinya sedang diabadikan dalam sebuah video. Orang seperti ini akan berbuat sesuai dengan kesadaran dia yang alamiah. Yang kedua, orang yang sadar bahwa dirinya sedang diabadikan dengan kamera, namun ia mengacuhkannya, tidak peduli dengan keberadaan kamera tersebut. Sementara yang ketiga adalah orang yang sadar kamera. Ia sadar bahwa ia sedang direkam dan kemudian bertingkah sebaik mungkin agar gambarnya nantinya tidak mengecewakan. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;Saat hasil rekaman itu ditayangkan, berbagai reaksi pun muncul. Seperti yang saya katakan di awal, kebanyakan mereka tertawa. Namun di balik tawa itu ada bermacam rasa yang hadir.  Bagi tipe orang yangpertama, ia mera kaget karena ia baru tahu bahwa sebenarnya saat pelatihan tersebut ada yang mengabadikan tingkah lakunya. Bisa jadi ada rasa kesal pada orang yang mengambil gambar yang tidak bilang-bilang saat mau mengambil gambar. Seandainya saja di tahu, mungkin dia akan bertingkah selayaknya tokoh protagonis. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;Tipe orang yang kedua, dia baru sadar ternyata gambar-gambar dia akan ditayangkan. Dia pun menyesal karena sebenarnya dia tahu, namn dia mengabaikannya. Dan orang yang ketiga dia merasa bahagia, karena gambar yang tayang adalah gambar yang bagus-bagus meski tidak diedit lagi. Dengan demiian dia tidak perlu malu lagi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;Saya ingin menarik keluar sedikit cerita saya di atas. Kemajuan teknologi saat ini sangat pesat. Setiap detik ada penemuan ilmiah yang sangat mengagumkan. Salah satu penemuan yang canggih itu adalah satelit kamera. Satelit ini bisa mengambil gambar dari luar angkasa yang kemudian di transfer ke bumi. Dengan teknologi semacam ini, seseorang bisa mengetahui keberadaan orang lain di muka bumi ini. Alat ini biasanya digunakan untuk mematai-matai orang yang dianggap sebagai musuh. Namun teknologi ini masih kurang jeli, karena seringkali ia kehilangan objek disebabkan oleh siatuasi alam. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;Berbeda dengan teknologi di atas, ada kamera yang merekam dengan sangat detail setiap kehidupan manusia, bahkan sejakk ia masih dalam kandungan. Kamera ini tidak akan rusak dan ia tidak akan salah dalam mengambil gambar. Ia juga tidak terpengaruh dengan posisi objek. Kamera tersebut bisa bernama al-Bashir, al-‘Alim maupun al-Muhith.  Kamera itu adalah “Mata” Allah. Sebagaiman dokumentasi pada pelatihan di atas, hasil rekaman ini juga akan di tayangkan pasca seremoni penutupan kehidupan dunia. Bedanya ia tidak diedit dan hanya sang pemain itu sendirilah yang menyaksikannya. Dengan demikian ia tak perlu malu dengan orang lain. Ia hanya perlu malu kepada dirinya sendiri, dan tentu saja kepada Sang Pembuat video tersebut. jika video pelitahian di atas tidak memengaruhi apakah ia lulus pelatihan atau tidak, sialnya video ini akan sangat memengaruhi kelulusannya. Jika rekamannya baik, maka ia lulus dan berhak untuk tinggal di sebuah istana di surga. Namun jika rekamnnya buruk, ia harus mampir di nereka. Bisa sejenak, bisa lama, bisa juga untuk selama-lamanya. Seratus persen itu tergantung dari cara ia berakting dalam film kehidupan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;Beruntunglah orang yang sadar kamera, karena ia akan merasa terus diawasi. Dengan demikian ia akan bertingkah sebaik mungkin layaknya seorang bintang film layar lebar. Dan kesialanlah bagi orang yang tidak (mau) sadar akan kamera agung Allah. Yang ia dapat hanyalah rasa malu dan penyesalan diri. Lalu bagaimana agar kita tidak malu nanti di hadapan Sang Pengadil? Caranya adalah, miliki rasa malu itu sejak saat masih di dunia ini. Malu kepada diri sendiri, malu kepada orang lain dan malu kepada Allah. Malu jika kita berbuat keburukan. Malu jika kita berakting tidak sesuai dengan keinginan Sang Sutradara. Rasa malu itu yang akan menyelamatkan kita. Rasa malu itu pula yang membuat manusia menjadi terhormat. Jika rasa itu telah hilang, maka manusia akan jatuh dalam lubang kehinaan, manusia akan menjadi seperti binatang, atau bahkan lebih buruk. Jika kamu tidak merasa malu berbuatlah sesukamu, kata Nabi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;Jika kita melihat kondisi bangsa ini tentu kita merasa prihatin. Hampir setiap hari kita disuguhi oleh berita kekerasan yang terjadi di mana-mana. Di sisi lain para penguasa negeri ini berebut kue kekuasan dengan menghalalkan segala cara. Korupsi terjadi dari tingkat pusat sampai tingkat RT. Jika dulu orang merasa malu melakukan kesalahan, sekarang kata malu itu menjadi tabu. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;Adanya korupsi tak lain karena telah hilangnya rasa malu sang koruptor tersebut, baik malu pada diri sendiri, orang lain maupun pada Allah. Selain itu ia juga kehilangan kesadarannya bahwa “kamera” Allah selalu merekamnya. Pun demikian, orang yang membuang sampah sembarangan juga orang yang telah kehilangan rasa malu dan kesadarannya. Itulah mengapa Nabi mengatakan bahwa malu itu separo dari iman. Artinya orang yang telah kehilangan rasa malunya ia telah kehilangan separo imannya. Sedangkan surga hanya untuk orang-orang yang berimana secara sempurna (kamil).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Film apa yang mau kita tonton saat menanti Pengadilan Tertinggi nanti? Apakah film yang berkualitas yang pemainnya bermain sesuai dengan instruksi Sang Sutradara? Atau film yang pemainnya bermain asal-asalan karena tidak  pernah membaca naskah dan mengikuti instruksi Sang Sutradara? Pilihan itu semuanya terserah Anda. Namun sekedar mengingatkan, telah banyak orang yang semula dianggap terhormat harus hancur karir dan kehidupan keluarganya karena “film buruknya” diputarkan oleh Allah di dunia ini.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;Sebagai kata pentup, saya nukilkan doa dari Ali bin Abi Thalib kw. Yang diajarkan kepada Sabahat Kumail: wahai pelindungku, betapa banyak kejelekan yang Engkau tutupi,...., betapa banyak pujian baik yang tidak layak bagiku telah engkau sebarkan,....,janganlah Engkau ungkap dengan pantauan-Mu rahasiaku yang tersembunyi, janganlah Engkau segerakan siksa atas perbuatanku dalam kesendirianku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2135342063578684222?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2135342063578684222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/02/jika-rasa-itu-hilang_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2135342063578684222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2135342063578684222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/02/jika-rasa-itu-hilang_11.html' title='Jika Rasa Itu Hilang....'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Yi7tcT5Dn4A/TzXJVa3L31I/AAAAAAAAAV4/0s6Ma4O5aFQ/s72-c/Image228.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3226737272937838226</id><published>2012-02-04T11:19:00.000+07:00</published><updated>2012-02-08T05:50:42.979+07:00</updated><title type='text'>Mengajar dengan Hati</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-O4-dqS0KGB8/TzGqJPMInlI/AAAAAAAAAVo/gisVKkrJvb4/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-O4-dqS0KGB8/TzGqJPMInlI/AAAAAAAAAVo/gisVKkrJvb4/s1600/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hari ini kuucapkan alhamdulillah, ya Allah. Tahun ini, aku mendapat karunia dengan masuknya anak-anak yang luar biasa, yang membuatku tertantang menjadi agent of change bagi diri mereka dan diriku sendiri. Terimakasih, ya Allah! Tahun ini aku belajar dari ‘siswaku yang tidak bisa diam’, aku belajar dari siswaku yang sulit memahami materi, aku belajar dari siswaku yang nakal, yang setiap hari terus menggodaku. Aku benar-bernar bersykur ya Allah, Engkau hadirkan mereka untuk aku. Bagiku, mereka adalah rezeki. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: small;"&gt;Bagaimana tidak, ilmuku bisa bertambah karena kehadiran mereka. Kesabaranku bisa berlipat-lipat karena kehadiran mereka. Dan yang paling kunikmati adalah ketika mereka tersenyum dan membiisikan sebuah kalimat di telingaku, “Guru ternyata aku bisa!” bagaimana aku tidak berterimakasih kepada-Mu, ya Allah, jika kenikmatan hati ini terus menerus muncul dari hari kehari di kelasku. Ya Allah .... berikan kekuatan kepadaku untuk terus berjuang menjadikan mereka insan-insan yang kelak akan punya manfaat, bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agamanya. Amin ya Rabbal ‘alamin. (Diambil dari &lt;i&gt;Gurunya Manusia&lt;/i&gt;, Munif Chatib)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3226737272937838226?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3226737272937838226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/02/hari-ini-kuucapkan-alhamdulillah-ya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3226737272937838226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3226737272937838226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/02/hari-ini-kuucapkan-alhamdulillah-ya.html' title='Mengajar dengan Hati'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-O4-dqS0KGB8/TzGqJPMInlI/AAAAAAAAAVo/gisVKkrJvb4/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3691057233879102662</id><published>2012-02-04T10:26:00.000+07:00</published><updated>2012-02-08T05:33:19.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Dongeng Sebelum Tidur</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-j2begIxd_Aw/Ty5VcHoDL3I/AAAAAAAAAVY/PSJKucuZ690/s1600/doneng.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-j2begIxd_Aw/Ty5VcHoDL3I/AAAAAAAAAVY/PSJKucuZ690/s1600/doneng.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Setelah buaya-buaya itu berbaris, kancil melompat-lompat di atas punggung buaya-buaya itu hingga ia sampai di seberang kali. Kancil pun bisa menyebrangi kali itu dengan selamat. Ia mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal kepada buaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Saya masih ingat betul cerita di atas dan bagiamana cara ibu saya mengkhiri cerita itu dengan ungkapan “pak BU dari kiri pak Bar dari kanan, BUBAR”. Saat itu pula baru saya mau tidur. Itu terjadi saat saya masih kecil dan belum bisa baca tulis.  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit Latar Belakang Tulisan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dongeng Sebelum Tidur hanyalah surevei kecil-kecilan yang saya lakukan dalam waktu yang sangat singkat ketika saya masih di Yogyakarta. Awalnya saya sedang menulis tentang kisah-kisah nabi dan orang-orang terdahulu. Saya ingat, saya juga mendapatkan cerita tersebut karena kisah-kisah yang diceritakan menjeleng tidur oleh ibu atau bude saya, tentu waktu itu saya masih kecil. Selain itu, kisah yang sering menjadi pengantar tidur saya adalah kisah Kancil dan Pak Tani, Timun Emas, Bawang Merah dan Bawang Putih, dll.&lt;br /&gt;Karena saya ingin mengkontekskan tulisan saya dengan perkembangan saat ini, maka saya bertanya kepada rekan kerja saya tentang dongeng yang sering mereka kisahkan. Alangkah kagetnya saya, ternyata dari 4 orang rekan saya, hanya satu yang masih sering mendongeng untuk anaknya. Yang satu beralasan karena sering kerja sampai malam (kerjanya di rumah) sehingga dia tidak bisa mendongeng untuk anaknya yang tidur sejak sore.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari rasa ingin tahu saya itu, saya melakukan survai sederhana. Hasilnya adalah separo dari responden saya menyatakan tidak lagi mendongeng untuk ananknya menjelang tidur.tentu saja dengan berbagai alasan, dari karena sibuknya dengan pekerjaan, tidak bisa mendongeng, atau karena anaknya senang tidur di depan televisi, sehingga dongen itu secara otomatis digantikan oleh kotak ajaib itu.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Dongeng Sebelum Tidur?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1924, Richard Caton, seorang dokter dari Inggris, menemukan bahwa ada muatan listrik dalam kulit otak manusia. Temuan ini kemudian ditruskan oleh Hans Berger (neurolog asal Jerman) yang mencetak gelombang otak dari muatan listrik  itu di atas sebuah kertas. Pada perkembangan mutakhir, gelombang itu dibedakan menjadi empat, yait Gelombang Delta, Teta, Alfa dan Beta. Gelombang-gelombang tersebut menggambarkan kondisi otak pada saat-saat tertentu. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa Delta adalah kondisi otak yang sedang tidur tanpa imipi, Teta adalah kondisi tidur dan bermimpi, alfa adalah kondisi rileks dan beta adalah kondisi stres.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari empat gelombang tersebut, kondisi yang paling baik untuk menerima informasi adalah delombang alfa, yaitu saat otak kita sedang rileks tapi waspada. Kodisi seperti ini bisa tercipta saat seseorang sedang merasa senang atau saat seseorang sedang merebahkan badannya untuk tidur. Sebagai buktinya, saat seseorang bangun tidur yang akan ia ingat pertama kali adalah apa yang terjadi sebelum tidur itu. Bisa kita bayangkan jika setiap malam anak tidur di depan televisi yang menyala, maka yang masuk dalam memori anak adalah tayangan-tayangan televisi, yang malangnya kita tidak bisa mengontrol kualitas tayangan-tayangan (televisi tanpa bayar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manfaat Dongeng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah banyak yang tahu manfaat dari dongeng, namun banyak pula yang lupa tau bahkan sengaja melupkannya. Apalagi di jaman modern ini banyak sekali kehadiran manusia yang digantikan oleh mesin. Padaha sebenarnya banyak hal yang bisa diambi dari dongeng.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama: dongeng dapat meningkatkan daya pikir dan imajinasi anak. Tak bisa dipungkiri bahwa kreativitas lahir dari imajinasi. Saat orang tua sedang mendongeng, saat itu pula imajinasi anak bekerja. Semisal orang tua menceritakan istana Nabi sulaiman yang sangat megah di mana lantainya terbuat dari kaca sperti aquarium, saat itu pula sang anak akan mengkreasikan istana dalam otaknya. Saat dewasa dan ingin membangun rumah, bisa jadi yang tergambar nantinya adalah istana nabi Sulaiman.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua: dongeng adalah saran yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai moral. Belajar yang paling baik bagi anak adalah saat anak belajar tanpa ia meras digurui. Dengan dongen, orang tua tidak serta merta menyuruh anak berbuat kebaikan, tetapi anak akan belajar sendiri dari tokoh-tokoh yang ada dalam dongeng tersebut. Anak bisa belajar kejujuran dan kesabaran dari cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, anak bisa belajar bahwa orang yang bodoh akan mudah ditipu dari cerita kancil. Dan masih banyak lagi nilai moral yang bisa diserap oleh anak seperti kesetiakawanan, keadilan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketiga: dongeng dapat meningkatkan minat belajar anak, khususnya minat baca. Jika sebuah dongen sangat menarik perhatian anak, tak jarang anak akan meminta lagi orang tua untuk mendongengkan cerita tersebut. inilah kesempatan yang baik untuk mendekatkan anak pada buku. Sesekali orang tua bisa berhenti di pertengahan cerita dan mengatakan pada anak, jika ia mau cerita selanjutnya ia harus baca sendiri. Atau mengatakan ada lo cerita yang bagus-bagus. Dengan demikian anak minat baca anak akan tumbuh.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keempat: untuk memperat hubungan emosional orang tua dengan anak. Sering klai kita berbicara quality time. Quality time tidak mungkin didapat saat anak baru pulang sekolah atau saat orang tua baru pulang kerja, karena saat itu anak atau orang tua sedang berada pada kondisi lelah oleh aktivitas seharian. Biasanya anak akan menceritakan kejadian-kejadian di sekolah saat menjelang tidur. Saat menjelang tidur pula biasanya anak mengungkapkan keinginan-keinginannya. Saat itulah terjadi dialog antara anak dan orang tua. Jika dilakukan terus menerus, hal ini dapat menghilangkan hubungan yang kaku antara anak dan orang tua.&lt;br /&gt;Selain beberap poin di atas, dongeng juga dapat mengurangi efek negatif dari mainan-mainan modern seperti Play Station, Game Online, PSP dan lain sebagainya, yang membuat anak apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Namun demikian, orang tua juga harus berhati-hati dalam memilih cerita dan menceritakan karakter sang tokoh, karena dapat berakibat pada misinterpretasi (salah tafsir).  Untuk itu, orang tua pun dituntut untuk terus belajar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selamat mendongeng!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3691057233879102662?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3691057233879102662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/02/dongeng-sebelum-tidur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3691057233879102662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3691057233879102662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/02/dongeng-sebelum-tidur.html' title='Dongeng Sebelum Tidur'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-j2begIxd_Aw/Ty5VcHoDL3I/AAAAAAAAAVY/PSJKucuZ690/s72-c/doneng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-9147419305734364844</id><published>2012-01-26T15:41:00.000+07:00</published><updated>2012-01-26T15:42:03.828+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hening Bening</title><content type='html'>Adzan magrib berkumandang&lt;br /&gt;Matahari pulang ke peraduan&lt;br /&gt;Aku pulang pada keheningan malam&lt;br /&gt;Dalam hening aku temukan kebeningan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-9147419305734364844?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/9147419305734364844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/01/hening-bening.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/9147419305734364844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/9147419305734364844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/01/hening-bening.html' title='Hening Bening'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-946749826122316915</id><published>2012-01-24T11:22:00.000+07:00</published><updated>2012-01-24T11:25:10.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Terminal</title><content type='html'>Terminal adalah tempat pemberhentian&lt;br /&gt;Dari berbagai entah orang datang&lt;br /&gt;Di terminal mereka berhenti&lt;br /&gt;Tiada lama, karena kemudian mereka bertolak lagi&lt;br /&gt;Ke titik yang masing-masing tuju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di terminal orang gelisah&lt;br /&gt;Kapan kiranya bus datang&lt;br /&gt;Di terminal orang gelisah&lt;br /&gt;Kapan roda bergerak&lt;br /&gt;Menghalau bus meninggalkan riuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di terminal orang tak ingin lama&lt;br /&gt;Karena ia bukun tujuan&lt;br /&gt;Karena ia&lt;br /&gt;Hanya pemberhentian sementara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rajabasa, 28-06-2011&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-946749826122316915?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/946749826122316915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/01/terminal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/946749826122316915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/946749826122316915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2012/01/terminal.html' title='Terminal'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2836071936737981786</id><published>2011-12-19T07:34:00.001+07:00</published><updated>2011-12-19T07:36:33.450+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Refleksi hijrah 1433</title><content type='html'>Apa yang menjadikan momentum hijrah begitu istimewa sehingga Khalifah Umar bin Khatab berani berbuat “bid’ah” dengan menjadikannya sebagai permulaan penanggalan (kalender Islam)? Bukankah biasanya peristiwa kelaharian seseorang yang menjadi titik permulaan seperti halnya kalender masehi (dalam kasus lain, peringatan hari-hari besar seperti hari pendidikan, hari kebangkitan Nasional dimulai dari hari kelahiran). Tentu Khalifah Umar telah berpikir secara matang sama halnya ketika beliau mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengkodifikasikan al-Quran.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yah, keputusan Khalifah Umar memang tepat adanya, karena hijrah merupkan momentum berkembangnya Islam. Setelah 13 tahun di Mekah, Islam hanya mendapat sedikit simpati dari masyarakat Mekah kala itu. Padahal Nabi Muhammad sangat berharap masyarakat Mekah (terutama bangsa Quraisy) berkenan memeluk Islam. Namun yang ada justru perlawanan, hinaan, cercaan, ancaman pembunuhan, pemboikotan dan pengusiran. Setelah beberapa negeri dijajaki sebagai tempat untuk pengembangan Islam, akhirnya Madinahlah yang kemudian menjadi tempat persemaian. Di sini Islam tumbuh dan berkembang dengan pesatnya, hinga hanya dalam kurun waktu sekitar 10 tahun di Madinah telah tumbuh komunitas muslim yang menjadi pioner Masyarakat Madani. Kaitan hijrah dan Masyarakat Madani telah penulis sajikan sebelumnya, sehingga penulis tak ingin masuk pada area itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah berasal dari kata hajara yang bisa berarti berpaling. Seperti dalam sebuah hadis yang menyatakan bahwa umat Islam dilarang berdiam-diaman (berpaling) dari saudaranya lebih dari tiga hari. Dengan demikian hijrah tidak semata-mata sebagai sebuah perjalanan dari Mekah ke Madinah, tepi lebih dari itu ialah berpaling dari tanah yang “tandus” kepada tanah yang “subur”. Berpaling dari masa kelam kepada masa yang cerah. Itulah hijrah. Adapun tujuan hijrah, yaitu agar manusia dapat beribada kepada Allah dengan leluasa. Itulah tujuan hijrah: ibadah. Allah membenci orang yang terpaksa menjadi kafir lantaran tidak mau berhijrah (QS. An-Nissa 97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hijrah dan Perubahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa relevansi hijrah untuk saat ini? &lt;br /&gt;Jika tidak dibatasi, pembicaraan pasti akan melebar jauh, karena hal ini bisa kita kaitkan dari yang bersekala individual hingga sekala nasional atau bahkan internasional. Batasannya adalah: HIJRAH ADALAH MOMENTUM PERUBAHAN. Apa yang menjadi prinsip hijrah hingga terjadi sebuah perubahan besar? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu prinsip yang pertama adalah niat. Hijrah tidak akan berhasil tanpa adanya niat yang benar, yaitu seperti yang ada pada tujuan hijarh: beribadah kepada Allah.&lt;br /&gt;Yang kedua adalah kemauan berpaling, yaitu bersedia meninggalkan masa yang lalu. Bukan berarti kita harus melupakan masa lalu itu (karena meskipun kita melupakan masa lalu itu, ia tetap ada), tetapi kita harus membuat garis demarkasi antara masa lalu dengan masa kini dan masa depan. Jika tidak, maka perubahan besar tidak akan pernah terjadi. Sama halnya seorang wanita yang bercerai dengan suaminya lalu menikah lagi, namun di pernikahan kedua dia tidak merasa bahagia karena ia masih berada dalam bayang-bayang suaminya yang terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ketiga adalah: mulai sesuatu yang baru, kebiasaan-kebiasaan yang baru. Tentu kebiasaan-kebiasaan yang baik. Kesalahan? Pastilah semua orang melakukannya. Orang yang baik bukanlah orang yang tak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang bisa belajar dari kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan tersebut. Kaidah fikihnya adalah muhafadatu ‘alal qadimish shalih wal akhdu bil jadidil ashlah, mempertahankan yang baik dan mengambil yang lebih baik. Hal ini harus dilakukan dengan isitqamah (konsisten), karena hanya dengan demikianlah kita tak mengulangi kesalahan yang sama.&lt;br /&gt;Semoga perubahan itu ada. SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1433. Kullu ‘amin ana wa antum bikhair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2836071936737981786?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2836071936737981786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/12/refleksi-hijrah-1433_19.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2836071936737981786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2836071936737981786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/12/refleksi-hijrah-1433_19.html' title='Refleksi hijrah 1433'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-8521111048796130930</id><published>2011-10-03T15:55:00.003+07:00</published><updated>2011-10-03T16:21:10.788+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Ulangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu pagi di sebuah sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak, apakah kalian semalam belajar?"tanya seorang guru kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;"tidak, Bu Guru", jawab anak-anak itu serempak.&lt;br /&gt;"Loh, kenapa tidak belajar? kalian sudah tahu kan kalau hari ini ulangan?" tanya ibu guru itu lagi.&lt;br /&gt;"Tahu, Bu". jawab anak-anak itu lagi dengan koor.&lt;br /&gt;"Kalau sudah tahu hari ini ulangan, kenapa kalian tidak belajar?"tanya bu guru penuh keheranan.&lt;br /&gt;"Kan ini cuma ulangan, mengulang pelajaran kita yang dahulu, jadi aku belajarnya sudah dari dulu, Bu Guru". jawab seorang murid.&lt;br /&gt;Bu Guru yang masih muda itu pun menghela napas. lesung pipitnya membuat wajah itu tampak lebih cantik.&lt;br /&gt;"Okelah kalau begitu, sekarang siapkan alat tulis kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh menit kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nomor 5B kok masih kosong, nak?"tanya Bu guru kepada salah seorang siswa.&lt;br /&gt;"Tidak bisa, Bu"jawab murid itu.&lt;br /&gt;"Katanya dulu sudah belajar dari dulu?"cibir Bu Guru.&lt;br /&gt;"Benar, Bu. Tapi sekarang sudah lupa.&lt;br /&gt;"Itulah ilmu, nak. ia akan melekat pada diri kita jika kita selalu mengulang-ngulangnya. namun dia hanya melekat, jika kita lupa mengulangnya, dia akan lepas. jika kamu ingin ilmu itu tidak hilang, maka ilmu itu harus menyatu dengan dirimu. Dia akan menyatu dengan diri kita ketika kita telah mengamalkannya." Guru Cantik itu lalu menatap ke wajah anak-anak muridnya, lalu ia menatap ke wajah dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-8521111048796130930?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/8521111048796130930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/10/ulangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8521111048796130930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8521111048796130930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/10/ulangan.html' title='Ulangan'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6560198450001316387</id><published>2011-09-29T14:52:00.001+07:00</published><updated>2011-09-29T14:53:53.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Berteman Tanya</title><content type='html'>Satu perjalanan telah dimulai&lt;br /&gt;Perjalanan yang panjang&lt;br /&gt;Tujuan telah ditetapkan &lt;br /&gt;Arah telah ditentukan&lt;br /&gt;Adakah yang berkenan berjalan di sisiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya itu menggema&lt;br /&gt;Tanya itu terbawa&lt;br /&gt;Langkah itu terukir&lt;br /&gt;Dalam setiap jejak langkahku&lt;br /&gt;Dalam setiap tetes keringatku&lt;br /&gt;Lalu menguap bertransformasi menjadi gelombang&lt;br /&gt;Gelombang menjadi energi&lt;br /&gt;Energi merambat sampai entah kepada siapa&lt;br /&gt;Hanya Tuhan yang tahu&lt;br /&gt;Yang kau tahu&lt;br /&gt;Perjalannku kini hanya ditemani sebuah tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29/09/2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6560198450001316387?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6560198450001316387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/09/berteman-tanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6560198450001316387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6560198450001316387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/09/berteman-tanya.html' title='Berteman Tanya'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-4359471267529261389</id><published>2011-06-13T11:13:00.000+07:00</published><updated>2011-06-13T11:14:33.100+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Lelaki Tua di Pekuburan</title><content type='html'>Mabh Marto, itulah namanya. Lelaki tua yang tidak pernah lepas dari kepalasanya songkong hitam yang sudah mulai memerah. Entah berapa tahun usia kopiah itu. Mungkin masih belum terlalu tua, namun bisa jadi karena kurangnya perwatan menjadikan kopiah itu nampak usang. Bukan hanya kopiah hitam yang memerah yang menjadi ciri khas mbah Marto, tetapi juga plastik bungkus permen yang dijadikannya wadah tembakau, wor dan kertas rokok. Hitam bibirnya petanda bahwa Mbah Marto adalah perokok ulang. Perokok lintingan tepatnya. Rokok ini pula yang menambah kharismatik pada diri mbah Marto sebagai seorang JKM. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kebanyakan orang menyingkat profesi mabh Marto sebagai Juru Kunci Makam, profesi yang telah dijalaninya selama kurang lebih lima belas tahun itu. Kurang lebih, yah karena tidak pernah ada orang yang benar-benar menghitungnya. Tidak penting. Dan juga tidak ada kaitannya dengan birokrasi, tidak ada pensiun. Begitu juga Mbah Marto tidak pernah menghitungnya. Dia begitu menikmati profesinya. Orang yang merasakan kenikmatan tidak pernah menghitung-hitung berapa lama dia telah mekakukanya. Menghitung-hitung waktu biasanya hanya dilakukan orang-orang yang tidak bahagia, tidak bisa menikmati kehidupan.&lt;br /&gt;Sebagai seorang JKM, tugas Mbah Marto tidak jauh dari makam. Mengurus penguburan jenazah, membersihkan  makam, membaca doa untuk orang yang sedang berziarah. Dan Mbah Marto pun identik dengan perkuburan, makam. Jika berbicara tentang makam atau kuburan, selalu saja orang akan segera ingat akan Mbah Marto. JKM pun kadang diplesetkan menjadi Juru Kunci Marto. Dan Mabh marto pun tidak marah akan hal itu, dia hanya tersenyum.&lt;br /&gt;Berhitung waktu berlalu, banyak hal yang telah dialami oleh Mbah Marto. Kadang menyenangkan, kadang tidak mengenakkan hati. Namun, sekali lagi, dia mencoba untuk menikmati semuanya. Dia pernah menggali makam pada malam hari. Alasannya, pihak keluarga ingin agar jenazah segera dikuburkan. Pernah juga dia mengubur jenazah tanpa identitas. Jenazah tersebut ditemukan di pinggir kali yang mengalir di sepanjang pinggir daerah Mbah Marto . Warga kemudian melapor pada Polisi. Jenazah pun akhirnya dibawa ke rumah sakit. Namun setelah beberapa lama tidak ada sanak keluarga yang mengkonfirmasi, akhirnya jenazah dimakamkan di pekuburan tersebut. Saat dimakamkan, bau busuk begitu menusuk. &lt;br /&gt;Kalau ditanya kapan waktu yang paling menyenangkan, pasti jawab Mbah Marto adalah menjelang bulan Ramadhan. Sehari sebelum memasuki bulan suci itu, warga banyak yang berziarah. Senangnya Mbah Marto adalah karena dia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk membersihkan pemakaman tersebut. Ditambah lagi, kalau sedang baik hati, orang yang meminta Mbah Marto untuk mendoa akan memberi Mbah Marto sejumlah uang. Tidak besar, tetapi cukup untuk tambahan beli tembakau. Kalaupun selain hari menjelang Ramadhan, tentulah hari itu hari jumat. Sebagian orang rajin untuk berziarah pada hari jumat pagi. Sunah rasul katanya.&lt;br /&gt;Ziarah kubur memang dianjurkan dalam agama. Sebelumnya Nabi pernah melarang umatnya untuk berziarah karena takut umatnya akan musyrik, meminta kepada kuburan, bukan kepada Tuhan. Namaun kemudian Nabi membolehkannya. Untuk mengingat maut katanya. Yah, maut memang harus selalu diingat-ingat, agar manusia sadar bahwa kelak ia juga akan mati.&lt;br /&gt;Maut adalah misteri. Dia ada bersembunyi dan selalu mengintai manusia. tak seorang pun tahu kapan dan di mana maut akan datang kepadanya. Dia menyapa, bukan hanya orang yang sudah tua renta, tetapi juga bayi yang baru lahir. Dia bisa datang saat manusia sedang lelap maupun terjaga. Dan ketika dia datang, tak ada lagi kompromi, tak ada tawar menawar, tak ada negosiasi. Bahkan juga tanpa permisi. Jika tiba waktu dia datang begitu saja, tanpa diundang. Maut adalah pemutus. Dia pemutus kenikmatan, kesengseraan, kebahagian, kesedihan dan kebersamaan, pemutus kefanaan. &lt;br /&gt;Ingatan Mbah Marto menyelesur menembus waktu tiga bulan yang lalu. Seusai shalat subuh, salah seorang jamaah mendatangngi mbah Marto dan menyapanya.&lt;br /&gt;“Mau minta oleh-oleh apa dari Jogja, Mbah?” Tanya seorang jamaah yang bernama Roziqun itu.&lt;br /&gt;“Emang kamu mau ke Jogja, Ziq? Ada acara apa?”&lt;br /&gt;“Wisudanya Rani, Mbah,” jawab Raziqun. Mbah Marto pastilah tahu Rani, anak pertama Raziqun yang sedang kuliah di Jogja. Masih sedikit warga kampung ini yang mau merantau untuk menuntut ilmu. Kebanyakan mereka bekerja, sehingga keberadaan Rani pun sangat menonjol, khususnya bagi Mbah Marto.&lt;br /&gt;“Saya titip Blangkon saja Ziq, yang murah-murah saja ya!” Mbah Marto mulai berpikir untuk mengganti pecinya yang sudah memarah.&lt;br /&gt; Sore itu, mbah Marto sedang duduk-duduk di teras Masjid. Dia sedang memikirkan bagiamana penampilannya dengan blangkon ala kraton Jogja. Namun lamunannya buyar saat mobil Raziqin melintas di depan masjid. Bukan blangkon yang dia terima, tetapi kabar buruk. Raziqun pulang tidak hanya dengan Ijazah Rani, anakmya, tetapi juga dengan Jenazahnya. Rani meninggal karena terseret ombak laut selatan saat mereka sedang bertamasya di pantai Parangtritis usai Wisudanya. Itulah maut, tak kenal tempat, tak pandang bulu.&lt;br /&gt;“Mati.’ Mbah Marto sedikit menggumam. Lirih. Seolah dia berkata pada dirinya sendiri. Rona wajahnya sedikit berubah, memucat. Ah, mengapa dia baru sekarang berpikir tentang maut, mati. Mengapa baru sekarang dia sadar dan merenungi tentang kematin? Bukankah hal itu sudah dihadapinya saben hari? Mengapa dia jadi teringat mati?&lt;br /&gt;Mbah Marto mematikan lintingannya. Tangannya ia usapkan ke tanah. Yah, mengapa dia jadi teringat mati? Bukankah mati itu adalah sebuah keniscayaan bagi semua makhluk? Entah esok atau lusa, pastilah semua orang akan mati? Dia ingat, bagaimana dia membimbing orang yang sedang dalam keadaan sakarotul maut. Dia ingat saat dia memandikan jenazah, mengkafani, menshalati dan mengadzani serta meletakkannya di lubang yang sempit itu. Dia ingat bagaimana pucat dan dinginnya wajah itu saat dia membuka ikatan kafannya. Dia juga ingat saat satu persatu para peziarah melemparkan tanah ke dalam kuburan, lalu menimbunnya. Terakhir di atasnya diberi nisan petanda bagi siapa yang ingin berziarah. Dia juga ingat wajah-wajah orang yang ditinggal mati itu. Ada yang menangis sampai histeria bahkan sampai pingsan. Ada yang hanya bersedu sedan. Ada yang hanya meneteskan air mata, tanpa suara. Ada yang biasa-biasa saja. Ada juga yang tertawa, entah gembira atau apa. Dia ingat semua. Sementara jenazah ditinggal sendiri di ruang sempit itu, beralas dan berbantal tanah, berselimut gelap. Meski selama ini Mbah Marto sering sendiri, namun dia tidak bisa membayangkan kesendirian di dalam kubur.&lt;br /&gt;Mbah Marto menatap ke sekeliling kubur, nisan-nisan nampak mulai lapuk diterpa panas dan hujan. Pikirannya belum bisa berdamai. Dia merenung, berpikir kapan dia akan mati, di mana dia akan mati, siapa yang akan membimbingnya saat dia sakaratul maut? Siapa yang akan memandikan, siapa yang akan mengkafani dan menshalitinya, siapa yang akan menguburnya? Adakah yang akan menangisinya?&lt;br /&gt;Tiba-tiba air matanya menetes. Entah apa yang ditangisinya. Mungkin dia menangisi kematianya nanti, atau bisa juga dia menangisi nasibnya,  kesendiriannya. Namun, baru kali ini Mbah Marto merasa takut. Entah apa yang dia takutkan. Kematian? Mengapa sesuatu yang pasti harus ditakuti. Bukankah kematian adalah gerbang yang akan mengantarkan manusia pada sebuah perjumpaan. Yah mugkin perjumpaan itu yang membuat Mbah Marto takut, sebuah perjumpaan dengan Dia yang membuat hidup. Mbah Marto merasa bekalna belumlah cukup. Mbah Marto tak ahu harus menjawab apa ketika Yang memberi hidup itu bertanya tentang orang-orang yang diamanatkan kepadanya.&lt;br /&gt;Ingatan Mbah Marto melesat jauh menuju satu masa yang pernah dia lalui. Wajah-wajah membayang di tepian sawah, di antara pohon kacang sayur yang merambat di bamboo-bambu yang dibelah. Cerah, sumringah. sesumringah padi yang munguning. Masa panen hampir tiba. Mbah Marto melihat ke wajah istrinya. Senyum tersungging di sana. Tiada merugi dia menikahinya. Wanita inilah yang menguatkan hidup Mbah Marto. Namun Mabh Marto tidak tahu kalau itu adalah senyum yang terakhir Sumi, istrinya. &lt;br /&gt;Esok hari adalah masa panen raya. Sebagaimana tradisi di kampung itu, setiap panen raya pastilah masyarakat akan berbondong-bondong membawa makan ke sawah untuk dimakan bersama-sama. Namun belakangan acara panen raya itu ditambah lagi dengan satu acara pada malam harinya, yaitu dengan acara pengajian. Ini lantaran semakin banyaknya warga kampung tersebut yang mengirim anak-anaknya ke Jawa untuk belajar ilmu agama. Marto muda bukanlah Mbah Marto seperti saat ini yang selalu ada di masjid sat waktu-waktu shalat. Saat isu bias dikata dia asih abangan. Shalat hanya ia lakoni saat hari jumat dan hari raya saja.&lt;br /&gt;Tak ada seorang pun warga desa yang menduga aka terjadi petaka di kampung mereka. Malam hari saat mereka mendengar pengajian di masjid kampung, mereka diserbu oleh segerombolan orang tidak dikenal dengan bersenjatakan senapan. Sawah ludes digasaknya. Saat kejadian tersebut Mbah Marto sedang memancing ikan di kali yang agak jauh dari kampung. Rencananya, ikan itulah besok yang akan jadi lauk saat pesta raya. Dia melihat kobaran api yang membakar kampung itu. Jerit orang-orang kampung terdengar dari tempat dia berdiri. Dia ingat istri dan Randi, anak laki-lakinya yang baru mau masuk SD.  Sejak malam itu, kampung tersebut  menjadi medan perseteruan dan kerusuhan. Warga kampung itu dianggap subversif, membangkang pada negara dan ingin membuat kekacauan. Sejak saat itu pula Mbah Marto tidak pernah pulang ke kampungnya.&lt;br /&gt;Mbah Marto kembali tersadar. Seekor nyamuk menggigit lengannya. Dipukulnya nyamuk itu. Naas, sang nyamuk tidak sempat meloloskan diri. Disapunya dengan tangan kiri darahnya yang telah dihisap nyamuk itu. Pandangan kembali melayang mengitari makam. Ditatapnya dua makam yang terletak di bagian pojok. Entah munculnya dari mana rasa itu, keigninan itu. Tiba-tiba muncul dalam hatinya keinginan untuk  nanti dikuburkan berdampingan dengan istri dan anaknya. Namu hatinya kembali ciut, dia tidak pernah tahu, apakah istri anaknya dikuburkan atau tidak. Kalaupun dikuburkan, dia pun tidak tahu di mana mereka dikuburkan. Kerusuhan itu telah membawa petaka, mengahapus semuanya. Sejak malam itu, Mba Marto tidak pernah kembali ke kampungnya.&lt;br /&gt;Hari itu hari jumat. Sebagaiamana hari jumat sebelum-sebelumnya, pemakaman itu ramai oleh para peziarah. Mereka membersihkan makam, menyirami dengan air bunga lalu berdoa. Namun ada yang tidak biasa. Para peziarah tidak mendapatkan Mbah Marto di gubuk yang sering digunaknnya untuk berteduh dan beristirahat usai memberishkan makam. Para peziarahpun bertanya-tanya satu sama lain.&lt;br /&gt;“Pulang kampung, kali”, kata seorang laki-laki dengan baju koko dan peci putih.&lt;br /&gt;“Emang Mbah Marto punya kampung, punya keluarga?” Sanggah yang lain.&lt;br /&gt;“Emang kamu saja yang punya kampung halaman,” kata lelaki pertama.&lt;br /&gt;“Lagi cuti mungkin,” kata yang lain.&lt;br /&gt;“Emang PNS, pakai cuti segala,” yang lain menyahut.&lt;br /&gt;“Mungkin dia sudah bosan jadi JKM.”&lt;br /&gt;“Mungkin…….”  “Mungkin…..”  “Mungkin…..” “Mungkin…..” suara bersahut-sahutan. Riuh rendah mereka berpendapat. banyak pendapat, banyak kemungkinan, banyak ketidaktahuan, banyak ketidakpastian. Yang pasti hari semakin siang, satu persatu orang meninggalkan makam, dan makam pun kembali sepi saat adzan berkumandang memanggil umat muslim utuk menunaikan shalat Jumat.&lt;br /&gt;Sampai hari Jumat berikutnya, menghilangnya Mbah Marto masih menjadi perbincangan di makam itu, di mushola, di masjid di warung makan di pengajian, di arisan. Begitu juga hari-hari dalam minggu berikutnya, sampai pada satu bulan, dua bulan, tiga bulan. Pelan tapi pasti, obrolan itu pun menghilang. Tak ada lagi obrolan tentang Mbah Marto. Ia pun terlupakan.&lt;br /&gt;Sembilan bulan sejak kepergian Mbah Marto, nampak rumput yang ada di makam mulai meninggi. Hanya beberapa makam saja yang masih nampak bersih, makam yang masih sering diziarahi oleh sanak familinya. Yang lain sudah mulai tertutupi oleh rumput yang tingginya  sudah melebihi batu nisan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-4359471267529261389?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/4359471267529261389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/06/lelaki-tua-di-pekuburan_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/4359471267529261389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/4359471267529261389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/06/lelaki-tua-di-pekuburan_13.html' title='Lelaki Tua di Pekuburan'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2572271985755228169</id><published>2011-06-02T20:20:00.000+07:00</published><updated>2011-06-02T20:22:22.145+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Perjalanan Pulang</title><content type='html'>Peluit panjang menggema. Kereta ekonomi Progo yang membawaku bergerak perlahan meninggalkan stasiun Lempuyangan. Aku lempar pandanganku ke luar kereta, tampak beberapa orang di sana melambaikan tangan ke arah kereta, yang jelas bukan kepadaku. Aku perahatikan wajah mereka. Ada yang tertawa bahagia sambil bergurau dengan sesamanya, ada yang hanya mesam-mesem, ada yang seperti tersenym namun senyum itu tampak begitu beratnya sehingga lebih tampak dia seperti orang menangis. Ada yang memang dia menangis, meneteskan air mata, meski tidak berteriak heiteris merang-raung.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dispunya air yang mengalir di pipi itu dengan sapu tangan basah karena sudah sedari tadi dia menangis. Aku taksir gadis itu berumur 20 tahunan. Dia yang ketika kereta belum berangkat, duduk di sampingku di bangku tunggu bersama seorang pemuda yang usianya mungkin masih di bawahku. Entah, di gerbong berapa pemuda itu duduk, aku tak tahu. Bisa jadi dia masih berdiri di depan mintu sambil juga melambaikan tangan, seperti dalam film-film, tentu bukan film made in Indonesia, karena film made in Indonesia jarang sekali yang memasukkan kereta ekonomi dalam filmnya. Tidak matching alias tidak nyambung. Kerata api, apalagi ekonomi, sejak dulu telah menjadi simbol tersendiri, yaitu masyarakat kelas bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta tua itu melaju, memburu matahari yang mulai memerahkan langit. Selaput awan menoda kebeninga langit, tapi noda itu justru menambah keindahan langit sore itu. Serombongan burung Kuntul tampak mengepakkan sayapnya di angkasa menuju pulang ke sarang, sementara di bawah, segerombolan manusia memadati jalan, juga menuju pulang. Lelah tampak membayang di wajah-wajah mereka. Ingin segera sampai rumah tentu, dan tak sabar berharap kereta yang menutupi jalan mereka lekas berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang. Indah sekali kata itu, kata yang menggetarkan hati para perantau jika mendengarnya, meski tak dipungkiri ada juga yang merasa kecut. Aku termasuk golongan pertama. Sudah hampir empat tahun aku tidak menginjakkan kaki di tanah kelahiranku. Entah seperti apa rupa kampungku, rumahku dan orang-orangnya saat ini, aku tak tahu. Rindu selalu datang saat dalam kesendirian, namun apa daya, waktu dan dana seringkali menjadi kendala. Jawa-Sumatra, atau Lampung-Jogja kini terasa begitu jauh, tidak seperti masa-masa aku di S1 dulu. Setiap saat aku bisa pulang kampung, tentu denga biaya yang dikirm dari kampung oleh bapakku. Kini untuk pulang, aku harus menyediakan dana sendiri, dan aku kira tidak hanya cukup untuk ongkos, tetapi juga untuk membelikan oleh-oleh untuk sanak kerabat. Itulah risiko orang yang sudah lulus kuliah dan dianggap sudah bekerja, sudah berpenghasilan. Meskipun sebenarnya bapak dan ibu tidak menuntut itu, tapi tidak demikian dengan sanak saudara yang lain serta para tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku, meski temankau ada yang lebih dari itu. Pernah suatu saat salah seorang temanku bertanya, apakah aku sudah memutuskan untuk tinggal di Jogja? Entahlah, sampai saat ini aku belum memutuskan. Aku hidup hanya mengikuti arus yang membawaku, sampai kemudian aku tiba di samudara. Itulah jawabku beberapa bulan yang lalu, dan sampai saat ini masih juga tidak berubah. Dia bilang aku adalah orang yang takut bertempur di daerah sendiri. Bagiku, bukanlah persoalan tidak berani atau takut bertempur di daerah sendiri, namun masih ada asa di hati ini yang masih memberatkanku untuk keluar dari tanah perantauan ini.&lt;br /&gt;Memasuki stasiun Kutoarjo, matahari benar-benar telah pergi meninggalkan kereta ini berjalan dalam selimut kegelapan malam. Tampak beberapa orang duduk dengan tenang dan melaksanakan shalat magrib. Keriuhan para penumpang kereta tampaknya tak mengganggu kekhusukan mereka.  Aku pun kemudian melakakan hal yang sama, menunaikan kewajiban yang tak bisa ditinggal meski kita terbaring lemah, kita mesti melakukannya, meski dengan isyarat mata dan bacaan lirih, atau bahkan dalam hati. Sebenarnya bisa saja aku menjamaknya nanti di Stasiun Senin, toh sampai sana belum masuk waktu subuh. Tapi, siapa yang menjamin kereta ini akan sampai di stasiun Senin tepat waktu? Bisa jadi kereta ini terlambat, atau malah tidak sampai ke sana. Tak ada yang tahu, termasuk juga aku. Aku takut kalau ini menjadi perjalanku pulang kepada Tuhan, sementara aku masih menanggung utang kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutempelkan tanganku ke dinding kereta. Kuangkat lalu kuusapkan di wajahku. Aku tempelkan lagi tangganku ke jendela kereta lalu kusapukan di kedua tanganku secara bergantian. Setelah itu aku benahi dudukku dan mencoba konsentrasi “Allahu akbar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Turun di mana, mas?” tanya seseorang yang duduk di sampingku. Aku baru sadar bahwa dia adalah pemuda yang duduk di sampingku di bangku tunggu. Berarti dia juga tadi yang dilambai mesra oleh seorang perempuan muda saat kereta ini pelan mulai berjalan.&lt;br /&gt;“Senin”, jawabku. “Sampean?” aku balik bertanya.&lt;br /&gt;“Saya di Bekasi”. Aku perhatikan wajahnya dengan seksama saat dia sedang membeli rokok dari pedagang asongan yang sedari tadi hilir mudik. Aku yakin umurnya masih di bawahku. Masih tampak guratan-guratan kenakan di wajah itu, pun demikian dengan cara dia berpakaian.&lt;br /&gt;“Rokok, mas”. Dia kembali beramah tamah.&lt;br /&gt;“Terima kasih, kebetulan saya tidak merokok.”&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa kan saya merokok di sini?” Dia tampak rikuh.&lt;br /&gt;“Monggo.. moggo.. Silahkan saja, lha wong ini ruang umum kok.” Meski aku tidak merokok, mana mungkin aku melarang orang lain untuk tidak merokk, apalagi di ruang umum seperti ini yang rata-rata adalah, sekali lagi, masyarakat kelas bawah.&lt;br /&gt;“Kalu boleh tahu, tujuan Sampean ke mana, mas?” saat ini keramahannya benar-benar tampak, tidak hanya basa-basi.&lt;br /&gt;“Saya mau ke Lampung, tengok orang tua. Sampean ke Bekasi ke tempat siapa.”&lt;br /&gt;“Saya kerja di sana, di pabrik tekstil di Cikarang.”&lt;br /&gt;“Sudah lama? Tanyaku.&lt;br /&gt;“Kurang lebih sudah dua tahun.”&lt;br /&gt;“Tidak kerja di Joga saja mas?”&lt;br /&gt;“Upahnya kecil, mas.  Lagian dari kecil aku sudah di Jogja, mas. Sekalian cari pengalaman.&lt;br /&gt;“Mas asli jogja?” tanyaku meyakinkan.&lt;br /&gt;“Gunung Kidul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar daerah itu aku paham. Itu adalah kabuapetn terluas di jogja, namun sekaligus termiskin. Konon di sanalah sebenarnya gunung berapi kuno berada. Daerah itu merupakan daerah bebatuan. Jika kita pergi ke sana pada musim penghujan, kita akan mendapati bukit-bukitan yang hijau, tetapi jika kita ke sana pada musim panas, yang kita dapati hanyalah tonjolan-tonjolan bukit karts. Dengan konsidi tanah seperti itu, ketika musim panas dating, masyarakat Gunung Kidul harus rela memberi air yang diangkut oleh tangki dari Bantul atau Jogja. Untunglah belum lama ini proyek pengangkatan air dari sungai bawah tanah telah berhasil di selesaikan,. Meskipun proyek itu memakan biaya yang besar, namun saying baru beberapa daerah kecil saja yang bias menikmatinya, sementara yang lain masih harus membeli air atau menandu air hujan. Minimnya air berdampak pula pada minimnya penghasilan, sehingga angka kemiskinan di kabupaten ini tinggi. Hal ini pula yang menyebabkan angka bunuh diri juga tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf! kalau boleh tahu, tadi itu pacar mas?”&lt;br /&gt;“Oh.. itu istri saya mas.”&lt;br /&gt;“Kok tidak diajak sekalian?” korekku. Insting jurnalistikku mulai bekerja.&lt;br /&gt;“Repot mas, anak kami masih kecil. Baru satu bulan.”&lt;br /&gt;“Ooo . . . .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Pemuda itu menghisap rokoknya, menikmati setiap hisapannya sebagaimana dia menikmati hidup ini. Dua puluh tiga tahun, itu berarti selilisih lima tahun dari umurku. Bedanya kini dia telah menimang anak, sementara aku masih juga melajang.&lt;br /&gt;Kereta terus melaju membawa semua penumpang dengan perasaannya masing-masing, beban hidup masing-masing. Keceraian tampak di wajah beberapa penumpang, bukan berarti mereka tidak mempunyai beban hidup, tetapi aku kira kemampuanya untuk berbagi dengan orang lainlah yang menjadikan beban itu terasa ringan. Minimal dengan berbincang dengan teman senasib sepenanggungan di kereta ini. Mereka mengalahkan waktu dan baban hidup serta jauhnya jarak dengan menertawakan diri sendiri. Itulah kemampuan yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa di dunia ini, kecuali orang-orang Nusantara.&lt;br /&gt;Aku memesan kopi panas kepada pedagang asongan yang entah sudah berapa kali berjala hilir mudik dari gerbong satu ke gerbong lainnya, dari ujung depan hingga ujung belakang, berdesakan dengan pedagang lain dan penumpang yang tidak mendapatkan temapt dukuk. Lelah tampak di wajahnya, namun itu tak dihiraukan. Mungkin yang terbayang di matanya adalah wajah-wajah anaknya yang sedang tidur atau sedang mengerjakan PR dari gurunya di sekolah. Itulah yang membuat wanita yang aku taksir berumur 40 tahunan itu tak kenal lelah menjajakan dagangannya, meski dia harus bersaing dengan 5 orang atau lebih yang seprofesi dengannya. Persaingan? Aku tak melihat itu, justru mereka sangat akrab sekali, tak tercium aroma persaingan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rezeki itu kan sudah ada yang mengaturnya, Mas, manusia cuma bisa berusaha. Dapat banyak syukur, sedikit ya syukur, kalau tidak dapat ya sabar”, begitu ujar salah seorang pedagang yang aku temui beberapa bulan yang lalu saat aku ke Jakarta dengan kereta yang sama.&lt;br /&gt;“Buat apa bersaing, orang kita sama-sama mengais rezeki di sini,” kata pedang sale, oleh-oleh khas Banyumas, suatu ketika.&lt;br /&gt;Begitulah mereka menjalani hidup, naik turun kereta menjajakan makanan atau minuman. Lebih separo harinya dihabiskan di kereta. Seorang ibu, aku lupa namanya, penjual minuman panas dan pop mie pernah bercerita, dia menjalani profesinya itu sudah hampir 15 tahun. Stasiun-stasiun kereta di Jawa hampir semua ia pernah singgahi, baik itu yang dibangun oleh Belanda seiring dengan pembangunan rel kreta ini, maupun stasiun-stasiun baru yang dibangun oleh pemerintah Indonesia. Biasanya dia naik dari Jogja turun di Kroya, lalu kembali lagi ke Jogja dengan kereta yang dari Jakarta atau Bandung. Kadang dia langsung saja di satu kereta sampai Jakarta. Pernah karena capek mendera tubuhnya, dia terbawa kereta hingga Surabaya.&lt;br /&gt;“Dilakoni mawon, Mas. Apa-apa kalau sudah dilakoni enak-enak saja, tidak berat,” begitu ujar ibu itu saat aku tanya tentang enak susahnya jualan di atas kereta. Secara kasat mata, tentu orang akan memandang profesi itu sangat tidak mengenakkan, susah. Untungnya pun aku yakin tidak seberapa. Kopi yang aku minum ini seharaga Rp. 2000, selisih 500 rupiah dengan kopi yang ada di angkringan. Harga satu saset kopi itu di warugn Rp. 1.000. berarti keuntungan par penjual kopi di kerata itu sekitar seribu rupiah per saset. Jika dalam satu malam laku 10 saset, berarti keunutngan mereka Rp. 10.000. sementara jarak yang mereka tempuh sudah berpuluh kilometer. Itulah hiudp, itulah perjuangan. Sesusah apa pun suatu pekerjaan bila itu dilakukan demi yang dicintai, orang-orang yang dikasihi, pastilah akan terasa mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seruput kopiku yang masih menguap. Aromnya masuk ke hidung, meski tak seharum kopi Lampung, namun untuk suasana seperti ini sudah cukup terasa nikmat, sama nikmatnya dengan kopi di angkringan tugu, Matto, Lembayung, Blandongan dan tempat-tempat nongkrong lainnya di Jogja. Bukankah nikmatnya kopi tidak hadir dari kopi itu sendiri, tetapi juga dari suasananya, dan tentu saja dengan siapa kita meminumnya? Ada lagi, siapa yang membuatnya.&lt;br /&gt;Malam merambat dengan pelan, sepelan laju kereta yang harus mengalah pada kereta kelas binis atau eksekutif. Suasana kereta pun mulai sepi. Hanya beberap orang yang masih tampak terjaga dan bercakap-cakap, sementara yang lain telah asyik dibuai mimpi masing-masing. Satu dua orang pedangang asongan masih ada yang berjalan menyusur gerbong. Dalam suasana seperti itu gemeretak benturan besi-besi tua terdengar sangat keras, namun perlahan kemudian suara itu berubah menjadi komposisi musik yang berirama. Irama itu pelan-pelan memaskui ruang kesadaranku. Perlahan, pandangaku mulai kabur, mataku sedikit-demi sedikit mulai terkatup. Namun sayang, belum lebih dari tiga menit aku terlelap, aku dikejutkan oleh getar dan dering HP yang aku taruk di kantong Jaket. Satu pesan singkat masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lg mudik ya? TTDJ. Jngn lp oleh2nya!” pengirim Dania, teman satu klasku di Program Magister.&lt;br /&gt;Belum selesai aku menuliskan SMS balasan, HP-ku mati, habis baterey, sehingga membuatku urung untuk membalas SMS-nya. Kembali angin malam yang masuk lewat jendela yang memang sudah tidak ada kacanya lagi, menyatu dengan irama benturan besi tua, masuk dalam kesadaranku dan meninanabobokanku.&lt;br /&gt;Menara Siger mulai tampak dari tempat aku berdiri. Menara yang sengaja dibangun dengan megah di atas bukit. Bangunan itu seakan ingin mengucapkan “Selamat Datang di Bumi Ruawa Jurai”. Warna kuning keemasannya tampak berkilau diterpa sinar matahari. Perjalanan dengan kerata api Jogja-Jakarta semalam meskipun beberapa kali berhenti, tapi masih lumayan cepat, tidak seperti biasanya yang harus banyak berhenti karena mempersilahkan kereta kelas bisnis berlalu terlebih dahulu. Biasanya hal itu tidak terjadi sekali dua kali. Kadang sampai tiga atau empat kali. Kali ini perjalanaku begitu cepat, sehingga sepagi ini aku sudah berada di atas geladak kapal Ferry Merak-Bakahuni.&lt;br /&gt;Sejak beberapa hari yang lalu, mas Baim tak henti-hetinya menelponku, memintaku segera pulang. Bapak sakit keras, dan mengharap semua keluarga bisa menuggui beliau. Ahmad Ibrahim, begitu nama lengkapnya, adalah kaka pertamaku atau tertua dari lima bersaudara. Menikah dengan Jannah, teman sepermainnya dan dikarunia dua orang anak, keduanya putri semua. Meskipun bertani, namun kehidupanya bisa dibilang makmur. Mbak Jannah yang anak tunggal membawa keberkahan sendiri bagi Mas Baim. Tanah warisannya cukup luas, dan lebih dari cukup untuk menghidupi satu istri beserta dua anaknya. Itu sebabnya Mas Baim sering mengirim uang kulaih di saat hasil panen bapak kurang baik.&lt;br /&gt;Jika kedunya kurang baik, maka giliran Mbak Laila, kakakku yang kedua, yang mengirim. Dia kini tinggal di bandung bersama suaminya dan satu orang anaknya. Meskipun menurutnya kirimannya tidak terlalu banyak, karena harus dibagi dua dengan adik Aa’ Aep yang kuliah di Bandung, namun kiriman Mbak Laila lebih banyak. Apalagi kalau Aa’ Aep lagi dapat orderan membuat seragam sekolah, seragam partai atau perusahan tertentu. Sebenarnya setelah lulus itu aku diminta Bantu Aa’ Aep mengurus konveksinya yang tidak terlalu besar, namun aku menolak. Aku masih memilih Jogja. Alasan rasional? Jangan pernah tanyakan itu padaku, aku sudah terlanjur jatuh cinta pada kota kecil ini, dan cinta tidak membutuhkan alasan.&lt;br /&gt;Itulah tiga sumber keuanganku. Sementara dua saudaraku lagi, Ahmad Fathani dan Maisaroh masih kuliah. Maisaroh di Jogja, sehingga aku masih sering ketemu. Meski sedikit, aku sering membantu keuangannya. Hasil dari mengajar privat di beberapa rumah cukup untuk dia hidup di Jogja. Dia sudah pulang terlebih dahulu 3 hari yang lalu. Aku harus menyelesaikan Ujian Akhir semester genap ini, baru kemudian pulang. Selain itu aku juga harus menyelesaikan pekerjaan biar bisa izin beberapa hari, karena naskah harus sudah terbit akhir bulan ini.&lt;br /&gt;Ingatanku kembali kepada bapak. Lelaki yang aku hormati dan sangat bersahaja, tenang dan selalu menyungging senyum. Semoga beliau baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kapal Ferry yang membawaku pelan-pelan mulai merapat. Para penumpung pun satu per satu juga merapat ke pintu. Beberapa buruh angkut berseragam merah tampak bersiap-siap melompat ke kapal, meski badan kapal belum benar-benar bersandar pada pelabuhan. Seragam merah yang membungkus tubuh-tubuh kekar mereka sebagian mulai tampak menguning, tertutup debu dermaga. Sesampai di kapal, mereka berebut menawarkan jasa dan tenaga mereka. Posisi dermaga IV yang jauh di ujung akan membuat orang enggan untuk mengangkat barang bawaannya, saat itulah jasa buruh angkat barang dibutuhkan. Aku pernah memakai jasa mereka sewaktu aku pulang dari Jogja mampir Jakarta dan banyak membawa barang titipan. Sekarang, apa pula yang mau diangkat, yang ada padaku hanya satu tas gendong yang melekat di punggungku dengan isi tidak lebih dari dua potong pakaian dan beberapa buku bacaan. Dengan bawaan seperti itu, dengan mudah aku menerobos penumpang yang lain, berjalan menyelusuri lorong yang menuju ke terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raja basa… Raja Basa..” terdengar teriak para kondektur mencari penumpang saat para penumpang telah keluar dan berada di terminal pelabuhan. Bebera kernet jahil menarik bawaan calon penumpangnya, memaksa calon penumpang itu untuk ikut dengan busnya.&lt;br /&gt;Seorang perempuan paruh baya berusaha keras menghindr serbuan para kondektur itu. Rupanya dia ingin naik bus yang ber-AC. Dengan susah payah dia berjalan menuju bus yang ber-AC. Tak lamu aku pun menyusulnya, karena aku juga ingin naik bus ber-AC. Perjalan dari Jogja tadi sudah cukup melehakan, dan aku masih butuh waktu empat jam untuk sampi di rumah. Herannya, tak seornag kondektur pun yang berani menarik-narik aku, atau bahkan sekedar menawari aku untuk ikut busnya. Mungkinkah mereka takut melihatku? Ah, apa yang mereka takutkan. Lebih pas mungkin karena aku tak layaknya calon penumpang. Dandanannku yang kusut dengan hanya mengenakan kaos oblong dan sandal jepit sudah cukup buat alasan mereka untuk tidak menarik-narik lagi. Bukan rahasia umum lagi, kalau dia antara orang-orang yang menarik-narik penumpang ada yang berprofesi sebagai copet.&lt;br /&gt;Bus masih belum sepenunya terisi, masih ada beberapa bangku yang kosong, meski berada di bagian belakang. Aku duduk di dekat seorang ibu yang tak lain adalah calon penumpang yang tasnya ditarik-tarik tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus berjalan pelan, merambat, naik turun menelusuri jalan Tans Sumatra, jalan yang menjadi penghubung antarpropins di pulau Adalas ini. Karena propinsi ini adalah gerbangnya Sumatra, maka tak heran jika banyak kendaraan melalui jalur ini. Namun anehnya, sejak kepulanganku yang terakhir hingga saat ini tidak ada perubahan yang mencolok pada jalan tersebut. Adapun pelebaran hanya beberapa meter saja dari pentu keluar pelabuhan, sisanya adalah jalan sempit yang dihiasi lubang-lubang kecil.&lt;br /&gt;Bayang-bayang masa lalu melintas dalam ingatanku, saat bus yang aku tumpangi melewati pantai Pasir Putih, tempat pariwisata yang tak asing bagiku. Di tempat inilah aku merayakan kelulusan dan juga perpisahan bersama teman-teman SMA untuk kedua kalinya. Perayaan pertama kami lalui di puncak bukit yang tak lama lagi akan kelihatan dari jalan raya ini. Di bukit itulah kami berjanji akan berkumpul lagi setelah lewat 10 tahun. Itu berarti masih 2 tahun yang akan datang. Dengan demikian aku masih bisa memenuhi syarat untuk datang, yaitu membawa pasangan hidup yang sah. Semula aku kira persyaratan itu konyol, masak reuini di puncak gunung dan harus membawa teman hidup alias istri atau suami masing-masing. Memang, masa-masa SMA adalah masa-masa yang penuh dengan kekonyolan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat persyaratan itu aku langsung teringat Zahro. Pernah tersebeit satu harapan aku datang bersamanya di reuni tersebut. Sayang sekali aku harus pulang ke Lampung pada saat di mengunjungi Jogja. Seharusnya aku bisa bertemu dengan dia di sana, main ke malioboro dan nogkrong di sana sampai subuh sama seperti saat study tour dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saat tiba di perempatan, aku tidak menemukan Mas Baim di sana. Mengapa tidak terpikir olehku untuk mengecas HP di Kapal tadi. Tapi setidaknya Ms Baim sudah tahu kalu hari ini aku sampai Lampung. Terpikir olehku untuk naik ojek. Hari sudah sore, kalau aku tidak segera naik ojek, magrib mungkin aku masih di jalan. Untungnya aku sudah jamak asar tadi waktu di kapal.&lt;br /&gt;Saat aku hendak melangkah ke pangkalan ojek, aku melihat wajah yang tak asing lagi bagiku muncul mengendari motor bebek dari arah barat. Segera setelah aku jabat tanggannya, aku membonceng di belakanga dia. Motor yang dikendari Mas Baim pun berjalan pelan mennggalkan perempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana perjalanannya?”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah lancea, Mas?"&lt;br /&gt;Sisa-sisa air hujan masih menggenang di aspal yang rusak dan membuat lobang.&lt;br /&gt;“Rahma apa kabar , mas?” Rahma adalah anak Mas Baim yang pertama.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah baik. Tadi lagi TPA. Kamu belum pernah ketemu adeknya rahma ya? Tadi dia pingin ikut, tapi tidak boleh ma Mbakmu, takut nanti kehujanan di jalan. Sore biasanya hujan”.&lt;br /&gt;“Namanya siapa mas? Sudah seberapa?” aku memang belum pernah ketemu. Yah, 4 tahun aku tidak pulang. Wajah Rahma mungkin juga aku sudah agak lupa.&lt;br /&gt;“Dua bula lagi dia genap dua tahun. Sudah mulai jalan. Sedikit-sedikit juga sudah belajar ngomong. Biasanya, anak kalu jalan duluan, nomongnya agak telat.”&lt;br /&gt;Sepanjang jalan Mas Baim bercerita banyak tentang kondisi rumah, kondisi kampong, si A sudah nikah, si B sudah punya anak, Si Z kemarin baru meninggal. Namun tak sedikit pun dia menyinggung persolan bapak. Aku pun tak mempertanyakannya. Pikiranku asyik bermain bersama kawan-kawan kecilku di pematang sawah yang kami lewati. Padi yang belum lama ditanam tampak mulai ijo royo-royo. Biasanya saat musim seperti ini sangat baik untuk memancing belut di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki halaman, aku merasa ada yang aneh. Rumahku ramai oleh orang. Beberapa sanak kerabat baik dari bapak maupun ibu ada di sana.  Aku masih berdiri di depan halaman saat aku lihat ibu keluar dari rumah. Wajahnya sendu. Dengan tenang beliau berjalan ke arahku. Aku pun langsung menghampirinya. Aku sungkem pada beliau lama. Ada satu ketenangan dan kehangatan yang aku rasa saat aku sungkem itu. Mungkin seperti inilah kehangatan saat aku masih di rahim wanita ini. Aku masih sungkem, sampai aku merasa ada air hangat jatuh di punggungku. Saat itu aku rasakan ibu mengangkat tubuhku. Aku lihat matanya telah basah oleh air mata yang kemudian mengalir di pipinya. Wanita itu tampak lebih tua dari saat terakhir aku temui di acara wisudaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikhlaskan ya, le..” Ujarnya lirih nyaris tak terdengar, beradu keras dengan suara tangisnya.&lt;br /&gt;Aku tak mengerti apa yang Ibu maksud. Beliau memelukku. Tangisnya kini pecah. Baru kali ini aku mendengar ibu menangis. Aku tahu wanita itu adalah orang yang tegar dan tabah hatinya. Sejak masih kecil beliau sudah ditinggal untuk selama-lamanya oleh bapak dan ibunya yang berarti kakek-nenekku, sehingga dia dibesarkan oleh pakdenya. Itulah yang membuat beliau tegar. Tapi sore ini aku melihat benteng ketegaran itu jebol, sehingga nuansa kesedihan membanjiri siapa saja yang ada di dekatnya. Wanita itu kemudian memelukku, erat sekali dan lama. Pelukan seperti ini yang selalu aku rindukan saat pulang dari perantauan, pelukan hangat yang selalu menghadirkan rasa ingin pulang. Namun, ada nuansa lain sore itu yang sepenuhnya belum aku mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasakan ada orang lain yang memegang punggungku. Ternyata Pak Lek Wagiman. Pak lek dan Mas Baim kemudian membing aku dan ibu masuk rumah. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Aku duduk di kursi berhadapan dengan paklek Wagiman yang ada di seberang meja. Aku lihat pak lek ingin mengungkapkan sesuatu. Namun masih ragu. suasana di ruangan itu menjadi hening. Sesekali isak tangis Ibu masih terdengar.&lt;br /&gt;“Kang Masmu tadi berklai-kali menghubungi HP-mu, tapi tidak aktif,” akhirnya Pak Lek angkat bicara.&lt;br /&gt;“Bagaimana perjalananmu?”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah lancara, Pak Lek,” jawabku.&lt;br /&gt;Aku menangkap ada yang tidak beres. Pertanyaan pak lek tampak sekali hanya basa-basi.&lt;br /&gt;“Pak lek boleh Tanya sesuatu, le? Tanya Paklek.&lt;br /&gt;“Masalah apa pak Lek?” aku balik bertanya. Kuedarkan mayaku ke Ibu dan Mas Baim serta Mai yang baru masuk membawakan segelas air putih untukku dan lalu duduk dekat ibu.&lt;br /&gt;“Kamu tahu kenapa kamu pulang?” Pak lek kembali bertanya. Aku tidak tahu ke mana arah pertnayaan Pak Lek.&lt;br /&gt;“Diminta Mas Baim,” jawabku singkat.&lt;br /&gt;“Kamu pulang karena kamu diminta pulang Kang Masmu, soale Ibumu, kang masmu, adikmu, keponakanmu dan keluarga di sini kangen kamu.” Paklek berhenti lagi. Ditariknya nafas panjang-panjang. Aku merasakan ada yang menggenang di pelupuk mataku, tak lama kemudian mataku mulai berkaca-kaca. Aroma kesedihan mulai tampak di setiap kata yang keluar dari Paklek.&lt;br /&gt;“Bapakmu juga ada yang mengangeni, ada yang merindukan. Dia sudah disuruh pulang. Pulang ke kampung halaman, pulang pada yang menciptakan. Dia sudah mengalami pahit manisnya hidup ini, sudah menempuh waktu dan jarak perjalan hidup yang panjang, sudah saatnya dia menempuh perjalanan pulang……”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mampu lagi menangkap ucapan Paklek. Air yang sedari tadi menggenang di mataku, kini bobol sudah, mengalir di pipiku, meski aku tak merasakan hangatnya air itu. Ia menjadi dingin, sedingin bongkahan es yang menyesaki dadaku hingga membuatku sulit untuk bernafas. Aku tak mampu berkata-kata, aku tak mampu untuk membuka mulutku, meski hanya untuk tangisan. Tangisan itu terpendam di dasar dada yang semakin membekukanku, sehingga badanku pun menggigil. Kini air  tak hanya keluar dari sudut kedua mataku, namun dari seluruh tubuhku. Dingin. Aku semakin tergigil dan membeku, sehingga tanganku tak mampu mengusap air yang yang telah menutupi pandanganku. Yang tampak kemudian hanya gelap. Sungguh, gelap yang pekat.&lt;br /&gt;Dalam gelap itu aku tergagap, mencoba mencari terang. Tanganku menyusur dinding yang kemudian membawaku pada satu titik cahaya, namun begitu kecil, begitu jauh. Aku menelusur sebidang ruang yang ternyata adalah lorong, menuju cahaya yang semakin terang. Saat aku tiba di ujung lorong, aku takjub. Cahaya itu bukan dari sinar matahari, juga bukan dari pembakaran. Cahaya itu keluar dari setiap benda yang ada di sana, taman yang begitu indah. Dia keluar dari tiap bagian bunga yang tumbuh di sana. Dia keluar dari air yang mengalir, dari burung yang terbang dan kemudian hinggap di dahan pohon yang sedang berbuah labat yang buahya juga bercahaya. Bukan hanya bulu-bulu burung itu yang bercahaya, dalam kicauannya pun mengandung cahaya. Cahaya itu juga keluar dari batu-batu yang ada di taman itu, serta sayap kupu-kupu yang terbang disekiar bbunga-bungan nan inah itu. Ia hinggap, meghisap sari bung, lalu pergi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku melihat satu sosok yang sedang duduk di atas batu yang bercahaya. Sosok itu pun juga mengeluarkan cahaya dari seluruh tubuhnya. Ragu, sepertinya aku mengenalnya. Aku perhatikan sosok itu dalam rentang waktu yang agak lama, sampai kemudian dia menolehku. Aku pun yakin dia adalah Bapak. Aku berjalan mendekat sesaat setelah beliau melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;“Bapak sedang apa”, tanyaku setelah tiba di sana.&lt;br /&gt;“Apa kamu tidak lihat, bapak sedang istirahat, setelah melakukan perjalanan yang panjang. Sungguh melelahkan perjalanan itu”, kata bapak.&lt;br /&gt;“Namun aku tidak melihat kelelahan di wajah Bapak?” tanyaku. Beliau tampak segar.&lt;br /&gt;“Lelah itu akan berlalu setelah kita sampai pada apa yang kita tuju. Dan memang untuk sampai pada yang kita tuju, kita harus mau berlelah-lelah. Jika kita tidak merasakan lelah, maka tujuan itu pun tidak akan terasa indah. Namun lelah itu akan tertutup oleh rasa bahagia yang tiada terkira,” aku tidak begitu paham dengan ucapan Bapak.&lt;br /&gt;“Bapak mau ke mana lagi?” tanyaku saat aku melihat Bapak bangkit dari duduknya.&lt;br /&gt;“Jalan lagi, sebentar,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Bukannya Bapak tadi bilang sudah sampai tujuan?" tanyaku keheranan. Bapak menoleh padaku. Bibinya menyungging senyum.&lt;br /&gt;“Kamu anggap semua ini tujuan Bapak? Bukan. Mereka semua ini makhluk sama seperti bapak, seperti kamu. Mana mungkin Bapak kembali kepada makhluk”, ujar beliau.&lt;br /&gt; Aku gondeli tangan Bapak, saat lelaki itu baru mengayunkan kaki beberapalangkah.&lt;br /&gt;“Aku ikut bapak”, kataku, sama seperti saat aku masih kecil dulu, saat bapak mau pergi ke kota.&lt;br /&gt;“Setiap orang mempunyai perjalanan sendiri-sendiri, setiap orang menempuh jalannya sendiri-sendiri, dalam ruang dan waktunya sendiri-sendiri, sesuai dengan fungsinya. Jalanku dan jalanmu beda. Masaku dan masamu beda. Ikutilah jalanmu sendiri, dan nikmatilah perjalananmu itu," kata Bapak persis saat merayuku jika aku bertekat untuk ikut beliau ke kota. Dan aku selalu mengalah atau kalah oleh rayuan dan iming-iming Bapak. Kali ini beliau tak memberi imng-iming, namun tetap saja aku kalah. Tak bias membantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak menatapku yang masih berdiri tertegun, lalu beliau mencium keningku. Ciuman itu terasa sangat menyejukkan. Aku larut dalam kesejukan itu. Aku pejamkan mataku beberapa saat untuk menelusuk lebih jauh pada kesejukan itu. Namun saat aku buka, aku tidak melihat Bapak lagi. Yang tampak dalam pandanganku adalah warna putih langit-langit kamarku. Aku raba keningku, sepotong kain basah menempel di atasnya. Tak lama kemudian kain itu diambil oleh ibu, saat beliau tahu aku sudah siuman. Hampir dua jam aku tidak sadarkan diri. Kata-kata Bapa masih trngiang, aku mash harus mnmpuh jalanku, yang mungkn masih panjang, terjal dan berliku, sebelum aku pulang kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2572271985755228169?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2572271985755228169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/06/perjalanan-pulang_02.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2572271985755228169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2572271985755228169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/06/perjalanan-pulang_02.html' title='Perjalanan Pulang'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3585570873015516273</id><published>2011-02-14T23:59:00.000+07:00</published><updated>2011-02-15T00:00:09.995+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Melahirkan Kembali Muhammad</title><content type='html'>Dalam catatan hariannya, dalam keresahannya terhadap persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini, Ahmad Wahib pun berkata, seandainya Muhammad ada saat ini, apa yang akan dikatakan dan dilakukan oleh Muhammad. Mungkin itu bukan hanya menjadi keresahan Wahib saja. Bisa jadi itu menjadi keresahan saya dan juga anda, ya keresahan kita semua. Mengapa kita mengharapkan kehadiran Muhammad? &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Muhammad adalah sosok agung yang sampai saat ini masih terasa pengaruhnya. Bahkan dia diletakkan sebagai urutan pertama tokoh-tokoh yang paling berpengaruh terhadap perubahan sosial. Dalam waktu yang singkat, 23 tahun, Muhammad mampu melakukan transformasi sosial di satu negeri yang sedang terpuruk. Untuk sekedar mengingat, arab pada sekitar abad 6 Masehi adalah negeri yang secara moral dan sosial sedang terpuruk. Perekonomian mereka hanya dikuasai oleh segelintir orang, para pemodal dari kabilah-kabilah besar. Struktur sosial masyarakat saat itu berdasarkan kesukuan atau dikenal dengan kabilah. Kabilah dengan anggota yang banyak dan mempunyai sumber ekonomi, bisa dipastikan akan lebih berkuasa terhadap kabilah-kabilah lainnya. Apabila ada anggota satu kabilah terbunuh atau dibunuh oleh anggota kabilah lainnya, maka kabilah tersebut harus melakukan pembalasan. Sehingga, tidak jarang terjadi permusuhan, saling menyerang antar kabilah. &lt;br /&gt;Hal lain yang mejadi budaya bangsa arab pra Islam ini yaitu apabila mereka dikarunia anak perempuan, mereka akan kecewa. Baginya, anak perempuan tidak bisa membantu kabilahnya. Maka sering kali mereka membunuh anak perempuannya itu.&lt;br /&gt;Muhammad datang membawa cahaya baru bagi manusia. Dia adalah penerus risalah kenabian yang diutus, setidaknya, dengan dua visi kenabian, yaitu tauhid dan keadilan sosial. Muhammad adalah sosok dengan pembawaan yang lembut di tengah-tengah bangsa Arab yang keras. Dia penuh kasih sayang kepada semua orang. Dia adalah pribadi yang anggung, molek rupa dan akhlaknya. Beliau adalah sosok yang tegas dan juga adil. Dalam diri Muhammad terhimpun Musa, Daud dan Isa. Kesatuan inilah yang membawa beliau kepada kesuksesan dalam melakukan transformasi sosial di tanah Arab dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;Nur Muhammad, menurut satu riwayat, adalah hal pertama yang diciptakan Allah sebelum Dia menciptakan segala sesuatu. Hal ini yang menjadikan beliau sebagai kekasih Allah, bahkan tidak sekedar kekasih-Nya, tetapi juga thariqoh menujunya, sebagamana Allah firmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah, apabila kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), maka Allah akan mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang berkembang saat ini, banyak sekali orang atau kelompok yang meneriakan jargon-jargon “Islam Kaffah”, namun tak jarang pula kita melihat dari mereka hanya mengambil bagian-bagian dari Islam itu sendiri. Tidak melihat Nabi secara utuh. Padahal Nabi adalah sosok yang utuh, mempunyai integritas tinggi. Dalam diri beliau terdapat uswah yang bisa diambil oleh siapa pun. Beliau adalah seorang kepala keluarga, bapak, pedagang, guru, imam shalat, pemimpin umat dan pemimpin negara. Beliau juga adalah seorang panglima perang yang handal.&lt;br /&gt;Sebagai kepala keluarga, Muahmmad saw. Adalah orang yang sanag kasih sayang pada istri-istrinya dan anak-anaknya. Keluarga belaiu adalah keluarga yang harmonis, rukun dipenuhi oleh kasih sayang. Rumah beliau adalah sekolah bagi anak-anaknya dan juga para sahabat. Sebagai pedagang, beliau adalah pedagang yang jujur, tidak curang, tidak mengurangi timbangan, tidak memanipulasi haraga untuk memeroleh keuntungan yang tinggi, sehingga beliau dikenal dengan al-amin.  Sebagai guru belia adalah orang yang sukses mendidik para sahabt menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, cerdas, tegas, amanah, dermawan dan pandai. Hal ini minimal tergambar dalam pribadi khufaaurrasyidin. Sebagai pemimpin umat, beliau adalah orang yang bijaksana dan adil. Beliau sangat mengetahui kondisi umatnya dan hidup selayaknya umatnya. “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku di akhirat nanti bersama kelompok orang-orang miskin”. Begitulah doa beliau yang mungkin tidak bisa kita tiru. Beliau adalah pemimpin yang peduli terhadap orang-orang miskin dan sangat dekat dengan mereka. Beliau adalah pemimpin yang adil, tidak pandang bulu, jikalau Fatimah binti Muhammad mencuri, pastilah akan aku potong tangannya. Begita ujar beliau. Beliau juga pernah memenangkan orang Yahudi yang bersengketa dengan dsfsdfsdorang Muslim.&lt;br /&gt;Kita rindu pada sosok seperti itu, kita rindu pada pemimpin yang adil, dermawan, bijaksana yang mengerti kehidupan rakyatanya, yang hidup seperti juga rakyatnya hidup. Kita rindu pada pemimpin yang tegar, tidak pernah mengeluh pada rakyatnya, tetapi dia hanya mengeluh pada Tuhannya dalam sujudnya di sepertiga malam. Kita rindu pemimpin yang jujur, yang adil dan tidak pandang bulu. Pemimpin yang mau ditegur, diingatkan, pemimpin untuk semua rakyatnya, bukan untuk golongannya saja.&lt;br /&gt;Kita rindu pada sosok pedagang, pengusaha yang jujur, yang tidak mengurangi timbangan. Pengusaha yang tidak memonopoli perdagangan. Kita rindu pada guru yang mempunyai integritas kepribadian, yang bisa menjadi suri teladan bagi murid-muridnya, yang mengamalkan apa yang ia ajarkan, guru yang bisa digugu dan ditiru.&lt;br /&gt;Kita rindu pada pemimpin agama yang bijaksana, yang mengeluarkan fatwa dengan melihat seluruh aspek persoalan. Pemimpin agama yang menghadirkan kesejukan dalam kata-katanya, bukan pemimpin agama yang memecah belah umat. Kita rindu kepada pemimpin revolusi yang konsisten, istiqamah, tidak hanyut oleh pragmatisme kekuasaan dan kepentingan golongan. Kita rindu pada kebenaran. Kita rindu pada keadilan. Kita rindu pada kemakmuran. Kita rindu pada sosok Muhammad. Kita menanti kedatangan Muhammad untuk meyelesaikan persoalan umat ini. kita rindu Muhammad terlahir kembali.&lt;br /&gt;Secara fisik, Muhammad tidak akan terlahir kembali. Namun nur Muahmmad, visi dan misi Muhammad tidak akan pernah lekang oleh waktu. Visi dan misi profetik. Yang kemudian lahir adalah generasi-generasi yang mempunyai integritas kepribadian, ketundukan kepada Allah dan perlawanan terhadap tiran, kasih sayang sesamanya dan sangat keras terhadap kekafiran, kezaliman, dan kesewangan-wenangan. Itulah generasi yang bisa merubah kondisi kita sat ini. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3585570873015516273?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3585570873015516273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/02/melahirkan-kembali-muhammad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3585570873015516273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3585570873015516273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2011/02/melahirkan-kembali-muhammad.html' title='Melahirkan Kembali Muhammad'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-1136373514567012261</id><published>2010-11-16T13:37:00.000+07:00</published><updated>2010-11-16T13:38:42.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Sembelihlah 'Anakmu'</title><content type='html'>“Sembelihlah anakmu,” kata Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan, bukankah anak adalah anugerah-Mu? Aku telah memelihara dan membesarkannya tak lain karena ketaatanku kepada-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oleh karena itu, sembelihlah ia karena ketaatanmu kepada-Ku” kata Tuhan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan ia adalah Qurratu ‘aini, buah hati hamba. Bagaimana mungkin aku menyembelih yang aku sayangi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adakah yang lebih kau sayangi dari pada Aku?”Tanya Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu Engkau di atas segalanya,Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, sembelihlah ia karena kecintaanmu kepada-Ku.” Perintah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan bila Engkau izinkan, biarlah aku menyembelih domba sebagai ganti anakku, sebagaimana Engkau mengganti Ismail dengan domba saat Ibrahim hendak meyembelihnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu merasa sederajat dengan Ibrahim. Dia adalah khalili, teman-Ku, orang yang sangat dekat dengan-Ku. Kalau kamu tak mampu menyembelih anakmu, maka sembelihlah dirimu!” kata Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan, begitu kotor diri ini, begitu banyak dosa yang telah aku perbuat, begitu banyak hak anak Adam yang telah aku ambil. Dalam keadaan demikian, bagaimanakelak aku mempertanggungjawabkannya di hadapan-Mu. Layakkah aku kembali padamu dalam keadaan penuh dosa. Tuhan, tangguhkanlah sejenak kepulanganku kepada-Mu, niscaya akan aku perbaiki diri ini.” Pohonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, sembelihlah anak yang ada dalam dirimu,anak yang berupa kecintaan yang berlebihan pada dunia, anak yang berupa rasa memiliki yang akna mengantarkanmu pada keinginan untuk menguasai, yang kemudian akan melahirkan ketamakan, oba, serakah, yang semua itu akan membawamu pada perbuatan aniaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menyembelih “anak” dalam diri kita masing-masing. SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-1136373514567012261?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/1136373514567012261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/11/sembelihlah-anakmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1136373514567012261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1136373514567012261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/11/sembelihlah-anakmu.html' title='Sembelihlah &apos;Anakmu&apos;'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3499543736376859630</id><published>2010-11-13T11:34:00.001+07:00</published><updated>2010-11-13T11:35:35.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kehadiranmu</title><content type='html'>kehadiranmu meninggalkan luka di sini&lt;br /&gt;dalam diri ini&lt;br /&gt;entah mengapa aku merasa begitu perih&lt;br /&gt;adakah ini serpihan dari bongkahan rasa yang lama terpendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu telah membawa kita pada dunia yang berbeda&lt;br /&gt;jarak telah menyekat ruang berada kita&lt;br /&gt;setiap langkah telah menjadikan kita yang berbeda&lt;br /&gt;aku bukan aku, dan kamu bukan kamu&lt;br /&gt;sebagaimana kita pernah bersama dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun,&lt;br /&gt;ternyata waktu tak bisa membunuh rindu&lt;br /&gt;masa tak mampu menghapus rasa&lt;br /&gt;ia tetap menyala, membara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujan yang masih turun di bulan Juni&lt;br /&gt;berhenti oleh hadirmu&lt;br /&gt;karena engkau membawa senyum cerah mentari&lt;br /&gt;yang menyinari setiap tempat&lt;br /&gt;yang pernah kita lewati dengan berjalan kaki&lt;br /&gt;tapi, entah mengapa&lt;br /&gt;senyum itu kini menyayat bagai sembilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalaupun waktu tak mampu menghapus bayang senyum itu&lt;br /&gt;biarlah waktu membunuh ada-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25062010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3499543736376859630?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3499543736376859630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/11/kehadiranmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3499543736376859630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3499543736376859630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/11/kehadiranmu.html' title='Kehadiranmu'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3696059133495164401</id><published>2010-11-04T10:58:00.000+07:00</published><updated>2010-11-04T10:59:29.138+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Lomba'/><title type='text'>Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2011</title><content type='html'>Dalam rangka meningkatkan jumlah dan mutu buku-buku pengayaan untuk peserta didik dan meningkatkan motivasi menulis di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan, Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional akan menyelenggarakan Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2011 dengan total hadiah Rp1.080.000.000,00 (satu miliar delapan puluh juta rupiah).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;TEMA PENULISAN&lt;br /&gt;“Membangun manusia Indonesia yang religius, cerdas, bermartabat, mandiri, dan kompetitif di era global dalam rangka pengembangan budaya dan karakter bangsa bagi peserta didik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NASKAH YANG DISAYEMBARAKAN&lt;br /&gt;Naskah yang disayembarakan adalah naskah buku pengayaan, yaitu buku yang memuat materi yang dapat memperkaya dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keterampilan, serta membentuk kepribadian peserta didik untuk jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK/MAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESERTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayembara ini terbuka bagi para pendidik (berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan) dan tenaga kependidikan (pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar) pada pendidikan formal maupun nonformal, baik yang masih aktif maupun sudah pensiun. Peserta adalah perorangan, bukan tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATAS PENGIRIMAN NASKAH&lt;br /&gt;Naskah dikirim paling lambat tanggal 1 Maret 2011 (stempel pos) kepada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010&lt;br /&gt;Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;Jln. Gunung Sahari Raya No. 4 Jakarta 10002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADIAH (Per Jenis Naskah) untuk 54 naskah pemenang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemenang I : Rp 21.000.000,00&lt;br /&gt;2. Pemenang II : Rp 20.000.000,00&lt;br /&gt;3. Pemenang III : Rp 19.000.000,00&lt;br /&gt;Hadiah dikenai PPh 15%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Naskah yang diajukan adalah:&lt;br /&gt;a. karya asli,&lt;br /&gt;b. tidak berseri,&lt;br /&gt;c. tidak sedang diikutsertakan pada sayembara lain sebagian ataupun seluruhnya,&lt;br /&gt;d. belum pernah menjadi pemenang sebagian ataupun seluruhnya dalam sayembara mana pun, dan&lt;br /&gt;e. belum pernah diterbitkan sebagian ataupun seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan di atas harus dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani di atas materai Rp 6.000,00 (enam ribu rupiah) oleh penulis naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melampirkan surat keterangan masih aktif bekerja dari lembaga pendidikan tempat bekerja atau fotokopi SK terkini atau fotokopi SK pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Melampirkan biodata yang ditandatangani oleh penulis naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Naskah diberi identitas, yakni:&lt;br /&gt;a. judul naskah,&lt;br /&gt;b. jenis naskah&lt;br /&gt;c. peruntukan (peserta didik SD/MI, SMP/MTs, atau SMA/MA/SMK/MAK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Keterampilan vokasional meliputi:&lt;br /&gt;a. kerajinan kriya,&lt;br /&gt;b. teknologi rekayasa,&lt;br /&gt;c. teknologi pengolahan, dan&lt;br /&gt;d. teknologi budidaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Naskah diketik dengan komputer dan dicetak (print out) pada kertas A4, 2 spasi, ukuran font 12, jenis huruf arial, times new roman, atau tahoma, minimal 20 baris tiap halaman, batas margin tepi kertas 3 cm. Jumlah halaman isi (di luar halaman pendahulu/awal dan bagian belakang naskah): SD/MI: 60 s.d. 100 halaman, SMP/MTs.: 80 s.d. 150 halaman, SMA/MA/SMK/MAK: 100 s.d. 200 halaman. Khusus untuk puisi tidak terikat pada ketentuan jumlah baris dan batas margin tiap halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Jika menggunakan gambar; ukuran dan jumlah harus proporsional, terintegrasi dengan teks, dan mendukung materi. Semua kutipan, foto, dan ilustrasi harus menyebutkan sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Daftar pustaka wajib dibuat untuk pengayaan pengetahuan dan keterampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Naskah buku pengayaan bukan termasuk buku pelajaran. Oleh karena itu, materi naskah buku pengayaan tidak dilengkapi dengan alat evaluasi dalam bentuk pertanyaan, tes, LKS, atau bentuk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETENTUAN PENGAJUAN NASKAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi naskah tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku, tidak bias gender, serta tidak menimbulkan masalah SARA.&lt;br /&gt;Naskah dikirim berupa ketikan asli dan dijilid rapi (bukan fotokopi atau dummy).&lt;br /&gt;Setiap calon peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu (1) judul naskah.&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah yang dikirim ke Panitia menjadi milik Panitia dan tidak dikembalikan.&lt;br /&gt;Hasil keputusan Dewan Juri Sayembara tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;Pengumuman dan pemberian hadiah kepada pemenang akan dilaksanakan pada peringatan Hari Buku Nasional tahun 2011. Para calon pemenang Sayembara akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti wawancara dan menghadiri pengumuman pemenang. Calon pemenang yang tidak dapat mengikuti wawancara dianggap mengundurkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemegang hak cipta (hak ekonomi) naskah pemenang Sayembara berada pada Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi lebih lanjut tentang Sayembara dapat menghubungi Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional, Telepon (021) 3804248, Pesawat 275, Faks. (021) 3458151, 3806229, email: bangnas_pusbuk@yahoo.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it , serta melalui Situs Internet Pusat Perbukuan dengan alamat www.pusbuk.or.id.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3696059133495164401?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3696059133495164401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/11/sayembara-penulisan-naskah-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3696059133495164401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3696059133495164401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/11/sayembara-penulisan-naskah-buku.html' title='Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2011'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-5969613211448121264</id><published>2010-10-06T12:39:00.000+07:00</published><updated>2010-10-06T12:42:28.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku</title><content type='html'>ada seseorang di kepalaku yang bukan aku&lt;br /&gt;dia menyuruhku berjalan,&lt;br /&gt;namun tak pernah ia menunjuk arah&lt;br /&gt;dia menyuruhku berbicara&lt;br /&gt;namun tak pernah ia memberi makna&lt;br /&gt;dia menyuruhku bernyanyi&lt;br /&gt;namun tak pernah ia memberi nada &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin aku menolak, ingin akan membantah&lt;br /&gt;namun ia laksana magi yang membuatku lupa diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inginku membunuhnya, mencincangnya&lt;br /&gt;namun aku takut&lt;br /&gt;aku turut mati bersamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pun berjalan tanpa arah&lt;br /&gt;berbicara tanpa makna&lt;br /&gt;bernyanyi tanpa nada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-5969613211448121264?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/5969613211448121264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/10/ada-seseorang-di-kepalaku-yang-bukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5969613211448121264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5969613211448121264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/10/ada-seseorang-di-kepalaku-yang-bukan.html' title='Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-1002485741988309762</id><published>2010-07-28T16:48:00.001+07:00</published><updated>2010-07-28T16:49:52.817+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Dongeng Sebelum Tidur</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dongeng Sebelum Tidur&lt;/span&gt; hanyalah surevei kecil-kecilan yang saya lakukan dalam waktu yang sangat singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Depan Penelitian&lt;br /&gt;Awalnya saya sedang menulis tentang kisah-kisah nabi dan orang-orang terdahulu. Saya ingat, saya dulu mendapatkan cerita tersebut karena didongengi menjeleng tidur oleh ibu atau bude saya, tentu waktu itu saya masih kecil. Selain itu, kisah yang sering menjadi pengantar tidur saya adalah kisah Kancil dan Pak Tani, Timun Emas, Bawang Merah dan Bawang Putih, dll.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena saya ingin mengkontekskan tulisan saya dengan perkembangsan saat ini, maka saya bertanya kepada rekan kerja saya tentang dongeng yang sering mereka kisahkan. Alangkah kagetnya saya, ternyata dari 4 orang rekan saya, hanya satu yang masih sering mendongeng untuk anaknya. Yang satu (laki-laki) beralasan karena sering kerja sampai malam (kerjanya di rumah) sehingga dia tidak bisa mendongeng untuk anaknya yang tidur sejak sore.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anggapan awal saya adalah, mendongeng sebelum tidur adalah tradisi yang masih dilestarikan di dalam bangsa kita, karena itu cara yang baik untuk menanamkan nilai-nilai yang luhur. Namun, dari pertanyaanku kepada  4 orang temanku tersebut, aku pun jadi penasaran. Dari curiosity saya itu, kemudian saya mengirim pesan singkat kepada beberapa teman, meminta tolong kepada mereka untuk mengkroscek di sekitar mereka, atau pada diri mereka sendiri (bagi yang sudah punya anak). Bukan kebetulan teman-teman saya tersebut ada di beberapa daerah, baik di Jawa maupun Sumatra, kampung dan kota.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Tanya&lt;br /&gt;Kegelisahan yang saya bagi kepada teman-teman adalah: APAKAH MEREKA (orang tua) SUKA MENDONGENGKAN UNTUK ANAK MEREKA KETIKA ANAK HENDAK TIDUR PADA MALAM HARI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai Jawab&lt;br /&gt;Saya meminta kepada teman-teman saya masing-masing 3 responden. Dari beberapa teman yang dengan baik hati mau melakukan interviu singkat tersebut dan mengirimkan hasilnya kepada saya, meskipun tiak semunya mengirim 3 responden seperti yang saya minta. Kemudian saya perleh hasil sebagai berikut: (Per Sabtu 36/70/2010 19.40)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jumlah yang diwawancarai secara singkat dan random  adalah 30 orang. Karena random, jadi tidak ditentukna jenis kelaminya, ataupu domisilinya. Dari 30 orang tersebut 14 orang mendongeng untuk anaknya ketika hendak tidur. Di anatar 14 orang tersebut bahkan ada 1 orang yang selain mendongeng juga meminta maaf kepada anaknya. Dongengnya pun beracam-macam, kebanyakan hanya membaca dari buku, dan dilakukan oleh sang ibu. Namun ada 1 orang yang mendongeng dengan ceritanya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adapun yang tidak mendongeng terdapat 12 orang. Tak ada keterangan yang lebih dari 12 orang ini. Sementara sisanya 4 orang tidak mendongeng untuk anaknya, tetapi mereka melantunkan shalawat nabi. Sedangkan 1 orang lagi tidak mendongeng, tidak juga shalawat nabi, tetapi sekedar tepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya kira, banyak hal yang tidak terungkap di sini, semisal  apakah dongeng itu masih dianggap perlu, apa yang mereka kisahkan (dongengkan), atau mengapa mereka tidak mendongeng. Bisa jadi karena orang tersebut sibuk dengan pekerjaanya. Bisa juga karena anak memang tidak senang dongeng. Bisa jadi ada pembantu yang mendongeng. Atau bisa jadi hal tersebut sudah diwakilkan kepada televisi. Yang terakhir ini saya kira kok kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;Apa yang saya ungkap di atas hanyalah sekedar hasil dari satu reiset kecil nan singkat, tambah pula dengan metode yang saya kira tidak begitu dikenal di dunia Metodologi Penelitian. Dengan demikian, peneitian yang serius cukup baik jika ada yang berkenan. Atau jika memang penelitian semisal iu sudah ada, mungkin bisa dibagi kepada yang lain, terutama saya. Hasil tersebut juga tidak menggambarkan apa pun tentang masyarakat kita. Namun demikian, hal tersebut dapat menjadi renungan kita bersama. Kita bisa mengaitkannya dengan banyak hal yang terjadi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perihal apakah cerita atau dongeng sebelum tidur penting atau tidak, itu kembali pada cara pandang kita. Dan apakah perlu atau tidak kita mendongeng untuk anak, itu kembali pada diri masing-masing. Biarlah hati kecil kita yang menjawab. Saya sendiri tidak tahu, karena memang saya belum punya anak. He.. he….&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terimakasih saya ucapkan kepada teman-teman yang merespon SMS saya. Mungkin sebagian kalian mengira itu hanya sms iseng, sehingga enggan untuk membalas. Tak apa, karena pertanyaan itu munculnya juga iseng, namun karena keisengan itu dia mengganggu dan membuatku gelisah. Namun ada juga yang tak berselang lama menjawabnya. Ada juga yang bertanya terlebih dahulu “untuk apa?” ada juga yang harus menuggu sore, karena dia akan bertanya pada murid-murid TPA-nya. Terimakasih semunya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wallau a’lam bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-1002485741988309762?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/1002485741988309762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/07/dongeng-sebelum-tidur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1002485741988309762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1002485741988309762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/07/dongeng-sebelum-tidur.html' title='Dongeng Sebelum Tidur'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-695276903868644767</id><published>2010-05-25T20:59:00.000+07:00</published><updated>2010-05-25T21:00:53.824+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Kafir</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Apa yang dimaksud dengan kafir sehingga Allah membenci golongan tersebut? Istilah “kafir” berasal dari kata kafara كفر   - يكفر   كفرا-yang artinya menutupi. Sehingga orang kafir sebenarnya adalah orang yang menutupi atau tertutupi. Apa yang tertutupi? Hatinya. Orang-orang kafir adalah orang-orang yangntertutupi hainya sehingga dia tidak bisa melihat keindahan dan keagungan Allah SWT. Dia tidak bisa menembus pada hakikat ke-Allah-an. Dengan demikian golongan ini tidak tertarik dengan keindahan Allah dan tidak ada keinginan untuk mendekat kepada Allah. Maka orang-orang selalu jauh dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang menghangi seseorang dari Sesutu sering disebut sebagai hijab. Orang yang terhijab tidak mengetahui apa sebenarnya yang ada di balik hijab tersebut sampai kemudia dia menyingkapkan hijabnya. Orang jauh dari Allah karena dia terhijab. Apa yang menghijabinya? Tidak lain adalah hawa nafsu dan cinta dunia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, setiap manusi yang lahir di dunia ini telah membawa fitrah ketuhanan. Dia telah dikarunia satu “fakultas” dalam dirinya untuk mengenal Allah. Dalam artian, sejak manusia dilahirkan dia telah membawa kepercayaan dalam dirinya, tetapi sifatnya masih berupa firtah atau potensi. Adanya fitrah ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal. Pertama bahwa Allah adalah Esa, semua selain dia adalah makhluk atau yang dicipta. Dalam mencipta, tentu tidak lain adalah dari diri Dia sendiri, sehingga semua makhluk tidak lain adalah cerminan dari Allah sendiri. Kedua, Allah berfirman bahwa ketika menciptakan manusia, Allah meniupkan ruh-Nya kepada manusia, sehingga ruh manusia tidak lain adalah bagian dari ruh Tuhan. Ketiga, ketika di alam ruh, manusia telah mengambil kesaksian bahwa Allah adalah Tuhannya, Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, pada dasarnya manusia telah terikat dengan sumpah primordialnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagai suatu yang potensial, dia bisa tumbuh dan berkembang, atau sirna tertimbun berbagai hal. Dan hal-hal yang menghijabnya tadi adalah hubbub dunnya wa karahiyatul maut.&lt;br /&gt;Dalam keterangan lain dijelaskan bahwa orang-orang kafir ini adalah orang yang sudah dikunci hatinya oleh Allah, pendengaran dan juga pengelihatannya. Sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman (6). Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang amat berat. (al-Baqarah [2] : 6-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan manusia sehari-hari, pendengaran dan pengelihatan manusia mempunayai peran yang sangat vital. Orang bisa menjadi menderita karena mempunyai mata namun tidak bisa melihat atau buta, namun masih bersyukurlah dia bila pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Dengan pendengaran tersebut, seorang yang buta masih bisa mengenali alam sekelilingnya. Dia masih bisa menangkap gerakan-gerakan yang ada di sekitar dirinya. Selain itu, dia masih mempunyai hati untuk membimbing dirinya. Hati yang “hidup” akan sangat sensitive dengan aktifitas yang ada di dektanya, bahkan jarak yang jauh dari dirinya. Namun, bisa dibayangkna, apabila ada seseorang yang tidak bisa melihat (buta), tidak bisa mendengar (tuli) sekaligus hatiya “mati”. Alangkah menderitanya keadaan orang tersebut. Dan demikian iulah gambaran orang-orang kafir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan orang buta dan tuli seklaigus hatinya “mati” yang berjalan di tepian jurang, lalu engkau meneriakinya dengan sekuat tenagamu agar orang tersebut tidak masuk ke jurang, maka yang terjadi orang tersebut tidak aakn mendengarkan panggilanmu. Demikianlah sikap orang-orang kafir, meskipun engaku telah berusaha sekuat tenaga utnuk menyampaikan pesan Tuhan, baik dengan kata dan perbuatan, mereka tidak akan menghirakuannya, apalagi menanggapinya, karena mereka tidak bisa melihat dan mendengar pesamnu dari Tuhanmu tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsir al-Misbah, Qurais Shihhab menguraiakn lima bentuk kekufuran pertama yaitu kufur akan keberadaan Allah SWT, golongan ini menginngkari akan adanya pencipta alam semesta ini. Kedua, orang yang mengeahui kebenaran tetapi menolaknya, antara lain diesbabkan oleh kebencian kepada pembawa kebenaran tersebut. Ketiga, kufur ni’mah ( كفر نعمة)   yaitu tidak mensyukuri nikmat allah yang telah diberikan kepadan-Nya, sebagaimana firman Allah: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14]: 7). Keempat kefur dengan meningggalkan atau tidak mengerjakan tuntunan agama, kendati tetap percaya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan kafir (ingkar) terhadap sebahagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah [2]: 85) dan yang kelima adalah kufur bara’ah yaitu tidak merestui dan berlepas diri, seperti ucapan nabi Ibrahim kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami kafir (berlepas diri) daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-695276903868644767?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/695276903868644767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/05/kafir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/695276903868644767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/695276903868644767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/05/kafir.html' title='Kafir'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6461525205035013709</id><published>2010-05-19T14:02:00.001+07:00</published><updated>2010-05-19T14:12:49.893+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Keadilan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Apabila kita mengikuti perkembangan pemberitaan media massa akhir-akhir ini, kita akn merasakan bahwa, sungguh apa yang disebut sebagai keadilan itu tidak lain adalah sesuatu yang utopis, jauh dari realitas, mimpi siang bolong. Dia begitu sering dibicarakan, ditulis, idiskusikan, diseminarakna di Koran, ruang seminar, televise, namun dia tetap tearasa begitu jauh. Konon, kita hidup di negeri yang menganut demokrasi dimana salah satu pilar pilar pentingnya adalah keadilan, namun itu haya menjadi konsep. Konon, kita hidup di negera hokum yang menjunjung tinggi keadilan, kenyataannya keadilan hanya dijadikan sebagai alas kaki meja saja. Hokum di negeri kita ini bak pisau bermata dua, tajam memotong orang-orang yang lemah, miskin, terpinggirkan, namun begitu tumpul di hadapan para konglomerat, pengusaha dan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari segi ekonominya, negeri ini konon menganut ekonomi pancasila, ekonomi kerakyatan, namun kenyataannya kemakmuran hanya menjadi milik segelintir orang. Kekayaan Negara yang begitu melimpah hanya dinikmati oleh beberapa keluarga, sementara ratusan jiwa lainnya hidup dari mengais “sisa-sisa” segelintir orang tersebut. Otonomi daerah ternya baru memberikan desentralisi kekuasaaan, bukan desentralisasi kesejahteraan. Pendidikan, kesahatan dan kesejahteraan social hanya bias diakses oleh mereka yang kaya dan berkuasa. Lalu kemana larinya jargon-jargon keadilan tersebut?&lt;br /&gt;Agama-agama samawi yang diturunkan Allah SWt sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW memilik visi yang sama, yaitu menyeru manusia kepada tauhid, yaitu mengesakan Allah SWT, dan satu lagi yaitu keadilan sosial. Hal ersebut bisa dirunut dalam sejarah para utusan Allah tersebut. Sebagai contoh, bagaimana Nabi Musa AS selain menyeru Bani Isail unutk meriman kepada kepada keesaan Allah juga menyerukan untuk berbuat adal. Dia dihadapakan pada Fiar’aun, raja yang menganggap dirinya sebagai tuhan dan berlaku sewenang-wenang kepada siapa pun yang menentangnya. Begitu juga musa dihadapkan dengan Qarun, seorang yang semula miskin lalu oleh Allah diberi kekayaan, namun ia kemudian lupa diri. Qarun kemudian menjadi orang kaya yang bakhil yang tidak memedulikan nasib orang lain.&lt;br /&gt;Sama halnya dengan Nabi Musa, Ibrahim As juga dihadapkan kepada raja yang memimpin dengan  sewenang-wenang. Isa AS yang menyeru pad Bani Israil juga harus berhadapan dnegan orang-orang akya yang bakhil, para saudagar-saudagar yang menimbun harta, tidak memedulikan kaum miskin. Dalm lembar sejarah tercataat bagaiman Isa menentang kesewang-wenangan tersebut, dia hidup bersama orang-orang miskin, mengajari mereka ketauhidan, kasih saying dan keadilan.&lt;br /&gt;Nabi Muahmmad SAW adalah pejuang keadilan sejati. Dia dilahirkan di negeri yang dipenuhi dengan tribalisme, siapa yang kuat dialah yang menang dan menguasai sumber-sumber ekonmi, atau dalam arti lain merekalah yang hidup makmur. Wanita saat itu menjadi makhluk kasta terendah, sehingga tidak jarang bapak yang membunuh dengan anak perempuannya dengan menguburnya hidup-hidup. Pada masanya pula, perbudakan meraja lela. Orang yang menjadi budak sama sekali tidak memiliki kemerdekaan, bahkan terhadap dirinya sendiri. Muhammad SAW diutus, selain untuk menyer kepada pengesaan Allah, juga untuk menyeru pada keadilan. Dia berdakwah dan berjuang melawan ketimpangan sosial yang ada di masyarakatnya,  berjuang untuk persamaan hak sebagai mansusia, entah itu laki-laki atau perempuan. Berjuang menghapuskan praktik penindasan terhadap anak-anak perempuan dan para budak, sehingga wajar saja jika pengikut-pengikut awalnya adal dari dua golongan ini.&lt;br /&gt;Begitu penting makna keadilan dalam Islam, sehingga dia diletakkan dalam visi kenabian dan kerasulan, berdampingan dengan ketauhidan. Lalu apa hakikiat keadilan itu sehingga dia layak dan mesti diperjuangkan? Sedemikian pentingkah keadilan dalam kehidupan manusia, sehingga Allah mencintai keadilan dan orang-orang yang berbuat adil?&lt;br /&gt;Dalam al-Quran Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (al-Maidah [5]: 42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran kata “adil” atau “keadilan” diungkapkan dengan beberpa kata, diantaranya ‘adl    .(عدل) Kata ini juga menjadi salah satu asmaul husna (nama-nama yang baik bagi Allah).  Adapun kata lain yang sering digunakan di dalam al-Quran adalah qisth   (قسط) sebagaimana nampak pada ayat di atas.&lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adil memiliki arti…….&lt;br /&gt;Menururt Murtadha Muthahhari, “keadilan” digunakan dalam empat hal, yaitu:&lt;br /&gt;1. Keseimbangan&lt;br /&gt;Keadilan di sini berarti keadaan yang seimbang. Semisal kita membeli beras di suatu warung dan menimbangnya, maka timbangan tersebut haeuslah seimbang. Atau sebagai missal kita membagi dua hasil bururan kita, maka dia harus dibagi denan cara seimabng.&lt;br /&gt;2. Persamaan dan nondiskriminasi&lt;br /&gt;3. Pemberian hak kepada yang pihak yang berhak&lt;br /&gt;4. Pelimpahan wujud berdasarkan tingkat kelayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6461525205035013709?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6461525205035013709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/05/keadilan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6461525205035013709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6461525205035013709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/05/keadilan.html' title='Keadilan'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-5616107452070159448</id><published>2010-04-29T20:26:00.001+07:00</published><updated>2010-04-29T20:30:40.076+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Takwa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kehidupan di dunia ini adalah pengembaraan. Dia bukanlah awal dan juga bukan akhir. Bukan awal dikarenakan pada hakikatnya kita pernah mengalami satu kehidupan sebelum di dunia ini, yaitu kehidupan di alam rahim. Kehidupan di alam rahim ini secara umum lebih pendek dari kehidupan di dunia ini. Namun sebelum di alam rahim, kita juga pernah mengalami kehidupan di alam ruh. Terkait lamanya kehidupan di alam ruh ini, tak seorang pun mengetahuinya. Tentu, karena alam ini lepas dari dimensi ruang dan watu. Dengan demikian, nanti, esok atau lusa, kita akan meninggalkan dunia ini menuju pada satu kehidupan yang lain lagi, dunia yang lain lagi. Dan selanjutnya kita akan kembali kepada yang menciptakan kita, Allah ‘aza wa jalla.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya semua manusia akan “mudik”, pulang kampung halaman, berkumpul kembali dengan Kekasihnya. Ke mana lagi kalau bukan kepada yang dengan sinar kasih-Nya telah menciptakan kita? Bukankah hidup ini adalah sebuah perantauan? Bukankah kita ini hanyalah para musafir? Dan musafir pastilah dia tidak akan tinggal lama di persinggahan, dia akan segera berkemas dan berjalan kembali ke tempat tujuan akhirnya? Sebagai orang yang akan mudik sudahkah kita menyiapkan bekal untuk mudik? Sudahkah kita punya ongkos? Sudahkah kita membeli tiket? Sudahkan kita menyediakan oleh-oleh untuk yang kita cintai? Jika kita mudik ke kampung halaman, yang kita bawa biasanya adalah pakaian dan makanan. Ketika kita mudik kepada Allah, apa yang akan kita bawa? Apa yang akan kita persembahkan?&lt;br /&gt;Dalam surat Al-baqarah 197 Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ayat tersebut berbicara dalam konteks ibadah haji, namun saya kira juga relevan kalau kita tarik pada ranah kehidupan yang lebih luas. Dalam ayat di atas, Allah menyerukan kepada hamba-Nya untuk membekali diri dengan takwa. Dalam ayat lain dikatakan libasu at-taqwa khair, pakaian takwa iitu adalah pakaian yang terbaik jadi kita harus mudik dengan membawa bekal dan pakaian takwa.Apa takwa itu?&lt;br /&gt;Takwa, umunya didefinisikan dengan menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya. Takwa adalah sebauh kulitas kepribadian yang harus dicapai seorang muslim. Bahkan Islam mewanti-wanti umatnya agar jangan sampai di antara mereka ada yang mati tanpa bekal takwa. Takwa menjadi buah seluruh ibadah mahdlah dalam Islam, dari shalat, zakat, puasa dan naik haji, tujuan akhirnya adalah untuk mencapai derajat atau kualitas takwa.&lt;br /&gt;Takwa haruslah menjadi asas bagi bangunan yang kita dirikikan. Hal ini tersirat dalam QS. at-Taubah [9]: 108 yang menceritakan tentang pendirian Masjid Dlirar, yaitu masjid yang didirikan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat Islam, kemudian Allah berfirman :&lt;br /&gt;Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah [9]: 108).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bangunan di sini bukan hanya berarti bangunan fisik, tetapi mencakup seluruh bangunan hidup kita. Dalam artian, apa pun yang kita lakukan di dunia ini haruslah dilandasi oleh takwa, yaitu bahwa esegala sesuatu tidak diniatkan kecuali untuk menggapai ridha Allah swt. Bukan untuk kepentingan sesaat, kepentingan pragmatis, aau hanya untuk memenuhi hawa nafsu semata. Dan untuk mencapai keridhaan tersebut hanya akan mungkin bila kita menjalankani kehidupan ini seseuai dengan kehendak-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketakwaan adalah sesuatu yang bersifat rohani. Rasulullah saw. bersabada “ at-taqwa hahuna” Takwa itu di sini, sembari menunujuk ke arah dadanya. Jadi, dia berada dalam diri yang terdalam manusia. Namun demikian, sebagaimana halnya muiara, ketakwaan yang ada di dalam dada ini kemudian memancar keluar dalam bentuk perbuatan dan sikap hidup, sehingga ketakwaan seseorang akan tercermin dari bagaimana di menjalani hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Allah swt kemudian merinci ciri-ciri orang yang bertakwa. Dalam surat Al-Baqarah ayat 3-5 Allah menjelaskan orang yang bertakwa adalah orang yang 1) beriman kepada yang ghaib, 2) mendirikan shalat, 3) menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah, 4) beriman kepada apa yang duturunkan kepada Muhammad SAW (al-Quran) dan nabi-nabi sebelumnya, dan 5) beriman kepada hari akhir. Dari beberapa poin tersebut, takwa sikaitakn dengan iman. Iman kepada yang ghaib, yaitu Allah, malaikat, dan jin. Iman terhadap hal-hal tersebut berarti mengakui keberadaanya, meskipun tidak tampak secara kasat. Iman kepada Allah memberikan konsekwensi bagi kita untuk menjalankan perintahnya dan meninggalkan larangnnya. Iman kepada-Nya juga mengharuskan kita sadar bahwa segala tindak tanduk kita tidak mungkin luput dari pengawasan-Nya. Sehingga dalam ibdah kita dianjurkan “beribadahlah kamu seakan-akan kamu melihat Allah, seandainya pun kamu tidak melihat-Nya, niscaya Allah melihatmu”. Orang melakukan kejahatan dan kecurangan seirngkali karena merasa tidak ada orang yang melihat dan mengawasi dirinya, sehingga dia bebas berbuat semaunya, namun dia lupa bahwa Gusti ora sare, Allah itu tidak tidur. Dia mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi.&lt;br /&gt;Dalam ayat lain, yaitu surat Ali Imran 133-135 Allah menjelaskan ciri-ciri lain dari orang yang bertakwa, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. 135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat tersebut, setidaknya ada empat cirri orang bertakwa, yaitu: 1) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, 2) orang-orang yang menahan amarahnya, 3) mema'afkan (kesalahan) orang, 4) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka serta tidak meneruskan dan mengulangi perbuatan kerji tersebut.&lt;br /&gt;Apabila dalam surat Al-Baqarah 2-5 tadi sebagian besar mengaitkan ketakwan dengan keberimana, itu berarti takwa ditarik ke dalam dimension internal diri manusia, maka pada ayat-ayat di Surat Ali Imran di atas mengaitkan takwa dengan prilaku sosial. Sama dengan pada surat Al-Baqarah ayat 2, dalam hal ini menginfakkan sebagian harta kita kepada fakir miskin adalah ciri dari orang-orang yang bertakwa. Selain itu orang bertakwa adalah orang yang mau berlapang hati, bukan hanya untuk tidak marah, tetapi juga memberikan maaf kepada orang lain. Bisa jadi jika ada orang lain memojokkan kita, kita tidak akan marah, karena secara power kita tidak lebih kuat dari dia. Namun seringkali, meski tidak marah, ada orang yang masih mendendam, dan mencari kesempatan untuk membalas, atau minimal akan merasa puas dan bahagia apabila orang yang memojokkan tadi terpojook, meski bukan oleh orang itu sendiri. Sesuai ayat di atas, ini bukanlah sifat orang bertakwa. Hal ini ipertegas lagi, “apabila engkau memberi maaf, sungguh yang demikian itu lebih dekat kepada ketakwaan (QS. Al-Baqarah [2]: 237).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Orang bertakwa bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang apabila melakukan kesalahan dia segera sadar, bertobat, memohon ampun kepada Allah, lalui melakukan perbuatan baik untuk menutupi keburukkannya itu. Ini sesuai perintah Rasulullah SAW, ittaqillaha haitsu ma kunta, wattabi’s as-sayiata hasanata tamhuha, bertakwalah kepada Allah di mana saja, dan ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik yang akan menghapus perbuatan buruk tersebut. Apabila perbuatan buruk kita bersangkutan dengan hak-hak anak Adam, maka hak-hak tersebut haruslah ditunaikan terlebih dahulu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam ayat lain Allah menjelaskan, orang yang bertakwa adalah mereka di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar dan memberikan sebagaian harta mereka untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (Ad-Dzariat 16-19). Ketakwaan, selain dikaitakan dengan berinfak, dalam ayat tersebut di atas juga dikaitkan dengan bangun malam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitu dahsyatnya bangun malam (qiyamu al-lail), sehingga dia menjadi ciri-ciri orang yang bertakwa. dalam surat Al-Muzammil Allah memerintahkan untuk bangun bangun malam, mengisinya dengan shalat, membaca Al-Quran dan berdzikir, meskipun hanya sejenak. Begitulah yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat, terlebih-lebih pada malam-malam bulan ramadhan, di mana segala amalan ibadah di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Bangun malam merupakan rahasia dari kesukessan dakwah Nabi Muhammad saw. Bahkan menurut satu riwayat, karena seringnya shalat malam, kaki Nabi sampai bengkak-bengkak. Setiap kali shalat malam, selalu sja beliau menangis. Melihat itu, Aisyah bertanya ”Ya Rasulullah s.a.w., mengapa engkau menangis. Bukankah engkau maksum, dan Allah s.w.t. telah berjanji mengampuni segala dosamu, baik yang akan datang maupun yang telah lalu?” Jawab nabi saw., ”Apakah tidak sepatutnya saya menjadi hambaNya yang bersyukur?” Rasulullah selanjutnya bersabda, ”Mengapa saya tidak berbuat seperti ini, padahal Allah s.w.t. telah berfirman:&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambi tentang penciptaan berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan angit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka kami peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali ’Imran [3]: 190-191).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menjadi ciri orang bertakwa, sehingga Allah menintai golongan ini, adalah mau menempati janji. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, Maka Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali ‘Imran [3]: 76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, Maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS. At-Taubah [9]: 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga firman Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa ada Perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharaam? Maka selama mereka Berlaku Lurus terhadapmu, hendaklah kamu Berlaku Lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah [9]: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi Takwa&lt;br /&gt;Takwa adalah kualitas diri seseorang. Sikap yang konsisten untuk menjaga diri dari hal-hal yang menyebabkan datangnya kemurkaan Allah dengan menjalankna perintah-perintahnya ini, tentu akan mempunyai impliksi dalam kehidupan seseorang. Selayaknya fondasi sebuah bangunan, dia tidak hanya memperkokoh tegaknya bangunan, tetapi juga dia menjadi bagian integral yang mempengaruhi bentuk bangunan. Dalma artian bangunan tersebut akan menurut bentuk fondasinya. Dalam hal ini, ketakwaan akan mewarnai sikap dan laku seseorang, karena tingkah laku seseorang adalah cerminan dari apa yang ada di dalam dirinya.&lt;br /&gt; Orang yang bertakwa akan selalu mengingat Allah. Allah swt akan selalu dihadirkan dalam setiap gerak-geriknya. Allah swt. selalu hadir dalam setiap tarikan nafasnya. dengan demikian, dia akan merasa bahwa Allah selalu mengawasinya. Maka dia akan melakukan hal yang terbaik selayaknya anak buah yang bekerja dan diawasi oleh atasannya. Bahakan lebih dari itu, karena yang mengawasi ini bukan hanya bos yang membayar kita, tetapi Dialah yang telah meciptakan dan menghidupkan kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Orang yang selalu menghadirkan Allah dalam setiap kehidupannya, maka Allah pun menghadirkan ornag tersebut dalam rahmatnya. Allah mencintai orang tersebut karena dia juga mencintai Allah. Sebagaiman digambarkan oleh Rasulullah saw, apabila engkau berjalan satu langkah menuju Allah, maka Allah seribu langkah mendekat kepadamu. Allah sangat dekat dengan yang dicintainya, sehingga wajar bila kemudian Dia berfirman,&lt;br /&gt;Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-thalaq [56]: 2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-5616107452070159448?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/5616107452070159448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/04/takwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5616107452070159448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5616107452070159448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/04/takwa.html' title='Takwa'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6439336918125342925</id><published>2010-04-20T18:42:00.001+07:00</published><updated>2010-04-20T18:44:53.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Belum Punya Judul</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kembali Rani mencoba untuk memejamkan mata. Tubuhnya mulai terasa pegal, lelah. Namun tak jua matanya bisa terpejam. Keringat mulai membasahi punggungnya. Meski udara di luar dingin, tidak demikian dengan di dalam. Sumpek, panas. Dilihatnya jam weaker yang duduk di atas kardus di sebeleh tempat dia berbaring. 01.15. sudah lebih dari tiga jam dia berbaring di tempat itu, namun tak bisa juga sedikitpun terlelap. Dilihatnya Ibu dan Naila, adiknya yang berbaring di samping kirinya. Pulas sekali adiknya itu. Lelah bermain, mungkin. Pun demikian dengan ibunya. Kelelahan nampak membayang di wajah wanita yang telah melahirkannya itu. Pastilah sesiang tadi dia telah bekerja keras membantu ayahnya membersihkan rumah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu yang lalu warga kampungnya dihebohkan oleh sebuah peristiwa. Waktu itu rani baru saja turun dari bus kota, pulang dari sekolah. Dia berlari kecil, sembari tangannya di atas kepala menghindari hujan yang mulai turun rintik-rintik. Dia harus bergegas tiba di rumah. Langit telah tertutup oleh awan hitam kelam. Tak lama berselang pasti akan turun hujan yang sangat lebat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dugaan Rani tidak meleset. Belum juga dia memasuki gang yang menuju ke arah rumahnya, bintikan air itu membesar dan semakin kerap. Angin yang sedari tadi bertiup membelai mesra, perlahan tapi pasti, berubah menjadi kencang, menjatuhkan daun-daun kering dari pohon yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Angin semakin kencang, hujan semakin deras, seperti baru saja ditumpahkan dari lautan. Kedua mata Rani mulai terasa pedas oleh terpaan angin dan air hujan. Namun dari mata yang mulai memerah itu Rani masih bisa melihat sesuatu yang ganjil. Gulungan awan hitam berputar-putar tidak jauh dari tempat dia berdiri, berjalan menjauh. Semakin lama semakin kencang putaran itu,diiringi kilatan petir menyambar-nyambar. Gumpalan awan itu turun mencapai tanah, berputar kencang, menerjang, menyapu apapun yang berpapasan dengannya. Plastik-plastik, kertas, daun-daun, ranting-ranting pohon, kayu-kayu, seng-seng, atap rumah terbang terbawa angin. Rani hanya terpaku, diam membisu. Tubuhnya menggigil, keringat bercucuran bercampur dengan air hujan. Entah apa yang sedang dia rasakan. Kagum, takjub, takut, ngeri. Dia tak mampu menggerakkan kakinya untuk berlalu pergi. hanya kedua bibirnya yang nampak bergerak, berkomat-kamit, membaca takbir, tasbih dan istigfar.&lt;br /&gt;Saat dilihatnya awan hitam itu meninggi dan hilang entah kemana, Rani ingat akan keluarganya, rumahnya. Dia pun bergegas menuju rumah. Namun malang, gang yang menuju ke arah rumahnya tertutup oleh serakan reruntuhan rumah yang diterbangkan oleh angin tadi. Dilihatnya orang-orang berlari panic, sama seperti dirinya. Ada yang menggendong anaknya, ada yang memapah istrinya, ada yang menuntun bapaknya, ibunya dan saudaranya. Tangis, teriakan, rintiham dan keluhan berbaur dalam rintik hujan yang bergerak menuju reda.&lt;br /&gt;Dengan susah payah, akhirnya Rani tiba di rumah. Namun dia tidak mendapati siapa-siapa di sana. Hanya bangunan rumahnya yang porak-poranda, berantakan dan tiada beratap lagi. Dia bingung, matanya berputar-putar mencari keluarganya ke berbagai arah.&lt;br /&gt;“Lek, bapak keman, lek?” Tanya Rani kepada seorang lelaki tetangganya.&lt;br /&gt;“Wah, aku tidak tahu, Ran. Pak Lek juga baru datang.” Jawabnya.&lt;br /&gt;“Mas, lihat bapak dan ibuku?”&lt;br /&gt;“Tidak, Ran.” Jawab pemuda yang berlalu di dekatnya. “Awas, hati-hati, Ran, Banyak paku dan pecahan kaca!” imbuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rani memasuki rumahnya yang berantakan, menuju kamarnya. Tangannya mulai mengais mencari sesuatu. Satu persatu dia temukan apa yang cari. Buku-buku itu rusak terkena air bercampur tanah. Dia terduduk memegangi buku-buku pelajrannya itu. Baju putih abu-abu yang masih dia keakan mulai tampak mencoklat oleh tanah. Jilbabnya tiada lagi mau berlambai-lambai tertiup angin. Dipeluknya buku-buku itu. Rusak semua. Padahal Ujian Nasional tinggal menghitung hari. Ada air yang mengalir di kedua belah pipinya. Bukan air hujan. Air itu hangat dan mengalir semakin deras. Bahunya perlahan bergoyong oleh sedu sedannya. Semakin lama semakin kuat goyangan itu, bahkan terasa tergoncang.&lt;br /&gt;“Ran, keluargamu di rumah sakit.” Rani menoleh ke arah sumber suara. Pak Lek Karim sudah berada di belakanganya. “Keluargamu di rumah sakit.” Ulangnya.&lt;br /&gt;“Rumah sakit mana, Lek?” Tanya Rani kepada laki-laki yang tidak lain adalah paklek atau pamannya itu.&lt;br /&gt;“Sardjito”&lt;br /&gt;Tanpa berfikir panjang, dengan sigap Rani beranjak dari tempatnya duduknya. Seakan ingin berlari, dia melangkah cepat. Tujuannya tak lain adalah rumah sakit.&lt;br /&gt;“Mau ke mana Kamu, Ram?”&lt;br /&gt;“Rumah sakit, Pak lek.”&lt;br /&gt;“Ndak usah, di sini saja! Kamu tidak usah ke sana. Keluargamu tidak apa-apa. Sebentar lagi juga kembali.”&lt;br /&gt;“Tapi saya ingin ketemu mereka, Lek.”&lt;br /&gt;“Sudah, kamu istirahat saja di rumah Pak Lek. Ganti dulu bajumu biar kamu tidak masuk angin. Kalau masuk anginkan kan tambah repot nanti.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejak saat itu Rani tinggal bersama pak lek Karim. Demikian juga dengan semua keluarganya, bapak, ibu, Naila. Namun ada yang tidak bersama mereka, Ardian, adik Rani yang kedua, atau anak ketiga dari tiga bersaudara. Angin puting beliung siang itu telah menerbangkannya, tidak hanya tubuhnya, tetapi juga nyawanya. Ardian ditemukan sekitar 50 meter dari halaman tempat dia berdiri. Ketika itu ibu sedang memintanya membersihkan saluran air yang tersumbat. “malang sekali nasibmu.”’ Rani mengenang. Ah, sudah rindukah Tuhan denganmu sehingga segera dia memanggilmu. Ah, anak yang manis, lucu, meski sering membuat hal-hal yang membuat orang serumah marah. Tahun ini seharusnya dia mulai mengenakan seragam putih biru.&lt;br /&gt;“Mbak, Ardian nanti pingin sekolah di SMP Negeri 1, biar tidak jauh dari rumah. Setelah itu Ardian mau sekolah di tempat Mbak Rani, terus kuliah di Kedokteran, biar jadi dokter. Kalau jadi dokter kan bisa membantu orang, mengobati orang sakit.” Itulah kata terakhir yang Rani dengar pagi-pagi itu saat mereka hendak pergi sekolah. Kata-kata itu masih mengiang di telinga Rani, menggema dalam relung terdalam, menggoreskan sembilu di hatinya, sedih. Sebagai manusia pun dia bertanya, adakah ini ujian dari Tuhan? Bukankah selama ini Tuhan telah menguji keluarganya dengan hidup yang kekurangan? Bapak ibunya selalu pontang-panting banting tulang mencari nafkah. Makan seadanya, tinggal di rumah yang kalau hujan turun deras, maka seakan peluru berjatuhan dari atap rumah. Ataukah ini peringatan? Mengapa dia? Mengapa keluarganya? Mengapa desanya? Mengapa bukan orang lain? Mengapa bukan Jakarta, tepatnya para koruptor itu? Ataukah ini adzab dari Mu ya Tuhan? Tapi mengapa kami, bukan mereka orang yang selalu bermaksiat pada-Mu? Sedemikian besarkah dosa kami sehinggga Engkau mengadzab kami dengan angin seperti engkau mengadzab kaum …….&lt;br /&gt;Rani mengusap air matanya. Dia kembali merenung. Mungkin benar dia tidak salah, mungkin benar keluarganya tidak bermkasiat kepada Allah. Tapi bukankah akibat suatu kedzaliman itu tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat dzalim? Bukankah orang yang tidak melakukan kerusakan juga akan mendapatkan akibat dari kerusakan yang dibuat oleh orang lain. Dan manusia pastilah merasakan akibat kerusakan yang diperbuat oleh tangan-tangan mereka, oleh kerakusan perut mereka. Kerakusanlah penyebab kerusakan di alam ini. Hutan ditebangi, tanah longsor, bumi semakin panas, cuaca tiada beraturan. Wajar kalau belakangan ini banyak angin ribut melanda daerah-daerah di negeri ini. negeri yang sebenarnya adalah surga, di mana air mengalir di bawahnya, buah-buahan yang beraneka rupa, tinggal memetik saja, negeri yang bak zamrud khatulistiwa. Ah, negeri kaya yang salah urus. Wajar kalau Allah menyapanya dengan bencana. Mungkinkah kami tuli, ya Allah, sehingga kami tidak bisa mendengar sapaan-Mu? “Ampuni kami ya Allah!” ucapnya lirih, lebih lirih dari suara nyamuk yang terbang tepat di depan mukanya, berputar sejenak dan hinggap di pipi kiri rani. Dipukulnya nyamuk itu. Selamat, dia lolos. Terbang entah ke mana. Mungkin hinggap di adiknya, ibunya, atau pakaian yang menggantung di belakang pintu kamar.&lt;br /&gt;Rani bangkit dari tidurnya, berjalan ke kamar mandi, wudlu, shalat beberapa rekaat dan tanpa sadar tertidur pulas di atas sajadahnya. Tak lama kemudian dia mendengar suara Ibunya.&lt;br /&gt;“Bangun, Ran. Sudah subuh.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rani terduduk. Dia tidak berani menatap wajah perempuan yang duduk berhadapan dengannya itu. Namun demikian Rani tahu, tangan perempuan tersebut sedang membuka lembaran-lembaran kertas yang berada di atad mejanya.&lt;br /&gt;“Nilai Try Out mu tidak lulus, Ran. Ibu juga heran, bukannya kamu paling suka dengan pelajaran fisika? Ibu perhatikan juga tadi kamu tertidur di dalam kelas saat pelajaran ibu. Ingat, UN tinggal beberapa hari lagi!” Ujar Ibu Marleni, guru bidang fisika sekaligus wali kelas Rani.&lt;br /&gt;“Beberapa malam ini saya susah tidur, Bu. Belajar juga tidak bisa konsentrasi. Namanya juga tidur di tempat orang, bukan rumah sendiri.”&lt;br /&gt;“Yah, Ibu paham, ibu mengeri. Ibu juga turut prihatin dengan apa yang menimpa keluargamu.” Hibur Ibu Marleni. “Kamu masih belum ikhlas dengan semua apa yang menimpamu?”&lt;br /&gt;“Berat, bu,” kembali mata Rani mulai basah oleh air hangat, “musibah ini telah mengambil nyawa adik saya, juga merampas kesempatan saya untuk belajar di perguruan tinggi” Jawabnya. Wajahnya masih tertunduk. Matanya menatap ubin. lantai.&lt;br /&gt;“Kamukan tidak sendirian, Ran. Orang lain juga banyak yang mengalami nasib seperti kamu. Malah ada yang dalam satu keluarga hanya tinggal satu orang yang tersisa. Kamu tahukan gempa yang menimpa warga bantul beberapa waktu lalu? Bukankah itu lebih besar, lebih parah dari apa yang menimpa Kamu saat ini? Kamu juga tahukan korban lumpur lapindo yang sampai saat ini belum mendapatkan ganti rugi. Rumah mereka hilang, mata pencaharian mereka raib, dan kini mereka terlunta-lunta.” Ibu Marleni merubah posisi duduknya. Disandarkannya tubuhnya ke kursi hitam itu. Tangannya kini memain-mainkan sebuah pena.&lt;br /&gt;“Lalu apa yang harus Rani lakukan, Ibu?” Tanya Rani. Kini pandangannya ke arah wajah ibu Marleni yang nampak tersenyum kecil.&lt;br /&gt;“Tetap semangat, tetap belajar. Kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apa pun.” Ibu Marleni memotivasi. “Belajarkan bisa di ruang kelas, di perpustakaan, di kamar tidur, ruang tamu, di taman, di mana saja kamu bisa belajar. Bung Hatta, ketika beliau diasingkan di pembuangan di digul, beliau selalu membawa koleksi buku-bukunya. Sayyid Qutb, HAMKA, Pramoedya justru banyak melahirkan karya-karya besar mereka ketika berada di dalam penjara. Benarkan?”&lt;br /&gt;“Tapi ibu, saya tidak punya bahan. Buku-buku saya banyak yang rusak.”&lt;br /&gt;“Kamu bisa pinjam punya teman-teman kamu. Bisa juga dari perpustakaan.” Saran bu Marleni. “Atau kalau kamu mau, ibu bisa meminjamkan buku-buku ibu, asal kamu mau silaturrahmi ke rumah ibu. Gimana?”&lt;br /&gt;“Terimakasih, bu. Saya telah banyak merepotkan Ibu. Saya jadi tidak enak.”&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Memang sudah semestinya begitu. Guru itukan pelayan, pelayan bagi ilmu pengetahuan dan orang-orang yang menginginkan ilmu pengetahuan.” Begitulah yang selalu diungkapankan Ibu Marleni di kelas maupun di luar kelas. Dia tidak hanya mengucapkan, tetapi juga melaksanakannya, mengabdi pada ilmu pengetahuan. “oh ya, kamu pulang bareng Ibu saja ya, Ran, sekalian ibu silaturrahmi ke tempat kamu. Maaf sejak musibah itu ibu belum sempat ke sana. Tapi kamu tunggu di gerbang ya, Ibu mau ke ruang TU terlebih dahulu.”&lt;br /&gt;“Terimkasih sekali, Ibu.” Kedunaya kemudian bangkit dan keluar dari kantor guru itu. Ibu Marleni berjalan ke kantar TU, sementara Rani menuju pintu gerbang sekolah.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Rani kembali dipanggil oleh Ibu Marleni di kantor guru. Ternyata Ibu Marleni telah membawakan buku-buku yang kemarin dijanjikannya.&lt;br /&gt;“Jadi saya tidak perlu berkunjung ke rumah ibu nih.” Kata Rani kegirangan.&lt;br /&gt;“Loh, kok bisa?”&lt;br /&gt;“Kan Ibu sudah membawakan-buku-bukunya, jadi sayakan tidak perlu lagi mengambil ke sana”&lt;br /&gt;“Ehmm…. Emang kalau silaturahmi itu harus ada kepentingannya ya, Ran.” Sergap bu Marleni. Rani menjadi tersipu malu. “Kamu nanti pulang bareng Ibu lagi?”&lt;br /&gt;“Wah, terimakasih, Bu. Kebetulan saya nanti ada janji dengan Mbak Ida, mau mampir ke kosnya.” Tolak Rani.&lt;br /&gt;“Siapa tuh?” Tanya Bu Marleni.&lt;br /&gt;“Mbak Ida itu mahasiswa UGM. Kosnya di belakang sekolah ini kok. Dia relawan di tempat kami. Insya Allah, saat UN untuk sementara saya tinggal di kontrakan Mbak Ida, biar bisa konsentrasi belajar, dan lebih dekat dengan sekolah.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saat-saat melelahkan itu pun berlalu. Ujian Nasional dan Ujian Sekolah telah lewat, dan selama itu pula Rani tinggal di kontrakan Mbak Ida. Yang tersisa kini adalah masa-masa tegang menunggu pengumuman hasil ujian. Apapun hasilnya, Rani telah siap. Dia telah beruasa dengan sungguh-sungguh dalam menghadapi ujian ini, pastilah orang akan diganjar sesuai dengan apa yang dia lakukan. Kalaupun tidak lulus tahun ini tidak mengapa, dia mengulang tahun depan. Tahun ini dia juga belum bisa melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi. Keluarganya masih belum bisa sepenuhnya keluar dari krisis. Bersamaan dengan usainya masa ujian itu pula, dia dan keluarganya sudah bisa menempati kembali rumahnya. Meski harus mendatangkan material-material seperti genteng, dan bambu dari luar Jogja karena persedian di dalam Jogja tersedot untuk rekonstruksi gempa, akhirnya rumah itu selelsai direnivasi, meski di sana-sini masih banyak barang-barang yang berserakan. Namun demikian, dia dapat menikmati masa-masa tegang itu sembari menikmati rumahnya dengan berteman sebuah novel yang dipinjam dari Mbak Ida.&lt;br /&gt;Sore itu, Rani sedang asyik membaca novel di kamar tidurnya. Tanpa dia sadari, Ibunya telah berdiri di belakangnya dan menyentuh pundaknya dengan halus.&lt;br /&gt;“Khusuk sekali ini anak, sampai-sampai dipanggil-panggil tidak menyahut”&lt;br /&gt;“Oh Ibu, mengagetkan Rani saja. Maaf Ibu, ceritanya lagi seru-serunya, sampi Rani terbawa dalam cerita.”&lt;br /&gt;“Bacanya diteruskan nanti saja ya, itu di depan ada tamu.”&lt;br /&gt;“Siapa, Ibu?”&lt;br /&gt;“Lihat saja sendiri sana!”&lt;br /&gt;Saat Rani menyibakkan gorden pintu kamarnya, dia melihat Mbak Ida dan Mbak Galuh duduk berdampingan di ruang tamu. Di samping Mbak Galuh seorang perempuan dan dua orang lagi di sebelehnya lagi yang belum dia kenal. Perawakannya tidak jauh dari mbak Galuh, namun kulit mereka lebih putih, matanya sipit dan rambutnya lurus. Dari sisi usia, mereka bertiga nampaknya lebih tua dar Mbak galuah ataupun Mbak Ida. Rani menyalami Mbak Ida dan Mbak Galuh. Mbak Ida kemudia mengenlakan ketiga temannya itu. Yang perempuan bernama Taka, sedangakan yang laki-laki Joyko dan Tamada.&lt;br /&gt;“Mereka adalah relawan gempa Jogja kemarin. Mereka datang kembali untuk meninjau bantuan rekonstruksi yang diberikan oleh pemerintah Jepang.” Terang Mbak Ida.&lt;br /&gt;“Maaf, Rani bisa berbicara dengan bahasa Inggirs kan?” Tanya Mbak Galuh.&lt;br /&gt;“Ya iya lah, masak ya iya donk. Orang dari SD, SMP sampai SMA belajar bahasa Inggris, masak tidak bisa ngomong bahasa Inggris” Jawab Mbak Ida mendahului aku.&lt;br /&gt;“Mungkin aja lagi. Buktinya yang ada juga yang sampai lulus kuliah belum bisa bahasa Inggris.” Bela Mbah Galuh tidak mau kalah.&lt;br /&gt;“Insya Allah sedikit-sedikit paham Mbak, kebetulan pernah jadi juara story telling contest di UAD semester kemarin.” Aku menengahi.&lt;br /&gt;Sesaat Mbah Galuh berbincang-bincang dengan ketiga temannya yang ternyata berasal dari Jepang itu, meminta mereka untuk menjelaskan sesuatu kepada Rani, namun mereka saling melempar satu sama lain, dan akhirnya mengembalikan kepada Mbak Galuh. Dia pun kemudian menyenggol Mbak Ida, isyarat kepada Mbak ida untuk berbicara.&lt;br /&gt;“Ada apa to ini, Mbak, kok main lempar?” Tanya Rani penasaran.&lt;br /&gt;“Begini, Ran” Mbak Ida akhirnya bicara, “ada yang ingin kami kita tanyakan.”&lt;br /&gt;“Masalah apa, Mbak?”&lt;br /&gt;“Masalah studimu.” Mbak Ida merubah cara duduknya. “Kamu kan sudah lulus SMA tahun ini, nah ada rencana tida untuk melanjutkan kuliah?” Tanya Mbak Ida. Belum sempat Rani menjawab, Ibu keluar dari dapur dengan membawa teh panas di atas nampan untuk kami berenam.&lt;br /&gt;“Sejujurnya Rani ingin sekali, Mbak, tapikan Rani belum tahu lulus apa tidak, kan belum pengumuman. Selain itu …” perkataan Rani terhenti sejenak. Ibu keluar dengan menghidangkan tempe dan singkong goreng di atas tiga piring. “selain itu, untuk tahun ini bapak masih krisis, Mbak, dana banyak keluar untuk biaya memperbaiki rumah.” Lanjut Rani.&lt;br /&gt;“Okey, seandainya kuliah, Rani ingin di dalam apa luar negeri?” Rani tidak tahu arah pembicaraan ini.&lt;br /&gt;“Dalam negeri aja, Mbak, yang murah. Itupun kalau bisa kuliah” jawabnya.&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau di luar negeri saja?”&lt;br /&gt;“Maksud Mbak Ida?” Rani semakin tidak mengerti.&lt;br /&gt;“Taka, can you tell her about your program?” Pinta Mbak Ida pada temannya yang perempuan Jepang itu.&lt;br /&gt;“If you would study in Japan, our fondation will give the scholarship for you.” Ujar Taka singkat.&lt;br /&gt;“Khususnya untuk bidang teknologi informasi.” Tambah Mbak Ida.&lt;br /&gt;“Gimana tertarik?” Tanya Mbak Galuh. Rani masih terdiam.&lt;br /&gt;“Ini full beasiswa, termasuk uang kuliah, living cost, buku dan visa serta transport ke sana.”&lt;br /&gt;Rani masih terdiam. Dia masih belum mengerti benar apa yang terjadi di depannya. Dia merasakan bongkahan es di dadanya, dingin. Dia seakan tidak lagi menapak bumi, melayang. Tubuhnya terasa ringan, pikirannya begitu plong. Perasaan yang sama saat namanya dibacakan sebagai juara satu dalam Lomba Inovasi Teknologi Tingkat SMA di Fakultas MIPA UGM beberapa bulan yang lalu. Ingin sekali rasanya di berteriak “eurika”, namun yang keluar adalah tasbih dan tahmid pujian kepada Tuhan. “Ya Allah, aku malu untuk memnta banyak hal dari-Mu, namun Engkau selalu memberiku lebih banyak dari apa yang aku minta.” Ucapnya lirih.&lt;br /&gt;Hari-hari Rani selanjutnya diisi dengan persiapan kebernagktannya ke Jepang. Dibiacanya buku-buku yang membahas tentang jepang, sejarah, kebudayaan, masyarakat dan tata kotanya. Tak lupa dia juga kursus bahasa Jepang. Semua dilakoni dengan rasa bahagia. Angin putting beliung itu kini akan menerbangkannya ke Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6439336918125342925?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6439336918125342925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/04/belum-punya-judul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6439336918125342925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6439336918125342925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/04/belum-punya-judul.html' title='Belum Punya Judul'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3126141741563498541</id><published>2010-04-05T17:09:00.002+07:00</published><updated>2011-06-02T20:34:18.192+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Jiwaku Tertinggal di Sana</title><content type='html'>Jiwaku tertinggal di sana &lt;br /&gt;Di sepanjang jalan yang aku lalui &lt;br /&gt;Jalan yang minukung tajam, menanjak, menurun &lt;br /&gt;Jalan yang membawaku pada keheningan &lt;br /&gt;Takjub akan keindahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petak-petak sawah menghampar di kemiringan  &lt;br /&gt;Mencipta garis-garis yang melekuk &lt;br /&gt;Mungkinkah ini Atlantis? &lt;br /&gt;Ah Plato, kau mininggalkan seribu misteri &lt;br /&gt;dalam setiap pertanyaan &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mataku menatap jauh ke barat &lt;br /&gt;Bukit-bukit kecil timbul tenggelam  &lt;br /&gt;di antara lembah-lembah sunyi &lt;br /&gt;diselimuti awan tipis &lt;br /&gt;Di sana Lawu angkuh menjulang &lt;br /&gt;Mengingatkan aku akan pendakian &lt;br /&gt;Lelah, namun indah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di selatan, bukit barisan yang memagari  &lt;br /&gt;pulau jawa dengan lautan selatan &lt;br /&gt;Paku pagi bumi ini &lt;br /&gt;setia menjaga nusantara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerimis turun merintik &lt;br /&gt;menambah dingin suasana &lt;br /&gt;mulutku terkatup, aku merinding, dadaku bergetar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah negeriku,  &lt;br /&gt;potongan surga yang jatuh ke bumi &lt;br /&gt;maka, nikmat Tuhanmu yang manalagi  &lt;br /&gt;yang kamu dusatakan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3126141741563498541?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3126141741563498541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/04/jiwaku-tertinggal-di-sana-di-sepanjang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3126141741563498541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3126141741563498541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/04/jiwaku-tertinggal-di-sana-di-sepanjang.html' title='Jiwaku Tertinggal di Sana'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2880822589684714259</id><published>2010-01-05T07:19:00.002+07:00</published><updated>2010-01-05T07:23:27.797+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kita Memang Lemah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kita, atau tepatnya saya, sering lupa, ketika mendapatkan rezeki atau keberuntungan seringkali mengatakan bahwa itu adalh hasil dari jerih payah usaha kita. Saat kita berhasil atau sukses dalam melakukan sesuatu seingkali kita menepuk dada, inilah aku, ini adalah hasil kerjaku. Begitulah seringkali terjadi. Kita sering membanggakan diri kita terhadap apa yang telah kia peroleh. Kita kadangkala sampai beranggapan bahwa tiada jasa orang lain di sana, apalagi Tuhan. Namun perlu diingat manusia juga adalah makhluk lemah, lemah seklai. Ketika kita manusia dalam keadaan lemah, apa yang bisad diperbuat?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu saya sempatkan untuk menjenguk ayhanda teman saya yang terbaring lemah di rumah sakit. Beberpa hari yang lalu beliau tertabrak motor. Saat beliau keluar dari gang, tanpa disangka tanpa dinyana, dari arah kanan dua orang siswa SMP mengendari sepeda motornya dengan sangat kencang dan menabrak ayahanda teman saya. Dia terjatuh. Benturan keras menjadikan beliau gagar mengeluarkan darah dari telinga kirinya, gagar otak dan tidak sadarkan diri. Setalh dirawat dua hari di rumah sakit barulah beliau siuman dari pinsannya. Namun badanya masih susah digerakkan. Kepalanyapun masih-terasa pusig, dan nutrisi hanya diasup melalui infus. Aktifitas yang lain dibantu oleh anak istrinya yang dengan setia menunggui beliau. Beliau, Ayahdan teman saya itu, tidak mampu apap-apa kecuali berdoa. Yah, dalam keadaan lemah seperti itu manusia hanya bisa berdoa dan berdoa. Namun satu hal yang aku kagum, beliau tidak haya berdoa utuk kesembuhan dirinya sendiri, namun juga masih sempat mendoa untuk aku yang menjenguk waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang ranjang Ayahanda teman saya berbaring lemah seorang anak kecil. Informasi yang saya dapat dia terkena penyakin DB alias demam berdarah. Melihat dari rupanya, anak seusia dia biasanyanya masih lincah-lincahnya dan senang-senangnya bermain dengan teman sebayanya. Namun saat itu dia begitu lemah, sama halnya dengan saya awal 2006 yang lalu, hanya karena gigitan seekor nyamuk. Aku sempat berbaring di rumah sakit selama sepuluh hari. Dalam keadaa lemah seperti itu, waktu itu, akupun hanya bisa berdoa, dana kadang berangan-angan sedikit apa yang akan aku lagkukan jika aku sembuh. Pun demikian pikiranku terhdap anak kecil yang berbaring di seberang ranjang ayahanda teman saya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anak kecil di seberang ranjang ayahada temaku munkin masih berfikir atau berkhayal apa yang akan dikerjakannya bila sembuh nanti, saya gak paham dengan seorang kakek yang berbaring sangat lemah di sebelah selatan ranjang ayahanda teman saya. Usianya sudah tua, pas tidak tahu, Cuma besok akan saya lihat lagi saat saya menjenguk kembali ayahnda teman saya tersebut. Saya tidak tahu pasti, naum saya bisa pastikan beberpa selang juga telah menjalar dari tubuhnya kea lat-alat nedis di sampingnya. Kakek tersebut terkena penyakit jantung komplikasi. Meski bernafas saja susah, namun saya yakin kakek tersebut masih berdoa, meski tidak terpal dalam verbal dan hanya membatin dalam hati. Yah, dalam keadaan lemha, senjata kita hanyalah doa. Mari kita berdoa semoga kita selalu diberi kekuatan untuk berdoa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2880822589684714259?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2880822589684714259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/01/kita-memang-lemah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2880822589684714259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2880822589684714259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2010/01/kita-memang-lemah.html' title='Kita Memang Lemah'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-7522154825254867863</id><published>2009-11-20T23:33:00.002+07:00</published><updated>2009-11-20T23:38:42.886+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Ironi Hukum Kita</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SwbFLHC9qWI/AAAAAAAAAU4/TESVwubW1Zg/s1600/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 95px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SwbFLHC9qWI/AAAAAAAAAU4/TESVwubW1Zg/s200/images.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406225197365569890" /&gt;&lt;/a&gt;Ada yang mengiris hati saya ketika membaca KOMPAS pagi ini (20/11), seorang ibu diajukan ke pengadilan karena dia ketahuan memetik tiga biji buah kakuo. Yah 3 buah, hanya tiga buah. Dan bisa ditebak, sang ibu atau tepatnya sang nenek pun dijatuhi hukuman. Itulah realitas hukum di negeriku tercinta ini. kasus ini saya kira bukan yang pertama dan bukan satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya kira masih banyak kasus yang serupa yang tidak terekspos oleh media massa. Mengapa KOMPAS mengangkatnya. Ini tidak terlepas dari gonjang-ganjing persoalan hukum di negeri ini. kasus makelar kasus (markus) dan para Mafioso peradilan merajalela di negeri ini. orang yang memakan harta rakyat miliaran atau bahkan triliunan rupiah masih dapat berkeliaran. Para pejabat yang kurupsi ratusan juta tidak sempat mencium hawa penjara. Inilah hukum Indonesia. Uang dan kekuasaan lebih banyak berbicara ketimbang keadilan itu sendiri. keadilan adalah barang mahal di negeri yang sedang mengalami krisis hati nurani ini. bukan berarti saya sepatak dengan apa yang dilakukan sang nenek, tetapi saya hanya merasa miris. Sungguh ironis dan kontradiktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum di negeri ini adalah laksana pisau bermata satu, dia akan begitu tajam bila berhadapan dengan wong cilik, rakyat jelata, orang tidak berpendidikan, namun menjadi tumpul jika berhadapan dengan para pengusa dan konglomerat. Hukum dapat dibeli, sehingga siapapun yang mempunyai uang pastilah dia akan menguasai hukum. Pagi para hakim pun demikian, kebahagian bukanlah ketika dia mampu memutus perkara dengan keadilan, tetapi bagaimana ketika  suatu perkara telah diputus dia mendapatkan uang yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang berbicara banyak di sini. Uang yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang kalah. Semua karena uang. Orang mau melakukan manipulasi terhadap hukum juga karena uang. Uang menjadi tuhan. Sungguh kasihan manusia yang menjadikan uang sebagai tuhannya. Mereka itulah orang-orang yang dalam setiap aktivitasnya dilakukan untuk mendapatkan uang lalu membelanjakannya. Dia makan demi uang, dia minum demi uang, di tidur demi uang, dia bekerja untuk uang, berkunjung ke saudara ke teman karena alasan uang. Bagi orang yang menjadikan uang sebagai tuhan apa yang dilihat adalah uang, atau minimal berpotensi menjadi uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh rendah sekali manusia yang menjadikan uang atau kekayaan sebagai tuhannya. Uang adalah hasil kreasi manusia. Sebagai sesama makhluk Tuhan jelas uang jauh lebih rendah derajatnya dari manusia. Dengan menjadikan uang sebagai tujuan setiap aktivitasnya, berarti manusia tersebut telah merendahkan dirinya sendiri. Inilah yang dimaksud dalam Al-Quran bahwa manusia telah diciptakan dalam keadaan paling baik, sempurna, ahsanu taqwim, namun diantara mereka ada yang dikembalikan pada derajat paling rendah, yaitu orangorang yang tidak beriman. Iman bukan tidak mengakui akan adanya Tuhan, tetapi juga berarti menjadikan Tuhan sebagai Tujuan awal dan akhir setiap aktivitas keseharian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi iinsan-insan kehakiman, sebagai hakim, hendaklah sadara bahwa kata hakim itu tidak lain lain dari nama Tuhansediri. Al-Hakim, Yang Maha Adil, Yang Maha Bijaksana. Manusia adalah pencerminan diri Tuhan, untuk itu Rasul SAW bersabda takhalaqu bi khuluqillah, berakhlaklah dengan akhlak tuhan. Dengan demikian seorang hakim hendaklah pada dirinya juga terdapat sifat al-Hakim,dengan demikian sesungguhnya dia telah berjalan menuju Tuhan, dia menjadi wakil Tuhan dan dia menjadi saksi akan keadilah Tuhan. Haruskakn Tuhan sendiri yang mengadili kita, sekarang juga?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-7522154825254867863?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/7522154825254867863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/11/ironi-hukum-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7522154825254867863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7522154825254867863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/11/ironi-hukum-kita.html' title='Ironi Hukum Kita'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SwbFLHC9qWI/AAAAAAAAAU4/TESVwubW1Zg/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2627164909752919613</id><published>2009-11-20T14:29:00.002+07:00</published><updated>2009-11-20T14:32:09.527+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Menyegarkan Kembali Kesaksian Kita</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Berbicara keyakinan, pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa orang harus beragama? Atau mengapa orang harus bertuhan atau percaya akan adanya Tuhan. Pertanyaan demikian sangat wajar dan sangat alamiah, sebagaimaana kepercayaan itu juga bersifat alamiah&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan akan adanya Tuhan dalah suatu hal yang fitrah. Dalam artian, sejak manusia dilahirkan dia telah membawa kepercayaan dalam dirinya, tetapi sifatnya masih berupa firtah atau potensial. Sebagai suatu yang potensial, dia bisa tumbuh dan berkembang, atau sirna tertimbun berbagai hal. Adanya fitrah ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal. Pertama bahwa Allah adalah Esa, semua selain dia adalah makhluk atau yang dicipta. Dalam mencipta, tentu tidak lain adalah dari diri Dia sendiri, sehingga semua makhluk tidak lain adalah cerminan dari Allah sendiri. Kedua, Allah berfirman bahwa ketika menciptakan manusia, Allah meniupkan ruh-Nya kepada manusia, sehingga ruh manusia tidak lain adalah bagian dari ruh Tuhan. Ketiga, ketika di alam ruh, manusia telah mengambil kesaksian bahwa Allah adalah Tuhannya, Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, pada dasarnya manusia telah terikat dengan sumpah primordialnya. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menunaikan sumpahnya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunaian sumpah atau janji primordial tersebut adalah dengan cara “berislam”, yaitu tunduk dan patuh pada ajaran-ajaran agama. Untuk itu, asas yang palingfundamen dalam Islam adalah Syahadatain yang berbunya asyhadu an la ila alla Alla wa asyhadu anna muhammdar rasulullah. Penyaksian yang pertama adalah penyaksian bahwa tida ilah selain Allah. Kata ilah bisa diartikan sebagai sesuatu yang dijadikan sandaran, orientasi atau sesembahan. Berarti, tidak ada yang menjadi seembahan, menjadi tujuan selain Allah SWT. Ini adalah pengikat anatar manusia dengan yang ghaib, sesuatu yang abstrak. Sementara syahadat kedua adalah penyaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Pengakuan ini mencerminkan kesedian kita untuk menumpuh thariqah muhammadiyah, menempuh jalan kenabian dan menjadikan nabi Muhammad SAW sebaga teladan. Ini berarti pula bahwa setiap kita membawa visi dan misi kenabian dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita melakukan persaksian, ada konsekuensi yang mesti ditanggung. Pertama: bahwa Tuhan adalah wujud yang mutlak yang menjadi sumber wujud yang lain. Sebagia wujud yang mutlak, tidak mungkin akan diketahui oleh manusia yang relative, kecuali Tuhan mengenalkan diri-Nya sendiri. Sebagai sumber segala wujud, Allah adalah sangkan paraning dumadi, asal muasl kejadian. maka dari sana pulalah wujud manusia ada, dan kepada-Nyapula manusia akan kembali. Inilah makna inna lillahi wa inna ilai raji’un. Segala aktivitas yang manusia lakukan haruslah diorientasikan atau ditujukan kepada-Nya. Inilah yang disebut dengan ikhlas. Apapun aktivitasnya, entah dia seorang pemimpin negara, guru, petani, nelayan, mahasiswa, harus mendasari pekerjaanya itu dengan keihklasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi yang kedua adalah paham persamaan manusia. Bahwa seluruh manusia di dunia ini mempunyai harkat dan martabat yang sama di depan Allah. Tidak ada seseorang atau stu kaumpun yang lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, melainkan karena alasan ketakwaannya. Takwa adalah kualitas kepribadian seseorang, yaitu sebuah sintetis antara iman dan amal shaleh. Dengan demikian, tidak selayaknya seseorang berbuat sewenang-wenang kepada orang lain, karena dengan berbuat sewenang-wenang demikian itu dia telah berusaha untuk memakai “baju Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelanjutan dari konsekuensi kebertuhanan itu adalah manusia harus menerima perannya, yaitu sebagai hamba &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(‘abd)&lt;/span&gt; sekaligus khalifah Allah di muka bumi ini. Sebagai ‘abdullah  atau hamba Allah, manusia dituntut totalitasnya untuk mengabdi, atau beribadah, menjalankan syari’at yang telah Allah gariskan. Sementara sebagai khalifa Allah, peran manusia adalah memakmurkan bumi. Dalam memakmurkan bumi yang perlu diingat adalah dia akan berhadapan dengan manusia lain yang mempunyai peran sama, dan alam semesata juga makhluk Allah yang diciptakan untuk manusia. Dalam menjalankan hal ini, manusia tidak melulu melakukan taskhir  atau penaklukan, tetapi juga menjaga kelestarian alam untuk kelangsungan kehidupan manusia sendiri, untuk itu manusia harus manjalin keharmonisan dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, dua peran manusia tersebut tidak bisa dipisahkan, karena manusia tidak akan sampai kepada Tuhan hanya dengan beribadah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(mahdlah)&lt;/span&gt; an sich dan melupakan peran sosial atau kekhalifahannya. Rahmat atau kasih sayang Allah ahanya dapat diperoleh ketika manusia tersebut mengasihi manusia lainnya. Allah akan peduli kepada seseorang apabila orang tersebut peduli kepada sesamanya. Inilah makna dari irham man fi al-ardhi yarhamka man fi as-sama’, sayangilah apa yang ada di bumi, maka kamu akan disayangi oleh apa yang ada di langit, dan juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“la yu’minu ahadukum hatta yuhbba li nafsihi ma yuhibba li akhihi”,&lt;/span&gt; tidak beriman seseorang sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri. Rumusnya sederhana, apabila engkau ingin disayangi, maka sebarlah kasih sayang kepada siapapun. Karena, pada dasarnya, orang lain sama dengan diri kita sendiri, tidak ingn disakiti, tidak ingin dizalimi, tidak ingin dirugikan. Untuk itu, yang tidak kalah penting adalah memahami diri kita terlebih dahulu. Barangsiapa mengenali dirinya, maka sesunggunya dia telah mengenal Tuhannya, man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mencintai, dengan memberi, dengan berbuat adil, di sanalah sebenarnya kita sedang bersyahadat, bersaksi bahwa Allah itu ada, dan keberadaannya itu hadir dalam setiap ciptaannya, dalam setiap tingkah laku kita. Karena keyakinan tidak sebatas percaya dalam diri, atau berhenti dalam ranah intelektual kita, tetapi yang tidak kalah penting adalah pada laku kita. Orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan keyakiinan dan pengetahuannya tidak disebut sebagai orang mu’min atau orang yang meyakini. Amal shaleh adalah wujud nyata dari keyakinan. Untuk itu kata iman dalam al-quran selalu disintesiskan dengan amal shaleh. Dalam amal shaleh itulah sebenarnya manusia mnge-ADA. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu a’lam bishawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2627164909752919613?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2627164909752919613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/11/menyegarkan-kembali-kesaksian-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2627164909752919613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2627164909752919613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/11/menyegarkan-kembali-kesaksian-kita.html' title='Menyegarkan Kembali Kesaksian Kita'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2660170085083764444</id><published>2009-11-08T22:46:00.003+07:00</published><updated>2009-11-08T23:06:42.499+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Nulis Yoo.!!!!</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;sudah lama aku tidak menulis di blog ini. menuis sebenarnya adalah terapi, terapi untuk kebekuan otak kita, juga untuk melatih konsentrasi kita. menulislah, karena ilmu itu adalah laksana binatang buruan, dan pengikatnya adalah catatan atau tulisan, begitu kata Imama Ali. karena peradaban harus ditulis. itu adalah alasan lain.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pramoedya Ananta Toer pernah bilang, setinggi apa pun sekolahmu, kamu tidak akan dikenang orang jika kamu tidak menulis. jadi menurutnya, dengan tulisan kita bisa diingat orang. tapi tentu ada orang yang telah menulis banyak hal namun tidak diingat orang alias dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pram pernah menyetir perkataan RA. Kartini bahwa menulis adalah kerja keabadian. mungkin maknanya hampir sama dengan apa yang dimaksudkan sebelumnya. initnya, mari kita menulis, apa saja yang bisa ditulis. tulisan itu bisa dalam bentuk catatan harian seperti Ahad Wahib (pergolakan pemikiran Islam) dan Soe Hok gie (Catatan Seoarang Demontran), bisa juga dalam bentuk cerita memoar seperti andrea yang kemudian jadi best seller, bisa juga dalam cerita pendek (cerpen ) terlalu bnayak contohnya, atau dalam bentuk puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tulisan gak mesti harus berat dan ilmiah. tulisan gak perlu memakai bahasa yang aneh-aneh. menulislah dengan bahsa sederhana, karena kekuatan tulisan sebenarnya sangat bergantung pada apa sebenarnya yang kita berikan dalam tulisan. dan yang paling kuat adalah alasan mengapa kita menulis, ketulusan hati kita untuk menulis. apa komentar gede prama terhadap novel-novel Andrea di acara Kick Andy tidak lain adalah karena Andrea menulis dengan penuh cinta dan ketulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan terakhir, ada yang mengatakan, menulis itu seperti orang buang buang air besar (BAB). orang BAB akan bergantung berapa banyak dia makan. semakin dia banyak dan sering makan, semakin banyak pula dia BAB. makanan bagi penulis adalah apa yang harus dia tulis. bisa buku atau pengalaman menarik. seberapa banyak buku yang kita baca pasti akan berpengaruh terhadap kualitas tulisan kita. itulah sebabnya Andrea dipesani oleh gurunya, tiga hal yang menjadi sumber inspirasi yaitu baca Al-Quran, Baca buku dan melancong. yang pertama jelas berkaitan dengan hubungan kita dengan kitab suci yang merupakan sumber nilai tata kehidupan. dia berhubungan dengan komunikasi dengan yang mutlak. Muhammad iqbal bilang, bacalah AL-Quran seakan-akan dia diturunkan kepadamu, maka kamu akan mendapat spirit sebenarnya. Kedua berkaitan dengan pemikiran-pemikiran orang lain yamg telah dibukukuan terlebih dahulu. sementara yang ketiga, melancong, kita akan banyak mennemukan peristiwa dan pengalaman-pengalaman baru. so, mari ita nulis. Nulis Yoo.!!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2660170085083764444?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2660170085083764444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/11/nulis-yoo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2660170085083764444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2660170085083764444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/11/nulis-yoo.html' title='Nulis Yoo.!!!!'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-8632205239488390972</id><published>2009-10-15T23:32:00.001+07:00</published><updated>2009-10-15T23:32:45.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Segala Puji Bagimu</title><content type='html'>Segala puji bagimu&lt;br /&gt;Bagimu segala puji&lt;br /&gt;Puji-pujian aku pujakan&lt;br /&gt;Puja-puja aku pujikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian menutup dirimu&lt;br /&gt;Tiada cela tuk keburukan&lt;br /&gt;Engkau terpuji,meski tiada pemuji&lt;br /&gt;Engkau mulia, meski tiada pemuja&lt;br /&gt;para pemuji terpuji, para pemuja mulia&lt;br /&gt;oleh pantulan puji dan kemulianMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lirih angin menerpa dedauan, memujimu&lt;br /&gt;debyur ombak meriak memujiMu&lt;br /&gt;rintik hujan gemericik memujiMu&lt;br /&gt;batu, tanah, pepohonan memujimu&lt;br /&gt;burung, ikan, cacing dan coro memujimu&lt;br /&gt;air, tanah, udara dan api memujiMu&lt;br /&gt;alam memujiMu, makhluk memujiMu&lt;br /&gt;namun, masihkah manusia memujiMu, &lt;br /&gt;dan  laku jauh dari kemulyaanMu?&lt;br /&gt;Tiada kemulian makhluk,&lt;br /&gt;Tanpa pemulian kepadaMu&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-8632205239488390972?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/8632205239488390972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/10/segala-puji-bagimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8632205239488390972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8632205239488390972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/10/segala-puji-bagimu.html' title='Segala Puji Bagimu'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-571062448590694317</id><published>2009-10-11T23:33:00.003+07:00</published><updated>2009-10-11T23:41:28.387+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Makna</title><content type='html'>kala aku sendiri&lt;br /&gt;kalau sepi meyapa&lt;br /&gt;kala senyap merayap&lt;br /&gt;aku pun lelap&lt;br /&gt;dalam kalut kabut &lt;br /&gt;cahay pun tak amampu menembus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetes-tetes embun tertinggal di ujung daun&lt;br /&gt;menguap oleh sinar mentari&lt;br /&gt;hilang segala sejuk, hilang aroma pagi&lt;br /&gt;datang bising suara menerusuk telinga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukankah hal itu biasa?&lt;br /&gt;bukanakah itu berulang?&lt;br /&gt;apa yang istimewa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiada!&lt;br /&gt;kecuali kita memberi makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-571062448590694317?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/571062448590694317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/10/makna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/571062448590694317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/571062448590694317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/10/makna.html' title='Makna'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6240685970854385619</id><published>2009-09-12T11:38:00.002+07:00</published><updated>2009-09-12T11:41:35.108+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Mempersiapkan Bekal Mudik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Menjelang akhir Ramadhan, kita selalu menyaksikan, betapa masjid-masjid yang pada awal Ramadhan dipenuhi dengan jamaah, kini mulai sepi. Jamaah semakin sedikit. Ini sudah menjadi satu fenomena umum dan tidak mengherankan lagi. Setidaknya ada dua alasannya, pertama, sebagaimana Ramadhan ini adalah sebagai bulan madrasah, atau sekolah, tempat untuk menempa diri, tentu tidak semua orang yang masuk sekolah akan lulus, ada yang bahkan tidak sampai pada ujung tahun ajaran. Begitu juga ibadah dalam bulan Ramadhan. Kedua,  banyak jama’ah yang telah pulang kampung atau mudik, sehingga jamah semakin sedikit. Meskipun hal ini kurang relevan juga, karena jamaah di masjid-masjid kampung juga semakin sepi. Tapi buka itu intinya, di sini saya hanya akan berbicara tentang tradisi yang telah mengakar di masyarakat kita, yaitu tradisi mudik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mudik atau pulang ke kampung halaman pada hari raya idul fitri adalah tradisi di Indonesia. Pada akhir Ramadhan, orang berduyun-duyun kembali dari tempat perantuan. Segala Sesutu telah dipersiapakan jauh hari sebelum mudik, termasuk tiket untuk di perjalanan. Orang rela menunggu seharian untuk mendapatkan tiket mudik. Tidak hanya itu, mereka pun siap untuk berdesak-desakan dengan oarng lain yang sama-sama akan mudik juga.  Apapun dilakukan, termasuk mencari hutangan kepada teman, tetangga, atau menggadaikan harta benda yang dimilkiki, demi untuk mudik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi tahunan ini, kita akan sangat jarang mendapatkan orang yang mudik dengan membawa tas kecil, rata-rata mereka membawa tas besar, berisi pakaian dan tetek bengek sebagi oleh-oleh untuk keluarga di kampong, agar yang mudik dan yang dikampung merasakan kebahagian. Berkumpul bersama, apalagi di hari raya, adalah suatu kebahagian tersebdiri yang harus ditempuh dengan segala resikonya. Tapi, bagi perantau, itulah yang harus ditempuh, untuk sebuaah kebahagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya semua manusia akan “mudik”, pulang kampung halaman, berkumpul kembali dengan Kekasihnya. Ke mana lagi kalau bukan kepada yang dengan sinar kasih-Nya telah menciptakan kita? Bukankah hidup ini adalah sebuah perantauan? Bukankah kita ini hanyalah para musafir? Dan musafir pastilah dia tidak akan tinggal lama di persinggahan, dia akan segera berkemas dan berjalan kembali ke tempat tujuan akhirnya? Sebagai orang yang akan mudik sudahkah kita menyiapkan bekal untuk mudik? Sudahkah kita punya ongkos? Sudahkah kita membeli tiket? Sudahkan kita menyediakan oleh-oleh untuk yang kita cintai? Jika kita mudik ke kampong halaman, yang kita bawa biasanya adalah pakaian dan makanan. Ketika kita mudik kepada Allah, apa yang akan kita bawa? Apa yang akan kita persembahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Al-baqarah 197 Allah berfirman yang artinya: &lt;span&gt;Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ayat tersebut berbicara dalam konteks ibadah  haji, namun saya kira juga relevan kalau kita tarik pada ranah kehidupan yang lebih luas. Dalam ayat di atas, Allah menyerukan kepada hamba-Nya untuk membekali diri dengan takwa. Dalam ayat lain dikatakan libasu at-taqwa khair, pakaian takwa iitu adalah pakaian yang terbaik jadi kita harus mudik dengan membawa bekal dan pakaian takwa.Apa takwa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takwa, umunya didefinisikan dengan menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya. Tentu ini masih sangat umum sekali. Namun Allah kemudian merinci cirri-ciri orang yang bertakwa. Dalam surat Al-Baqarah ayat 3-5 Allah menjelaskan orang yang bertakwa adalah orang yang 1) beriman kepada yang ghaib, 2) mendirikan shalat, 3) menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah, 4) beriman kepada apa yang duturunkan kepada Muhammad SAW (Al-Quran) dan nabi-nabi sebelumnya, dan 5) beriman kepada hari akhir. Dari beberapa poin tersebut, takwa sikaitakn dengan iman. Iman kepada yang ghaib, yaitu Allah, malaikat, dan jin. Iman terhadap hal-hal tersebut berarti mengakui keberadaanya, meskipun tidak tampak secara kasat. Iman kepada Allah memberikan konsekwensi bagi kita untuk menjalankan perintahnya dan meninggalkan larangnnya. Iman kepada-Nya juga mengharuskan kita sadar bahwa segala tindak tanduk kita tidak mungkin luput dari pengawasan-Nya. Sehingga dalam ibdah kita dianjurkan “beribadahlah kamu seakan-akan kamu melihat Allah, seandainya pun kamu tidak melihat-Nya, niscaya Allah melihatmu”. Orang melakukan kejahatan dan kecurangan seirngkali karena merasa tidak ada orang yang melihat dan mengawasi dirinya, sehingga dia bebas berbuat semaunya, namun dia lupa bahwa Gusti ora sare, Allah itu tidak tidur. Dia mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain, yaitu surat Ali Imran 133-135 Allah menjelaskan ciri-ciri lain dari orang yang bertakwa, yaitu: 1) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, 2) orang-orang yang menahan amarahnya, 3) mema'afkan (kesalahan) orang, 4) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dalam surat Al-Baqarah 2-5 tadi sebagian besar mengaitkan ketakwan dengan keberimana, itu berarti takwa ditarik ke dalam dimension internal diri manusia, maka pada ayat-ayat di Surat Ali Imran di atas mengaitkan takwa dengan prilaku sosial. Sama dengan pada surat Al-Baqarah ayat 2, dalam hal ini menginfakkan sebagian harta kita kepada fakir miskin adalah ciri dari orang-orang yang bertakwa. Selain itu orang bertakwa adalah orang yang mau berlapang hati, bukan hanya untuk tidak marah, tetapi juga memberikan maaf kepada orang lain. Bias jadi jika ada orang lain memojokkan kita, kita tidak akan marah, karena secara power kita tidak lebih kuat dari dia. Namun seringkali, meski tidak marah, ada orang yang masih mendendam, dan mencari kesempatan untuk membalas, atau minimal akan merasa puas dan bahagia apabila orang yang memojokkan tadi terpojook, meski bukan oleh orang itu sendiri. Sesuai ayat di atas, ini bukanlah sifat orang bertakwa. Dan orang berrtakwa bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang apabila melakukan kesalahan dia segera sadar, bertobat, memohon ampun kepada Allah, lalui melakukan perbuatan baik untuk menutupi keburukkannya itu. Ini sesuia perintah Rasulullah SAW,  ittaqillaha haitsu ma kunta, wattabi’s as-sayiata hasanata tamhuha, bertakwalah kepada Allah di mana saja, dan ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik yang akan menghapus perbuatan buruk tersebut. Apabila perbuatan buruk kita bersangkutan dengan hak-hak anak Adam, maka hak-hak tersebut haruslah ditunaikan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah menjelaskan orang yang bertakwa adalah mereka di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar dan memberikan sebagaian harta-harta mereka untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (Ad-Dzariat 16-19). Ketakwaan, selain dikaitakan dengan berinfak, dalam ayat tersebut di atas juga dikaitkan dengan bangun malam. Begitu dahsyatnya bangun malam, dalam surat Al-Muzammil Allah memerintahkan untuk bangun bangun malam, mengisinya dengan shalat, membaca Al-Quran dan berdzikir, meskipun hanya sejenak. Begitulah yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat, terlebih-lebih pada malam-malam bulan ramadhan, di mana segala amalan ibadah di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Ini berarti akan berlipat ganda pula kecepatan gerak kita menuju Allah. Ini berarti bahwa perjalanan mudik akan lancar, dan semakin cepat sampai kepada Sang Kekasih. Semoga, di usia kita yang tersisia ini, kita bisa mempersiapkan lebih banyak lagi bekal untuk mudik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6240685970854385619?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6240685970854385619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/09/mempersiapkan-bekal-mudik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6240685970854385619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6240685970854385619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/09/mempersiapkan-bekal-mudik.html' title='Mempersiapkan Bekal Mudik'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-7991720323405092574</id><published>2009-08-30T22:56:00.001+07:00</published><updated>2009-08-30T23:00:42.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Rahmat Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ulil Abshar Abdalla pernah melakukan kritikterhadapperilaku umat Islam di bulan ramdhan ini. Menurut dia, prilaku ramadhan umat Islam pada bulan ramdhan seperti para pemain teater. Dia bermain peran dia atas panggung. Para selebriti yang pada bulan-bulandi luar ramadhan berpakaian terbuka, saat ramadhan menampkkan kereligiusannya. Namun sesaat ramadhan berlalu, mereka kembaliseperti semual. Inilah teater. Seorang tukang ojek bisa berperan menjadi seorang raja di atas panggung, sementara setelah tidak bermain teater, kembali dia menjadi tukang ojek. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain hal di atas, hal yang disoroti juga berkaitan dengan perilaku boros umat Islam pada bulan ini. Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan pembeljaran untuk menahan diri, termasuk juga dari konsumsi berlebihan, justru malah menjdi bulan di mana konsumsi masyarakat meningkat. Ini memang nampak kontras. Dan jika dipandang dari sudut ini, memang hal ini seakan bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Namun kiranya tidak salah bila kita memandang dari sudaut yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ramadhan bulan rahamt.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW menerangkan kemulian rmadhan sebagai bulan penuh rahmat. Rahmat berarti kasih sayang. Berarti pada bulan ini kasih sayang Allah melimpah pada hamba-hamba-Nya. Pada bulan ini, segalam amal akan dilipatgandakan pahalanyad ari amaln di luar bulan ramadhan. Bahkan amal-amal sunnah diganjar dengan ganjaran amalan-amalan wajib diluar bulan ini. Bahakan tidurnya orang yang berpuaas dalam bula ini juga dihitung sebagi ibadah. Inilah keistimewaan ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemulian ramadhan seperti digambarkan Nabi tersebut, tidak mengherankan bila banyak orang yang berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Beramal shaleh pada bulan ini. Kitasangat bersyukur, setidaknya pada bulan ini tayangan-tayangan televise sangat bernuansa religi sekaligus mendidik dan menyejukkan. Kita juga bersyukur pada bulan ini banyak orang yang bershdakoh, sehingga ke mana kita pergi akan sangat mudah untuk mendapatkan makanan untuk berbuka puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah barokah dan rahmat bulan ramdhan. Jika ramdhan ini adalah sekolah, candradimuka untuk bekal kita selama sebela bulan yang lain, tidak ada salahnya bila kita katakan bahwa sebenarnya sebelas bulan yang lain itu kita gunakan untuk persiapan ramadhan.. sehingga apa-apa yang kita peroleh pada bulan-bulan tersebut, kita gunakan untuk bulan ini. Untung ada bulan ramdhan, sehingga ada ragam yang erbeda dari kehidupan kita, dari liputan-liputan media, dari tayangan-tayangan teleisi. Namun, benar juga kata ulil, setidaknya ini tidak hanya sekedar teater, tetapi harus berlanjut di bulan setelah ramadhan. Itulah kupu-kupu yang keluar dari kompong.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-7991720323405092574?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/7991720323405092574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/08/rahmat-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7991720323405092574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7991720323405092574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/08/rahmat-ramadhan.html' title='Rahmat Ramadhan'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-7497773145339185205</id><published>2009-08-25T21:46:00.005+07:00</published><updated>2009-08-28T03:09:33.703+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Politik dan Budaya Kekerasan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini telah dimuat dalam MAJALAH "ISRA" PUSHAM UII Edisi Juli 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belakangan ini kita terlalu sering disuguhi oleh pemberitaan tentang kekerasan-kekerasan, khususnya yang terjadi di Indonesia, baik melalui media cetak maupun tayangan-tangan di media elektronik audio-visual. Saben hari kita “dipaksa” untuk menonton pemberitaan-pemberitaan tentang pembunuhan, pemerkosaan, penggusuran para pedagang kaki lima (PKL), perkelahian antar warga sampai tawuran antar pelajar atau mahasiswa. Contoh kasus terkini adalah penembakan di Papua, pengeboman yang terjadi di Mega Kuningan, tepatnya di Hotel JW. Marriot dan Ritz-Carlton. Peristiwa pengeboman tersebut juga mengingatkan kita kembali pada peristiwa pengeboman yang terjadi di tempat yang sama beberapa tahun yang lalu, kemudian di Bali, baik itu Bom Bali I maupun Bom Bali II yang telah banyak memakan korban jiwa. Belum lagi konflik antar daerah, antara suku yang terjadi di beberapa wilayah negeri ini. Dan entah, berapa banyak lagi kekerasan-kekerasan yang terjadi dengan berbagai macam bentuknya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu forum budaya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa  Cak Nun melontarkan satu pertanyaan, apakah konflik, kekerasan yang terjadi di Indonesia ini adalah merupakan geniun budaya Indonesia, atau ada faktor lain yang di luar itu yang menyebabkan manusia Indonesia melakukan kekerasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mendefinisikan Kekerasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan biasa diterjemakan denan kata violence yang berkaitan erat dengan gabungan kata latin “vis” (daya, kekuatan) dan “latus” (yang berasal dari feree, membawa) yang kemudian berarti membawa kekuatan. Dalam kamus Bahasa Indonesia kekerasan berarti sifat atau hal yang keras; kekuatan; paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johan Galtung mendefinisikan kekerasan sebagai segala sesuatu yang menyebabkan orang terhalang untuk mengaktualisasikan potensi diri secara wajar. (I Marsana Windhu: 1992). Definisi ini berpijak pada pikiran bahwa manusia mempunyai potensi-potensi dalam dirinya yang merupakan bahan untuk pertumbuhan pribadinya. Sementara pertumbuhan pribadi merupakan integritas diri (self) soma, dan fisik manusia.  Apabila potensi-potensi diri manusia tersebut tidak teraktualisasi, maka di sanalah terjadi kekerasan. Aktualisasi tersebut bisa dalam bentuk aktifitas berfikir, termenung dan aktifitas yang nampak oleh kasat mata. Aktualisasi potensi juga menuntut terpenuhinya prasyarat pertumbuhan pribadi berupa kebebasan, persamaan, keadilan dan kesejahteraan, karena hanya dengan itulah potensi-potensi manusia dapat teraktualisasi dan pribadi akan tumbuh secara manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Macam-Macam Kekerasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian di atas, segala sesatu yang menghalangi proses aktualisasi diri dan pertumbuhan pribadi bisa disebut sebagai kekerasan. Dari sinilah Galtung membagi kekerasan menjadi dua jenis. Pertama kekerasan langsung. Kekerasan ini juga sering disebut sebagai kekerasan personal, yaitu kekerasan ini yang dilakukan oleh satu atau sekelompok actor kepada pihak lain (“violence-as-action) (Mohtar Mas’oed:1997). Kekerasan langsung, dengan demikian, dilakukan oleh seseorang ata sekelompok orang dengan menggunakan alat kekerasan dan seringkali berakibat fisik. Dalam kekerasan ini juga jelas siapa subjek dan siapa objek, siapa pelaku siapa korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kekerasan tidak langsung. Galtung menyebut kekerasan ini sebagai kekersan struktural. Kekerasan ini merupakan “built-in” dalam suatu struktur (“violence-as-structure). Kekerasan ini lebih banyak terjadi pada ranah pskis, meski beberapa juga pada ranah fisik. Apabila dalam kekerasan langsung jelas siapa subjek dan objeknya, maka dalam kekerasan tidak langsung atau struktural tidak jelas siapa subjek atau pelakunya. Adanya kasus gizi buruk yang berujung pada ketidaknormalan pertumbuhan diri atau bahkan kematian, bukanlah disebabkan oleh kejahatan seseorang atau sekelompok orang, melainkan akibat dari struktur sosial, struktur ekonomi dan struktur politik yang timpang dan tidak adil. Inilah kekerasan stuktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kekerasan di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak akan cukup jika penulis harus mendata kekerasan yang terjadi di Indonesia, meski itu sebatas kurun waktu pasca reformasi. Namun untuk membicarakan kekerasan perlu kita melacak akar kesejarahan kekerasan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara kekerasan di Indonesia, seringkali kita mengacungkan jari telunjuk menunjuk pada rezim Orde Baru sebagai biang keladi semua kerusuhan yang ada. Namun cukupkah segala kesalahan itu dilemparkan hanya kepada orde baru? Belum tentu, kita ahrus menilik pada masa sebelumnya sampai pada masa colonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan memang tidak dimulai dari masa colonial, tetapi kolonialisme secara signifikan telah memproduksi kekerasan ke dalam sistemsistem yang berdaya jangkau lebih luas dari pada sekedar lokalitas kerajaan-kerajaan tradisional, berdaya paksa lebih kuat, dan lebih tahan lama. Henk Schulte Norholt melacak bahwa kekersan yang terjadi berawal dari penggunaan jago (preman desa) untuk menjaga wibawa, menghadapi perlawanan rakyat. Pemerintah colonial bekerja sama dengan kriminal untuk kepenting-kepentingannya, sementara para preman dibiarkan untuk beroprasi asal tidak jelas-jelas melanggar hukum (B. Bahri Juliawan: 2003). Model semacam inilah kemudian yang diwarisi oleh penguasa pasca kolonial sampai dengan saat ini. Pada pemerintahan Orde Baru, preman-preman dipelihara sebagai kendali kebijakan pemerintah, namun setelah tentara kuat, para preman ini dibasmi. Tentara kemudian menjadi alat kekerasan negara. Pada masa-masa akhir 80-an banyak orang-orang yang hilang misterius dikarenakan mereka dianggap menentang pemerintah. Semua itu dilakukan atas nama stabilitas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan militer sebagai alat kekerasan negara pasca reformasi memang berkurang, namun bukan berarti penggunaan-penggunaan kekuatan semacam itu tidak ada. Kekuatan-kekuatan tersebut bermutasi menjadi kekuatan sipil yang menyerupai militer sebagai alat negara untuk tameng negara untuk melakukan kekerasan, penggusuran dan hal yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati masa pasca kolonial tadi, dapat dilihat bahwa kekerasan digunakan untuk melanggngkan kekuasaan. Kekersan telah menyatu dengan kekuasaan. Pada masa Orde Baru, kekerasan seperti ini sengaja dipelihara. Inilah yang oleh Jean Baudrillard sebagai simulakrum kejahatan, yaitu kekerasan, horror, dan terror yang diciptakan sedimikian rupa, sehingga ia tampak seolaholah terjadi secara alamiah, padahal direkayasa (Yasraf A. Piliang: 2005). Kekerasan-kekerasan tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa pemerintah bisa menjamin keamanan rakyatnya. Kekerasan diciptakan sedemikian rupa, sehingga muncul imag kelompok tertentulah yang melawan pemerintah, melawan negara, dan meraka harus dibasmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat semakin majunya teknologi dan ilmu pengetahuan, kekerasan pun semakin kompleks. Kekuasan dan kekerasan yang ada dibaliknya dilengkai teknologi tinggi, manajemen tinggi, dan politik tinggi. Kekerasan ditutup topeng dan tirai. Kekerasan yang mutakhir yang didukung oleh kecanggihan teknologi adalah terorisme. Bukan hanya karena dia menggunakan bom, tetapi manajemen perencanaan juga dengan manajemen tinggi. Sampai saat ini baru diketahui siapa yang melakukan peledakan bom, namun tidak diketahui siapa dalang sebenarnya. Kalaupun ada, itu sebatas tuduhan, karena pada kenyataan ada missing link. Terorisme, ketika sudah bersentuhan dengan teknologi informasi, menjadi satu simbol yang melahirkan makna. Makna itu misalnya bahwa Indonesia adalah sarang teroris. Makna ini bisa ditukar misalnya dengan akses investigasi Negara lain ke wilayah Indonesia.  Di sini kemudian terjadi erseingkuhan antara Negara dan kepentingan asing. Hal ini biasanya merugikan rakyat, karena sebagaimana Undang-Undang anti teror yang diadopsi dari Negara lain ternyata memberikan kesempatan kepada aparat untuk melakukan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis, kekejaman yang dilakukan secara berulang-ulang dalam waktu yang lama dapat meimbulkan trauma pada korban, pada orang yang menyaksikan, atau bahkan pada pelaku sendiri. Lewat perjalanan yang panjang, setiap orang didik untuk mempunyai inisiatif sendiri dalam menghadapi ancaman-ancaman keamanan. Kekerasan telah menjadi bagian akrab dari keseharian kita, seolah-olah setiap kali hendak menyelesaikan masalah serta persoalan satu-satunya pilihan adalah kekerasan (B. Bahri Juliawan: 2003). Kekerasan telah menjadi kebiasaan. Inilah yang oleh Hannah Arendt disebut sebagai banalitas kejahatan atau kejahatan yang banal, yaitu praktik kejahatan yang dijalankan bagaikan menjalankan aktivitas sehari-hari yang tidak disadari (Sindhunata: 2007). Hal ini mungkin dapat dilihat dari siaran-siaran media masa. Hampir setiap hari masyarakat kita mendengar berita tentang pembunuhan. Tidak hanya sebatas itu, kita juga disuguhi modus dan cara-cara pembunuh itu melakukan aksinya menghabisi korban. Kita disuguhi bagaimana pembunuh itu menyembelih korbannya, menguburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banalitas kejahatan ini akan semakin berkembang di masyarakat seiring adanya krisis legitimasi. Menurut Jurgen Habermas, krisis legitimasi (moral) ini menyebabkan tidak didengarnya lagi oleh masyarakat imbauan-imbauan moral pihak berwenang (khususnya penguasa), oleh karena mereka sendiri yang justru dianggap sering mempercontohkan tindakan-tindakan melanggar moral (Yasraf A. Piliang: 2007).  Rakyat tidak lagi percaya kepada Presiden, DPR, ABRI, Polisi, Gubernur, Bupati, Camat atau kepala desa. Berapa banyak contoh-contoh perilaku amoral yang dilakukan oleh para penguasa. Sebagai contoh adalah perilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang korup, suka bermain wanita, adu otot dengan anggota dewan lainnya, sehingga Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menganggap DPR sebagai Taman Kanak-kanak, atau malah Play Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin puisi kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana karya Musthofa Bisri atau Gus Mus cukup untuk menggambarkan hal tersebut. Gus Mus menulis:&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana //Aku Kau suruh menghormati hukum // Kebijaksanaanmu menyepelekannya // Aku kau suruh berdisiplin Kau mencontohkan yang lain. . . . Kau ini bagaiman // Kau suruh aku menggarap sawah // Sawahku kau tanami rumah-rumah // Kau bilang aku harus punya rumah // Aku punya rumah kau meratakkannya dengan tanah // Aku harus bagaimana // Aku kau larang berjudi // Permainan spikulasimu menjadi-jadi // Aku Kau suruh bertanggungjawab // Kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara puitis Gus Mus menggambarkan bagaimana mungkin rakyat akan mengikuti imbauan-imbaun penguasa, pada saat yang sama para penguasa itu melanggar apa yang mereka katakan. Diibaratkan tangan kanan pemerintah membawa roti sementara tangan kirinya membawa pukulan. Rotia tiada seberapa mengenyangkan, namun kepala babak belur oleh pemukul. Dari kutipan terakhir pusi tersebut, Gus Mus ingin mengatakan bahwa penguasa tidak mau bertanggungjawab atas keputusan dan kebijakannya, atas nasib rakyatnya. Inilah yang menyebabkan rakyat acuh-tak acuh lagi terhadap seruan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, krisis legitimasi terjadi karena negara telah banyak melakukan, kembali pada definisi Galtung, kekerasan struktural. Kekerasan ini menampakkan diri sebagai kekuasaan yang tidak seimbang yang menyebabkan peluang hidup tidak sama. Hal ini nampak pada ketimpangan yang merajalela: sumberdaya, pendapatan, kepandaian, pendidikan, serta wewenang untu mengambil keputusan mengenai distribusi sumberdaya pun tidak merata (I Marsana Windhu: 1992). Berkumpulnya sekitar 80 persen rupiah di Jakarta adalah bukti tidak meratanya pembangunan. Daerah-daerah yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah, seperti Papua dan Aceh, justru menjadi daerah paling miskin dan tertinggal. Berpuluh-puluh jalan tol dibangun di Jakarta yang luasnya tidak seberapa, tetapi berapa puluh kilo meter jalan di Kalimantan dan Papua masih tanah yang ketika hujan berlumpur dan ketika musim kemarau ditutupi oleh debu. Desentralisasi politik memang telah dilakukan, tetapi tidak demikian dengan desentralisasi kesejahteraan. Kita masih sering mendengar berita tentang busung lapar, gizi buruk di bagian negeri ini yang kono adalah negeri gemah ripah loh jenawi, toto tentren kerta raharja. Busung lapar, gizi buruk adalah penghambat proses aktualisasi potensi diri manusia, padahal sebenaranya hal tersebut dapat dicegah atau diatasi. Karena hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar yang berkaitan dengan kelangsungan dan kelestarian hidup, kebebasan, kesejahteraan maka hal ini termasuk pada kekerasan struktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan struktural, sebagaiman sifatnya, dia mencakup lingkup yang luas. Namusn selalu saja, masyarakat bawah yang selalu menjadi korban. Para petani telah sekian lama mengalami kekerasan ini. Lahan pertanian yang semakin sempit, karena lahan-lahan tersebut kini beralih fungsi sebagai perumahan, perkantoran atau jalan tol. Mereka lebih sengsara oleh karena mahal dan minimnya pupuk. Dan laksana jatuh tertimpa tangga, ketika panen hasil penen mereka dibeli dengan harga oleh pemerintah atau oleh monopoli para pemodal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat bawah yang sering menjadi korban adalah kaum miskin kota. Mereka tidak mendapat akses pekerjaan. Pengangguran merajalela. Dalam kondisi seperti ini mereka sering mendapatkan terror, penggusuran oleh aparat, dengan dalih keindahan dan kebijakan. Dalih untuk kebaikan dan kesejahteraan ini juga yang sering digunakan untuk melakukan penindasan kepada rakyat. Kasus tukar guling sebuah sekolah di Sampang Siantar menjadi satu bukti bahwa sebenarnya kebijakan pemerintah tidak benar-benar memihak kepada rakyat, tetapi kepada pemodal. Ini diketahui setelah ternyata lokasi sekolah tersebut akan dijadikan sebagai pusat perbelanjaan. Sepanjang kekuasaan mengabdi kepada pemodal, bukan kepada rakyat, maka kekerasan struktural ini akan masih tetap eksis, karena rakyat hanya bagian dari mesin penghasil uang, dan pemerintah tidak ubahnya panitia dari hajatan besar bernama pasar bebas. Masyarakat yang berorientasi pada kapital, pasar, maka gaya hidupnya pun akan beroreintasi pada materialisme. Orientasi masyarakat ini adalah menumpuk  keuntungan yang sebesar-besarnya lewat produksi dan konsumsi, tanpat terlalu ambil pusing dengan persolan-persoalan moral, idiologi, dan spiritual dalam proses produksi dan konsumsi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kekerasan dan Masa Depan Bangsa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan yang telah lama terjadi dan dilakukan secara terstruktur menjadikan bangsa ini lupa terhadap nilai-nilai luhur yang dimilikinya. Di kalangan masyarkat yang tersisa adalah rasa saling curiga. Masyarakat yang semacam ini akan sangat mudah tersulut konflik dan akan terjadi kekerasan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Dan bangsa ini akan terus dihantui oleh horor-horor kekerasan. Untuk itu perlu segera ada langkah untuk mencegah terulang sejarah-sejarah kelam bangsa ini. Harus ada pendekatan yang holistic terhadap peristiwa kekerasan. Segala kekerasan harus dilihat  dalam rangka kekerasan yang lebih luas, yaitu kekerasan politik, kekerasan ekonomi, kekerasan cultural, kekerasan simbol, kekerasan media dan kekerasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Richard A. Falk, sebagaimana dikutip I Marsana Windhu (1992), mengajukan empat nilai yang akan menjadikan kehidupan lebih baik, yaitu a) Usaha meminimalisasi kekerasan Kolektif, b) maksimalisasi sosial dan ekonomis, c) realisasi hk-hak asasi dan keadilan politik dan d) rehabilitasi, menjaga dan melestarikan alam. Selain itu, penggalian kepada kearifan-kearifan budaya lokal. Lembaga-lembaga moral, cultural, spiritual dibutuhkan unutk menjembatani dialog dan membuka ruang public, sehingga terwujud kedewasaan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-7497773145339185205?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/7497773145339185205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/08/politik-dan-budaya-kekerasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7497773145339185205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7497773145339185205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/08/politik-dan-budaya-kekerasan.html' title='Politik dan Budaya Kekerasan'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-8019645349932607670</id><published>2009-08-23T08:51:00.002+07:00</published><updated>2009-08-23T08:58:19.343+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Dia Datang</title><content type='html'>dia datang,&lt;br /&gt;dia datang saat aku masih terlena&lt;br /&gt;dalam nada menggema&lt;br /&gt;dalam musik yang asyik&lt;br /&gt;tiba-tiba dia datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin tidak tiba-tiba&lt;br /&gt;bukan, bukan mungkin, memang &lt;br /&gt;dia datang tidak tiba-tiba&lt;br /&gt;ada sejuta suara mengabarkannya&lt;br /&gt;ada nyanyian menyambutnya&lt;br /&gt;ada tabuhan mengiringinya&lt;br /&gt;dan dia tidak datang tiba-tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mencoba bangun, mengepal tangan&lt;br /&gt;menahan berat badan, lesuh tubuh&lt;br /&gt;mengumpul kesadaran&lt;br /&gt;mengatur nafas dan irama suara&lt;br /&gt;lalu ikut bersenandung&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;marhaban ya ramadhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-8019645349932607670?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/8019645349932607670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/08/dia-datang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8019645349932607670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8019645349932607670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/08/dia-datang.html' title='Dia Datang'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-254355349560549638</id><published>2009-08-19T02:48:00.002+07:00</published><updated>2009-08-19T02:55:13.457+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Di Terminal Pemberangkatan</title><content type='html'>satu sore di sebuah terminal pemberangkatan&lt;br /&gt;aku melihat seorang ibu muda&lt;br /&gt;dengan anak kecilnya&lt;br /&gt;melepas kepergian sang suami atau ayah dari anaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bus jurusan jakarta segera berangkat&lt;br /&gt;sang ayah memberikan ciuman pada anaknya&lt;br /&gt;sang istri menyalami tangan suaminya&lt;br /&gt;keduanya saling melambaikan tangan&lt;br /&gt;sang ibu mencoba mengajari anaknya "dadah" untuk ayahnya&lt;br /&gt;sang ibu nampak tersenyum sembari mencuim kedua pipi anaknya,&lt;br /&gt;menatap suaminya yang berangkat ke Jakarta&lt;br /&gt;mungkin untuk bekerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sang istri mencoba tersenyum&lt;br /&gt;tertawa kecil,&lt;br /&gt;namun aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya&lt;br /&gt;mungkin malamnya kan sendirian, hanya ditemani oleh anaknya&lt;br /&gt;pun beigtu sang ayah&lt;br /&gt;namum mereka tetap tersenyum&lt;br /&gt;meski aku tak tahu apa yang ada dalam hati mereka&lt;br /&gt;sore itu, di terminal pemberangkatan Gubuk, Grobokan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-254355349560549638?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/254355349560549638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/08/di-terminal-pemberangkatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/254355349560549638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/254355349560549638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/08/di-terminal-pemberangkatan.html' title='Di Terminal Pemberangkatan'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-155887787414289174</id><published>2009-07-04T23:53:00.004+07:00</published><updated>2009-07-05T00:12:07.790+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Regenerasi, Bukan Sekedar Pergantian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;pemilu tinggal beberapa hari lagi. ini berarti tidak lama lagi kita kaan punya presiden baru. wakil presiden baru. meskipun orangnya itu-itu saja. hal inilah yang membuat aku miris. moment lima tahunana ini masih diisi oleh wajah-wajah baru. ini adalaha satu indikasi; TIDAK ADANYA REGENERASI".  pergantian ada, namun tidak ada regenerasi. apa bedanya?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;perlu dicatat, regenarasi berasal dari kata generasi. &lt;span&gt;gen&lt;/span&gt; adalah keturunan, pewaris atau penerus. Sementara kata "re" bisa diartikan "kembali", "ulang" atau sejenisnya. sehingga regenerasi adalah usaha untuk mengulangi kembali sesuatu dengan yang baru yang merupakan penerusnya atau keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau dalam ajang PEMILU seperti ni kok orang-orangnya itu-itu saja, wajahnya itu-itu saja, atau dalam bahasa teman saua disebut sebagai 4L &lt;span&gt;lo lagi-lo lagi,&lt;/span&gt; bisakah ini disebut sebagi regenerasi.seemntara kita tahu mereka adalah orang-orang yang tidak produktif. bukankah pemilu juga berarti kontraproduktif? apa lagi ada calon-calon yang merupakan "titipan" dari pihak-pihak berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini hampir sama dengan yang terjadi di komunitasku, yang ada ada adalah pergantian ketua, bukan regenerasi. So, sangat mungkin yang ada nanti adalah sesuatu yang kontra produktif. padahal yang dibutuhkan oleh ummat saat ini adalah semangat kaum muda. kita membanggakan obama sebagai pemimpin muda karena mampu melakukan perubahan, tetapi kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita yakini dan banggakan. alah mak, moga bukan&lt;i&gt; kabura maqtan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-155887787414289174?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/155887787414289174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/07/regenerasi-bukan-sekedar-pergantian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/155887787414289174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/155887787414289174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/07/regenerasi-bukan-sekedar-pergantian.html' title='Regenerasi, Bukan Sekedar Pergantian'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-1349339621497398367</id><published>2009-06-25T19:34:00.001+07:00</published><updated>2009-06-25T19:38:45.537+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Lomba'/><title type='text'>Sayembara Menulis Guru PAI</title><content type='html'>&lt;a href="http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/06/sayembara-menulis-guru-pai.html"&gt;INOVASI BARU: Cara Modern Menjadi Penulis Hebat!&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika manusia muslimah berpegang teguh kepada sumber pedoman kehidupan dan menempatkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dari semua kehidupannya serta dirinya memiliki keunggulan ketrampilan, wawasan pengetahuan, ilmu pengetahuan dan pendidikan, sudah dapat dipastikan dia akan berhasil dalam kehidupannya sendiri di dunia masa sekarang (rahmatan lil’alamin). Dan ketika dirinya menjadi seorang Insan Kamil, yang rahmatan lil’alamin, maka segala wawasan dan ilmu pengetahuannya tersebut akan sangat berguna karena dirinya mampu memberikan kontribusi terhadap perbaikan kehidupan sesama umat manusia, dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat kelak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konsep kehidupan yang disebut diatas itulah yang menjadi dasar pemikiran atas terselenggarakannya sayembara penulisan naskah cerita ini agar membawa cara pandang hidup Islami dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat di Indonesia yang mayoritas beragama Islam guna kemajuan berbangsa dan bernegara. Saat ini tercatat +/- 180.000 Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di seluruh Indonesia, dan sebagai Insan yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan pengetahuan Agama Islam berlandaskan Al-Qur’an dan As-sunnah, tentunya para guru ini mempunyai potensi berupa buah pikir mengenai kehidupan yang bertemakan nuansa Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKSUD DAN TUJUAN SAYEMBARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari kontribusi untuk memperkaya khasanah budaya bangsa dan nilai-nilai luhur seb a gai sebuah bangsa yang besar dan pemeluk Islam yang berwawasan nasionalisme bagi kemajuan umat berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sayembara penulisan naskah cerita dalam melihat dan menyikapi permasalahan serta potensi yang dimiliki oleh bangsa ini yang berazaskan nilai-nilai leluhur budaya bangsa dan berlandaskan ajaran Agama Islam dan Al Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayembara Penulisan Naskah Cerita yang diselenggarakan oleh Departemen Agama dalam rangka pencitraan lembaga keagamaan dan sebagai suatu wahana khususnya bagi Para Guru Pendidikan Agama Islam di sekolah tingkat SMA/SMK, baik sekolah negeri maupun sekolah Islam Swasta di Indonesia untuk dapat mengekspresikan dan menuangkan gagasan murni, pikiran baru dan perasaan mereka dalam bentuk tulisan dengan baik yang berguna untuk kemajuan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADIAH SAYEMBARA&lt;br /&gt;a. Juara I : Rp 5.000.000 + sertifikat + piala&lt;br /&gt;b. Juara II : Rp 3.500.000 + sertifikat + piala&lt;br /&gt;c. Juara III: Rp 2.000.000 + sertifikat + piala&lt;br /&gt;d. Juara Harapan I:Rp. 1.000.000 + sertifikat&lt;br /&gt;e. Juara Harapan II :Rp. 500.000 + sertifikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi lengkap:&lt;br /&gt;http://www.qultummedia.com&lt;br /&gt;http://www.sayembaragurupai.com&lt;br /&gt;Sumber http://www.penulislepas.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-1349339621497398367?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/1349339621497398367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/06/sayembara-menulis-guru-pai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1349339621497398367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1349339621497398367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/06/sayembara-menulis-guru-pai.html' title='Sayembara Menulis Guru PAI'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-8196980174822769365</id><published>2009-05-19T17:00:00.001+07:00</published><updated>2009-05-21T04:51:17.877+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Orang Indonesia tidak masuk surga?</title><content type='html'>Saat menonton berita di televisi, salah seorang teman menyeltuk begitu saja, bahwa orang Indonesia tidak akan masuk surga. Waktu itu di televisi  sedang ada wawancara dengan menteri keuangan, Sri Mulyani. Sebagaiman kebiasaan dan ahli dia, saat itu dia sedang membicarakan tentang hutang lua negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak masuk surge? Karena, setiap warga Negara Indonesia mempunyai tanggungan hutang, bahkan ketika dia baru lahir cenger di negeri kaya ini. dalam ajaran agama, orang yang meninggal dan dia masih mempunyai tanggungan hutang, maka dia akan ditahan untuk masuk surga. Bagaimana dengan orang Indonesia tadi. Meskipun meraka seringkali tidak pernah merasakan hasil uang utangan tersebut, api merekalah yang dibebani untuk membayar. Semoga itu tidak dihitung sebagai hutang nanti di sisi akhirat, karena semua itu adalah pemerasan oleh kaum neo-liberal, baik yang berkulit putih maupun kulit sawo matang, yaitu para Mafia barkeley. Ya Allah bebaskanlah kami dari beban hutang&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-8196980174822769365?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/8196980174822769365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/05/orang-indonesia-tidak-masuk-surga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8196980174822769365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8196980174822769365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/05/orang-indonesia-tidak-masuk-surga.html' title='Orang Indonesia tidak masuk surga?'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-8892370391094788097</id><published>2009-05-19T16:44:00.001+07:00</published><updated>2009-05-19T16:49:28.332+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Sufisme Dalam Lirik Lagu Letto1</title><content type='html'>Pada bulan ramadhan kemarin, group Letto diwawancari oleh wartawan infotaiment: mengapa mereka tidak membuat album religious sebgaiman banyak dilakukan oleh band-band lainya? Jawaba mereka adalah, Letto tidak punya agama. Letto adalah milik semua orang. Namun dibalik jawaban itu, penulis melihat bahwa sebenarnya Letto tidak melihat lagi keterpisahan antara bermusik dengan beragama. Kedua hal tersebut merupakan satu kesatuan. Hal ini bisa dirujuk dari pernyatan Cak Nun pada saat kenduri Cinta di Jakarta yang di sana juga hadir Noe, voklais Letto dan juga ank Cak Nun, bahwa kesenian tidak bisa dilepaskan dari dunia spiritualitas. Bahkan, seniman lah spiritualis sejati. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan oleh Cak Nun ada benarnya. Coba bayangkan, bagaimana suatu lukisan bisa bernilai jutaan rupiah, padahal kalau dirunut dari bahan yang digunakan bisa jadi tidak lebih dari seratus ribu rupiah. Orang tidak melihat dari bahan material tersebut, tetapi dari apa yang di belakngnya, sesuatu yang abstrak, sesuatu yang spiritual. Spiritualitas tersebut juga dapat kita temu dalam lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para penyani Indonesia, meskipun merka tidak menyebutnya sebagai lagu religi. Sebagi misal adalah Dewa 19 dan  Chrise (al-maghfur lah).&lt;br /&gt;Spirutualitas tersebut juga penulis temui di beberapa lagu Letto yang akan coba penulis bedah. Penulis mencoba untuk menerapkan metode Hermeneutika dalam menganalisis lirik-lirik lagu tersebut. Letto sendiri tidak mau terlalu menafsirkan lagu-lagunya. “We don’t want to control the meaning of our songs,” Baginya lagu-lagu Letto sangat terbuka untuk ditafsirkan oleh semua orang. Menurutnya  Spiritualitas yang penulis maksud di sini adalah sufisme, atau ajaran esoteric Islam. Hal ini terkait dengan latar belakang Letto sendiri.&lt;br /&gt;Sufisme&lt;br /&gt;Di sini penulis tidak akan mengulas akar sejarah sufisme, tetapi hanya mencoba sedikit menengok pada ajaran-ajaran fundamental dalam sufisme. Dengan demikian, harapannya bisa mencakup berbagai aliran tasawuf yang ada di dunia Islam. Dan lebih sempit lagi pada tasaawuf yang banyak diikuti di kalangan Sunni dengan Al-Ghaazli sebagai tokoh pemikirnya.&lt;br /&gt;Ada beberpa istilah yang sering digunakan dalam dunia sufisme yang sering disebut maqom, atau station, yaitu tingkatan-tingkata perjalan yang harus di lalui seorang sufi. Menurut Al-ghazali, maqom-mqom itu mencakup tauhid, ma’rifah, mahabbah. Kita mengenal juga istilah fana dan baqa’, hulul dan ittiha, dn juga wahdatul wjud.&lt;br /&gt;Tauhid adalah pengesaan Allah, yaitu kesaksian bahwa Allah itu tunggal dalam sifat dan dzatnya. Sementara ma’rifatullah adalah mengenal Allah mellaui penyingkapan tabir, sehingga manusia bisa mengenal Allah sebagaiman Allah mengenalkan dirinya. Mahabbah  adalah rasa cinta kepada Allah yang telah didahului oleh ma’rifatullah. Dari mahabbah ini kemudian muncul al-unsu billah, yaitu rasa keintiman dan kemesraan bersama Allah. Dari mahabbah muncul pula as-syauq atau kerinduan. Kerinduan seorang sufi laksana seorang yang kehausan yang tak hilang hausnya meski dia telah meneguk seluruh air lautan. Dari sini kemudian dia mengalami satu ekstase atau semacam mabuk. &lt;br /&gt;Pada tingkatan ini seorang sufi akan merasakan, pertama keteterkejutan, karena dia telah kasyaf, tersingkap tabir, dan menyaksikan keindahan wajah Tuhan. Lalu kemudian dia terkagum-kagum dan hanyut terserap pada keindahan wajah Tuhan tersebut.&lt;br /&gt;Lirik-lirik sufisme&lt;br /&gt;Ada beberapa kata yang menjadi core dari lagu-lagu Letto. Cinta, kesunyain dan kerinduan.  Seringkali Leto mengidentikkan hidupnya dengan kesunyian. Terkadang dia merasa ragu dlam perjalanan itu. Kadang dia meraba, mencari arah tujuan. Lihat saja lirik:&lt;br /&gt;Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa sepi&lt;br /&gt;Bolehkah aku mendengarmu&lt;br /&gt;Terkubur dalam emosi, tanpa bisa sembunyi&lt;br /&gt;Aku dan nafasku merindukanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpurukku di sini, teraniaya sepi&lt;br /&gt;Dan kutahu pasti kau menemani… yeah&lt;br /&gt;Dalam hidupku, kesendirianku&lt;br /&gt;(Sandaran Hati, Truth, Cry and Lie)&lt;br /&gt;Lihat juga lirik lagu sebelum cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku teringat hati&lt;br /&gt;Yang bertabur mimpi&lt;br /&gt;Kemana kau pergi cinta&lt;br /&gt;Perjalanan sunyi&lt;br /&gt;Engkau tempuh sendiri&lt;br /&gt;Kuatkanlah hati cinta&lt;br /&gt;(Sebelum Cahaya, Don’t make me sad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam kesepian itu, Letto mencoba mencari jalan, orientasi, arah yang akan di tuju. Pencarian itu bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi melalui derita. Namun derita itu tidaklah mengapa baginya. Keteguhanlah kuncinya. Ini sebagi pemenuhan janji primordial yang telah dipersyaksika oleh ruh kepada Allah, perjanjian akan pengkuan Allah sebagi Tuhan. Dengan demikian. Jadi dia mencoba untuk terus berdiri, berjalan menuju-Nya, karena Letto yakin, segala kesusahannya, segala resahnya akan hilang ketika bersama-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kucoba mencari-cari&lt;br /&gt;Jalan yang hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak peduli&lt;br /&gt;Apa kata orang&lt;br /&gt;Hanyalah untukMu&lt;br /&gt;Seluruh rinduku&lt;br /&gt;Harus kutemukan sekali lagi&lt;br /&gt;Jalan yang hilang&lt;br /&gt;(Jalan Yang Hilang, Lethologica)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengarungi jalan sunyi ini, Letto yakin tidak akan pernah sendiri. tidak pernah manusia itu berada dalam kesndirian, karena pasti Tuhan kan bersamanya, manyaksikannya. Bahkan ketika manusia sudah sampai pada taraf sadar akan jagad kosmos, dia akan mendengar alam yang juka bertasbih kepa-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkan engkau kepada&lt;br /&gt;Embun pagi bersahaja&lt;br /&gt;Yang menemanimu sebelum cahaya&lt;br /&gt;Ingatkan engkau kepada&lt;br /&gt;Angin yang berhembus mesra&lt;br /&gt;Yang kan membelaimu cinta&lt;br /&gt;(Sebelum Cahaya, Don’t make me sad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum cahaya menunjukkan satu waktu di mana ini juga mengungkapkan pada jalan sunyi seorang yang mengejar cinta. Dia ternyata tidak pernah terlepas dari cinta, bahkan Letto mengatakan bila dia lepas dari Cinta, maka dia akan hilang. Kehilangan ini menyiratkan akan kehilangan makna hidup, atau bahkan kehilangan eksistensi diri. Dari itu Letto menginginkan suatu kebersamaan selalu dengan Cinta. Di sinilah dia menginginkan agar dia selalui dihantui oleh Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa cinta yang mendalam, suatu perjalanan sunyi, keterikatan dan keyakinan pada janji ini kemudian mengguratkan kerinduan-kerinduan pada diri Letto. Rindu untuk kembali kepada Sang Azali, rindu untuk selalu bersama. Di sinilah kerinduan menemukan ruang. Kerinduan adalah satu petunjuk keberjarakan Letto dengan Cinta. Satu waktu jarak ini menemukan momentum pertemuan. Suatu penyaksian akan wajah Cinta. Pada pertemuan itu, Letto sendiri merasakan satu rasa yang tak menentu. Satu rasa yang aneh, yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. rasa ini bisa juga disebut sebagai keterkaguman. Keterkaguman Letto pada wajah Cinta yang Maha Agung. Dan diapun berkesimpulan, ku tak pantas memandangi wajahmu.  Di sini sebenarnya dia telah hanyut terbawa oleh keterkaguman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anatar profanisme, Sufisme dan kepekaan Sosial&lt;br /&gt;Letto menyadari bahwa dirinya adalah manusia bumi yang tidak bisa terlepas dari realitas sosialnya. Namun dia tidak ingin terseret dalam arus massa. Dia mencoba meihat dengan lebih jernih. Sebagaimana dia menafsirkan tentang cinta. Menurutnya, cinta yang dia maksud bukanlah sebagaimana cinta yang telah terkontaminasi oleh kepentingan, atau hanya cinta antara dua manusia yang berlawanan jenis. Sehingga pemahaman cinta dalam lirik-lirik agunya pun akan berbeda dengan pemahaman cinta dalam lagu-lagu musisi kebanyakan. &lt;br /&gt;Sepertinya hanyalah ada&lt;br /&gt;Memang aku tak setuju&lt;br /&gt;Dengan dirimu&lt;br /&gt;Tentang arti cinta&lt;br /&gt;Bukan hanya berdua&lt;br /&gt;Tetapi tentang semuanya&lt;br /&gt;(itu lagi-itu lagi, Lethologica)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan sosail Letto juga akan nampak pada lagu ku tak percaya. Lagu yang melihat kontes pemilihan umum dengan acara kampanyenya sebagai penghamburan katakata yang tak bermakna, hanya sebagai pelamis bibir saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata takkan pernah punya makna&lt;br /&gt;Takkan pernah punya makna&lt;br /&gt;Ketika hati tak bicara&lt;br /&gt;Jangankan kau berikan pada ku &lt;br /&gt;Mimpii surgama&lt;br /&gt;Jangan pernah kau tawarkan kepadaku&lt;br /&gt;Keindahan yang semu&lt;br /&gt;Tanpa itu aku mampu menjalani hidupku&lt;br /&gt;Dan kukatakan padamu&lt;br /&gt;Kata hatiku Ku tak percaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu kah pahlawanku&lt;br /&gt;Yang mengaku orang nomor  satu  &lt;br /&gt;yang katanya mampu menghapuskan sedihku&lt;br /&gt;Kalau itu yangkau  bilang&lt;br /&gt;Coba lai kau kumandangkan&lt;br /&gt;Janji-jani yang engkau banggakan itu&lt;br /&gt;(ku tak percaya, Lettologica)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-8892370391094788097?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/8892370391094788097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/05/sufisme-dalam-lirik-lagu-letto1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8892370391094788097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8892370391094788097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/05/sufisme-dalam-lirik-lagu-letto1.html' title='Sufisme Dalam Lirik Lagu Letto1'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-7171436676786452764</id><published>2009-05-07T10:38:00.004+07:00</published><updated>2009-12-14T08:37:15.911+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>oh, ... Istiqomah</title><content type='html'>oh, ... istiqomah&lt;br /&gt;Nama yang selalu membuat aku gelisah&lt;br /&gt;membuat aku berkesah&lt;br /&gt;mengelus dada, merintih&lt;br /&gt;Tunduk malu pada laku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serentang panjang jalan aku telusur&lt;br /&gt;berdetik waktu aku selam&lt;br /&gt;seraya berbusa doa aku utara&lt;br /&gt;tak jua kau aku dekap&lt;br /&gt;aku peluk, aku miliki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh,... istiqomah&lt;br /&gt;si anak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'azam&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;niyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;perias paras hati tutur dan laku&lt;br /&gt;jalan sunyi&lt;br /&gt;di atas duri kaki berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rabbul istiqomah, penguasa istiqamah&lt;br /&gt;kuasakanlah aku atasnya&lt;br /&gt;hadiyahkan dia kepadaku&lt;br /&gt;patrikan di terdalam lubuk qolbu&lt;br /&gt;jalankanlah aku bersamanya&lt;br /&gt;di jalan lurus-Mu, menuju-Mu&lt;br /&gt;agar laras kata dan laku&lt;br /&gt;agar tiada lagi aku berkesah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-7171436676786452764?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/7171436676786452764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/05/oh-istiqomah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7171436676786452764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7171436676786452764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/05/oh-istiqomah.html' title='oh, ... Istiqomah'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3652935522462614286</id><published>2009-05-01T17:57:00.000+07:00</published><updated>2009-05-01T17:58:57.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Fenomena Caleg Stress</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jauh hari sebelum  pesta demokrasi atau pemilihan umum (pemilu) legislatif digelar, beberapa rumah sakit jiwa (RSJ) telah menyiapkan kuota khusus bagi para calon anggota legislatif (caleg). Pada awalnya hal ini  sangat menggelikan, tapi tentu saja pihak RSJ tidak bertindak asal-asalan. Mereka melihat potensi gangguan kejiawaan  yang besar dari para caleg yang bertarung di pemilu 2009, yaitu caleg-caleg yang tidak lolos ke kursi dewan. Pihak RSJ menjadikan fenomena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sebagai acuannya, di mana para calon mengalami strass karena gagal melaju ke tampuk kursi pemerintahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Stress adalah fenomena kejiwaan yang terjadi karena adanya takanan-tekanan, baik dari dalam maupun dari luar. Tekan dari dalam bisa terjadi karena tingginya keinginan, tanpa didasari dan didukung oleh kemampuan atau kapasistas. Dalam hal ini, bisa jadi ketidaksiapan untuk kalah adalah salah satu bagiannya. Sementara tekanan dari luar adalah berkaitan dengan posisi dia di masyarakat, seperti terpojok oleh pandangan masyarakat kepada orang tersebut (merasa terhina dan tersisihkan), tuntutan-tuntutan orang lainyang tidak terpenuhi, dan ketidaksipan dalam mengahdapi perubahan nasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kasus caleg yang mengalami stress atau gangguan jiwa bisa terjadi karena beberapa hal seperti tidak siap kalah, tidak siap untuk kehilang, sudah teralu banyak biaya yang dikeluarkan. Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa kita renungkan untuk menghindari strss semacam ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama, kembali kepada niatan. Ada yang menarik dari apa yang dikatakan oleh Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pada awal-awal 2008 tentang Nasionalisme 2009 bahwa bangsa ini mengalami satu gerakan nasionalisme baru pada tahun ini. Semua orang, entah itu pejabat, pengusaha, petani, guru, mahasiswa, dan seluruh lapisan bangsa ini meuju pada neo-nasionalisme ini, yaitu nasionalime uang. Maksudnya, melakukan segala sesuatu seolah-olah untuk bangsa ini, padahal sejatinya adalah untuk uang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari fenomena yang ada, nampak jelas bahwa kebanyakan (tidak semua) para caleg dalam pemilu legislatif 2009 berorientasi pada uang. Mereka tahu bahwa gaji anggota dewan sangat besar, puluhan juta rupiah per bulan. Belum lagi ditambah dengan berbagai tunjungan. Dengan demikian dia rela mengeluarkan berapapun biayanya untuk kelancaran jalannya melaju ke kursi dewan, karena jika dia terpilih, uang tersebut akan kembali hanya dalam hitungan bulan. Orientasi ini sangat jelas terlihat dari beberapa fakta diantaranya, para caleg tersebut adalah bukan politisi, mereka adalah orang-orang yang sebelumnya berada diluar arena politik praktis, tetapi karena kepopulerannya di mata masyarakat dan mempunyai dana, maka mencalonkanlah dia menjadi caleg. Ada pula caleg yang karena diterima sebagai Pegewai Negeri Sipil (PNS) dia kemudian mengurungkan diri dari pencalonan, mungkin baginya PNS lebih menjanjikan untuk hari tuanya. Indikasi yang lain adalah mudahnya para caleg tersebut berpindah ke lain hati alias lain partai. Ini menunjukkan bahwa bagi sebagian merka tidak penting lagi apa yang disebut sebagai idiologi, karena idiologi bagi sebagian mereka berarti uang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, niatan awal sangatlah penting. Niat laksana pondasi bagi sebuah bangunan, kuat pondasi, kuat pula bangunannya. Rapuh pondasi, rapuh pula bangunannya, runtuh sebelum jadi. Dalam Islam pun selalu diingatkan innamal a’malu bin niyyah, sesungguhnya segala amal perbuatan itu bergantung pada niatannya. Seseorang akan mendapatkan dari apa yang dia kerjakan sesuai dengan niatannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam diajarkan bahwa segala pekerjaan haruslah diorientasikan hanya untuk Allah SWT. Hal ini karena manusia adalah ciptaan Allah yang diberkedudukan sebagai hamba dan khalifah (wakil Tuhan). Sebagai ciptaan tentu saja kita harus mengabdi (menjadi hamba) kepada penciptanya, dan sebagai hamba, tentulah tidak bisa dibenarkan jika manusia melakukan pekerjaanya tidak diperuntukkan bagi tuannya. Dan sebagai wakil Tuhan, bisakah kita melakukan suatu hal yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya yang kita wakili? Kalaupun bisa, itulah yang disebut sebagi pembelotan, tidak amanah, khianat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menjadi wakil rakyat haruslah diniatkan keran Allah semata, mengharapkan ridlha-Nya. Jadikanlah ia sebagai panggilan Allah agar kita melaksanakan fungsi kekhalifahan kita, yaitu memakmurkan bumi. Karena niatan kita adalah untuk Allah SWT, maka Allahlah yang akan menggaji kita. Dialah yang akan membalas segala amal usaha kita. Dan kita akan senantiasa dalam bimbingan-Nya. Ingat, Allah Maha Kaya. Di sini, manusia telah melampui (bukan meninggalkan) wilayah material. Dia tidak menjadikan materi sebagai orientasi atau tujuan, tetapi hanyalah alat untuk mencapi tujuan yang lebih besar, yaitu keridlaan Allah SWT. Inilah yang disebut dengan ikhlas. Seorang mukhlis atau orang yang ikhlas tidak lagi menyesali apapun yang terjadi, karena bagi dia yang terpenting adalah dia telah melakukan itu karena Allah, dengan cara yang baik, dengan usaha yang keras dan gigih, dengan pola manajemen yang rapih, setelah itu menyerahkan segalanya kepada Allah SWT atau tawakal.&lt;br /&gt;Kedua, haruslah adakesadaran dalam diri kita sebagai manusia bahwa tidaklah mengkin segala sesuatu yang kita inginkan akan tercapai. Allah SWT sendiri telah menegaskan dalam firmannya “apakah manusia akan mendapatkan segala yang dicita-citakannya?” (QS. An-Najm: 24). Dalam ayat tersebut Allah tidak memberikan jawabannya, karena jawabannya secara logis terdapat dalam pertanyaan itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Coba kita renungkan apa yang akan terjadi jika keinginan semua manusia di dunia ini terwujud. Semua ingin kaya, dari mana dia mengetahui dia kaya kalau tidak ada yang miskin. Semua ingin jadi penguasa, lalu siapa yang diperintah?  Siapa yang akan diurus? Semua ingin jadi pedagang, lalu siapa yang memproduksi? Siapa yang membeli? Ini adalah contoh sederhana bahwa apa yang kita inginkan tidak selamanya terwujud. Keinginan kita ternyata berbatasan juga dengan keinginan orang lain, berbatasana dengan kemampuan kita, berbatsan dengan kehendak Sang Pencipta. Kesadaran inilah yang harus senantiasa kita tanamkan dalam diri kita, keluarga dan masyarakat kita.  Dengan kesadaran ini, apapun yang kita dapatkan kita akan menerima dengan lapang dada, legowo. Kegagalan menjadi anggota legislatif hendaknya tidak dilihat sebagai sesuatu yang berlebihan. Mengapa kita lupa bahwa dalam setiap kompetisi ada yang menang dan ada yang kalah? Seperti sepak bola misalnya, bagiamana bisa 18 klub Indonoesia Super League semuanya menjadi pemenang? Tentu ada yang menjadi pemenang, runner up, sampai ada yang terdegradasi atau terdepak dari kancah kompetisi utama ini. hal ini sangat alamiah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kegagalan dalam memperoleh sesutu yang kita inginkan memang pahit. Tidak ada orang yang ingin gagal, namun pastilah ada yang gagal. Kita pun harus bersiap, bukan hanya siap untuk menang, tetapi juga harus siap untuk kalah, untuk gagal. Meski pahit, namun kita tetap harus menalannya. Bisa jadi itu adalah obat, dan bisa jadi itu adalah yang terbaik bagi kita. Allah berfirman, “. . . boleh jadi Kamu membenci sesuatu, padahal dia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal dia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahui. (QS.  Al-Baqarah 216).&lt;br /&gt;Allah maha mengetahui. Dia mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Namun seringkali manusia tidak bisa nenangkap apa yang sebenarnya dinginkan oleh Allah dari dirinya. Keinginan yang berlebihan, ambisi yang besar, dan dada yang sempit telah menjadikan manusia tidak bisa melihat hikmah yang tersembunyi dari sebuah peristiwa. Sekali lagi, kegagalan memang pahit, namun tahukah kita apa yang ada di balik kepahitan tersebut? Bisa jadi adalah yang terbaik bagi kamu. Kata Allah. Bisa jadi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bukanlah ladang perjuangan bagi kamu, karena masih banyak ladang perjuangan yang belum banyak digarap orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui hikmah di balik peristiwa yang terjadi diperlukan kejernihan pikiran dan kelapangan hati, karena hikmah laksana permata yang ada ditengah-tengah lumpur. Orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap peristiwa adalah orang yang hidupnya bahagia, karena dia melihat segala sesuatu tidak dari satu arah, tetapi dari berbagai arah. Sebagai contoh, ungkapan yang sering kita dengar, atau bahkan kita sendiri pernah mengalaminya seperti “untung saya tidak jadi naik peasawat pertama yang ke Jogja, kalau jadi mungkin juga saya jadi korban kecelakaan pesawa tersebut.” Kata salah satu pembicara dari Kakarta dalam seminar di UGM pada hari terjadinya kecelakaan pesawat di bandara Adi Sucipto.  Atau perkataan yang lain “waktu hendak pilang ke Kalimantan, untungnya duit saya hilang di semarang, sehingga saya harus kembali ke Yogyakarta. Coba kalau duait saya tidak hilang, pastilah kini saya masuk daftar korban kecelakan kapal.” Itu hanya beberapa missal saja, masih banyak yang barangkali lebih kecil mapun lebih besar dari kejadian semacam itu. Karena itu, Allah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk selalu berprasangka baik kapada-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keempat, sesungguhnya apa yang terjadi pada diri kita adalah ujian. Masihkahkita  ingat kepada Allah saat diuji dengan kesengsaraan? Masih ingatkatkah kita kepada Allah saat kita diuji dengan kesenangan? Menjadikan manusia susah atau senang, kaya atau miskin, menang atau kalah sesungguhnya sangat mudah bagi Allah. Dia menjelaskan bahwa musibah yang menimpa manusia adalah untuk melihat ketakwaan seseorang, dan “supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Allah mengajarkan kepada kita agar tidak terlalu menyesali apa yang telah lalu, apa yang telah hilang dari kita, entah itu waktu, harta benda maupun jiwa, karena itu adalah sifat dunia, yaitu fana, tidak abadi. Yang telah hilang biarlah dia hilang, janganlah dia terlalu difikirkan, karena hal itu akan menguras energi kita sehingga kita tidak bisa fokus lagi dalam beraktifitas. Dampaknya adalah justru semakin banyak kehilangn kita. Seandainya kegagalan menjadi caleg terus disesali, ditangisi, hasilnya adalah depresi, tekanan yang berujung pada gangguan kejiwaan. Dan apa bila orang telah mengalami gangguan kejiwaan dia juga akan mengalami gangguan spiritual keagamaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Allah SWT juga mengajarkan kepada kita, jika kita memperoleh apa yang kita inginkan, janganlah kita terlalu berbahagia, terlalu gembira, sehingga melupakan rasa syukur kita kepada Allah. Orang yang terlalu berbahagia biasanya akan berlanjut kepada kesombongan, membanggakan diri. Orang yang demikian akan mudah lupa kepada Allah.  Gagal menjadi anggota dewan tidaklah harus disesali berlebihan, begitu juga terpilih menjadi anggota dewan janganlah terlalu bergembira. Amanah rakyat telah menanti. Jadi, baik orang yang berduka cita berlebihan dan orang yang bergembira secara berlebihan, keduanya akan mudah melupakan Allah. Barang siapa melupakan Allah, maka Allah akan melupakannya. Itu adalah janji Allah. Dan tidak ada yang melupakan kan Allah, kecuali orang yang tidak memfungsikan hati dan fikirannya. Dan inilah orang yang mengalami gangguan kejiwaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah pentingnya mengingat Allah pada saat sebelum melakukan suatu pekerjaan, saat melakukannya maupun sesudahnya dan seterusnya. Dengan selalu mengingat-Nya, maka insya Allah kita tidak akan mengalami gangguan kejiwan seperti depresi dan stress, seberat apapun persitiwa yang terjadi kepada kita. Wallahu a’lamu bihshsowab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3652935522462614286?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3652935522462614286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/05/fenomena-caleg-stress.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3652935522462614286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3652935522462614286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/05/fenomena-caleg-stress.html' title='Fenomena Caleg Stress'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-8742360594274162003</id><published>2009-04-22T21:02:00.003+07:00</published><updated>2011-06-02T19:58:52.493+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Rumahku Bukan Surgaku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/Se8j8RZntmI/AAAAAAAAARs/lsQZyEcg3cQ/s1600-h/aaa.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 93px; height: 118px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/Se8j8RZntmI/AAAAAAAAARs/lsQZyEcg3cQ/s200/aaa.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327516402572572258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pagi masih terlalu dingin. Mobilku pun tak segera menyala ketika aku starter. Udara di kota ini memang cukup dingin. Bisa dikatakan, tempat ini adalah puncaknya kota ini. Aku juga tidak paham mengapa bapak memilih membangun rumah di sini, di bukit yang berjarak 30 kilometer dari pusat kota. Bisa jadi bapak salah perkiraan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula tempat ini memang sangat menarik. Kontur perbukitannya dengan sedikit lahan landai di bagian lain, membuat tempat ini begitu menarik para pebisnis perumahan dan villa. keindahan tempat ini pula yang menarik putra penguasa negeri ini saat itu untuk membangunnya menjadi resort. Namun ketika kekuasaan ayahnya tumbang, dia pun bangkrut. Masih tampak di sana sisa-sisa calon track motorkros yang belum selesai dibangun. Lahan yang luas itu kini menjadi milik pemerintah, sementara masyarakat yang dulu diusir dari tempat tersebut tidak bisa kembali mengambil tanahnya, kecuali dia seperti bapakku yang punya jabatan dan kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur aku katakana, rumahku bukanlah rumah yang dibangun asal-asalan, karena arsisteknya, Wijayakusuma, yang tidak lain adalah ayahku sendiri, adalah jebolan universitas terkemuka di Prancis. Dengan kamahirannya itu dia membangun rumah ini, perpaduan antar arsistektur modern dan arsisterktur jawa kuno. Justru yang tidak nampak adalah corak kesumatraanya, padahal kami tinggal di pintu gerbang Sumatra. Namun aku tidak heran, karena bapak memang orang jawa tulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memang keluarga jawa. Bahakan anak-anak bapak, termasuk aku anak yang ketiga sekaligus terakhir, semuanya lahir di Jawa. Kami baru pindah ke sini saat usiaku sekitar 13 tahun, saat aku masih duduk di kelas dua SLTP. Saat itu bapak mendapatkan proyek besar di sini, pembangunan resort milik putra penguasa negeri ini kala itu. Namun meskipun proyek itu gagal, dan semua asset disita oleh pemerintah, bapak tetap selamat. Itu karena kedekatan bapak dengan semua orang, khusunya para pembesar pemerintah daerah di sini. Malah bapak kini menjadi direktur sekaligus pemegang saham terbesar di salah satu perusahan konstruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama ke kota ini, kami tinggal di rumah yang kami sewa di dekat tempat kerja bapak, tidak jauh dari tempat tinggal kami sat ini. Baru setahun kemudian bapak membangunkan “istana” ini. Yah, banyak tetangga dan tamu yang datang ke rumah mengatakan rumah ini adalah istana. Bahkan Alfian, teman sekolahku di SMA menyebutnya sebagai miniatur surga. Waktu itu memang kami baru belajar pelajaran agama yang diletakkan, atau lebih cocoknya disispkan pada jam terakhir. Guru agama kamii menjelaskan tentang taman surga, dimana air yang cukup jernih mengalir, buah-buahan tersedia dan mudah dipetik, bunga-bunga bermekaran di sana sini, suara-suara burung yang terdengar merdu. Apa saja yang manusia inginkan ada di surga. demikian kata guruku. Dan semua itu seakan telah tersedia di rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah ibu guru tadi bilang kita harus menjadikan rumah kita sebagi surga, rumahku surgaku”, kata Alfian protes setelah aku katakan pada dia, rumah ini seperti neraka bagiku. Bagaimana tidak. Setiap hari yang aku dengar adalah pertengkaran bapak dan ibu pada pagi hari sebelum keduanya pergi bekerja. Tentu bukan di meja makan, karena sejak pindah ke Sumatra ini kami tidak pernah lagi makan bersama. Itu pula yang menyebabkan kami jarang bertegur sapa, apalagi guyup larut dalam obrolan. Paling hanya aku dan Liana, saudaraku yang kedua. Saudara pertamaku, Mas Agung, tidak ikut pindah ke Sumatra. Dia memilih tinggal bersama kakek nenek di Jawa. Beruntunglah dia tidak iktu pindah. Dan sekarang dia telah dikarunia satu orang anak. Mudah-mudahan dia tidak meniru sikap bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang kepala keluarga, bapak bersikap layaknya seorang raja. Semua perkataannya harus didengar. Namun tidak pernah mau mendengarkan orang lain. Sementara ibu justru tidak selayaknya permaisuri yang manut nurut pada raja, tetapi dia menjadi Ken Dedes yang memberontak pada suaminya. Sehingga pertengkaran tidak bisa dielakkan. Itu pula yang memebadakan dia dengan Ken Dedes. Ken Dedes masih berbicara lembut dengan suaminya, tetapi ibuku tida lagi berbicara lembut selayaknya seorang wanita solo yang pernah aku kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi perang kata, aku memilih diam atau pergi begitu saja meninggalakan rumah, ke rumah Alfian atau ke Game Center. Pulang menejelang larut malam. Namun seringkali aku tidak mendapatkan kedua orang tuaku di rumah. Semula aku sering menanyakan pada Liana, namun selalu jawabanya sama, belum pulang. Mereka berdua pulang larut malam, dengan mobilnya masing-masing. Bahkan kadang tidak pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kediktatoran bapak juga yang menyuruhku kuliah di bidang arsistektur, biar bisa meneruskan usaha bapak, katanya. Padahal waktu itu aku ingin belajar sastra Inggris. Aku hanya bisa diam dan menurutinya, meski dalam hati terbesit satu tekad, aku tidak akan pernah meniru bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Lima tahun aku kuliah di Perancis. Semula aku ingin mengikuti jejak mas Agung, tinggal dan membangun keluarga di Jawa. Pernah aku utarakan maksudku pada Endah, teman kuliahku sesama orang Indonesia, tapi dia malah menganggapku bergurau. Selama aku kuliah, dialah orang yang banyak aku ajak bicara tentang keluargaku. Aku bercerita padanya, menuangkan seluruh gundah gulanaku, setelah aku dapat kabar meninggalnya ibu. Aku ceritakan padanya tentang keluargaku padanya meskipun tidak semua tetek bengeknya. Karena sedikit berat membicarakan permasalahan keluarga dengan orang lain yang bukan keluargaku. Menceritakan bapakku yang sering pergi, ibuku yang jarang di rumah, saudara perempuanku yang ikut-ikutan ngeluyur. Bukankah itu aib kelurga yang tidak perlu aku bicarakan dengan orang lain, kecuali jika sudah terlanjur alias keceplosan karena sudah tidak kuat aku memendamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada penyambutan, tidak ada selebrasi atau sejenisnya. Keinginanku untuk langsung pulang ke rumah aku batalkan. Aku mencari rumah kontrakkan dan menaruk semua barang-barangku di sana. Setelah dua bulan baru aku datang ke rumah.&lt;br /&gt;Lima tahun bagiku waktu yang lama tinggal di negeri orang, jauh dari orang-orang yang aku hormati, cintai, namun sering juga aku benci. Sempat juga aku merindukan miniatur surga itu. Namun ternyata waktu lima tahun tidak cukup untuk memperbaiki kebobrokan rumah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada ada banyak perubahan di rumah ini. Bunga-bunga itu, kolam ikan, air mancur, ayunan yang tergantung di pohon jambu di belakang rumah. Hanya saja aku tidak mendnegar kicauan burung lagi. Kata Pak Parman, pembantu rumah ini, bilang bapak takut terjangkit flu burung, sehingga burung-burung itu dikasihkan ke teman-temannya. Aneh, bukannya bapak jarang di rumah, mengapa mesti takut? Justru Parman dan teman-temannya sesama pembantulah yang selayaknya ttakut, karena mereka yang saben hari tinggal di rumah ini dan merawatnya. Memang tidak ada yang berubah, termasuk sikap bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak meninggalnya ibu, bapak tambah jarang di rumah. Liana pun sibuk dengan pekerjaannya. Aku coba memaksa diriku bertahan tinggal di rumah ini, yang semula aku kira bisa menganggapnya menjadi surga. namun tetap, rumah ini bukan surgaku, bukan baiti jannati, tetapi justru menjadi neraka yang orang tidak akan pernah betah tinggal di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sudah sepuluh hari ini bapak tidak pulang ke rumah. Kabar yang aku dengar dia tinggal di apartemen temannya yang proyeknya baru bapak selesaikan. Sebagai imbalan, bapak mendapatkan satu apartemen di gedung itu. Dan akupun lebih senang tinggal di rumah kontrakkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui bapak tinggal di apartemen temannya tidak membuatku pusing. Apalagi aku mulai larut dalam tugas-tugas kantor. Sampai pada satu hari aku mendapatkan berita yang tidak mengenakan dan menyesakkan hatiku. Bapak meninggal, jenajahnya kini ada di salah satu rumah sakit di ibu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya berawal dari seorang pelayan catering yang mendapatkan bapak terkulai di kamarnya, kemudian pelayan tersebut memangil Pak Heru, pemilik apartemen sekaligus teman bapak. Rumah sakit daerah tidak bisa menangani penyakit bapak, dan harus dirujuk ke rumah sakit ibu kota. Namun naas, sesaat setelah diturunkan dari pesawat, bapak menghembuskan nafas terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun sepeninggalan bapak, kami tiga bersaudara sepakat unutk menjual rumah peninggalan keluarga itu. Liana tinggal bersama suaminya di Palembang. Mas Agung tetap tinggal di Jawa. Sementara aku mebeli rumah sederhana yang selama ini aku kontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, baiti jannati tidak harus rumah itu besar, luas, mewah, dimana air jernih mengalir dan memancar, sebidang taman bunga dan buah-buahan yang rimbun, ataupun kolam ikan yang jernih hingga ikan yang di dasar kolam terlihat jelas. Juga bukan rumah dengan segudang pembantu yang siap melayani setiap saat. Rumahku surgaku adalah rumah yang harmonis, saling perngertian satu sama lain yang timbul karena adanya komunikasi. Dia adalah rumah, bukan istana dengan seonggok raja. Rumah yang guyup dengan tegur sapa dan canda di meja makan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-8742360594274162003?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/8742360594274162003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/rumahku-bukan-surgaku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8742360594274162003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/8742360594274162003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/rumahku-bukan-surgaku.html' title='Rumahku Bukan Surgaku'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/Se8j8RZntmI/AAAAAAAAARs/lsQZyEcg3cQ/s72-c/aaa.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6174874023507708184</id><published>2009-04-18T11:02:00.003+07:00</published><updated>2009-04-18T11:09:39.157+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Hidup Adalah Ujian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sejatinya kehidupan ini adalah ujian alias cobaan, sehingga akan diketahui kelak siapa orang yang paling baik amal perbuatannya. (QS. Al-Mulk: 2)  Dengan demikian, seluruh yang terkandung dalam hidup ini adalah ujian. Jadi, senang-sedih, bahagia-sakit, kenyang-lapar, haus-kembung, kaya-miskin, cantik-buruk dan lain sebagainya tidak lebih dari ujian. Dan sebagaimana ujian pada umumnya, hasil dari ujian ini adalah yang menentukan siapa yang lulus dan siapa yang gagal. Pertanyaannya adalah lulus dari mana? Standar kelulusnya apa?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah perjalanan pulang. Kembali ke asal. Ke sumber kehidupan. Kembali kepada kesempurnaan, ke yang Maha Sempurna. Sangat wajar jika manusia di dunia ini diibaratkan sebagai musafir, singgah sebentar kemudian berlalu kembali. &lt;i&gt;Urep mung mampir ngumbeh&lt;/i&gt;, kata orang jawa. Hidup ini sekedar persinggahan untuk minum. Karena sekedar mampir minum, seyogyanyalah kita minum sekedarnya saja, sekedar cukup menghantarkan perjalanan kita untuk pulang. Kiranya tersedia di sana berbagai macam minuman, seperti air putih, susu, madu dan arak, hendaklah kita memilih yang menyehatkan dan membuat kita teetap berjalan tegak. Kita bebas memilih, namun setiap pilihan kita memberi konsekwensi tersendiri bagi kita. Masing-masing bertanggungjawab dan memikul sendri apa yang diakibatkan oleh pilihannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah ujian. Seorang anak Sekolah Dasar (SD) mendapatkan soal sesuai dengan kemampuannya. Begitu juga siswa Sekolah Menengah Pertama (SLTP) ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun tingkat perguruan tinggi. Semua mendapat soal ujian sesuai tingkatatnnya. Tidak mungkin seorang anak SD mendapatkan soal ujian yang seharusnya untuk SMA, atau sebaliknya siswa SMA mendapatkan soal anak SD. Tuhan menguji umatnya sesuai dengan kadar kemampuan masig-masing. Semakin tingi tingkat kehidupan seseorang, maka semakin tinggi tanggungjwaab dia. Semakin tingi tanggung jawab, semakin tinggi ujian yang Tuhan berikan. &lt;i&gt;Semakin tinggi suatu pohon tumbuh semakin kencang angin menerpanya.&lt;/i&gt; Kurang lebih seperti itu kata pepatah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang akan diuji dengan apa yang mereka miliki. Ketika seseorang memiliki ilmu, maka dia akan diuji dengan ilmu tersebut. sejauh mana ilmu itu bermanfaat. Ketika seseorang mempunyai kedudukan di lingkungan sosial, dia akan diuji dengan sejauh mana kedudukannya itu mampu memberikan kesejahteraan bagi orang lain. Ketika seseorang mempunyai harta maka dia kan diuji, sejauh mana dia mendistribusikan hartanya kepada orang lain? Sejauh mana harta tersebut bisa mensejahterakan diri, keluarga, orang-orang yang membutuhkan. Begitu juga sebaliknya ketika seseorang tidak mempunyai kekayaan dan hidup dalam kekurangan, kehidupan seperti ini juga adalah ujian, sejauh mana dia berusaha mencara rizki Tuhan, sejauh mana dia berusaha dan berjuang merubah nasib, secara personal maupun sosial, dan sejauh mana dia mampu menerima keadaan itu dengan tawakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia akan diuji dengan apa yang dimilki, termasuk juga dengan perkataannya. Diam (tidak berkata-kata) adalah hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya. Begitu kata Nabi Muhammad SAW. Banyak orang yang lebih suka berkata-kata ketimbang diam. Selain apa yang seseorang perbuat, apa yang ia katakan juga merupakan ujian baginya. Tanggung jawab orang yang berilmu adalah adalah menyampaikan ilmunya. Dan tanggungjawab umt manuisa semua adalah untuk saling menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran (Al-‘Ashr: 3). Menasehti. Berhati-hatilah dengan laku ini. Salah satu perbuatan yang Allah kecam adalah seseorang yang mengatakan sesuatu, padahal dia tidak melakukannya. Kebencian Allah sangat besar kepada golongan ini (QS. Ash-shaff: 2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menasihati orang lain, maka sebenarnya nasihat itu akan kembali kepada dia. Ketika seseorang menasihati orang lain untuk berbuat baik, maka setelah itu dia kan mendapat ujian bagaimana dia harus berbuat baik. Ketika seseorang menasihati orang lain, jangan marah!, maka setelah itu Allah akan memberikan satu kejadian yang akan menguji dia apakah dia akan marah atau tidak dalam mengahadapi hal tersebut. bisa jadi setelah seseorang menasihati orang lain untuk berderma, kemudian Allah mengirim peminta-minta kepada dia untuk menguji kedermawanannya. Yah demikianlah Allah mendidik dan menguji hamba-Nya, supaya hamba-Nya lulus mendapat derajat khalilullah, sahabat Allah, derajat orang-orang takwa yang lulus dengan predikat sangat memuaskan.&lt;i&gt; Wallahu a’lam bi shawabih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini disampaiakn pada Pengajian Kelas XI A-1 SMA Muhammadiayah 3 Yogyakarta, 16 April 2009&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6174874023507708184?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6174874023507708184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/hidup-adalah-ujian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6174874023507708184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6174874023507708184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/hidup-adalah-ujian.html' title='Hidup Adalah Ujian'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-360134267593143609</id><published>2009-04-16T23:45:00.003+07:00</published><updated>2009-04-17T00:03:33.363+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Cerita Rahib</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ada dua orang rahib yang sedang berjalan-jalan melalui pinggiran kali. Pada saat kedua rahib tersebut sedang berjalan dan menikmati pemandangan daerah tersebut yang indah, ada seorang wanita yang meminta tolong agar ia dibantu menyeberangi kali. Seketika salah satu rahib tersebut menggendong wanita tersebut dan membawanya ke seberang kali, kemudian rahib tersebut kembali ke tempat semula lalu melanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;setelah berjalan agak jauh, rahib yang satunya baru sadar bahwa temannya tadi telah menggendong seorang wanita dan membawanya menyeberangi kali. bukankah dia rahib? bukankah itu hal tercela, apalagi bagi seorang rahib? meski demikian dia tidak enak menanyakannya kepada temannya tersebut. Dalam sepanjang perjalanan dia memikirkan kejadian tersebut? ada apa dengan temannya tadi? apakah dia telah lupa terhadap larangan-larangan dalam kerahiban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan kucup jauh, keduanya beristirahat untuk makan dan minum. rahib yang sedari tadi memendam pertanyaan tidak kuat juga untuk tidak menanyakan perisitwa yang telah ia lihat tadi. akhirnya dia pun bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Wahai kawan, mengapa enggkau tadi menggendong seorang wanita, bukankah hal itu tercela, apa lagi bagi seorang rahib?" tanya sang rahib. Rahib yang menyebrangkan wanita tadi dengan santai menjawab: "saya menggendongnya sudah lewat tadi, dan saya sekarang tidak menggendongnya lagi, tetapi mengapa engkau masih menggenongnya dalam pikiranmu?" Sang Rahib pun terdiam mendengar jawaban teman seperjalanannya itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hikmahnya apa ya? kalau gak tahu and males mikir, tanya aja pada rahibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-360134267593143609?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/360134267593143609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/cerita-rahib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/360134267593143609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/360134267593143609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/cerita-rahib.html' title='Cerita Rahib'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-5056380340744960281</id><published>2009-04-12T07:53:00.003+07:00</published><updated>2009-04-12T08:05:03.998+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>e-book</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Harga kertas naik, otomatis harga buku juga naik. sejak selesai kuliah ini aku mulai jarang beli buku, maklum kiriman distop, sementara gaji sebulan cuma cukup untuk makan. akhirnya aku hanya dapat pinjam dari beberapa orang teman atau meminta teman yang masih kuliah untuk memnjamkan buku di Perpustakaan universitas. tapi di mana ada keinginan pasti ada jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era IT seperti sekarang ini, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memperoleh bahan bacaan, salah satunya melalui e-book. nah kalau kita lagi berselancar di dunia maya, kit ajuga kan mendapatkan beberapa situs yang menyediakan layanan ddownload grats buku-buku dalam bentuk pdf, entah itu fiksi maupun non fiksi. salah satunya adalah &lt;a href="http://warungfiksi.net/"&gt;www.warungfiksi.net&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;selain itu, saya juga sernig mendapat kiriman scanbook dari salah seorang teman yang bekerja di salah satu lembaga peneitina yang memang berusaha menyebarkan buku-buku yang berguna. so, kita bisa menjadikan buku-buku tersebut sebagai sumber bacaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-5056380340744960281?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/5056380340744960281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/e-book.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5056380340744960281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5056380340744960281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/e-book.html' title='e-book'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-5699684663424540899</id><published>2009-04-10T00:14:00.007+07:00</published><updated>2009-04-10T02:19:58.535+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Lompatan Spiritual</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dalam Islam, ad satu pola yang telah diatur untuk menuju kepada sang pencipta. pola-pola itu yang sering disebut sebagai syariah. barang siapa mengikuti pola-pola tersebut dengan benar, maka dia akan sampai kepada-Nya. pola-pola itu itu tergambar dalam rukun Islam yang lima.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pola-pola itu ibarat anak-anak tangga yang harus kita daki satu per satu untuk mencapai puncak tujuan. Semakin banyak anak tangga tangga yang kita tapaki semakin dekat jarak kita dengannya. Pola-poa tersebut menuntun kita menuju Yang Maha Agung dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;step by step&lt;/span&gt; atau selangkah demi selangkah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun diluar itu, ada orang yang tanpa melalui proses tahapan tersebut dia bertemu Tuhan, atau dalam bahsa lain masuk surga. sebagaimana yang digambarkan oleh rasulullah tentang seorang pelacur yang oleh Allah dimasukkan surga lantaran dia memberi minum seekor anjing di suatu padang pasir yang kering dan tandus. orang yang seperti ini adalah orang yang telah mengalami suatu lompatan. orang yang mengalami suatu lompatan spritual adalah mana kala dia tidak lagi berikir tentang dirinya an sich, tetapi lebih mengutamakan yang lain. seperti pelacur tadi yang memberikan minum kepada anjing, padahal dia juga sangat membutuhkannya, dan hanya itulah air yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lompatan seperti ii juga dialami oleh para sahabat. ketika perjuangan menyebarkan Islam pada masa nabi membutuhkan harta benda atau biaya, maka Abu Bakar mberkata "Amillah seluruh hartaku untuk perjuangan dijalan Allah". kemudian Umar berkata, "ambillah separo hartaku", dan Usman berkata, ambillah sepertiga hartaku. sementara Ali yang hidup miskin berkata "karena aku fakir dan tidak punya apa-apa, maka aku menyerahkan diriku ini". dari sini lalu Ali RA dijuluki murtadlha atau yang diridhlai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lompatan spritual ini terjadi ketika seseorang telah benar-benar menyerahkan dirinya kepada Alla SWT dan hanya bersandar kepadanya. orang-orang ini adalah mereka yang telah menemukan satu momentum quantum, telah berhasil melewati masa kritis dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Disarikan dari obrolan di jogjagingan di Padepokan Syekh Siti Jenar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-5699684663424540899?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/5699684663424540899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/lompatan-spritual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5699684663424540899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5699684663424540899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/lompatan-spritual.html' title='Lompatan Spiritual'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-750216169886328870</id><published>2009-04-07T17:14:00.001+07:00</published><updated>2009-04-10T00:39:27.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Lomba'/><title type='text'>Lomba Cerpen</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, bekerjasama dengan Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam) “Lomba Penulisan Cerita Pendek (Cerpen).” Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 97 tahun usia Bumiputera ini terbuka untuk umum, terutama para pecinta sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai asuransi tertua dan terbesar di Indonesia, Bumiputera dikenal peduli terhadap pengembangan kreativitas masyarakat yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan lomba penulisan setiap tahunnya, termasuk menyelenggarakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia. Sedangkan PaSar MaLam dikenal dengan kegiatannya seperti Sastra Reboan yang digulirkan secara rutin setiap hari Rabu akhir bulan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Topik : “Sosial, Human Interest”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Peserta :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masyarakat umum, warga negara Indonesia.&lt;br /&gt;2. Peserta boleh menggunakan nama samaran (namun nama asli tetap dicantumkan di daftar riwayat hidup).&lt;br /&gt;3. Melampirkan daftar riwayat hidup, (termasuk alamat lengkap, nomor telepon, dan e-mail).&lt;br /&gt;4. Lomba ini tertutup bagi pegawai tetap (organik) AJB Bumiputera 1912.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Lomba :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan&lt;br /&gt;pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang asuransi;&lt;br /&gt;2. Cerpen tidak mengandung SARA.&lt;br /&gt;3. Bentuk tulisan dengan gaya bahasa yang cair, kreatif, dan&lt;br /&gt;tidak dalam bentuk makalah ilmiah.&lt;br /&gt;4. Setiap karya wajib menyebutkan kata “asuransi” dan “AJB&lt;br /&gt;Bumiputera 1912″ sedikitnya satu kali.&lt;br /&gt;5. Panjang cerpen maksimum 15.000 karakter, disajikan dalam teks&lt;br /&gt;Times New Romans, 1,5 spasi, dengan font 12.&lt;br /&gt;6. Cerpen harus asli, bukan saduran atau terjemahan;&lt;br /&gt;7. Cerpen belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba&lt;br /&gt;penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media&lt;br /&gt;apapun;&lt;br /&gt;8. Cerpen ditunggu paling lambat tanggal 30 Juni 2009 pukul&lt;br /&gt;24:00 (untuk email) dan berdasarkan cap pos untuk pengiriman&lt;br /&gt;melalui pos.&lt;br /&gt;9. Cerpen yang menjadi pemenang akan dimuat di majalah&lt;br /&gt;“bumiputeranews” (hadiah sudah termasuk honorarium pemuatan);&lt;br /&gt;10. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan&lt;br /&gt;surat menyurat.&lt;br /&gt;11. Pengumuman pemenang lomba penulisan akan dilakukan pada&lt;br /&gt;bulan Agustus 2009 di website AJB Bumiputera 1912 di&lt;br /&gt;http://www.bumiputera.com/, website PaSar MaLam di&lt;br /&gt;http://www.reboan.com/ dan website panitia di&lt;br /&gt;http://www.bumiputeramenulis.com/&lt;br /&gt;12. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada akhir Agustus 2009, yang&lt;br /&gt;tempat dan waktunya akan diberitahukan kepada para pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata Cara Pengiriman Cerpen :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peserta lomba dapat menulis lebih dari satu cerpen;&lt;br /&gt;2. Cerpen dikirim melalui email ke komunikasi@bumiputera.com&lt;br /&gt;atau bila dalam bentuk hardcopy melalui pos ke alamat:&lt;br /&gt;Departemen Komunikasi Perusahaan, AJB Bumiputera 1912, Wisma&lt;br /&gt;Bumiputera Lantai 19, Jl. Jend. Sudirman Kav 75, Jakarta 12910&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi lebih lanjut hubungi Bumiputera :&lt;br /&gt;Telp. 021-5224565;&lt;br /&gt;Faks. 021-5224566&lt;br /&gt;Email : komunikasi@bumiputera.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Juara I : Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan Piagam&lt;br /&gt;Penghargaan.&lt;br /&gt;2. Juara II : Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan Piagam&lt;br /&gt;Penghargaan.&lt;br /&gt;3. Juara III : Rp. 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan Piagam&lt;br /&gt;Penghargaan.&lt;br /&gt;4. Juara Harapan sebanyak 5 orang masing-masing sebesar Rp.&lt;br /&gt;1.000.000,- (Satu juta rupiah).&lt;br /&gt;5. Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://penulislepas.com/"&gt;www.penulislepas.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-750216169886328870?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/750216169886328870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/lomba-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/750216169886328870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/750216169886328870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/lomba-cerpen.html' title='Lomba Cerpen'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-577289947713877314</id><published>2009-04-07T17:05:00.002+07:00</published><updated>2009-04-10T00:39:44.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Lomba'/><title type='text'>Lomba Karya Tulis Pemuda</title><content type='html'>LOMBA KARYA TULIS PEMUDA TINGKAT NASIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan PENGHARGAAN UNTUK PENULIS ARTIKEL KEPEMUDAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI bekerja sama dengan Forum&lt;br /&gt;Lingkar Pena menyelenggarakan Lomba Karya Tulis dan Penghargaan untuk&lt;br /&gt;Penulis Artikel Kepemudaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Lomba Karya Tulis:&lt;br /&gt;1. Naskah berbentuk “esai” dengan tema “Kepemimpinan Pemuda”.&lt;br /&gt;Peserta dapat memilih salah satu dari sub-sub tema berikut):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pemuda di Kursi Kepresidenan Indonesia&lt;br /&gt;b. Pemimpin Muda Idaman.&lt;br /&gt;c. Menjadi Pemimpin di Era Krisis Global.&lt;br /&gt;d. Mencari Wadah Pencetak Pemimpin Bangsa.&lt;br /&gt;e. Menjadi Pemimpin Lokal Berpikiran Global.&lt;br /&gt;f. Jika Perempuan Menjadi Pemimpin Indonesia.&lt;br /&gt;g. Budaya Baca Calon Pemimpin Bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lomba dibagi dalam 3 kategori: pelajar, mahasiswa, dan umum.&lt;br /&gt;3. Lomba terbuka untuk semua WNI berusia 15-35 tahun.&lt;br /&gt;4. Esai tidak bertentangan dengan SARA dan tidak mengandung unsur&lt;br /&gt;pornografi.&lt;br /&gt;5. Naskah merupakan karya asli, bukan terjemahan, atau saduran.&lt;br /&gt;6. Naskah belum pernah dipublikasikan di media massa cetak/elektronik&lt;br /&gt;dan tidak sedang diikutkan dalam lomba sejenis.&lt;br /&gt;7. Naskah ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baik, diketik di kertas&lt;br /&gt;A4, font Times New Roman, 6-12 halaman, spasi ganda.&lt;br /&gt;8. Mencantumkan kategori di sudut kiri amplop pengiriman naskah.&lt;br /&gt;9. Nama penulis harus diletakkan pada halaman terpisah dengan lembar naskah&lt;br /&gt;10. Naskah dikirim rangkap 3 (tiga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Penghargaan Penulis:&lt;br /&gt;1. Artikel telah dimuat di media massa cetak antara bulan Oktober 2008-&lt;br /&gt;April 2009 yang bertema Kepemudaan.&lt;br /&gt;2. Melampirkan artikel (atau fotokopinya) yang telah dimuat sebanyak&lt;br /&gt;tiga rangkap.&lt;br /&gt;3. Lomba terbuka untuk umum (tanpa batasan usia)&lt;br /&gt;4. Artikel tidak bertentangan dengan SARA dan tidak mengandung unsur&lt;br /&gt;pornografi.&lt;br /&gt;5. Mencantumkan “Penghargaan Penulis” di sudut kiri amplop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Teknis :&lt;br /&gt;1. Pengiriman naskah disertai dengan fotokopi identitas diri&lt;br /&gt;(KTP/SIM/Kartu Pelajar/Paspor dan biodata singkat: nama, alamat lengkap,&lt;br /&gt;nomor telepon/handphone, e-mail). Untuk pengiriman email,&lt;br /&gt;identitas diri dapat discan (dengan resolusi secukupnya).&lt;br /&gt;2. Pengiriman naskah lomba esai atau penghargaan penulis dikirim ke:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional dan Penghargaan Penulis&lt;br /&gt;Jl. Rasamala Raya No 20 Depok Timur 16418&lt;br /&gt;Naskah lomba juga dapat dikirim melalui email: lomba.menpora@ gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(identitas diri dapat discan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Naskah ditunggu selambat-lambatnya tanggal 5 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADIAH setiap kategori dan Penghargaan Penulis:&lt;br /&gt;Juara I: Rp2.500.000, -&lt;br /&gt;Juara II: Rp2.000.000, -&lt;br /&gt;Juara III: Rp1.500.000,&lt;br /&gt;3 pemenang hiburan @ Rp500.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pengumuman pemenang dapat dilihat di http://www.forumlin /gkarpena. net&lt;br /&gt;dan http://forumlingkar /pena.multiply. com pada 1 Juni 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini diselenggarakan oleh :&lt;br /&gt;Deputi Pengembangan Kepemimpinan Pemuda Kementerian Pemuda dan&lt;br /&gt;Olahraga bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didukung oleh: ANNIDA &amp;amp; Lingkar Pena Publishing House&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan lebih lanjut hubungi&lt;br /&gt;Maryati (021) 573 8158, HP: 085813144822&lt;br /&gt;Koko 0813 67675459&lt;br /&gt;Denny 0899 9910037&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari http://penulislepas.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-577289947713877314?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/577289947713877314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/lomba-karya-tulis-pemuda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/577289947713877314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/577289947713877314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/lomba-karya-tulis-pemuda.html' title='Lomba Karya Tulis Pemuda'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-737921282228339465</id><published>2009-04-05T15:07:00.002+07:00</published><updated>2009-04-05T15:11:22.208+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Teather Demokrasi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di Majalah &lt;i&gt;Isra&lt;/i&gt; PUSHAM UII Edisi Maret Maret 2009&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;Pemilihan umum (Pemilu) legislatif tinggal menunggu hitungan hari lagi. Satu moment besar tersebut akan di gelar pada tanggal 9 April 2009. Meski demikian, sudah sejak jauh hari masyarakat telah dicokki dengan kampanye para calon, baik legis latif maupun eksekutif, sejak 8 bulan yang lalu. Hal ini karena peraturan terbaru yang memperbolehkan para peserta pemilu untuk mengkampanyekan dirinya 9 bulan sebelum masa pemilihan. Para partisipan tentu saja tidak ingin kehilangan momentum ini. Garis star pun dibuat, kampanye dimulai.&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Kampanya pada dasarnya adalah satu kegiatan para peserta pemilihan, yaitu  calon legislatif maupun eksekutif, untuk mengenalkan dirinya, termasuk visi dan misinya, kepada para calon pemilih. Hal ini dilakukan agar mereka mendapatkan suara terbanyak yang dan meloloskan mereka ke tampuk kekuasaan. Dalam mengenalkan dirinya, para kontestan ini pun kemudian berlomba-lomba agar mereka mendapatkan simpati dari para calon pemilih. Berbagai macam cara dilakukan. Kunjungn atau silaturrahmi ke tokoh-tokoh masyarakat, kunjungan ke para konstituen di daerah-daerah, mengadakan pengobatan gratis, pengajian masal, bazar sembako, memasang foto dipinggir-pinggir jalan, di media masa cetak maupun elektronik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Teror wajah&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Pasca reformasi, bangsa Indonesia seakann larut dalam ephuria kebebasan, termasuk juga dalam bidang politik. Hal ini Nampak dari banyaknya partai kontestan pada saat setiap Pemilu. Pada pemilu 2009 ini sebagany 44 partai dinyatakan lolos verivikasi dan berhak untuk mengikuti pesta demokrasi ini.  Dengan demikian, atribut partai yang terpajang di pinggir jalan pun sama banyaknya dengan partai yang ada. Bisa dibayangkan, jika satu partai membuat dan memasang 5.000 atribut partai (bendera, spanduk, poster) di suatu daerah atau kota tertentu, berapa banyak atribut partai yang terpajang di suatu daerah atau kota. Belum lagi jika masing-masing partai setidaknya mempunyai 3 orang calon anggota legislative yang masing-masing membuat 5.000 gambar dirinya, berapa banyak atribut yang memenuhi tata ruang lingkunagn kita?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ruang-ruang dalam tata kota/daerah negeri ini telah penuh sesak oleh simbol-simbol partai, atribut-atribut partai dan wajah-wajah para calon anggota legislatif-eksekutif. Kemanapun orang pergi dan berpaling, dia akan menemui hal-hal yang sama, atribut partai, wajah para kontestan pemilu. Jika diamati dari gambar wajah-wajah para calon anggota legislative yang terpampang di sepanjang jalan raya hingga ke lorong-lorong gang sempit dan pelosok desa-desa, pastilah akan ditemukan satu kesamaan. Semuanya menampakkan wajah yang sumringah, semangat, mempesona dan berwibawa. Gambar-gambar itu seakan mengatakan “inilah saya, calon anggota legislatif yang layak untuk dipilih”.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Kesamaan yang lain adalah, poster-poster tersebut hanya menampakkan dua hal, wajah dan nomor. Gambar-gambar tersebut tidak pernah ada yang menampkkan vifi dan misi para calon legislative. Gambar-gambar inilah yang sekian bulan mengisi ruang publik (public sphere) negeri ini. Masyarakat berbulan-bulan disuguhi oleh atribut partai teror wajah-wajah calon  yang konon mewakili mereka.&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Politik Imagologi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Seiring perkembangan teknologi informasi yang didikung oleh iklim kebebasan berekspresi, kampanye para partai politik dan para calon legislatif dan eksekutif kontestan Pemilu 2009 tidak sebatas menggunakan media poster yang dipajang di pinggir jalan dan juga di media cetak, tetapi juga merambah pada dunia digital virtual. Kampanye partai-partai politik pun mulai menggunakan media elektronik, baik audio, visual maupun audio-visual. Namun yang kedua inilah yang nampaknya dilihat mempunyai ekses yang lebih banyak sehingga dia lebih banyak pula dipilih.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Efektitifitas iklan sebagai media kampanye untuk meraih simpati para pemilih memang masih menjadi perdebatan dikalangan analisis media dan juga politik. Namun, dengan melihat realitas bahwa media elektronik (khususnya televisi) telah begitu mereaja lela hingga masuk pada ruang-ruang privat, baik di kalangan masyarakat urban maupun pedesaan, menunjukkan peluang besar untuk menarik simpati pemilih dan mendulang suara yang banyak. Partai politik melihat peluang ini dan kemudian menyambutnya. Biaya besar pun digelontorkan untuk memproduksi iklan yang menarik. Semakin besar uang digelontorkan, semakin sering partai politik kontestan pemilu tampil ditelevisi yang disaksikan oleh masyarakat negeri ini dari Merauke hingga Sabang. Iklan kampanye partai politik kemudian tidak ubahnya seperti iklan produk komersial.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dunia politik, ketika dia telah bersinggungan dengan dunia Iklan maka sebenarnya dia telah masuk kepada dunia, yang oleh Yasraf Amir Piliang sebagai politik imagologi atau politik citra, yaitu penggunaan berbagai citra sebagai bagian dari aktivitas atau strategi politik, atau dalam pengertian lain mempolitisasi citra untuk satu kepentingan tertentu (Yasraf; 205). Kepentingan di sini adalah untuk memperoleh suara terbanyak sehingga dia bisa menjadi legislatif ataupun eksekutif. Dengan demikian politik pun mengikuti prinsip-prinsip dalam iklan yang bekerja untuk popularitas.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam dunia informasi, iklan merupakan media untuk memasarkan produk kepada masyarakat umum. Dalam penyampaian tawaran melalui iklan, produsen menghadirkan produknya dengan prinsip, yang dihadirkan adalah keunggulan-keunggulan produk tersebut dan menyembunyikan keburuakan-keburukan. Dengan demikian sifat iklan adalah menunjukkan sekaligus menyembunyikan. Iklan adalah sesuatu yang ilusif dan manipiulatif. Sebagai contoh adalah group band yang mengiklankan salah satu produk rokok, namun sebenarnya mereka sendiri tidak merokok. Politik dalam bingkai citra iklan berarti dia menampakkan satu sisi ilusif dan manipultaif. Dia hanya menampakkan citra kebaikan, bukan kebaikan itu sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Teater Demokrasi&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Salah satu aspek dari iklan adalah sifatnya yang persuasif. Keberhasilan iklan adalah sangat ditentukan dari kemampuan setiap orang untuk menjadi subjek, yaitu orang yang merasa bagian dari ide-ide yang ditawarkan oleh sebuah porduk. Iklan rokok berusaha menjadikan seseorang manjadi bagian dari dirinya yang jantan, pemberani. Iklan produk whitening menjadikan kaum wanita sebagai sasaran pemasaran produk, sehingga mereka dijadikan seolah-olah menjadi subjek dari produk tersebut yang merasa diri berkulit putih, langsing, bersinar. Iklan memanggil subjeknya secara simpatik. Pada kontek politik, hal ini sangat ditentukan oleh pihak mana yang membuat iklan. Apabila pembuat iklan adalah partai politik penguasa, maka yang ditampakkan adalah keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai pada masa pemerintahaannya, meskipun berhasilan-keberhasilan tersebut adalah keberhasilan semu. Dalam hal ini iklan politik atau kampanye, menggambarkan wajah-wajah yang cerah, ceria, dan penuh senyum dengan segala kemudahan hidup yang diperolah berkat kepemimpinan partai pemerintah. Ujung dari iklan ini dapat dipastikan, pemerintah saat ini telah berhasil, maka dia harus diteruskan.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Berbeda dengan partai politik yang berkuasa, partai politik oposan akan memberikan gambaran-gambaran yang menjunjukkan kehidupan rakyat yang sengsara oleh karena kegagalan pemerintahan saat ini. Dalam iklan kampanyenya, bisa dipastikan, partai politik ini membeberkan kesalahan, kejelekan dan kegagalan partai politik penguasa dengan menampilkan wajah-wajah yang memelas, penuh beban dan derita. Citra yang ditampilkan adalah bahwa “pemerintah saat ini telah gagal, jangan pilih mereka. Pilihlah kami, karena kami adalah orang-orang yang memperjuangkan kepentingan rakyat”. Akhirnya selalu sama dengan iklan produk kecap, “kamilah kecap nomor satu”.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal tersebut di atas bisa terjadi karena iklan adalah satu penampilan yang diproduksi dengan skenario tertentu. Scenario tersebut ditentukan oleh pemesan. Partai politik tersebutlah yang mempunyai cerita. Iklan politik in sebenarnya hanyalah bagian dari scenario yang diproduksi oleh politisi. Dia hanya berada pada satu sudut panggung pementasan besar yang bertajuk peseta demokrasi. Selayaknya teater, setiap orang yang di atas panggung memerankan bagiannya masing-masing. Untuk mendukung perannya, para pemain harus di-make up dan menyembunyikan keasliannya. Kata-katanya diatur sedemikian rupa. Tema-tema yang diusung teater-teater ini antara lain kemiskinan, pengangguran, korupsi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam dunia para pemain teater, kehidupan mereka dibagi menjadi dua, yaitu di panggung dan di luar panggung. Kehidupan di luara panggung akan sangat berbeda dengan kehidupan di panggung. Dengan demikan teater ini hanyalah kamuflase, ilusi dan kebohongan. Di panggung, para politisi menjukkan diri bahwa mereka adalah para pahlawan pembela rakyat, yag mampu mengentaskan rakyat dari kesengsaraan hidup. Namun pada kenyataannya, mereka pula yang menyebabkan kesengsaraan tersebut. Dalam kampanyenya, para politisi berjanji merubah kemiskinan menjadi kemakmuran. Dia menawarkan mimpi-mimpi kepada masyarakat, tentang kesejahteraan, pengobatan gratis, pendidikan gratis, namun setelah terpilih mereka lupa dengan janji-janji tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di mana wong cilik dalam pentas teater demokrasi tersebut? Mereka terbagi dua, ada yang ditarik ke panggung lalu dirias sedimkian rupa sehingga Nampak bahwa meraka benar-benar miskin, kemudian mereka dijadikan sebagai komoditi pilitiknya. Yang lainnya di luar panggung, menjadi penonton. Namun keduanya sama, yaitu sebagai objek. Hal ini terbukti bahwa wong cilik tidak pernah benar-benar menjadi agenda dalam setiap tindakan para politisi, kecuali saat para politisi tersebut membutuhkan wong cilik untuk mendulang perolahan suara. Di luar tersebut, tindakan para politisi tidak didasarkan pertimbangan nasib wong cilik, tetapi atas pertimbangan pasar atau kapital. Kebijakan-kebijakan yang diambil sejauh mana mereka memperoleh untung, tidak peduli rakyat yang buntung. Menaik-turunkan harga bukan atas pertimbangan kepenitngan wong cilik, tetapi atas kepentingan pasar dan, sekali lagi, citra. Alih-alih melaksanakan dan memenuhi janji-janjinya, mereka malah memperkaya dirinya. Hal ini tidak terlepas dari pencitraan mereka melalu iklan dan cost pencaonan yang telah memakan biaya banyak&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Saat ini wong cilik hanya menjadi komoditas. Tidak ada yang benar-benar memperjuangkannya. Kalau saat ini partai oposisi menganggap diri sebagai partai yang peduli terhadap wong cilik, namun saat mereka berkuasa mereka juga melupakan wong cilik. Mereka hidup dalam kondisi yang serba sederhana, berkekurangan, terpinggirkan, terabaikan. Sangat kontras dengan sekelompok orang tertentu yang jumlahnya sangat terbatas yang menikmati kehidupan serba ada, mewah, dan berlebihan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Ironisnya, mereka inilah yang katanya memperjuangkan nasib wong cilik. Wong cilik selalu menjadi korban.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Peran Partai Islam&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Sengaja, penulis hanya berbicara sedikit tentang partai Islam di sini, karena ternyata partai Islam tidak berbeda dengan partai-partai lainnya. Ada 8 partai Islam, baik yang secara eksplisit dia menggunakan dasar Islam maupun partai berbasis masa Islam, yang turut dalam Pemilu kali ini. Namun, jika berkaca dari sejarah, partai Islam kurung memiliki peran yang signifikan. Hal ini tampak dari perolahan suara parta-partai Islam. Dari delapan partai tersebut, dua partai (PMB dan PKNU), merupakan partai baru yang merupakan perpecahan dari partai sebelumnya. Sementara perpecahan di tubuh PKB sendiri sampai saat ini tidak mencapai titik temu. Hal ini menunjukkan bahwa partai-partai Islam telah terjerumus juga pada pragmatisme politik yang berorientasi pada kekuasaan semata. Fakta lain adalah, beberapa politisi yang tertangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan para politisi dari parta Islam.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Hal lain yang menjadikan partai Islam kurang dilirik oleh masyarakat Indinesia yang mayoritas muslim adalah karena elitisme partai Islam. Sebagaimana partai lain, komitmen partai Islam kepada wong cilik juga rendah. Partai-partai Islam juga hanya menjual janji-janji pepesan kosong yang kadang dibumbui oleh jargon-jargon agama.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saat ini rakyat tidak lagi membutuhkan janji-janji pepesan kosong, tetapi langkah kongkrit dari para politisi tersebut dalam menyelesaikan problem kebangsaan ini. Rakyat tidak lagi butuh jargon-jargon agama, tetapi yang mereka butuhkan adalah pekerjaan, harga sembako yang terjangkau, sehingga mereka bisa makan dan beribadah. Bukankah kemiskinan mendekatkan pada kekufuran? Rakyat tidak lagi butuh tontonan teater dengan tema dan para pemain yang tidak pernah itu-itu saja, berganti. Yang mereka butuhkan adalah kedaulatan, di mana rakyat berperan sekaligus menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan kebijakan dan perubahan sosial. Komitmen partai politiklah saat ini yang dubutuhkan. Bukan lagi janji. Untuk kontrak politik antara pemilih dan yang dipilih dibutuhkan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam era pemilihan langsung ini, masyarakat haruslah cerdas dalam memilih. Jangan sampai masyarakat hanya terjebak pada jargon-jargon agama atau primordialisme. Ketika Ibrahim AS dijanjikan oleh Allah sebagai pemimipin (imam), Ibrahim bertanya, “bagaimana dengan keturunanku?” Allah menjawab, “orang-orang yang dzalim tidak layak menjadi pemimpin (meskipun itu keturunan nabi)”. Yang layak dipilih adalah orang-orang yang mempunyai integritas kepribadian. (keimanan, intelektualitas dan akhlakul karimah), bukan karena kekayaan, ketampanan atau keturunan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Masyarakat yang sudah dewasa dan cerdas, tentu akan merasa bosan jika hanya disodori dengan pentas teater, skenario dan pemain yang sama. Jika tidak mau berbenah, maka para politisi harus siap ditinggalakn oleh para pemilih.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-737921282228339465?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/737921282228339465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/teather-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/737921282228339465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/737921282228339465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/teather-demokrasi.html' title='Teather Demokrasi'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-4156418980034765139</id><published>2009-04-03T22:24:00.001+07:00</published><updated>2009-04-03T22:24:47.308+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Kawan</title><content type='html'>aku belum lama mengenalu&lt;br /&gt;aku juga belum akrab dengan mu&lt;br /&gt;tapi kita telah saling tahu&lt;br /&gt;aku tahu kamu&lt;br /&gt;kamu pun tahu aku&lt;br /&gt;pertama aku mengenalmu sat aku menjadi pemateri yang kamu ikuti&lt;br /&gt;setelah itu hubungan kita berjalan biasa&lt;br /&gt;tidak ada yang isitmewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita sedikit akrab ketika kita masak bersama&lt;br /&gt;untuk acara bersama&lt;br /&gt;akupun tahu kamu adalah seorang yang giat,&lt;br /&gt;rajin, militan, teguh,&lt;br /&gt;meski sedikit urakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita belum lama mengenal&lt;br /&gt;kita belum lama bersama&lt;br /&gt;kita belum lama dalam banyak hal&lt;br /&gt;sehingga kdang sering aku bingung membedakanmu dengan temanmu&lt;br /&gt;belum setahun waktu berselang&lt;br /&gt;belum lama&lt;br /&gt;tapi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau telah pergi terlebih dahulu&lt;br /&gt;meninggalkan aku, dan kami semua&lt;br /&gt;meniggalkan satu kenangan dan kesan&lt;br /&gt;bahwa semakin sedkit orang yang semilitan kamu&lt;br /&gt;kamu pergi tanpa pamit&lt;br /&gt;menagih janji sebuah perjjuangan&lt;br /&gt;namun kamu tak pernah kembali&lt;br /&gt;sementara dan selamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sangat merindukanmu&lt;br /&gt;sehingga dia menjemputmu segera&lt;br /&gt;meski melalui tragedi kereta pagi tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat jalan kawan&lt;br /&gt;damailah bersama-Nya&lt;br /&gt;meski jasadmu telah tiada&lt;br /&gt;semangatmu akan tetap tertanam dalam jiwa-jiwa kami&lt;br /&gt;selamat jalan, Muhammad Alim Ulama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-4156418980034765139?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/4156418980034765139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/selamat-jalan-kawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/4156418980034765139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/4156418980034765139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/04/selamat-jalan-kawan.html' title='Selamat Jalan Kawan'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-1332473122387315424</id><published>2009-02-21T23:13:00.004+07:00</published><updated>2009-02-21T23:19:04.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Sider</title><content type='html'>rusak, sider blog ini hilang&lt;br /&gt;gak tahu ke mana dia pergi&lt;br /&gt;tanpa pesan, tanpa tanda petunjuk tertinggal&lt;br /&gt;seperti mereka yang juga pergi&lt;br /&gt;satu persatu meninggalkan diriku&lt;br /&gt;sendiri&lt;br /&gt;ah, adakalanya kita harus berjalan dalam jesendirian&lt;br /&gt;pun demikian, asa yang kuat adalah setenga keberhasilan.&lt;br /&gt;hai sider, maaf aku belum sempet memperbaikimu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-1332473122387315424?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/1332473122387315424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/sider.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1332473122387315424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1332473122387315424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/sider.html' title='Sider'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3112423980724006931</id><published>2009-02-19T08:31:00.002+07:00</published><updated>2009-02-19T08:39:35.343+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Ke ISI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hari rabu kemarin aku maen ke kampus Intitut Seni Indonesia (ISI) di jl. Parang Tritis. Kami diterima di fakultas seni rupa. setelah ngobrol dan diaolg dengan beberap pimpinan Fakultas seni rupa, kami diajak untuk berkeliling melihat-lihat karya mahasiswa ISI yang ada di gedung sebelah. bergantian dari galery seni lukis, kriya dan desain. Setelah melihat karya-karya di kampus itu, aku, dan juga teman-teman yang lain saya kira, ingin segera berkarya. oh ya, aku lagi konsen di seni kaligrafi sekarang. up, aku jadi ingat, aku kemarin juga baca sekilas di sanan, tulisan tentang Seni Mencari Tuhan. baghus. Aku kedepan juga penngin nulis Seni dan Spritiualitas. mudah-mudahan bisa. amin. dan jangan lupa, berkarya.&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3112423980724006931?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3112423980724006931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/ke-isi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3112423980724006931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3112423980724006931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/ke-isi.html' title='Ke ISI'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-1049926491011524282</id><published>2009-02-16T20:02:00.002+07:00</published><updated>2009-02-16T20:07:14.673+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Jadilah Musa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SZlk5zVGwpI/AAAAAAAAAM8/ahNwjrNkEPA/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 95px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SZlk5zVGwpI/AAAAAAAAAM8/ahNwjrNkEPA/s200/images.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303380980399522450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada beberapa idiologi besar yang saat ini menggerkkan dunia, Kapitalisem, sosialisme dan Islam. Kapitaslime adalah satu paham yang berorientasi pada modal (kapital). Dunia digerakkan oleh modal. Landasan berfikirnya adalah materialisme, segala sesuatu diukur melalui materi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam sistem kapitalisme, dunia ini digerakan oleh materi, sehingga materi menjadi ruh. Semula Marx memprediksi kehancuran kapitalisme oleh dirinya sendiri, dari dalam. Namun terbutkti, kapitalisme kini masih bertahan dan justra bertambah jaya. Hal ini tidak terlepas dari kecerdikan dan kepiawaian para kaum kapitalis. Kapitalisme dalam bentuk baru pun tercipta. Satu paham yang sering disebut sebagai neo-liberalisme. Dia pun masuk pada kehidupan masyarakat dunia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem kapitalisme, dunia ini digerakan oleh materi, sehingga materi menjadi ruh. Semula Marx memprediksi kehancuran kapitalisme oleh dirinya sendiri, dari dalam. Namun terbutkti, kapitalisme kini masih bertahan dan justra bertambah jaya. Hal ini tidak terlepas dari kecerdikan dan kepiawaian para kaum kapitalis. Kapitalisme dalam bentuk baru pun tercipta. Satu paham yang sering disebut sebagai neo-liberalisme. Dia pun masuk pada kehidupan masyarakat dunia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Neo-Liberalisme masuk dan mempengaruhi suatu bangsa dengan beberapa car, yaitu melalui privatisasi, deregulasi dan dunia pendidikan. Melalu privatisasi adalah dengan satu jargon-jargon bahwa Sumber Daya Alam haruslah dibiarkan untuk diolah oleh swasta, agar pelayanan lebih baik. Dari sisi deregulasi emncoba untuk melepas segala kebijakan kepada pasar. Sementara dari ranah pendidikan adalah mencetak orang-orang yang berfikir sesuai dengan cara fikir para kaum kapitalis ini. Pada tingkat ini, perguruan tinggi tidak lebih adalah lembaga pencetak orang-orang yang berfikir kapitalistik, hanya berorientasi kepada materi. Perguruan tinggi, entah itu yang berbentuk universitas, Isntitut, sekolah tingga dan bentuk-bentuk sama halnya dengan Istana Fir’aun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fira’aun adalah lambang dari puncak pembangkangan, dengan memproklamirkan diri sebagai Tuhan yang berkuasa penuh atas nasib rakyatnya. Fir’aun juga satu sisi adalah lambang dari materialisme. Ruh yang menggerakkanya adalah ruh materialisme. Dia beranggapan akan hidupnya kekal dengan materi yang dia miliki. Dan tidak ada yang bisa mengalahkan dia, tidak ada yang bisa mengahancurkan dia. Sesuatu apapun yang berpotensi akan menghancurkan kekuasaannya selalu dia cegah dan ia binasakan. Namun siapa yang menyangka bahwa dia justru dihancurkan oleh orang yang dia asuh dan besarkan di dalam istananya, Musa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika ditarik pada konteks kekinian, sebagaimana disubtkan di atas, perguruan tinggi saat ini tidak lain dari panjang tangan kapitalime Neo-Liberalisme yang turut menggerakkan ruh materialisme. Bagiamana tidak, perguruan tinggi saat ini selayaknya perusahan penjual jasa, dengan rektor sebagai direkturnya, dekan menejernya, dosen sebagai karyawannya. Mahasiswa adalah asset sekaligus komoditinya, sementra konsumen atau pengguna jasanya adalah pasar. Teori-teori yang diajarkan di dalam perguruan tinggi pun teori-teori Kapitalistik Neo-Liberalistik. Tidak ada yang lahir dari sistem seperti ini kecuali orang-orang yang juga berjiwa kapitalis-materialis. Namun dari sini juga bisa lahir Musa-Musa baru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Musa, meski ia hidup di istana yang digerakkan oleh ruh materialisme, namun dia tidak terpengaruh oleh hal tersebut. Begitu juga dia tidak terpengaruh oleh nilai-nilai yang diajrakan oleh Fir’aun. Hal ini karena Musa bergerak dengan nilainya sendiri. Dia mempunyai sistem niai yang berbeda yang dia terima dari Tuhan yang berbeda dengan nilai-nilai materialisme Fir’auniyah. Nilai-nilai itu adalah spriritualisme. Musa tidak terpengaruh oleh gelimang harta, bertumpuk tahta dan sanjungan. Dia memilih berkumpul dengan orang-orang yang ditindas oleh sistem fir’auniyah. Nilia spiritual ini yang menjadikan Musa tumbuh dan dibesarkan di Istana yang penuh dengan materi tanpa dia menjadi materialis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Musa-musa baru tentunya adalah mahasiswa yang mempunyai cara pandang a la Musa. Dia tidak terpengaruh dengan gelimang materi, kehidupan hedonis dan teguh memegang prinsip, meski dia dibesarkan di rumah kapitalisme dan diajari dengan teori-teori kapitalistik. Mereka adalah makhluk yang mempunyai integritas nilai. Mereka adalah makhluk yang digerakan oleh nilai spritualisme. Orang-orang inilah yang akan menentang kekuasaan kapitalisme dan merobohkannya. Tentu mereka sangat sedikit, namun mereka akan sangat berpengaruh. Siapkah anada menjadi Musa baru?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-1049926491011524282?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/1049926491011524282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/jadilah-musa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1049926491011524282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1049926491011524282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/jadilah-musa.html' title='Jadilah Musa'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SZlk5zVGwpI/AAAAAAAAAM8/ahNwjrNkEPA/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-179641162703849862</id><published>2009-02-16T19:51:00.003+07:00</published><updated>2009-02-16T20:07:59.618+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Negara Kelima</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SZliADne6oI/AAAAAAAAAM0/GL4mDaDnftQ/s1600-h/buku_negara_ke5_new1.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 126px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SZliADne6oI/AAAAAAAAAM0/GL4mDaDnftQ/s200/buku_negara_ke5_new1.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303377789315902082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang-orang besar telah pergi,&lt;br /&gt;sementara kalian tidak siap untuk bertarung&lt;br /&gt;dengan zaman sebagaimana mereka dulu. (Es Ito)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cerita yang terinspirasi oleh dialog yang ditulis oleh Plato berabad-abad yang lallu dalam bukunya Timeaus and Critias. Dalam bukunya tersebut Plato menuliskan (sebagaimana buku-bukunya platao yang lai yang ditulis dalam bentuk dialog), dialog dia dengan Solom. Plato terkejut karena ternyata        slmon mengatakan bahwa orang-orang yunani pada masa Plato tersebut sebenarnya masih anak-anak. Dalam artian peradaban yang mereka hidup di dalamnya masih sanga muda. Dari kisah-kisah yang diceritakan secara turun termutn Solmon mengatakan ada sebuah negeri yang telah lama mengenal Tulsan, mempunyai peradaban tinggi, masyarakatnya hidup dalam kesejahteraan, seluruh warga hidup damai karena hukum begitu dihormati dan dijunjung tinggi. Negeri itu adalah negeri Atlantis. Namun karena kelalaian para pemimpinnya yangmelanggar hukum serta aturan-aturan yang telah dibuat dan ditaati oleh raja-raja pendahulunya, akhirnya negara itu dikutuk dan dihancurkan dengan oeh satu musibah besar berupa gempa dan letusan gunung berapi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya Plato menjelaskan cirri-ciri negeri tersebut yang antara lain terdapat gunung-gunung yang tinggi, tanahnya subur, buah-buahan tumbuh dengan lebat yang dipanen dua kali dalam satu tahun. Dari kisah Plato inilah ES Ito menuli novelnya, NEGARA KELIMA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cerita diwali dengan pembunuhan putri salah seorang perwira Detsus Anti Teror di sebuah hotel di bilangan Jakarta. Kematian tersebut kemudian diikuti oleh serangkaian pembunuhan misterius yang menimpa teman-teman Lidya, anak sang perwira. Bersamaan dengan itu masyarakat dan juga polisi sedang digegerkan oleh kasus pengacauan program internet, dimana situs-situs milik pemerintah dibobol oleh sekolmpotan orang yangmenamakan diri sebagai Kelompok Patriotik Radikal atau KePaRad. Dalam setiap situs yang mereka bobol mereka selalu meninggalkan pesan BUBURKAN INDONESIA, KEMBALIKAN NUSANTARA DAN BENTUK NEGARA KELIMA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kasus pembunuhan inipun kemudian berjalin erat dengan kasus KePaRad, yang dalam perjalanannya melibatkan seorang inspektur polisi bernama Timur Mengkoto yang djadikan sebagai kambing hitam dan diduga terlibat dalam komplotan KePaRad sekaiggus yang melakukan beberapa rangkaian pembunuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain hal tersebut, alur cerita dalam novel ini adalah bagaimana memecahkan misteri tentang Negra Kelima yang didengunkan oleh KePaRad. KePaRad sendiri digmabrakn oleh Ito sebagai kumpulan pemuda-pemuda cerdas yang telah muak melihat kondidi Indonesia dan memimpikan akan adanya revolusi dan mengembalikan kejayaan Atlantis di Nusantara. Hal ini bisa dilakukan dengan menemukan Serat Ilmu yang merupakan peninggalan masa kejayaan Atlantis.&lt;br /&gt;Interpretasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada hal yang menarik dari novel ini, yaitu interpretasi data sejarah. Yang pertama sejarah atlantis itu sendiri, dan kedua adalah sejarah nusantara. Interpretasi data historis atlantis telah banyak dikemukakan, termasuk oleh penelitian ilmuwan, Aryso Santos. Dari penelitian yang dia lakukan selama sekitar 30 tahun di wilyah nusantara dia berkesimpulan dan menulis buku ”The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005)”. Hal yang menarik pula adalah bahwa dalam http//:us-israel.org yang merupakan website Israel, dalam backroundnya digunkan peta nusantara. Konon itu tidak terlepas dari interpretasi tentang negeri atlantis tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Interpretasi yang kedua adalah terhdap data historis Indonesia. Dalam cara bertutunya, terkesan Ito menggugat dominasi sejarah Jawa terhadap sejarah Indonesia, sehingga Indonesia identik dengan Jawa dengan melupakan sejarah-sejarah di wilayah lain di luar jawa. Mungkin hal ini pula yang kemudian mengakibatkan pembangunan yang tidak merata. hal ini tentu masih debatable dan memerlukan penelitian yang lebih jauh lagi. Ada hal yang perlu kita renungkan dari tulisan Ito, Indonesia kini hanyalah sebagai satun wilayah, bukan sebagai satu kesatuan ide dan gagasan sebagaimana yang dirintis oleh funding father negeri ini. Dengan realitas seperti, intlektual mana yang tidak menginginkan revolusi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Novel yang menggairahkan, meski alurnya mirip-mirip dengan kebanyakan cerita-cerita film Hollywood yang bercerita tentang pencarian benda-benda purba di Afrika atau Asia, selalu dengan ending harta (penemuan) tersebut hilang kembali. Akan lebih menarik lagi jika ada Rumah Produksi yang mengangkatnya ke layar lebar. Saya kira, kualitas cerita tidak kalah dengan film-film Hollywood yang mengangkat cerita sejenis, atau untuk konteks nusantara selayaknya film Ekspidisi Mahadewa. Seteidaknya certita ini bisa membagkitkan semangat bangsa Indonesia dalam mencari identitas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-179641162703849862?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/179641162703849862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/negara-kelima.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/179641162703849862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/179641162703849862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/negara-kelima.html' title='Negara Kelima'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SZliADne6oI/AAAAAAAAAM0/GL4mDaDnftQ/s72-c/buku_negara_ke5_new1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2334293060719462257</id><published>2009-02-01T14:49:00.002+07:00</published><updated>2009-02-16T20:08:47.084+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Masyarakat Madani Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Wacana masyarakat madani sebenarnya sudah sejak lama berkembang di Indonesia. Istilah ini mula-mula disampaikan Anwar Ibrahim dalam Festival Istiqlal pada tahun 1995. Meski demikian, penggagas awal masyarakat madani ini adalah Muhammad Naquib Al-Atas yang kemudian dielaborasi oleh Nurchalis Madjid. Masyarakat madani adalah satu citi-cita masyarakat ideal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Naquib Al-Atas, Masyarakat madani adalah terjemahan dari al-mujtam’ al-madani. Kata madani sendiri memilki asal kata yang sama dengan ad-din atau agama yang juga merupakan asal kata dari tamaddun yang berarti peradaban. Di samping itu, kata madani jugu mempunyai akar yang sama dengan kata madinah yang berarti kota. Sehingga di sini ada keterkaitan antara agama (din), kota (madinah) dan peradaban (tamaddun). Masyarakat madani sendiri seringkali disamakan dengan isitlah civil society yang berasal dari khazanah pemikiran Barat. Civil society adalah masyarakat yang berperadaban, masyarakat yang merdeka, masyarakat yang pauh pada hukum.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat madani dalam pemikiran Islam merujuk pada masyarakat Islam generasi awal, yaitu masyarakat yang di bangun oleh nabi di madinah yang semula bernama Yatsrib. Penggunaan nama madinah sendiri untuk membedakannya dengan golongan Barbar yang hidup nomaden. Dirujuknnya masyarakat madani pada masyarakat madinah ini karena masyarakat Madinah memiliki toleran yang tinggi terhadap sesama masyarakat, penghargaan dan kepatuhan pada hukum atau kesepakatan bersama yang ditunjukkan oleh Piagam Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada isi Piagam Madinah Nurchalis Madjid melihat, setidaknya ada empat prinsip yang membangun masyarakat madani: Pertama egaliterian, yaitu persamaan hak dan kewajiban bagi setiap warga. Tidak ada kolompok atau golongan yang lebih tinggi dari yang lain. Kedua, penghargaan kepada masyarakat diberikan atas dasar prestasi. Ketiga, keterbukaan dan partisipasi masyarakat. keempat, supremasi hukum tanpa pandang bulu. Kelimaa, inklusivisme yaitu sikap keterbukaan, rendah hati dan toleransi. Keenam, musyawarah. Sejalan dengan Nurcholis Madjid, AS. Hikam merumuskan empat ciri utama masyarakat madani, yaitu, kesukarelaan, keswasembadaan, kemandirian tinggi terhadap negara keterkaitan pada nilai-nilai hukum yang disepakati bersama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memilki kekhasan sosial-budaya. Merupakan fakta historis bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat majmuk, yang terdiri dari beragam suku, budaya, bahasa dan agama. Masing-masin suku, budaya dan bahasa memiliki satu sistem nilai yang berbeda. Kemajemukan ini akan menjadi bencana dan konflik yang berkepanjangan jika tidak dikelola dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebhinekaan dan kearifan budaya lokal inilah yang harus dikelola sehingga menjadi basis bagi terwujudnya masyarakat madani, karena masyarakat madani Indonesia harsu dibangundari nilai-nilai yang ada didalamnya, bukan dari luar. Dengan demikian, menurut Tilaar ciri-ciri khas masyarakat madani Indonesia adalah a). Kergaman budaya sebagai dasar pengembangan identitas bangsa Indonesia dan identitas nasional, b). Adanya saling pengertian di antara anggota masyarakat, c). Adanya toleransi yang tinggi, dan d). Perlunya satu wadah bersama yang diwarnai oleh adanya kepastian hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwujudan masyarakat madani indonesia adalah usaha holisitk yang mencakup a). aspek suprastrukur, yaitu bangunan paradigma tauhid, b). aspek sosial budaya yaitu adanya budaya masyarakat yang terdidik dan mandiri. c). Aspek struktur yaitu pada perbaiakan dan penguatan pada basis sistem kenegaraan. Wallahu a’lam bi masyarakat madani Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2334293060719462257?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2334293060719462257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/masyarakat-madani-indonesia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2334293060719462257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2334293060719462257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/02/masyarakat-madani-indonesia.html' title='Masyarakat Madani Indonesia'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-5963230893127620554</id><published>2009-01-25T16:09:00.000+07:00</published><updated>2009-01-25T16:11:23.538+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Manusia Malam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span&gt;Bagadang janagan  begadang&lt;br /&gt;Kalau tiada ratinya&lt;br /&gt;Begadang boleh saja&lt;br /&gt;Asal ada artinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal dari bait lagu bang haji roma irama itu mengingatkan aku pada masa-masa  usia SLTA. Aku adalah orang yang memang sejak kecil senang tidur di rumah orang. Waktu usia SLTA sering kali aku pulang pagi, sehabis subuh. Karena masih merasa ngantuk, aku pun tidur lagi, hingga ibuku membangunkan kau tuntuk sekolah. Begadang memangkebiasaanku dari dulu, meski aku kadang tidak mengerti manfaat apa yang aku peroleh. Ak juga tidak sadar betul dengan apa yang sedang aku lakukan. Aku hanya begadang, terjaga lewat tengah malam dengan beberapa teman.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaanku itu hilang saat aku dduk di bangku SLTA. Jadwal yangpadat, ditambah dengan kegiatan di asrama membuat aku kecapekaan. Sebelum tengah malam pasti aku sudah tidur. Selama tiga tahun itu, hobi begadangku sedikit berkurang. Aku hanya begadang kala esaknya hari libur. Jadi tidak ada beban atau ketakuan kesiangan dan bolos sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menamatkan pendidikan SLTA, aku meneruskan studiku di Jogja yang konon katanya adalah kota pelajar. Kibiasaan lamaku kembali, begadang. Dan kini aku pun menjadi manusia malam, dalam arti manusia yang menghabiskan waktu malamnya dengan terjaga. Namun, keterjagaanku kali ini aku rasakan lebih bermanfaat daripada keterjagaanku pada masa-masa aku di bangku SLTP. Meskipun banyak diisi dengan obrolan, namun obrolannya lebih bermutu dan berbobot. Kadang rapat hingga larut pagi atau diskusi dengan tema yang melangit, atau merumuskan satu kurikulum pelatihan. Ada ungkapan di antara kami yang bersifat olok-olokan aktivis kok tidur sore!Semua itu berjalan hampir separo masa keberadaanku di kota berhati nyaman ini. Namun apakah dengan demikian aku bisa dikatakan manusia malam? Bisa jadi seperti itu. Tapi apakah manusia malam hanya terjaga pada malamhari saja, sementara pagi dan siang harinya lelap dalam buai mimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad SAW adalah manusia malam. Dia menghabiskan separo malamnya untuk begadang. Sebelum kenabian, Muhammad menghabiskan malam-malamnya di Gua Hira, tempat beliau bertahannus atau semedi, merenungkan kondisi masyarakatnya. Setelah beliau diangkat menjadi rasul-pun Muhammad masih sering begadang, menghabiskan waktu malamnya dengan bermunajat kepada Tuhannya. Dia berasyik masyuk dengan-Nya. Muahmmad adalah manusia malam. Tapi apakah ketika Muhammad menghabiskan malamnya dengan begadang dia lupa pada siangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, Muhmmad tidak lupa akan kewajiban siangnya sebagai kepala keluarga, sebagai kepala negara, sebagai kepala umat, sebagai panglima perang. Itulah manusia yang seimbnag. Dia menghabiskan malamnya dengan bermunajat, sementara siang dia tetap bekerja. Itulah manusia malam sejati, tidak sepertikekelawar yang keluar pada malam hari dan tidur di sarangnya pada siang hari. Apakah kita mau seperti kekelawar atau kalong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia malam adalah ulil albab, yaitu orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri berbaring, siang maupun malam. Manusia malam adalah manusia yang bertafakur, bukan mendengkur. Dia adalah manusia yang berzikir bukan mangkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari adalah waktu untuk meepas penat, bermunajat, beribadah pada sang pencipta. Pada sat itulah manusia melepaskan keluh kesahnya, mengakui salah dosanya, menagis tersedu, antara khauf dan raja, takut sekaligus berharap. Di malam hari dia sangat lemah, cengeng, namun di siang harinya dia berjalan menghadapi kehidupan ini denghan egar, tiada ketakutan. Malam memberikan satu suntikan spirit bagi manusia utnuk menjalani kehidupa siang harinya. Sudahkah kita menjadi manusia malam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-5963230893127620554?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/5963230893127620554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/01/manusia-malam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5963230893127620554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5963230893127620554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/01/manusia-malam.html' title='Manusia Malam'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-7829267059756606755</id><published>2009-01-20T07:14:00.008+07:00</published><updated>2009-01-20T07:32:24.358+07:00</updated><title type='text'>We Will Not Go Down</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SXUa3_WndbI/AAAAAAAAAMs/oiunN28Gjmg/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SXUa3_WndbI/AAAAAAAAAMs/oiunN28Gjmg/s200/images.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293166486245307826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Composed by Michael Heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A blinding flash of white light&lt;br /&gt;Lit up the sky over Gaza tonight&lt;br /&gt;People running for cover&lt;br /&gt;Not knowing whether they’re dead or alive&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They came with their tanks and their planes&lt;br /&gt;With ravaging fiery flames&lt;br /&gt;And nothing remains&lt;br /&gt;Just a voice rising up in the smoky haze&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In the night, without a fight&lt;br /&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;But our spirit will never die&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In Gaza tonight&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Women and children alike&lt;br /&gt;Murdered and massacred night after night&lt;br /&gt;While the so-called leaders of countries afar&lt;br /&gt;Debated on who’s wrong or right&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But their powerless words were in vain&lt;br /&gt;And the bombs fell down like acid rain&lt;br /&gt;But through the tears and the blood and the pain&lt;br /&gt;You can still hear that voice through the smoky haze&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In the night, without a fight&lt;br /&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;But our spirit will never die&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In Gaza tonight&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;Downloud lagunya di &lt;a href="http://www.imeem.com/people/FhhbcfB/music/k7MYXBuo/micheal_heart_we_will_not_go_down_in_gaza_tonightmp3/"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-7829267059756606755?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/7829267059756606755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/01/we-will-not-go-down.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7829267059756606755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7829267059756606755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/01/we-will-not-go-down.html' title='We Will Not Go Down'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SXUa3_WndbI/AAAAAAAAAMs/oiunN28Gjmg/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-739265049759131447</id><published>2009-01-12T13:59:00.007+07:00</published><updated>2009-01-12T14:24:27.611+07:00</updated><title type='text'>STOP GENOSIDA!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SWrqc39e2LI/AAAAAAAAAMU/MKkvfKxob6E/s1600-h/falestin.jpeg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SWrqc39e2LI/AAAAAAAAAMU/MKkvfKxob6E/s200/falestin.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290298494079129778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;korban serangan Israel&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-739265049759131447?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/739265049759131447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/01/stop-genosida.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/739265049759131447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/739265049759131447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/01/stop-genosida.html' title='STOP GENOSIDA!!'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SWrqc39e2LI/AAAAAAAAAMU/MKkvfKxob6E/s72-c/falestin.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6828266577877074090</id><published>2008-12-30T09:58:00.002+07:00</published><updated>2011-06-02T20:23:54.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Pucuk Merapi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini (27/12) aku memberi materi pada Training Kepemimpinan yang diselenggrakan oleh salah satu komisariat. Aku menggantikan temanku yang harus pergi ke Jakarta untuk pertemuan dengan beberapa pengurus besar. Mendadak. Aku hanya punya waktu satu malam, bahkan kurang, untuk memprsipakan diri, karena tadi malam aku juga harus menjadi pembicara pada diskusi Usrah Daarul Hira.. Karena semalaman mempersipakan materi, aku kelelahan, tertidur di kursi ruang tamu, dan baru bangun saat satu panggilan masuk ke HP ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini juga aku masih merasa ngantuk, namun aku harus segera berangkat ke lokasi pelatihan di Kaliurang. Udara terasa segar saat aku mulai menaiki jalan Kaliurang yang berliku. Angin berhembus sepoi meyapu wajahku yang tidak tertutup oleh kaca helm. Jauh di di depanku, nampak Merapi berdiri tegap menjulang langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesampai di lokasi pelatihan, aku mendapati motor salah seorang temanku masih di parkir di sana. Ini berarti dia masih menjadi pembicara di sana. Aku urung masuk, dan aku konfirmasi tentang  jadwalku. ke temanku yang lain yang kebetulan juga diminta menjadi pembicara. Aku salah jam. Aku harus menunggu sekitar satu setengah jam lagi. Aku teringat kembali oleh keindahan Merapi yang nampak dari kota tadi. Aku pun naik ke atas, ke gardu pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Merapi adalah gunung berapi yang masih aktif. Terakhir letusannya terjadi pada tahun 2006 yang lalu, sesaat sebelum Gempa Jogja, dan masih berlangsung sesaat setelah Gempa Jogja. Sehingga tahun 2006 adalah tahun bencana bagi Jogja. Pada tahun ini juga sosok kharismatik dan fenomenal muncul, Mbah Maridjan. Aku pernah sekali mengunjungi runahnya. Sangat sederhana, karena memang Mbah Maridjan adalah orang yang sederhana. Meski sudah nampak tua, beliau masih energik, tegas kata-katanya dan cukup berwibawa. Sayang, orang semacam beliau sering dipolitisasi karena ketenarannya, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Asia. Saat kunjunganku ke sana, teman-teman ku yang dari Malaysia mengatakan tidak asing dengan sosok Mbah Maridjan, bahkan mereka meminta foto bersama dan tandata tangan Mbah Maridjan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sana aku duduk di satu gubug yang kosong, menatap pucuk Merapi. Memang hanya pucuknya saja yang nampak, yang lain terhalang oleh beberapa bukit yang ada di sekitar Kaliurang. Namun aku sunguh terpesona oleh pemandangan tersebut. Pagi itu cuaca Jogja masih cerah, sehingga tak sekelumitpun awan ataupun kabut membayangi pucuk gunung itu. Batu-batu dan pasir sisa-siasa letusan itu masih tampak jelas. Sebenarnya pemandangan seperti ini sudah sering kai aku saksikan, namun akli aku menemukan sesuatu yang baru, aku melihat dengan cara yang baru dan dalam suasana yang baru pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat kali ini aku datang ke gardu pandang ini sendiri. Aku pun tak tahu mengapa aku langsung menempati gubuk itu dan megeluarkan buku harianku. Aku sendirian di tengah keramain para pengunjung dari beberapa kota di Jawa ini. Maklum, hari-hari ini adalah libur panjang, dan Jogja adalah kota wisata. Pun demikian dengan daerah Kaliurang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Daerah semacam Kaliurang ini sebenarnya banyak terdapat di tanah Jawa. Ada Puncak di Bogor, Batu Raden di Purwokerto, Bukit Batu di Malang. Daerah ini bukalah daerah wisata baru, namun telah berumur lebih dari dua abad. Dari buku seorang berkembnagsaan Prancis, Denys Lombard, aku mendapat data bahwa daerah-daerah semacam ini sudah ada sejak abad ke 18. orang-orang yang Eropa yang datang ke Nusantara membawa tradisi mereka ke sini. Di eropa, tempat yang paling banyak dikunjungi adalah bukit SPA, satu bukit di daerah Negara Eropa. Sekarang SPA menjadi satu kebudayaan diseluruh dunia, yaitu perwatan tubuh dengan air hangat. Dulu yang digunakan adalah air yang mendidih karena panas magma bumi. Yah, begitulah kebudayaan bertransformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku masih menatap pucuk merapi dengan humbusan angin sepoi yang membawa lirik-lirik lagu Ebiet GAD dari pengeras suara menyebar ke daerah sekitar gardu pandang ini. Berita pada kawan, Kamelia, Elegi Esok Hari. Lagu-lagu yang sendu itu melantun, menelusuri gelombang udara menelusuk masuk ke hatiku melalui calah pori-pori. Syahdu. Aku seakan baru pertama mengalami ini, melihat pucuk merapi dalam kesyahduan. Aku hanyut dalam alam yang tak aku mengerti, yang tak pernah ku rasa sebelumnya. Saat aku asyik masuk dengan situasi itu, saat itulah seorang bapak menyapaku, duduk di sampingku. Dia dan keluarganya dari Jakarta, ke Jogja untuk menjenguk saudaranya yang terserang strock. Ternyata dia asli Lampung, satu daerah denganku. Obrolan berlangsung dalam waktu yang lamban. Mataku masih asyik dengan pucuk merapi, juga tingkah laku para pengunjung saat berpose dengan Merapi sebagai backround.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari semakin siang. Sedikit namun pasti, kabut putih mulai menyelimuti pucuk merapi. Dan satu setengah jam sudah aku duduk memandanginya. Akupun turun, saat beberapa bus pariwisata baru datang. Kantukku kambuh lagi. Aku mampir ke sebuah warung di pinggir jalan, menikmati segelas kopi ditemani oleh sebungkus kacang goreng. Di jalan, kendaran bermotor semakin ramai. Maklum nanti malam adalah malam minggu. Saat aku menyeruput kopi yang ada di depanku, saat itulah aku kembali merasa sendiri lagi, kesepian. Wajar. Biasanya aku lalui seruputan demi seruputan, teguk demi teguk bersama teman-temanku. Kini meraka telah pergi, kembali dan mengabdi  ke daerah masing-masing. Dan aku masih di sini, entah sampai kapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6828266577877074090?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6828266577877074090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/pucuk-merapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6828266577877074090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6828266577877074090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/pucuk-merapi.html' title='Pucuk Merapi'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6674037646262172508</id><published>2008-12-26T23:10:00.005+07:00</published><updated>2008-12-26T23:21:12.620+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Hijrah Dan Pembentukan Masyarakat Madani</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.  (QS. Al-Anfal: 72)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penetapan awal dalam penanggalan Islam berbeda dengan penetapan kalender masehi yang dimulai dan diambil dari hari kelahiran Al-Masih. Dalam khazanah Islam, penetapan awal tahun penanggalan adalah diambil dari peristiwa hijrah, yaitu pindahnya nabi dan umat Islam dari kota Mekah menuju Madinah yang saat itu masih bernama Yatsrib. Kita tidak bisa melupakan peran Umar bin Khatab dalam penyusunan kalender Islam ini. Mengapa harus hijrah nabi, bukan kelahiran beliau? Hal ini dikarenakan hijrah merupakan suatu momentum yang penting dalam sejarah perkembangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa hijrah terjadi pada tahun ke tiga belas kenabian Muhammad SAW, dan ini merupakan hijrah untuk ke sekian kali, setelah nabi mengalami kegagalan dalam hijrah-hijrah sebelumnya. Peristiwa ini sangat penting karena bisa dikatakan bahwa sajak peristiwa hijrah inilah masyarakat Islam mulai terbentuk, suatu tatanan masyarakat yang egaliter, saling menghormati dan menghargai di mana nilai-nilai keadilan ditegakkan. Masyarakat Madinah ini yang kini sering menjadi citra masyarakat ideal, masyarakat madani. Di sini kita tidak akan berbicara hijrah hanya sebagai fakta mati, tetapi kita untuk mencoba melihat metodologi Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan sejarah kita ketahui bahwa hal yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat ketika sampai di Madinah adalah mendirikan masjid. Pada masa nabi, masjid memegang peran penting. Masjid adalah tempat ibadah, di mana umat Islam melakukan ritual peribadatan kepada Allah. Masjid juga merupakan tempat mempelajari Islam dari nabi Muhammad SAW, penanaman akidah dan candradimuka bagi generasi-generasi Islam awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, masjid juga merupakan ruang publik bagi semua golongan, baik Anshor maupun Muhajirin. Tidak ada dominasi satu kabilah atau golongan di dalam masjid tersebut, semua berhak untuk melakukan aktifitas dan berpendapat. Di masjid pula tempat Nabi dan para sahabat bermusyawarah membahas permasalahan agama, masyarakat sampai pada strategi peperangan. Dengan membangun masjid, sebenarnya rasulullah SAW telah membangun akidah umat, cara pandang tauhid yang merupakan fondasi dari masyarakat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang penting dari funsi masjid sebagai malis ilmu adalah pembangunana paradigma. Pasca hijarahnya umat muslim ke Madinah,  Nabi Muhammad SAW melakukan satu perubahan paradigma (paradigm change). Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab, demikian juga madinah atau Yatsrib kala itu, merupakan penganut politeisme, penyembahan berhala dan ruh nenek moyang. Pandnagan tersebut kemudian berubah menjadi pandangan dan keyakian tiada tuhan selain Alah. Semua berawal dari pandangan dunia (worl view) tauhid.hal ini kemudian akan berdampak pada pola hubungan horizontal, bahwa semua manusia di depan tuhanadalah sama. Dengan demikian erciptalah persaudaran atas dasar kesamaan (egaliterian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang dilakukan Nabi adalah mempersaudarakan kaum muhajirin (orang-orang yang hijrah bersama nabi) dan kaum Anshor (masyarakat Madinah yang menolong dan menyambut Nabi), sebagaimana digambarkan dalam ayat pada awal tulisan ini. Sebelumnya, di Madinah sendiri terjadi pertengkaran yang berkepanjangan antara kaum Aus dan Khajraj. Mereka baru berdamai setelah kedatangan nabi ke Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditarik lebih jauh lagi ke pada kehidupan masyarakat Arab waktu itu, sukuisme, atau klan menempati tempat yang sentral dalam pola hubungan sosiologis. Hubungan sosial sangat ditentukan oleh kesukuan. Orang sangat bangga dengan sukunya dan rela berperang dan mati demi menjaga martabat sukunya.hal demikian tidak berlaku pasca kedatangan Islam, khususnya pasca hijrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaudaran yang dibangun bukanlah persaudaran semu, tetapi atas dasar takwa, kasih sayang dan kepedulian. Hal ini dapat dilihat bagaimana mereka melaksanakan anjuran nabi bahwa kaum Anshor harus membagikan apa yang mereka miliki kepada kaum muhajirin yang memang tidak membawa harta bendanya ketika keluar kota Mekah. Bagi mereka yang mempunyai bakat di pertanian maka diberilah ia lahan pertanian. Bagi yang pedagang dia akan mendapatkan modal. Di sinilah kemudian muncul pembangunan ekonomi kolektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutanya yang dilakukan nabi adalah membangun komitmen bersama dengan ahlu kitab, Yahudi dan Nasrani, yaitu komitmen bersama untuk saling menghormati, tidak saling mengganggu dan menjaga keamanan bersama. Komitmen bersama ini kemudian yang dikenal dengan Piagam Madinah. Piagam ini bisa dikatakan konstitusi pertama yang ditetapkan atas dasar konsesus bersama antara beberapa pihak, sehingga semuanya menjunjung konsesus tersebut.piagam ini juga disinyalir sebagai dokum pertamatentang Hak Asasi Manusia. (HAM).&lt;br /&gt;Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat muslim awal ini adalah satu prototipe masyarakat Islam yang oleh Nuerchalis Madjid disebut sebagai Masyarakat Madani atau masyarakat kosmopolitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menghijrahkan Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika kita merefleksikan diri dari perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW yang kemudian sampai terbentuknya masyarakat yang beradab, perlu kiranya kita untuk menghijrahkan Indonesia yang berarti menghijrahkan diri kita sebagai bangsa.. Apakah selama ini kita benar-benar mempunyai niatan untuk memperbaiki bangsa ini? Jika memang benar, perlu kiranya kita mengkoreksi diri kita. Sudahkah kita membangun cara pandang, mental dan kepribadian bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid, yang merupakan candradimuka bagi generasi muslim kini justru menjadi tempat yang sepi dari pengunjung dan banyak dijauhi, kecuali pada hari raya. Masjid sebagai tempat pengkajian ilmu sudah sangat jarang kita temukan. Sebagai tempat yang terbuka untuk umum juga semakin sulit, karena masjid hanya dikuasi oleh satu golongan saja, lebih parah lagi untuk kepentingan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sekolah (pendidikan) yang berfungsi sebagai tempat pembentukan karakter, menempa kemampuan intlektual dan mental hanya bisa diakses oleh orang berpunya saja. Meminjam bahasa Eko Prasetyo, orang miskin dilarang sekolah, sama artinya orang miskin dilarang untuk pintar, dilarang untuk mandiri, dilarang untuk memperbaiki kehidupannya, atau bahkan dilarang utuk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tidak bisa mengakses pendidikan, orang miskin dipersalahkan terkait kemajuan bangsa, bahkan mereka dianggap penyakit masyarakat yang harus disingkirkan. Tak heran jika kemudian banyak penggusuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita cermati bersama, yang menjadi penyakit sosial sebenarnya bukanlah kemiskinan, tetapi ketidakpedulian. Mereka memang miskin, tetapi sipa peduli dengan mereka? Siapa yang mau berkenan memberikan lapangan pekerjaan atau membagikan hartanya seperti yang dilakukan oleh kaum Anshor kepada kaum Muhajirin? Berapa banyak orang kaya di negeri ini, yang mengambil keuntungan dari naiknya harga barang, sementara miskin terengah-engah untuk hidup. Negara yang seharusnya bertanggungjawab terhadap nasib mereka justru tidak pernah memasukan mereka dalam pembangunan bangsa ini. Negara justru melakukan perselingkuhan dengan pasar, dan hanya mementingkan pasar yang uangnya masuk ke kocek para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum kitapun tidak terlepas dari keinginan pasar, dan ditetapkan atas dasar kepentingan golongan, bukan untuk kepentingan rakyat. Wajar jika kita tidak pernah tahu hukum-hukum yang keluar dari rumah dewan, karena mereka tidak mewakili kita, rakyat. Dan wajar pula ketika produk hukum kita selalu dtentang oleh rakyat, krena memang hukum tersebut dibuat bukan unttuk kemaslahatan warganya (yang diwakili), tetapi untuk kepentingan politik individu, golongan dan penguasa modal (kapitalis). Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pernah menyatakan bahwa saat ini kita sedang berada pada moment kebangkitan nasionalisme 2009. nasionalisme, atau ketanah airan 2009 sudah mulai merucut pada satu hal. Baik presiden, DPR, pedagang, olahragawan, tau apapun dia, sedang menuju pad nasionalisme 2009, yaitu “nasionalisme uang”.&lt;br /&gt;Di sini kita lihat, ternyata kita belum berniat untuk benar-benar hijrah, karena kita belum bisa meninggalkan kepentingan pribadi dan golongan untuk kepentingan bersama, kepentingan umat. Dan kita masih jauh dari masyarakat yang kita impikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan untuk keluar dari “kota mekah”, untuk keluar dari “rumah kita” saja kita masih berat. Rumah di sini adalah “keakuan”, “ananiyah” atau egoisme, yang berti juga nafsu. Untuk berhijrah kepada kehidupan yang lebih baik, kita harus mampu meninggalkan nafsu berkuasa, sifat tamak dan serakah serta keangkuhan yang menganggap kita yang paling benar. Kita harus bersedia menerima orang lain dan berbagi dengan mereka kaum papa. Karena melawan nafsu adalah jihad terbesar, karena dia menjadi penentu dalam perjalanan kita. Wallahu a’lam bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6674037646262172508?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6674037646262172508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/hijrah-dan-pembentukan-masyarakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6674037646262172508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6674037646262172508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/hijrah-dan-pembentukan-masyarakat.html' title='Hijrah Dan Pembentukan Masyarakat Madani'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-7236392154588449520</id><published>2008-12-25T14:00:00.000+07:00</published><updated>2008-12-25T14:01:48.171+07:00</updated><title type='text'>Kelompok Diskusi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sejak aku dijogja, beberapa kali aku sudah membuat dan mengkoordinir kelompok diskusi, namun semua berakhir sama, tidak ada yang langgeng hingga saat ini. Ada kelompok studi bahasa yang aku koordinir pada semester-semester awal. Tujuan awalnya adalah membantu teman-teman kelas yang kuruang mumpuni, khususnya dalam bahasa arab. Sebagain teman-teman kelasku di Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kolompok ini kemudian bermetamorfosis menjadi kelompok studi yang lebih luas, yang diberi nama Forum Pemuda Peduli Pendidikan dan Sosial (FP3S), meski kemudian aku hanya menjadi ketua bidang pengembangan sumberdaya anggota. Kajian berlangsung sekitar lima kali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kelompok studi yang lain adalah yang aku bentuk saa awal-awal aku menjadi anggota HMI. Kelompok ini bernama OASE, dengan jargon, meneguk wacana, merubah dunia. Fokus Kajian ini adalah tentang pemikiran tokoh pembaharu Islam kontemporer. Baru berjalan sekali yang saat itu mengkaji pemikiran Hassan Hanafi dan aku sebagai pemakalahnya, forum ini mandeg. Kemandekan ini karena semua personilnya sibuk dengan urusan struktur.&lt;br /&gt;Universitas Malam Marakom (UMM) adalah forum kajian lainnya yang aku koordinir ketika kau tinggal di Marakom (Markas Anggota Komisariat). Kajiannya berkisar tentang pemikiran kontemporer seperti Hassan Hanafi, Abid Al-Jabiri, Ali Syariati, Muhammad Syahrur, dan Amiah Wadud. Berjalan beberapa bulan, forum ini kemudian juga mandeg.&lt;br /&gt;Ketika tinggal di secretariat HMI Cabang Yogyakarta, Madzahab Karangkajen terbentuk, atau lebih tepatnya dihidupkan lagi. Kajian dilaksanakan setiap hari Selasa dan Jumat pagi setelah subuh. Berjalan sekiotar lima kali.&lt;br /&gt;Meski beberapa kali mengkoordinir kajian dan sejauh itu juga aku gagal, aku masih terus berfikir bahwa dari kelompok-kelompok diskusi yang semacam inilah gagasan-gagasan besar lahir. Aku ingat Ahmad Wahib dan kawan dengan limited group-nya. Aku ingat Jurgen Habermas dan Madzahab Fankfurt kedua, serta pemikir-pemikir besar lainnya yang mempunyai gagasan besar yang berawal dari kelompok diskusi kecil (creative minority). Aku masih meikirkan itu, aku masih merindukan hal tersebut, akau masih memimpikannya.&lt;br /&gt;Mimpiku ternyata berada dalam satu frekuensi mimpi temanku, Zulkarnain Patwa, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional UMY. Sama denganku, dia sering menkoordinir forum kajian dan sering bubar, namun, ketika bubar dia segera membentuk forum lagi. Mimpi yang berada dalam satu frekuensi itu pun bertemu, beradu dan kemudian memercikan cahaya terang, gagasan bersama. Unlimited Group, itulah kira-kira nama kelompok yang ingin kita bentuk.&lt;br /&gt;Kerja pun dimulai. Pertama-tama yang kai lakukan adalah mencari masukan yang sebanyak-banyaknya dari beberapa orang tentang apa sebaiknya yang mesti dikaji dan dari aman memulainya. Orang pertama yang kita ajak berdialog dan tukar fikiran adalah Prof. Lesmana, guru besar linguistik UGM, beliau adalah lulusan Sorbon University, Prancis. Kami berdialog dengan beliau sekitar satu jam di kafe Lembaga Indonesia Prancis (LIP). Dari obralan bersama tersebut, beliau menyarankan untuk mengkaji pemikiran mulai Ferdinand de Sossrou yang berate muali dari awal-awal paham strukturalis, kemudian berlanjut pada pemikiran post strukturalis, baru masuk pada pemikiran kontemporer. Dari beliau pula aku tahu bahwa perkembangan wacan di Prancis sangat cepat seklai, dan itu sangat terdokumtesi. Dengan demikian pemikirannya selalu berkembang, tidak melingkar dan berputar-putar. Beliau juga menjelaskan bahwa, sossrow, yang dianggap sebagai bapak strukturalis, sesungguhnya tidak pernah ditemui kata strukturalis. Aneh.&lt;br /&gt;Orang kedua yang kami kunjungi adalah bapak Andy Darmawan, M.Ag. beliau lulusan UIN Sunan Kalijaga dan konsentrasi pada filsafat. Kami mengunjungi rumah beliau pada malam hari dari jam 20.00 WIB sampai 23.30 WIB. Tempatnya pun berpindah-pindah, dari ruang tamu lalu ke dapur sambil menkmati udara malam di taman dengan hidangan makan malam, lalu kembali ke ruang tamu lagi. Beliau menyarankan agar kajian dimulai dari kajin fundamental yaitu filsafat ilmu. Itu berarti kami harus membicarakan terlebih dahulu tentang ontologi, epistemologi dan aksiologi, karena hal tersebut adalah sangat fundamental untuk memahami semua pemikiran.&lt;br /&gt;Rencana sore tadi kami akan bertemu dengan teman Patwa dari Australia, tapi aku tidak bisa datang ke sana. Hingga kini diskusi belum juga bisa dimulai. Semoga sebelum akhir tahun diskusi sudah bisa dimulai. Semoga pula dia tidak mati sebelum lahir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-7236392154588449520?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/7236392154588449520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/kelompok-diskusi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7236392154588449520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7236392154588449520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/kelompok-diskusi.html' title='Kelompok Diskusi'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6555002852048128402</id><published>2008-12-06T11:25:00.008+07:00</published><updated>2008-12-23T00:38:06.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Marakom</title><content type='html'>Hari-hari aku banyak menghabiskan waktuku di marakom, bersama teman-teman aktivis HMI lainnya, ngobrol kemana-mana sambil ngopi dan kadang main catur. aku adalah generasi ke sekian dari marakom. Mereka sebagain atau mayoritas tidak pernah tertulis, namun mereka ada.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Marakom adalah Markas Anggota Komisariat. Markasnya anak-anak HMI-MPO UIN Sunan Kalijag Yogyakarta, sehingga mereka sering juga disebut HMI MARAKOM. Sering kali pemaknaannya dimelencengkan menjadi Markas Anggota Komunis. ini tidak terlepas dari bacaan, cara berfikir dan aksi penghuninya, juga keberadaan Partai Proletar sebagai partai kamps yang memiliki lambang bulan sabit, palu dan bintang, mirip seperti lambang partai komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marakom ada sebelum perpecahan HMI secara nasioanal. dia lahir dari permasalahan rasa tidak puas dari hasil Konferensi Cabang. Utusan IAIN waktu itu berjumlah 25 orang kalah dalam pencalonan. Mereka memebawa isu miring tetang kekalahan mereka ke komisariat di IAIN dan menyebarkan berita bohong bahwa IAIN telah menjadi cabang Jogjakarta Timur. namun setelah kader-kader UIN mengetahui hal sebenarnya, maka mereka menolak isu miring dari senior merka dan tetap mendukung kepemimpinan yang sah. 25 orang tersebut dipecat. Merka ini yang kemudian memotori cabang fiktif yang kemudian menjadi cabang HMI-DIPO. sementara kader-kader IAIN lainya kemudian mendirikan markas bersama yang ada hingga saat ini, sementara untuk markas putri berdirilah RUMAH KITA atau RUKI. Semula Ruki berada di Sapen GK .. selama beberapa tahun, samap kemudian Gempa JOgja 2006 menghancurkannya, namun tidak ada korban di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini keduanya masih ada. Marakom masih seperti yang  dulu, menjadi motor penggerak perkaderan HMI Jogja. RUKI, terus terang dari pantauanku masih melempem untuk dua tahun terakhir ini. belum ada aktivitas yang menggigit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah banyak mereka yang dilahirkan dari sana. merka yang berjuang di HMI, meski kini mereka terlupakan. Dan saya mohon maaf kepada mereka karena telah menulis ini, karena tulisan ini tentu tidak mewakili siapa-siap kecuali saya sendiri. dan bisa jadi tulisan ini telah mengecilkan kebesaran marakam. saya mohon maaf.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6555002852048128402?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6555002852048128402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/marakom.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6555002852048128402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6555002852048128402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/marakom.html' title='Marakom'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6677201139163812743</id><published>2008-12-06T11:12:00.004+07:00</published><updated>2008-12-23T01:00:09.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Cahaya Di Atas Cahaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dalam Al-Quran Surat An-Nur ayat 35 Allah berfirman yang artinya: Allah  cahaya  langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari ayat di atas dapat kita ketahu bahwa Allah SWT mengindentikkkan dirinya dengan Cahaya atau nur Cahaya itu sendiri meliputi langit tujuh lapis serta bumi. Dengan demikian, seluruh alam ini diterangi oleh Cahaya Allah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;br /&gt;Allah bukan hanya Cahaya, tetapi Cahaya di atas cahaya, nurun ‘ala nurin. Atau dalam istilah Imam Al-Ghazali Allah adalah Nurul anwar, Cahayanya cahaya. Hal itu juga berarti bahwa Allah adalah sumber cahaya.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai sumber cahaya, nurun ‘ala nurin, nurul anwar, Allah memancarkan cahayanya ke seluruh makhluknya, sehingga terciptalah kehidupan di alam ini. Cahaya itu menyatu dalam Rahman Rahim-Nya, kasih sayang-Nya. Rasa kasih san sayang kemudian menjadi satu fitrah manusia, kecenderungan, serta harapan hidup manusia. Sebagaimana Manusia selalu mendamba dan mengharap kasih sayang, demikian pulalah seyogyanya mengaharap pada cahaya Allah. Alangkah naifnya jika ada orang yang tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk mengharapakan cahaya Allah, sementara tumbuhan saja akan tumbuh dan condong mengikuti cahaya. Cobalah kita letakkan tanaman dalam satu ruangan, dan berilah dia pencahayaan dari satu arah tertentu, pastilah tanaman tersebut akan tumbuh mengikuti cahaya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Sekarang kita mabil satu contoh, lampu. Bagian yang paling terang dari lampu adalah lampu itu sendiri, karena dia adalh sumber cahaya, kemudian sesuatu yang paling dekat dengan dia, kemudian semakin jauh suatu entitas atau benda, maka semakin sedikitlah intensitas cahaya yang mengenainya. Sebaliknnya semakin dekat benda tersebut dengan lampu, sumber cahaya, maka akan semakin tinggi pula intensitas cahaya. Dan orang yang berjalan diterangi oleh cahaya lampu tersebut, dia pasti akan berjalan dengan selamat, tidak berbenturan dan tidak akan tersesat serta celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;div align="justify"&gt;kita dating dari Allah, dan akan kembali kepada Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita tercipta karena pancaran cahay kasih sayang Allah, maka kita juga harus kembali kepadanya. Seseorang yang semakin dekat dengan Allah sebagai sumber cahaya, sumber kehidupan, maka semakin tinggilah cahaya Allah yang mamapu ia serap, semakin tinggi pula kualitas kemanusiaan dia, baik sebagai hamba atau pun sebagai khalifah. Manusia yang memepunyai kulaitas kemanusia yang tinggi, kepribadian yang unggul tidak akan menjalani kehidupan ini dengan sikap optimis, pantang menyerah dan akan berbahagia di dunia dan akhirat. Sementara orang yang jauh dari Allah, dia semakin redup cahayanya. Semakin gelap sisi kehidupannya dan rendah kualitas hidupnya, tentu saja  dalam pandangan Allah dan mungkin juga dalam pandangan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah itu suci, qudus. Sesuatu yang suci hanya bisa didekati dengan kesucian. Kesucian itu meliputi kesucian pikiran, kesucian hati dan kesucian perbuatan. Kesucian pikiran adalah dengan cara positif thinking terhadap segala hal, berfikir jernih dan selalu mengaitkan pemikiran kita dengan bismi robbik, dengan nama Tuhan, yng kemudian berujung pada kemaslahatan umat manusia.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hati yang suci adalah hati yang terlepas dari buruk sangka, hati yang senantiasa menerima keputusan Allah dengan tawakal, yaitu: menyerahkan segala sesuatu kepada Allah setelah kita berusaha dengan sekuat tenaga. Hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah dengan pemberiaan Allah. Hati yang ikhlas. Hal ini dapat dilatih dengan senantiasa kita berdzikir, yaitu menyebut, mengingat, dan menghadirkan Allah dalam hati dan kehidupan kita, sehingga perilaku ita juga menjadi perilaku yang suci, perilaku yang memberi manfaat dan kebahagian kepada umat manusia, perilaku yang membahagiakan manusia. Perilaku yang demikian bisa kita peroleh dengan  meninggalkan egoisme, sifat tamak, serakah, dengki dan perilaku tercela lainnya yang menjauhkan kita dari Sumber Cahaya, Allah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Sesuatu benda yang tidak mendapatkan cahaya maka dia berada dalamd kegelapan. Kegelapan dalam al_quran diungkapkan dengan kata dzulm dari kata kerja dzalam yadzlimu. Sementara subjeknya adalah dzalim. Dalam bahasa kita, dzalim berarti perilaku aniaya. Perbuatan dzalim inilah yang menjauhkan kita dari Allah. Perbuatan dzalim sangat bermacam-macam, dan yang terberat adalah syirik.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Dalam Al-Quran Allah menjelaskan: Al-An’am ayat 82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Saat ayat tersebut turun, sahabat bertanya, ya rasul, bagaimana mungin  kami tidak mencampurkan kimanan kami denagn perbiatan dzalim? Rasul menjawab: tidakkah kamu ingat nasihat Lukam Al-Hakim kepada anaknya Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar" (QS. Luqman: 13) Perbuatan dzalaim lainnya dijelaskan oleh rosulullah dalam hadistnya yaitu, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, tanpa sebab yang dibenarkan syariat baik pembunuhan itu secara langsung ataupun tidak, semisal melalui perantara, atau dengan kebijakan yang menyengsarakan dan berujung pada kematian. Dosa besar atau perbuatan dalamin lainnya yaitu perbuatan sihir, berzina, memakan harta anak yatim, menuduh wanita baik-baik berzina. Begitu juga mengambil hak orang lain. Perbuatan dzalim ini tidak akan pernah menyampaikan manusia kepada Cahaya yang sejati, kehidupan yang secat, kasih sayang Allah, justru sebaliknya, semakin menjauhkan manusia dari-Nya. Terkecuali, manusia tersebut bertobat, menyesali meminta maaf kepada Allah dan orang-orang yang pernah didzaliminya, dan tidak mengulanginya kembali, berbuat baik kepada sesamanya. Adakah diantara kita yang kuat selamanya dalam kegelapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Hari-hari ini, di tanah suci, saudara-saudara kita seiman seagama sedang menunaikan panggilan Allah, melaksanakan ibadah haji. Ada yang mengibaratkan mereka selayaknya laron yang terbang mendatangi cahaya. Hanya orang-orang yang berhati suci, pikiran dan perbuatan suci, orang yang ikhlas saja yang mampu mencerap cahaya Allah dan menjadi manusia yang unggul, dan mempunyai integrasi kepribadian. Orang tersebut mampu merenungkan pengalaman Ibrahim dan merefleksikannya dalam kehidupan kesehariannya. Merekalah haji-haji yang mabrur. Semoga saudara-saudara kita termasuk kedalamnya, sehingga ketika kembali ketanah air mampu mengurai problema kehidupan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Sementara bagi yang beribadah haji lantaran ingin menigktakan setatus sosialnya, maka tidak ada baginya kecuali kesia-siaan dan murka Allah, na’udzubillah min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6677201139163812743?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6677201139163812743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/cahaya-di-atas-cahaya_06.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6677201139163812743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6677201139163812743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/cahaya-di-atas-cahaya_06.html' title='Cahaya Di Atas Cahaya'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-1333147123602527958</id><published>2008-12-03T22:59:00.004+07:00</published><updated>2008-12-23T00:53:54.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Kenangan Menjadi Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Meski telah berselang beberapa bulan, masa-masa menjadi mahasiswa masih saja terkenang. Masa-masa sibuk dengan tugas makalah, mencari referensi, mencari bahan diskusi biar bisa dianggap sebagai intelek. Masa-masa turun ke jalan, dengan semboyan “keindahaan ada di jalanan”. Ah, semboyan itulah yang menjadikan terik matahari terasai menyegarkan, dan tatapan beribu orang dan kaca media menjadi semakin menggairahkan untuk melompat dan berteriak LAWAN PENINDASAN.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maaf, aku tidak punya cerita indah saat menjadi mahasiswa, karena aku lebih senang sendirian daripada pacaran, karena aku lebih suka di kamar tiduran daripada kencan, karena aku lebih senang makan di angkringan ketimbang nasi padang, karena aku lebih suka yang biasa daripada yang spesial, karena aku lebih memilih ini dari pada itu, karena kita mempunyai pandangan yang berbeda tentang keindahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku juga tidak punya prestasi yang membanggakan. Masuk melalui jalur tes regular, sering telat masuk kelas, harus mengulang materi di semester berikutnya, IP yang selalu jeblok di setiap semester dan berujung pada kelulusan dengan predikat IP yang pas-pasan dan masa studi yang pas-pasan pula. Yah mungkin aku memang orang yang pas-pasan. Kuliah pas-pasan alias nanggung. Jadi aktifis pun pas-pasan juga, malah sedikit gagal, karena aku aktivis yang tidak aktif dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. Aku hanya reponsif.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masa mahasiswa bagiku telah berlalu. Tinggal sekarang bagiku untuk mencari hidup yang pas-pasan, karena aku adalah orang yang pas-pasan. Yah hidup yang pas-pasan adalah kalau butuh makan ya pas ada makanan, kalau pas butuh mobil ya tinggal pakai, kalau pas pingin naik haji ya tinggal berangkat. Tapi aku tidak mau sendiri lagi. Aku ingin rakyat dan orang yang pernah berteriak memperjuangkan rakyat  juga hidup pas-pasan. Aku hanya ingin hidup-pas-pasan, aku tak mau kaya, karena kalau mantan aktifis kok kaya, nanti orang curiga, darima dia kaya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi apa bedanya pas-pasan seperti pengertian di atas dengan kaya? Sama saja to? Emang kita tidak boleh kaya, la wong nabi aja nyuruh kita kay kok, biar kita bisa sodakoh? Dan nabi juga tidak menyuruh kita jadi miskin, karena miskin sangat dekat dengan kekafiran. Jadi yang aku pikir yang terpenting bukan pada pas-pasan, kaya atau miskinya, tetapi pada kesederhanaan dan kemerasacukupan atau qona’ah.  Jikalaupun kaya adalaha pada abagaiman distribusi kekayaan tersebut. Kesederhanaan dan qona’ah itu tadi ada kalau semua kita lakukan dengan cara yang benar dan baik alias halalan thayiban.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-1333147123602527958?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/1333147123602527958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/kenangan-menjadi-mahasiswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1333147123602527958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1333147123602527958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/kenangan-menjadi-mahasiswa.html' title='Kenangan Menjadi Mahasiswa'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-7955560941818658083</id><published>2008-12-03T22:49:00.001+07:00</published><updated>2008-12-23T00:39:13.231+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Tentang Jogja</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;Lima tahun aku di Jojgja, dan beberapa hari inilah waktu bagiku untuk memutuskan apakah aku masih tetap di Jogja atu kembali pulang ke kampung halaman. Beberapa bulan yang lalu aku telah menyelesaikan studiku alias diwisuda. Dengan demikian, tibalah saat bagiku untuk melakasanakan pengabdian kepada masyarakat. Dan aku harus memilih tetap di Jogja atu keluar dai Jogja.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Terasa berat untuk meninggalkan kota ini. Yah kota yang sangat nyaman, sesuai dengan semobayannya, Jogja Berhati Nyaman. Memang benar, dari beberapa kota yang pernah aku singgahi, kota inilah yang terasa sangat istimewa. Banyak hal yang unik di Jogja, banyak hal yang istimewa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt; Meski sudah merupakan perkotaan, tradisi jogja masih sangat kental. Kehidupan kekeluargaan masih teras sangat hangat. Kehidupan saling mengayomi mengalahkan egoisme. Hal ini berbeda dengan kehidupan di beberapa kota besar yang lebih menonjolkan egoisme, individualisme ketimbang kolektivisme.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang tidak terdapat di daerah lain adalah suasana keilmuannya. Semboyan Jogja sebagai kota pelajar mungkin telah dipertanyaan oleh sebagain orang, namun semboyan itu saya rasa masih cukup relevan. Saya belum menemukan budaya baca sekuat dan semengakar di Jogja. Budaya melek informasi sangat dijunjung tinggi. Toko buku, perpustakaan tersebar di man-mana, dari kels dunia sampai dengan obral kaki lima. Para penjual buku itu akan mudah kita temui sampai di lorong-lorong gang kecil juga pinggir-pinggir jalan. Begitu juga penerbitan buku akan mudah kita dapati dari pusat kota sampai ke pedalaman pedesaan. Penyebaran buku merata. Dan kepedulian terhdap hal itu besar. Di perkampungn pedalaman pun sering kita dapati perpustakaan. Selain  perpustakaan di kampung, sering juga terdapat papan khusus yang disediakan untuk koran.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;br /&gt;Budaya membaca dan melek informasi juga dapat kita lihat di pinggir jalan. Para tukang becak tak segan menyisihkan peghasilannya untuk membeli koran dan membacanya saat waktu senggang di atas becaknya.. begitu juga bila kita masuk  ke warung-warung makan, kita akan mendapatkan surat kabar harian di sana.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;br /&gt;Yah, itulah sekelumit tentang jogjakarta, kota kebudayaan, meski sekarang juga telah terserang budaya komsumerisme. Banyak warung makan dan pusat perbelanjaan yang didirikan. Mahasiswa menjadi sasaran targetnya. Mahasiswa yang dulu identik dengan membeli buku, sekarang telah berganti mode, yaitu dengan membeli barang-barang konsumsi, asesoris, pakain, dan segala macamnya yang hanya berorientasi mode, gaya hidup dan life style manusia urban. Dan mereka punn lupa membeli buku. Wajar kalau kemudian memebuat makalahnya copy paste dari internet. Beberapa hari yang lalu ada satu penelitian yang menyebutkan bahwa pengeluaran mahasiwa Jogja untuk membeli pulsa lebih besar dari yang dikeluarkan untuk membeli buku. Namun tentu tidak semua begitu. Masih banyak mahasiswa yang baik, rajin baca buku, rajin diskusi, rajin kuliah, rajin aksi dan rajin berkreasi. Dan jogja masih tetap seperti yang dulu, berbudaya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-7955560941818658083?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/7955560941818658083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/tentang-jogja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7955560941818658083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7955560941818658083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/tentang-jogja.html' title='Tentang Jogja'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2942701249036839030</id><published>2008-12-02T15:08:00.001+07:00</published><updated>2008-12-23T00:39:28.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Nama Jalan</title><content type='html'>mungkin selama ini kita tidak begitu memeperdulikan dengan adanya nama jalan yang terpampang di setiap jalan yang kita lewati. ketita peduli dengannya jika kita membutuhkannya saja untuk mencari alamt rumah atau sejenenisnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Setidaknya ada dual hikmah yang bisa kita ambil dari adanya nama jalan. pertama, sebagai tanda. dengan adanya nama jalan, akan memudahkan kita dalam mencari alamat rumah atau instansi tertentu. inilah fungsi nama jalan sebagai tanda. Dia menandai keberadaan dia dan posisi dia. Dengan demikian, kita tidak akan tersesat atau salah alamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua, secara filosofis, pemberian anama jalan adalah satu anjuran bagi kita untuk menempuh jalan sesuaui dengan namanya. sebagai conoth, kita melalaui jalan Pangeran Diponegoro, maka kita dianjurkan untuk mengikuti jalan hidup pangeran Diponogoro. atau kita melewati jalan KH. Ahmad Dahlan, maka di situ kita untuk memepelajari ajaran dan laku hidup KH Ahmad Dahlan, agar kita selamat dalam menempuh hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2942701249036839030?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2942701249036839030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/nama-jalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2942701249036839030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2942701249036839030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/12/nama-jalan.html' title='Nama Jalan'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-5213457915082192782</id><published>2008-11-28T09:24:00.010+07:00</published><updated>2008-12-23T00:54:20.948+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Hujan di Akhir November</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“Aku pergi”.&lt;br /&gt;“Kemana kamu akan pergi?”&lt;br /&gt;“Entahlah, yang penting aku harus pergi, meski sampai saat ini aku sendiri tidak tahu ke mana?”&lt;br /&gt;“Iya, tapi mengapa engkau harus pergi?”&lt;br /&gt;“Untuk hidup”.&lt;br /&gt;“Apakah selama ini kamu mati atau setengah mati?”&lt;br /&gt;“Tidak, aku hidup, tapi terasa mati. Hampa”.&lt;br /&gt;“Kamu kehilangan makna”.&lt;br /&gt;“Aku belum mempunyai makna”.&lt;br /&gt;Dan kamu pun akhirnya pergi. Seperti yang kamu katakan. Kamu pergi diiringi hujan yang turun derasnya di ujung bulan November ini.&lt;br /&gt;Aku tak tahu mengapa engkau harus pergi, hingga kini aku masih juga tak  tahu. Engkau mengatakan harus, tanpa pernah engkau memberi alasan. Engkau mengatakan. Pokoknya. Siapapun tahu, bila kata pokoknya telah terucap, apa pun itu harus terlaksana dan tertunaikan, entah bagaimana caranya.&lt;br /&gt;Aku tertegun dengan keputusanmu yang tiba-tiba. Selama kebersamaan kita, tak pernah aku mendengar bahkan sekedar guarauan, kamu akan pergi, namun ketika hujan turun di sore itu engkau mengatakannya. Bukankah dulu kamu bertekat tinggal di sini, di kota ini? “aku igin jadi penulis besar, dan kota ini sangat mendukung, suasananya kondusif”, katamu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penulis besar, itulah obsesimu. Aku pun yakin kamu bisa mewujudkannya. Jujur, aku sering jengkel karena obsesimu itu. Setiap aku keluar denganmu, selalu saja kau megajakku bertemu dengan teman-temanmu itu. Sebelum aku kenal mereka, aku sudah sering melihat wajah-wajah mereka di jalanan, denganmu juga tentunya. Begitu juga ketika kamu mengajak aku berbelanja, tentunya yang kamu maksud tempat belanja tidak lain adalah toko buku. Dari mu juga aku tahu tempat mencari dan membeli buku yang murah. Darimu juga aku tahu kalau kota ini memang kota buku. Bukan hanya toko buku, tetapi juga penerbitan. Kamu banyak mengenal para editor di penerbit-penerbit itu. “temanku”, katamu.&lt;br /&gt;Aku sendiri heran, mengapa aku betah berjalan dengan dirimu, bersamamu. Aku merasa berbeda dengan mu. Teman-teman ku menjulukiku si mulut seribu, alis si cerewet. Dan kamu, pendiam, kalem, cool.&lt;br /&gt;Jika kamu tidak mengajakku keluar, maka aku yang datang ke kosmu. Ku dapati kamu sedang asyik dalam tumpukan buku-buku mu. Kamarmu dihiasi oleh rak-rak buku. Karpetmu tertutupi oleh buku yang berserakan. Nampak di dinding yang tidak tertutupi oleh buku, poster-poster para pemikir-pemikir dunia. Di pojok kamarmu aku dapati komputer bututmu. Di depan komputer itulah akau duduk sembari main game, sesekali harus mengeluh karena komputernya hang. Dan kamu masih asyik dengan buku-bukumu.&lt;br /&gt;“Eh, ad novel baru nih, bagus.” Katamu mecoba menyapaku yang sedang asyik dengan game yang ada di komputer. “mau baca gak nih?” lanjutmu&lt;br /&gt;“Tidak ah, yang kemarin aja belum selesai” kataku. Dua minggu yang lalu kamu meminjami buku juga kepadaku, novel. Sampai  saat itu aku juga belum membacanya, kecuali pada bagian awal bab pertama.&lt;br /&gt;“Malas amat sih non!, baca buku setipis itu aja dua minggu belum selesai.&lt;br /&gt;“Banyak tugas kuliah, tahu..”, protesku.&lt;br /&gt;Beberapa kali kamu telah meminjamkan novelmu kepadaku, tanpa pernah aku memintanya. Bahakan saat ulang tahunku, engkau pun membelikan aku sebuah novel, novel feminis katamu. Itu semua tidak lepas dari saat perkenalan aku dengan mu. Aku bertemu denganmu di salah satu toko buku. Saat itu aku diajak oleh salah seorang temanku dalam acara bedah buku di lantai dua toko tersebut. Di situlah kita bertemu. Temanku memperkanlakanku kepadamu.&lt;br /&gt;“Suka novel?” tanyamu.&lt;br /&gt;“Ya, sedikit.”&lt;br /&gt;“Kok sedkit sih, banyak juga tidak apa kok, tidak ada yang melarang. Oh, ya, suka novel apa”&lt;br /&gt;“Tenleet”, aku tidak yakin. Sebenanya sejak dua tahun aku di sini, baru satu novel yang aku baca. Novel remaja yang bercerita tentang cinta SMA.&lt;br /&gt;“Aku punya beberapa novel tenleet, kalau suka boleh kok pinjam”, katamu. Dan kita pun sering bertemu sejak saat itu. Atau tepatnya, kau sering main ke kontrakkanku.dan kita kemudian sering pula jalan bersama.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sore itu, entah kenapa aku merasa kehilangamu. Sepanjang kebersaman kita, aku hanya menganggapmu sebagai kakak, tidak lebih dari itu. Dan kamu pun menganggap ku sebagai adik. Dan kita bersama dalam hubungan itu. Namun sore itu ada rasa yang hadir dalam hati ini. Ada rasa kehilangan di sini akan mu, tetapi bukan sebagi seorang adik yang kehilangan kakanya. Entahlah, rasa itu hadir sesaat setelah kamu pergi meninggalkanku dari kota ini. Sebagai seorang adik, aku berhak untuk merasa kehilangan dirimu, karena aku pernah merasa memilikimu. Tapi rasa kehilangan ini? Namun apa daya, aku tidak bisa mencegah Kereta Progo yang membawamu dengan satu tekad untuk pergi. Hujan di akhir November telah telah membasahi diriku sepulangku mengantarmu pergi, tiga tahun yang lalu tepatnya.&lt;br /&gt;Seperti November tiga tahun yang lalu, akhir November ini pun hujan masih tetap turun. Dan aku masih menelusuri keberadaanmu di duni maya. Tak pernah ketinggalan, selalu aku buka friendster dan blog-mu, namun semu masih sama dengan tiga tahun yang lalu. Mesin pencari pun tidak menemukanmu, selain namamu di beberapa situs media masa di mana tulisanmu pernah dimuat sebelum tiga tahun yang lalu. Dan dirimu tak pernah aku temukan.&lt;br /&gt;Di pojok warung kopi ini, di sinilah kamu sering mengajaku menghabiskan waktu malam. Di pojok lebih nyaman, katamu saat aku tanya mengapa kita memilih tempat di sini. Dari sini kita dapat melihat kemana-kemana, ke seluruh sudut ruangan, termasuk ke arah luar. Kala sunyi, suara gesekan daun padi terdengar mesra bersama tiupan angin malam. Namun tidak seperti tahun yang lalu, sekarng sudah ada fasilitas hotspot. Suasananya pun lebih hening dari beberapa waktu yang lalu, karena setiap orang asyik dengan dirinya masing-masing yang sedang berselancar di dunia maya.&lt;br /&gt;Aku pun mulai berselancar di dunia maya. Meng-update foto di friendster-ku, meng-up loud tulisan di blog-ku. Aku juga harus mengirim tulisan ke salah satu media yang akan dimuat untuk edisi bulan depan. Malam ini sengaja aku tidak mencari jejakmu di dunia maya. Namun alangkah terkejutnya aku saat melihat namamu di inbook e-mailku. Saat aku tidak mencarimu, saat itulah kamu hadir kepadaku.&lt;br /&gt;“Salam. Aku dapat e-mailmu  dari novelmu…..”. Begitulah kalimat pembuka surat elektronikmu. Memang aku sertakan alamat e-mailku dalam biografi penulis yang ada dalam novelku yang terbit tiga bulan yang lalu. Dan aku tak pernah menyangka engkau mendapatkan novel itu. Selanjutnya kamu menanyakan kabarku. Lalu kamu bercerita tentang kehidupanmu, aktifitasmu sekarang, dan juga alasanmu mengapa dulu engkau pergi.&lt;br /&gt;“Semula aku berfikir bahwa mencerahkan kehidupan rakyat adalah dengan menulis buku. Bukannya aku tidak lagi percaya bahwa buku dapat merubah dunia, namun aku baru sadar bahwa tidak semua orang bisa mengakses buku. Kiranya perlu bagimu untuk keluar sejenak dari jawa dan berjalan-jalan ke pelosok-pelosok kampung. Mereka tidak mampu untuk memebeli buku. Bagi mereka buku adalah barang yang mewah. Dari itu kitalah yang harus membacakan untuk  mereka. Mereka bukan orang-orang bodoh, mereka hanya tidak mempunyai kesempatan yang sama dengan orang kota. Bahasamu masih seperti yang dulu, kritis dan provokatif. Sebenarnya aku ingin meniru bahasamu dalam novelku, tetapi editor telah memangkas bahasa seperti itu. Kurang populer katanya, tidak marketabel. Oh ya, dia itu adalah editor yang dulu kamu perkenalkan kepadaku.&lt;br /&gt;Seperti orang yang lama tidak pernah bertemu dengan nasi lalu kemudian ketemu nasi, seperti itulah kamu menulis surat elektronikmu,.panjang dan lebar. Kamu pun tetap memotifasi aku untuk tetap menulis. “Setinggi apapun orang sekolah, kalau tidak berkarya, dia akan dilupakan oleh orang”. Begitu katamu mengutip Pramoedya Ananta Toer. Pada bagian selanjutnya kamu bercerita bahwa kamu telah beristri, bahkan baru satu minggu yang lalu istrimu melahirkan. Kamu pun menyarakan kepadaku untuk segera menyempurnakan agamaku.&lt;br /&gt;Aku telah menemukanmu, meski dalam dunia maya. Aku telah tahu mengapa engkau pergi dari kota ini, aku juga tahu kamu masih kakakku dan juga guruku yang dulu, yang pernah mengajari aku membaca dan menulis, meski tetap ada rasa kehilangan dalam diri ini. Tak terasa ada yang mengalir di pipiku. Hangat. Semakin lama alirannya semakin deras, sederas hujan yang turun di akhir November.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-5213457915082192782?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/5213457915082192782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/hujan-di-akhir-november.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5213457915082192782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5213457915082192782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/hujan-di-akhir-november.html' title='Hujan di Akhir November'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3223931757024334199</id><published>2008-11-22T07:06:00.001+07:00</published><updated>2008-12-23T00:54:52.618+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kriminalis intelektual</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mohon maaf, sebenarnya secara kebahasaan akan muncul kerancuan ketika kata kriminalis disandingkan dengan kata intelektual. Yang pertama menunjukkan suatu perilaku yang cenderung destruktif, sementara yang kedua bersifat konstrukstif. Namun di sini kita akan melihat dari sudut yang berbeda, bukan hanya pada tataran kebahasaan saja. Mungkin sedikit fenomenologis gitulah.&lt;br /&gt;Perilaku kriminal sering diasosiasikan kepada perilaku kejahatan yang merugikan orang lain, dan biasanya dalam bentuk kekerasaan. Jadi sebagai contoh saja yaitu perilaku mencopet, maling, merampok, memperkosa, minum minuman keras, berkelahi dan membunuh. Perilaku-perilaku ini biasa juga disebut sebagai penyebab kerusuhan, kekhawatiran dan ketidaknyamanan bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriminalitas terjadi bukan tanpa sebab, tetapi dia banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Dari aspek ini, kriminalitas banyak terjadi di daerah urban. Gemerlapnya kehidupan urban telah begitu menggiurkan dan menarik bak magnet orang-orang dari pinggiran untuk mencoba merasakan kehidupan ini. Namun tidak semua bisa ditampung dalam sisitem kehidupan urban, ada di antara mereka yang masih juga tersingkir. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka mau melakukan segala sesuat. Yang terpenting adalah bagaimana bisa survival. Tidak jarang jalan pintas yang ditempuh. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak mempunyai akses dalam bidang pendidikan dan hanya mengandalakan otot ketimbang otak. Secara structural pun mereka telah disingkirkan dengan tidak meletakkan mereka pada agenda pembangunana bangsa ini. Yang terjadi adalah mereka hidup di jalanan, makan dari jalanan, dengan cara apa saja, samapi pada tingkat dia harus membunuh orang lain untuk mendapatkan makan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan mereka seringkali bergerombol dalam satu komunitas yang menjunjung tinggi solidaritas dan kesetiakawanan. Ketika ada diantara anggota komunitas mereka yang berkelahi, terluka atau terbunuh oleh komunitas, maka prinsip mereka adalah darah dibayar dengan darah. Tawuran pun terjadi. Dan hal itu berlanjut pada anak cucu mereka, jika merka masih bisa hidup di tengah kesulitan ekonomi. Kita mungkin jengkel dan benci dengan fenomena tersebut. Atau bahakan kadang kita jijik melihat mereka. Namun ingat, mereka adalah orang-orang yang tidak mampu mengakses pendidikan, sehingga mereka “bodoh” (maaf kasar), orang tidak berpendidkan tidak akan diterima dalam sistem kapitalisme, karena dia bukan capital yang menghasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski diantara kita ada yang jijik dan ikut-ikutan meminggirkan mereka, namun kita sudah terbiasa dengan hal tersebut. Namun bagaimana dengan kriminalitas yang di lakukan oleh sekelompok orang yang mentasbihkan dirinya sebagai intelektual? Mereka yang sering disebut sebagai agen of change? Mereka itu adalah para mahasiswa yang berada di perguruan tinggi, di kampus-kampus megah. Mereka inilah yang dulu sering disebut sebagai garda depan perubahan bangsa. Tapi sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih sedikit bangga ketika melihat teman-temanku adu dorong dengan aparat keplisian memaksa masuk ke gedung DPR dan terjadi keributan di sana dengan aparat keamanan. Aku bangga karena mereka masih ada niatan mnyuarakan aspirasi rakyat. Tapi bagaimana ketika para mahasiswa itu rebut dengan sesama mahasiswa temananya sendiri?&lt;br /&gt;Masih terasa segar dalam ingatan kita tawuran mahasiswa di Jakarta, Mataram, Maluku, Makasar dan bebreapa kota di Sumatra. Dengan segudang alasan yang tidak rasional, merka secara arogan melempari lawannya dengan batu, merusak kendaraan yang kebetulan parkir di dekat arena tawuran, merusak bahkan sampai memebakar kampus. Nampak jelas di-shoot oleh beberapa wartawan televise, para mahasiswa itu membawa senjata dari batu, kayu pemukul, ketapel, panah, pisau, golok atau bahkan samurai. Sepanjang sejarah, baru kali ini di instutusi pendidikan tinggi ada mahasiswa yang membawa benda tajam. Bukankah mereka seharusnya membawa pena, buku, kamus, alat praktikum ataupun laptop? Inilah yang saya maksud dengan kriminalis intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa adalah satu status yang disandang karena dia dianggap lebih banyak memahami ilmu ketimbang ia masih menjadi siswa. Mereka adalah sekolompok orang yang menggunakan akal sehatnya untuk memahami teori-teri ilmu pengetahuan guna memajukan masyarakatnya. Mereka seharusnya sadara bahwa merekalah calon pemimpin masa depan. Namun tegakah kita menyerahkan kepemimpinan bangsa ini kepada mereka yang suka bertengkar dengan sesame temannya sendiri, entah satu jurusan, entah satu kapmpus ataupun berbeda kampus? Namun saya yakin, masih banyak mahasiswa yang tekun belajr, berdiskusi, membaca buku, turun aksi menyuarakan aspirasi rakyat, terjun berbaur dengan kehidupan masyarakat. Merkalah yang sebenarnya intelektual yang oleh Gramsci disebut sebagi intelektual organik. Dan merka yang berhak meneruskan cita-cita bangsa ini. &lt;span&gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3223931757024334199?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3223931757024334199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/kriminalis-intelektual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3223931757024334199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3223931757024334199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/kriminalis-intelektual.html' title='Kriminalis intelektual'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2751594094883346566</id><published>2008-11-22T06:59:00.004+07:00</published><updated>2008-12-23T00:55:29.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Yang Awal dan Yang Akhir</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Aku lahir karena cinta,&lt;br /&gt;aku hidup karena cinta,&lt;br /&gt;aku ingin mati karena cinta&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pernahakah sesekali kita menyempatkan diri untuk diam dan duduk merenung tentang diri kita? Sudahkah kita benar-benar mengenal diri kita? Bukan sebatas pada aku anak si anu, lahir di anu, tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Tidak juga sebatas aku ini punya neton ini, sifatnya begini dan hobinya ini itu. Bukan sebatas itu. Tetapi lebih fundamental dari itu, siapa kita? Dari mana kita? Dan hendak kemana kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam filosofi jawa ada satu konsep yang selaras dengan ajaran Islam, yaitu sangkan paraning dhumadi, atau asal usul kejadian. Dalam konsep ini setidaknya ada beberapa hal yang harus dimengerti antara lain, asaling dhumadhi atau asal usul wujud, sangkaning dhumadhi atau dari mana datangnya dan bagaimana perkembangan wujud, tataraning dhumadhi atau martabat suatu wujud, dan paraning dumadhi atau cara atau arah perkembangan wujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah pertanyaan fundamental bagi makhluk yang bernama manusia. Dalam filsafat eksistensialisme, seseorang akan menjadi manusia jika dia telah mempertanyakan dan menjawab persoaln-persoalan di atas. Mungkin ada yang mengatakan, ah, pertanyaan seperti itu sangat mudah jawabannya. Tapi ingat, setiap pilihan jawaban akan mempunyai satu konsekwensi logis. Atau mungkin ada yang belum sempat merenungkannya?&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Baiklah pada awalnya kita bertanya dari mana asal wujud? Sebelumnya, yang dimaksud wujud di sini adalah sesuatu yang ada atau being, atau realitas. Sementara ketika kita berbicara realitas, tidaklah realitas itu terbatas pada sesuatu yang Nampak oleh indera alias konkrit, tetapi ada juga realitas yang abstrak. Sebagai contoh saja, kita mengenal apa yang dinamakan dengan grafitasi, namun apakah pernah kita melihat atau merabanya? Namun kita tetap yakin itu ada.&lt;br /&gt;Wujud atau yang ada ini tentulah tidak ada dengan sendirinya, sebagaimana halnya kursi yang kita duduki atau pakaian yang kita pakai yang ada pembuatnya. Karena dalam akal kita tidak mungkin sesuatu itu ada tanpa ada yang membuat atau menciptanya. Dengan demikian yang mencipta itu juga Ada atau Wujud. Lalau sipa yang menciptakan Sang Pencipta? Tidak ada. karena Dia ada dengan sendiri-Nya. Bagaimana Dia ada dengan sendirinya? Karena Dialah Yang Awal, maka dari Dia “mucullah” segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika manusia ada, hewan ada, alam ada dan Yang Pencipta ada, lalu apa bedanya diantara yang Pencipta (Khaliq) dengan yang dicipta (makhluk)? Bedanya adalah bahwa keber-ada-an manusia dan makhluk lainnya bergantung kepada keberadaan Sang Khaliq, sehingga dia disebut sebagai mumkinatul wujud atau wujud relatif/nisbi. Sementara kebera-ada-an Sang Khaliq adalah Mutlak, absolut sehingga Dia disebut sebagai Wujud Muthlaq atau Wajibul Wujud. Lalau bagaimana dengan keber-ada-an manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Pertama, manusia adalah makhluk. Sebagai makhluk, keber-ada-an manusia bergantung kepada keberadaan Wujud Muthlaq.  Kedua, manusia, sebagaimana mkhluk lainnya, diciptakan oleh karena cinta Allah kepada diri-Nya. Dalam hadits qudsy yang sering disetir oleh Ibn ‘Arabi Allah berfirman: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin diketahui, maka Aku menciptakan makhluk. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya haruslah mengenal penciptanya. Ketiga, sebelum kealam rahim dan alam dunia, ketika manusia masih di alam ruh, manusia telah melakukan perjanjian dengan Sang Pencipta bahwa dia bersakasi bahwa Allah, Wujud Yang Mutlak itu adalah Tuhan yang telah menciptakannya. Perjanjian itu sering disebut sebagai perjanjian primordial. Dengan demikian, manusia telah mengikatkan satu janji bahwa hanya kepada Pencipta-nyalah manusia akan beribadah. Keempat, manusia diciptakan dumuka bumi adalah untuk dijadikan sebagai khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi. Di bumi atau di dunia inilah kemudian manusia berada pada tataran bagaimana wujud itu berproses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri manusia terdapat ruh Ilahiyah. Pertama karena Allah sendiri telah meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia. Kedua, karena manusia telah mengikat janji primordial sebagaimana dijelaskan di atas. Namun setelah lahir ke dunia, ruh manusia terkungkung oleh jasad. Namun demikian, dalam diri manusia itu selalu ada hasrat untuk mencari yang Mutlak itu tadi, yang pada-Nya dia telah berjanji. Dalam menjalankan aktifitas kehidupannya, manusia sering lalai dengan dirinya dan amanah yang ia emban sebagai khalifah. Kelalain ini biasanya disebabkan oleh keengganan manusia untuk menge-tahu-i. dalam arti lain, manusia enggan untuk mencari tahu dan belajar tentang dirinya. Akhirnya dia berjalan laksana robot tanpa jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya manusia senantiasa ingat bahwa dia adalah makhluk. Sebagai makhluk manusia mempunyai hubungan vertikal dengan Khaliqnya yang terejawantahkan dalam ibadah. Sebagai makhluk, manusia juga mempunyai hubungan horizontal dengan sesama makhluk. Prinsip yang digunakankan adalah baik manusia maupun makhluk lainnya hanya tunduk kepada Allah dan kepada hukum Allah atau sunnatullah, dan manusia adalah khalfiah Allah yang bertanggungjawb memakmurkan bumi. Dengan demikian hubungan dia dengan makhluk lainnya adalah pemanfaatan dengan tetap menjaga kelestarian dalam keharmonisan. Sebagai khalifah atau mandataris Allah di muka bumi, maka manusia harus menjalankan titah tersebut sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana dijelaskan dalam kitab-Nya dengantidak memebuat kerusakan (fasad). Sedangkan sesama manusia adalah berada pada prinsip bahwa yang palingmulia di sisi Allah adalah orang yang paling tinggi tingkat kualitas dirirnya (takwa). Dengan demikian, manusia tidak berhak untuk melakukan penindasan kepada manusia lainnya. Karena yang berhak demikian hanyalah Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berproses sebagai manusia, janganlah sampai lupa pada asal mula kita, dan jangn pula kita tidak mengetahui tujuan kita. Jika kita berawal dari ADA Mutlak, di mana keberadaan segala sesuatu diliputi olehnya, lalu adakah tempat kembali selain kepada yang Mutlak dan Meliputi tersebut? Dengan demikian, kita juga akan menuju ke sana, kepada Yang Mutlak yang meliputi segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Al-Isyraqi Suhrawardi menggambarkan bahwa Allah adalah Nur ala nur atau nur al-anwar. Dia adalah Cahaya di atas cahaya. Dia adalah sumber cahaya yang kemudian menerangi semesta. Semakan suatu entitas dekat dengan sumber cahaya, semakin tinggi intensitas cahaya yang berada padanya. Semakin terang pula dirinya. Sebaliknya, semakin jauh satu entitas dari sumber cahaya, maka semakin reduplah sinarnya, atau bahkan gelap sama sekali. Kegelapan adalah lawan dari cahaya. Kegelapan dalam bahasa Al-Quran disebut sebagai dzulm. Kata ini kemudian menjadi kata dzalim atau aniaya. Dengan demikian, perbuatan yang aniayalah yang menghalangi kita dari menuju Sumber Cahaya atu Wujud Mutlak tersebut. Mari kita berlingdung kepada-Nya dari perbuatan aniaya, agar kita sampai pada Dia Yang Awal dan Yang Akhir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2751594094883346566?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2751594094883346566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/yang-awal-dan-yang-akhir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2751594094883346566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2751594094883346566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/yang-awal-dan-yang-akhir.html' title='Yang Awal dan Yang Akhir'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3677175181710091535</id><published>2008-11-12T10:02:00.006+07:00</published><updated>2009-02-16T20:11:48.212+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Arus Balik</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SRpN8loDFZI/AAAAAAAAAKw/hJuY_EiouOw/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SRpN8loDFZI/AAAAAAAAAKw/hJuY_EiouOw/s200/images.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267608417450792338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nusantara atau yang sekarang disebut sebagai Indonesia pada mulanya adalah negeri maritim. Secara geografis sangat jelas sekali. Negeri ini terdiri dari beribu pulau, yang mana tiap pulau dibatasi oleh lautan. Dengn adanya beribu pulau itu menunjukan luasnya lautan kita. Dengan demikian tidak sedikit dari masyarakat negeri ini bergantung pada laut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fakta yang kedua adalah fakta historis, bahwa Majapahit, yang konon merupakan cikal bakal Indonesia ini adalah kerajaan maritim. Majapahit tidak mungkin mampu menyatukan Nusantara yang terbentang di seantro lautan tanpa adanya armada laut yang kuat. Begitu juga dia mampu menjalankan  misi diplomasi perdamainnya ke kerajaan-kerajaan sebrang. Kapal-kapal besar dibuat pada masa kejayaan Majapahit, konon oleh orang yang bernama Empu Nala. Armada Majapahit singgah di negeri-negeri utara dalam misi diplomasinya. Sejak saat itu, negeri-negeri yang diungkapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, sebagai negeri atas angin, telah dijelajahi oleh Armda pasukan Majapahit yang  datang untuk melakukan aktifitas perekonomian melalui jalur laut. Dan karena kuatnya armada laut Majapahit, lautanpun aman dan perompak atau bajak laut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika majapahit runtuh, tidak ada kerajaan yang mampu untuk menggantikan posisinya, menyamai besarnya armada lautnya. Tidak Tuban, tidak Pasai, tidak juga demak. Dengan lemahnya kekuatan laut nusantara, maka masuklah Portugus untuk mencari rempah-rempah yang dijual di negera-negara Eropa. Portugis masuk tidak sebagaimana negara-negra yang hendak berdagang, melainkan dengan senjata dan pasukan perang yang dilengkapi dengan peralatan yang lebih modern. Sementara kerajaan-kerajaan Nusantara mulai melemah, hancur menjadi kerajaan kecil-kecil yang saling bertikai antara satu sama lainnya, sehingga ketika Portugis masuk, mereka tak mampu melawannya. Pelawanan yang besar pernah dilakukan oleh Adipati Unus. Dia menyerbu Malaka yang dijadikan pangkalan oleh Portugis. Namun karena pengkhianatan Tuban, dan lengahnya sebagian dari pasukanya sendiri, pasukan gabungan yang dipimpin oleh Adipati Unus mengalami kekalahan, tidak kuasa menahan gempuran meriam Portugis. Namun dia diakui orang yang telah berani melawan Portugis dan berlayar dengan armada yang besar ke arah utara, Malaka. Oleh sebab itu dia digelari Pangeran Sabrang Lor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pasca penyerangan Unus, tidak adalagi pasukan besar yang menggempur Portugis, akhirnya Portugis menguasai lautan, menguasai daerah-daerah rempah. Karena siapa saja yang menguasai lautan, maka dia menguasai urat nadi kehidupan. Portugis menjadi lelanange jagad. Dan sejak saat itu, negara atas angin tidak lagi melakukan aktfitsnya di Nusantara. Kapal-kapal dari Nusantara pun tidak ada yang berani dan mampu berlayar ke arah utara, justru dari utara sekarang yang ke selatan. Terjadi arus balik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Peristiwa tersebut digambarkan secara gambalng oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Arus Balik. Novel ini mencerirtakan tentang masa-masa akhir kejayaan Nusantara sebagai negeri maritim, yang kemudian runtuh dan tenggelam dan tidak bangkit lagi, sampai kini, sampai sekarang. Laut kita yang luas itu tidak pernah diimbangi dengan perhatian yang luas juga oleh para pemegang kekuasaan. Sehingga laut kita seakan menjadi laut tanpa tuan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penyelundupan kayu besar-besaran, jual beli anak dan wanita, imigran gelap, narkotika dan obat-batan terlarang begitu bebasnya keluar masuk ke negeri ini melalui lautan. Ikan-ikan kita dicuri oleh negeri tetangga yang memiliki peralatan yang lebih canggih, sementara nelayan kita sejak jaman Majapahit hingga sekarang masih menggunakan perahu tradisional buatan sendiri. Di laut kita kalah. Di darat kita keok, di uadara kita lemah. Masihkah kita bangga mengaku sebagai pewaris kebesaran Majapahit. Dan kita masih sibuk rebutan kue kekuasaan bertengkar sesame saudara. Saling intip, saling curiga, saling sikut, saling tidak percaya. Dan selalu yang jadi korban adalah wong cilik yang sebenarnya hanya mencari hidup sederhana saja, itupun tidak pernah diperoleh. Agenda-agenda politik, baik lokal mapun nasional tidak pernah menjadikan rakyat sebagai agenda prioritas bagi para pemegang kekuasaan, kecuali jika dia sedang membutuhkan dukungan. Apakah ini memang satu takdir negeri ini sejak dulu kala. Pertentangan, perselisihan, perebutan kekuasaan. Adakah mereka tidak belajar dari sejarah? Ah… Indonesia ku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3677175181710091535?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3677175181710091535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/arus-balik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3677175181710091535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3677175181710091535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/arus-balik.html' title='Arus Balik'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SRpN8loDFZI/AAAAAAAAAKw/hJuY_EiouOw/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-5989476330540793051</id><published>2008-11-06T15:58:00.007+07:00</published><updated>2008-12-23T00:57:38.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Aku Tak Mau Seperti Keledai</title><content type='html'>pasca aku meninggalkan kampus&lt;br /&gt;aku masih bergelut gengan buku,&lt;br /&gt;meski tidak lagi berkecimpung dalam dunia akademik&lt;br /&gt;namun kali inibeda,&lt;br /&gt;pergelutanku dalam dunia buku adalah sebagai penjaja buku&lt;br /&gt;berpindah dari satu tempat ke tempat lain,&lt;br /&gt;dari pameran ke pameran lain, dari satu kota ke kota lain&lt;br /&gt;kesibukkan ku dengan urusan jual beli,&lt;br /&gt;tak jarang melupakan aku dari baca buku itu&lt;br /&gt;aku tak mau seperti khimar atau keledai&lt;br /&gt;yang memebawa bertumpuk-tumpuk buku di punggungnya&lt;br /&gt;sementara dia tidak pernah memebaca&lt;br /&gt;dan tidak pernah tahu kandungan dari yang ia bawa&lt;br /&gt;keledai membawa salah satu sumber ilmu, namun dia tetap dungu&lt;br /&gt;bahkan suara keledai disinyalir sebagai seburuk-buruk suara&lt;br /&gt;itu tak lain karena keledai hanya mnementingkan diri sendiri&lt;br /&gt;dantidalkalah ada yang mementingkan diri sendiri&lt;br /&gt;kecuali dia adalah makhluk yang bodoh, dungu,&lt;br /&gt;tidak berfikir dan tidak pernah memebaca&lt;br /&gt;maka itu, aku tak mau seperti keledai&lt;br /&gt;karena aku adalah manusia.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-5989476330540793051?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/5989476330540793051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/aku-tak-mau-seperti-keledai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5989476330540793051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/5989476330540793051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/aku-tak-mau-seperti-keledai.html' title='Aku Tak Mau Seperti Keledai'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-4100370664647103302</id><published>2008-11-02T17:31:00.004+07:00</published><updated>2008-12-23T00:58:31.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Ponorogo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Baru beberapa hari saya di Ponorogo. lelah memeang. menjaga stand selama berhari-hari dan harus tiap malang menyetingnya. tapi itulah hidup&lt;br /&gt;ada hal yang menarik saat tiba di sini. bari kali itu aku menyaksikan pertunjukkan Reog ponorogo. selama ini aku hanya mendengarnya atau hanya melihat di televisi. reog. memang asli Ponorogo.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Reog adalah kekayaan tradisi Indonesia, dan itu baru stu dari seabrek keanekaragaman budaya kita. dan saya kira itu baru salah satu tradisi di ponorogo ini. itu baru ponorogo, belum Jawa Timur. bayangkan seandainya dalam satu kabupaten ada minimal tiga seni tradisional, berapa dalam satu propinsi, dan berapa dalam satu kesantuan nusantara ini. betapa kaya seklai negeri ini. seabrek..breeeekk. &lt;br /&gt;dan kita tidak perlu pamer dengan kekeayaan kita. karena kita adalah bangsa yang besar dan kaya sejak dari sononya. dan bangsa kaya tidak mungkin mengambil milik  orang lain, karena kita setidaknya tidak  berjiwa miskin. Hanya orang miskin aja yang mengambil milik orang. biarlah reog diaku bangsa lain, toh hanya diaku. pada dasar tetap milik kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-4100370664647103302?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/4100370664647103302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/ponorogo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/4100370664647103302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/4100370664647103302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/11/ponorogo.html' title='Ponorogo'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-7754389083703799044</id><published>2008-10-25T11:34:00.005+07:00</published><updated>2008-12-23T01:00:39.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Pantura</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk melakukan perjalanan di pantai utara jawa (pantura), tepatnya di Rembang. aku singgah di Lasem dan menginap di sana. Lasem sendiri durlu bernama Lao Sam. kemungkinan besar bahasa China. banyak masyarakat Lasem yang merupakan keturunan Tiongkok. dari bukunya pram, "Arus Balik", aku baru tahu kalau warga Tiongkok di sana adalah bekas ata sisa-sisa earmada Laksamana Chengho yang tidak bisa kembali ke Tiongkok, lalu mendirikan perkampungan di sina dan berbisnis di sana.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SQKs5caJKII/AAAAAAAAAKY/X5iFGtcJVrw/s200/CIMG9800.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260957417600526466" /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga mengunjungi Pasujudan Sunan Bonang yang berdekatan dengan makam Putri Cempa (Cempo) , seorang putri keturunan China yang kemudian memeluk agama Islam. Konon penyanggah perumahan makam Putri Cempa terbuat dari tulang ikan yang besar yang mati dan ditemukan di tepi pantai beriring dengan kematian Putri Cempa. di sana juga ada makam yang dipercaya sebagai makam Sunan Bonang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain situs itu, kami mampir juga di Masjid Adung Demak, masjid yang dibangun oleh para wali. Ada rasa kesejukan dan kedamaian saat berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika membaca repotase KOMPAS saat ekspidi Pantura beberapa bulan lalu, ada dikatakan bahwa pemerintah hendaknya harus belajar dari pantura,, dengan pembangunan yang dilakukan oleh Deandles yang memusatkan pada pembangun jalan pantura, ekonomi jadi tidak merata, hanya berada memanjang di pantura. namun juka kita telisik lebih jauh lagi, sebenarnya Pantura sudah maju jauh sebelum Deandles membangun jalan itu. Pantura sudah maju sejak nenek moyang nkita masih merajai lautan. karena sebenarnya setiap kota di pantura itu memiliki sebuah dermaga di mana kapal-kapal perniagaan berlabuh dan bertransaksi. hal itulah yang menyebabkan pantura maju dari dulu. Karena nenek moyang kita adalah penguasa lautan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nusantara atau Nuswantoro adalah negeri maritim. wajar jika ada lagu anak-anak yang berbunyi nenek moyangku seorang pelau... kemana keperkasaan negeri maritim itu sekarang. di laut kita lemah. ikan-ikan kita di curi, kepulauan kita diambil orang, penyelundupan lewat laut adalah yang paling aman dan paling banyak. nelayan kita tertinggal jauh dari negera-negara tetangga... ah.. kemana negeri maritim itu?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-7754389083703799044?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/7754389083703799044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/10/pantura.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7754389083703799044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7754389083703799044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/10/pantura.html' title='Pantura'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SQKs5caJKII/AAAAAAAAAKY/X5iFGtcJVrw/s72-c/CIMG9800.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-3106868469610079406</id><published>2008-10-22T18:35:00.006+07:00</published><updated>2008-12-23T01:01:28.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Wonorejo Pesawaran Indah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beberpa tahun aku meninggalkan kampung halaman Wonorejo Pesawaran Indah Padang Cermin(kadang-kadang pulang sih) tidak banyak perubahan yang terjadi. suasananya masih seperti dulu, adem ayem, tentram dan penuh dengan keramahan. pembangunan fisik juga tidak terlalu mencolok mata. Keharmonisan dengan alam masih terjaga, sehinga tidak ada masalah polusi, meski kendaran bermotor semakin bertambah. Itulah kampung, itulah desa. lamban dalam perubahan, tidak frontal terhadap kemjuan, tidak juga menerima dengan cepat. meski media juga telah banyak memepengaruhi, namun perubahan itu berjalan secara evolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal serupa tidak bisa kita dapatkan di perkotaan. contoh aja seperti ini, jika anda tinggal di jogja (kota jogja) misalnya, lalu anda pergi keluar jogja selama 6 bulan saja, ketika anda kembali, anda akan mendapatkan lingkungan anda telah berubah. seperti itulah perubahan di kota, revolutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perbedaan gerak perubahan ini dipengaruhi oleh beberpa hal. Pertama, maindsat atau pola pikir. pola pikir yang lebihm maju, pola pikir yang terbuka, akan sangat cepat menangkap wacana dan merespon perubahan yang datang padanya, sebaliknya pola pikir yang terbelakang atau stagnan akan sulit untuk menerima perubahan dengan cepat. Biasanya perubahan yang ada justru adalah bersifat imitatif, tidak inofatif. Kedua adalah pergerkan ekonomi. Semakin pesat pergerakan ekonomi suatu daerah, maka makin cepat pula perubahan terjadi. lihat saja, di mana dibangun satu perusahan, maka daerah tersebut dalam waktu yang singkat akan seger berubah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Perubahan adalah keniscayaan, cepat maupun lambat. namun alangkah baiknya perubahan itu jika ia menuju ke sesuatu yang lebih baik, tanpa melupakan nilai-nilai luhur di daerah tersebut (Lokal Wisdom)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-3106868469610079406?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/3106868469610079406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/10/metamorfosa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3106868469610079406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/3106868469610079406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/10/metamorfosa.html' title='Wonorejo Pesawaran Indah'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6073077432512258339</id><published>2008-09-10T11:27:00.003+07:00</published><updated>2008-12-23T01:01:57.658+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Ra Yang Kurindu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ra, apa kabr ra? Setalah berpisah, akhirnya kini kita telah dipertemukan kembali. Satu tahun memang waktu yang tidak lama ya, Ra. Tapi beda bagi seorang yang sedang menanti, seminggu terasa sewindu, setahuan serasa seabad. Seperti aku yang selalu menanti kedatanganmu. Memang benar, penantian selalu membawa pada rasa kejemuan. Kekhawatian juga tentunya. Khawatis dan rasa takut, saat engkau datang engkau bukan milikku lagi. Begitulah penantianku. Waktu seakan berjalan lamabat. Sehari seakan tidak lagi duapuluh empat jam, dan sepanjang tahun sekana hanya satu musim, kemarau. Yah, aku kekeringan tanpamu, aku tandus tanpamu, aku gersang tanpamu. Dan kini engkau telah datang. Tapi mengapa ada yang berbeda dengan pertemuan kita kali ini &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ra, aku minta maaf. Aku tidak bisa ikut menyambut dan merayakan kedatanganmu. Tapi bukan berarti rasa ini telah pudar. Sebenarnya kau malu pada diriku sendiri. Aku yang selalu ngomong bahwa aku orang yang mencintaimu, merindukanmu, dan mengharap kedatangmu, namun justru aku tidak ikut serta menyambutmu, menyalamimu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebenranya aku tahu akan kedatangamu. Siapa yang tidak mengenalmu, sehingga semua orang mengabarkan kedatanganmu. Dan berjubel orang menyambutmu. Aku takut ketika aku ikut menyambutmu, akankah kau menemukan dan mengenaliku di antara berjubel orang itu. Apalagi mereka menyambumu tidak selayaknya seorang muslim menyambut kekasihnya sebagaimana diajarkan oleh agama kita. Ah, mungkin itu hanya apologiku aja, dan bisa jadi aku lebih buruk dari mereka karena aku tidak turut menyambutmu. Maaf karena aku lebih sibuk dengan urusan pribaduku. Tapi sesungguhnya dalam hati aku tetap menyambutmu, dengan cara lain, caraku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ra, aku dengar dari beberapa orang yang ikut manyambutmu, kata mereka kau datang dengan sedikit masam. Apa benar itu, Ra? Ada apa gerangan, Ra? Apakah sebenarnya kau tidak ingin datang? Tapi bukankah sudah janjimu untuk datang, menemuiku? Atau ada masalah lain? Apakah engkau tidak puas dengan penyambutan mereka, Ra? Bukankah mereka telah menggelontorkan segudang uang untuk menyambutmu, menjamumu? Mereka menyiapkan hidangan yang mewah untukmu, khusus untukmu. Asal kamu tahu aja Ra, hidangan semacam itu tidak akan bakalan ada tanpa engkau hadir di sini. Dan juga acara-acara itu, yang diadakan saben malam, pembacaan puisi dan narasi yang menggambarkan kecantikanmu, kemolekanmu, keanggunanmu, kebaikanmu, keagungan dan kemulianmu, itu tak pernah ada jika kau tidak di sini. Tapi mengapa engkau, kata mereka, datang dengan sedikit masam?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ra, meski aku tidak perca sepenuhnya kepada mereka, tapi aku jadi ingin tahu juga, agar tenang jiwa ini. Namun aku yakin, itu bukan karena aku tidak ikut menyambutmu, bukan? Aku sadar betapa kecilnya aku di depanmu sehingga tanpaku pun engkau akan datang ke sini. Atau mungkin engkau kecewa melihat aku yang begini-begini saja, tidak berubah sejak pertemuan terakhir kita dulu. Aku masih aku yang angkuh, sombong, bakhil, dengki, pendendam, apatis, egois. Yah, kalau engkau memang datang dengan sedikit masam, aku yakin karena hal itu. Ah, maafkan aku ya, Ra. Sungguh aku menyesal. Aku malu. Aku akan berubah, Ra. Asal jangan kau tinggalkan aku lagi!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ra, aku lebih malu lagi, meski aku tak menyambutmu, kau tetap datang menemuiku. Dengan wajah cerahmu, tidak seperti yang mereka bilang. Benar kataku, kau tidak peduli apakah aku berubah atau tidak, kmau tak pernah ingkar, kau tetap datang. Senyum manis tersungging di bibirmu, dan selalu suasana syahdu yang menyertaimu. Itulah yang selalu mengingatkanku padamu. Aku ingat pada perjumpaan kita yang lalu. Tiada hari yang aku lalui tanpamu. Kita berjalan bersama, mengahabiskan malam-malam kita dalam senandung kesyahduan. Kau memelukku erat dalam kehangatannya cintamu, membelaiku dengan mesra seakan itu yang terakhir. Malam itu aku rasakan bumi berhenti berputar, angin tiada berhembus, jangkrik berhenti berkerik, margasatwa tak bersuara, awan tertahan, dan alam pun terdiam. Malam itu begitu sunyi, tapi syahdu. Ah, indah sekali malam itu. Aku rindu malam itu, malam-malam saat bersamamu. Dan kini kau telah bersamaku. Mungkin telat, namun aku ingin tetap menyambutmu, menyalamimi, marhaban ya Ramadhan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6073077432512258339?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6073077432512258339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/09/ra-yang-kurindu_10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6073077432512258339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6073077432512258339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/09/ra-yang-kurindu_10.html' title='Ra Yang Kurindu'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-1525901809254575026</id><published>2008-09-03T06:54:00.004+07:00</published><updated>2008-12-23T01:02:43.715+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Ramadhan Bulan Konsumsi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ramadhan kini manyapa kita kembali. Bulan yang suci, penuh rahmah dan ampunan. Bulan yang mulia di mana Al-Quran sebagai petunjuk mansia diturunkan. Di dalamnya juga terdapat malam kemuliaan, malam yang sangat istimewa yang lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan ini umat Islam diwajibkan untuk menjalankan salah satu rukun Islam, yaitu puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jarhawi dalam kitabnya, hikmah at-tasyri’ wa falsafatuhu  menjelaskan salah satu hikmah dari ibadah puasa adalah tumbuhnya rasa empati shaim atau orang yang berpuasa kepada kaum papa. Pada saat puasa, orang akan merasakan rasa haus dan lapar sehingga tubuhnya terasa lemah tak bertenaga. Pada saat itulah akan tumbuh pada dirinya rasa empati kepada kaum mustadl’afin, serta fakir dan miskin, di mana hidup mereka selalu dalam kekurangan. Orang-orang inilah yang tidak pernah berfikir untuk bagaimana makan enak, bagaimana berbelanja di mall, bertamasya ke luar negeri, atau sekedar jalan-jalan santai bertamasya bersama keluarga ke pantai, karena mereka telah disibukan dengan persoalan bagaimana dia dan anak-anaknya serta keluarganya yang lain bisa makan esok hari&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Budaya Konsumsi di Bulan Ramadlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bulan ramadhan yang sakral tersebut kini seakan telah terdistorsi oleh prilaku umat Islam sendiri. Ramadhan yang seharusnya digunakan untuk berpuasa sebagai wahana mencapai ketakwaan, kesempurnaan akan kemanusiannya, kini berubah menjadi bulan konsumsi. Dari beberapa sumber dan pengamatan dapat diketahui bahwa tingkat konsumsi masyarakt pada bulan ramadhan semakin menaik dari pada  hari-hari biasa. hal ini dapat kita lihat juga dari kebutuhan-kebutuhan yang dibeli saat ramadhan. Dalam tradisi masyarakat kita, jika ramdhan datang maka banyak hal yang harus dilakukan seperti dengan makan yang lezat, baju baru, mengecat rumah yang telah mengalokasikan anggaran yang berlipat ganda dari hari biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa tidak ketinggalan berperan aktif dalam peningkatan pola hidup konsumtif di bulan ramadhan ini. Dengan strategi marketing-nya media menawarkan produk-produk yang dikemas sesuai dengan nuansa ramadhan, bahkan tidak jarang para agamawan dan da’i kondang menjadi bintang iklan dengan gaya khasnya dan atribut keislaman, menawarkan produk-produk yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan ibadah di bulan ramadhan ini. Selain itu, tempat-tempat perbelanjaan, baik mall-mall besar maupun pasar-pasar tradisional menawarkan barang-barang yang khas ramdhan, dalam artian barang-barang tersebut hanya dapat diperoleh saat ramadhan saja.&lt;br /&gt;Menu makan pada bulan ramadhanpun menjadi istimewa, berbeda dengan hari-hari biasa. biasanya lebih meningkat. Padahal pola makannya masih tetap sama seperti hari-hari biasa, hanya berpindah jam saja. Semula waktu makannya adalah pagi, siang dan malam, kini berganti sore (saat berbuka), malam (biasanya selepas shalat tarawih) dan pagi hari (makan sahur). Tidak ada yang berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ramadhan yang semestinya menjadi bulan yang mendatangkan kegembiraan bagi para fakir miskin, karena pada bulan ini adalah momentum meningkatkan kwalitas dan kwatintas ibadah dan shadakoh umat Islam. Tetapi ternyata merka hanya dapat melihat saja, tanpa bisa menikmati indahnya bulan ramadhan. Seringkali terjadi di kota-kota besar, atas dalih penertiban kota, para pengemis dan gelandangan seringkali dikejar-kejar pihak pemerintah kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya konsumsi pada bulan ramadhan sebagaimana di atas tentu betentangan dengan ajaran Islam akan perintah puasa. Bagaimana dalam diri seorang yang berpola hidup konsumtif akan tumbuh rasa empati dan kepedulian sosial? Bagaimana orang yang hanya memikirkan perut sendiri akan bisa merasakan rasa lapar yang dialami oleh orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menyerukan umatnya berpuasa, makan saat sebelum fajar dan saat senja (magrib) adalah agar ia merasakan perihnya rasa lapar, rasa yang selalu bergelayut dalam kehidupan sebagian besar masyarakat kita, namun yang terjadi adalah sikap mental balas dendam dengan mengkonsumsi makanan sebanyak-banyaknya pada malam hari, sementara pada siang hari, dengan dalih puasa, mereka sering mengurangi aktifitas kerjanya, sehingga menjadi tidak produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terlambat, tidak salahnya kita intropeksi diri kita, sudahkan puasa yang kita jalani ini sesuai dengan yang Allah kehendaki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa pada hakikatnya tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan keseluruhan diri kita, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan syahwat dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Puasa juga bukan hanya sekedar ritual tahunan yang tidak berdampak apapun, tetapi puasa merupakan suatu amalan trnsformatif. Secara individual, ramadhan ini tak ubahnya kepompong bagi kupu-kupu, atau selayaknya ular yang sedang bermetamorfosis, berganti sel-sel yang lebih muda. Selain dimensi eksoteris, puasa juga mengandung dimensi esotoris, karena yang mengetahui ia berpuasa atu tidak hanyalah orang itu sendiri dan Allah SWT. Makanya kata Allah, ibadah puasa itu adalah untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi transformasi sosialnya, puasa dapat menumbuhkan sifat altruisme pada shaim atau orang yang berpuasa, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain yang lebih besar ketimbang kepentingan diri pribadi. Sifat empati dan kepedulian sosial juga tertanam dalam ibadah puasa ini. Yang tidak kalah penting, puasa melatih kita untuk dapat mengendalikan diri dan nafsu kita, termasuk dari pola hidup boros dan konsumtif.&lt;br /&gt;Ramadhan adalah bulan tarbiyah (madrasah Ilahai), sebagi candradimuka umat Islam. Sebagaimana sebuah sekolah yang berhasil adalah merka yang lulus ujian dari madrasah ini yang kemudian mendapat predikat muttaqi atau orang yang bertakwa, yaitu orang yang menghadirkan Allah SWT dalam setiap aktivitas kehidupannya. Sementara dalam salah satu hadits qudsi-Nya Allah SWT berfirman bahwa Dia selalu bersama orang-orang miskin (mustadh’afin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predikat takwa tidak akan menempel pada orang yang tidak mengalami perubahan pada saat sesudah bulan ramadhan, orang –orang yang tetap berpola hidup boros, konsumtif, apatis dan individualis. Keberhasilan suatu ibadah adalah ketika dapat tertransformasi pada masyarakat. Kiranya belum terlambat untuk berbenah diri. Wallahu ‘alam bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Setahun yang lalu tulisan ini dibuat dan dimuat di www.hminews.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-1525901809254575026?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/1525901809254575026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/09/ramadhan-bulan-konsumsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1525901809254575026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/1525901809254575026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/09/ramadhan-bulan-konsumsi.html' title='Ramadhan Bulan Konsumsi'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-6960435490566831012</id><published>2008-09-01T21:46:00.013+07:00</published><updated>2008-12-23T01:03:21.263+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Mudik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hari masih gelap. Karena memang malam masih larut. Ku lihat jam dinding dengan hiasan kaligrafi yang memebentuk kubah masjid. Meski sudah tua, namun jam itu masih istiqomah pada setiap detak jarumnya. Jam itu adalah kenang-kenangan dari mbak Eva, sarjana ekonomi yang pernah indekos di sini. Masih jam dua. Malam masih larut dalam buai mimpi-ninpi anak Adam. Sementara jauh di sana terdengar suara orang yang dengan mikrofon dia membangunkan umat Islam untuk makan sahur. Setelah itu ayat-ayat Al-Quran melantun dengan tartil. Entah dari masjid mana. Suaranya terbawa hembusan angin malam, menelusup ke relung-relung hati. Sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengurungkan niatku utuk ke kamar mandi tatkla ku dengar isak tangis dari kamar mbak Astri. Ku dekatkan telingaku ke pintu kamar yang sedikit terbuka. Ku lihat mbak Astri sedang duduk dan larut dalam untaian doa-doanya. Lampu yang temaram memantulkan kilauan cahaya dari air matanya yang mengalir deras di pipinya dan kemudian jatuh di pangkuannya. Ah, indah sekali.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat makan sahur sengaja aku menunggu mbak Astri dan duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;Mbak Astri tadi bangun jam berapa? Kok tidak mau membangunun aku?” tanyaku basa-basi.&lt;br /&gt;“Emmm, jam berapa ya? Aku lupa tadi tidak lihat jam. Mbak kira kamu malah sudah bangun, soalnya mbak denger tu si Kitaro sedang konser.” Memang aku sering tidur dengan komputer tetap menyala. Dan selalu, musik-musik instrumrntal yang aku play. Pengantar tidur. Walaupun sering teman-teman satu kontrakan menasihatku “Nis, itu namanya pemborosan. Hemat listrik donk. Sebentar lagi pemerintah mau naikin TDL lho. Bisa-bisa kiriman kita cuman cukup untuk bayar listrik.” Kata Dhe, begitu gadis berjilbab gede asal Brebes itu dipanggil, pada suat pagi, saat kami sedang duduk-duduk santai sembari membaca koran pagi. Ah biarlah, toh aku bayarnya sesuai dengan proposi, walaupun aku masih ragu, mereka tertanggu atau tidak ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku perhatikan wajah mbak Astri. Wajahnya masih kelihat lebam. Nampak sekali kalu dia habis menangis. Sebenarnya bukan hanya malam itu saja aku melihat mbak Astri menangis dalam shalat malamnya. Tapi entahlah, malam ini tangisnya terasa beda dari malam-malam sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak semalam begadang ya, mata mbak kok kelihat lebam?” tanyaku yang jelas hanya sekedar mamastikan, karena aku sudah tahu tadi malam.&lt;br /&gt;“Yah, mumpung Ramadhan. Itu janji Allah dan rasul-Nya lho. Mumpung bisa bertemu Ramadhan. Kan tidak ada jaminan kita kita bisa bertemu Ramadhan lagi tahun depan. Benar tidak, Nis?” Mbak Astri memang lumayan pengetahuan agamanya. Meski ia kulih di sastra Inggris, tapi sewaktu di SMA dia tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga nyantri. Ketika ku tanya mengapa dia memilih sastra Inggris, “Aku ingin mengkaji lebih jauh peradaban Barat, biara imbang. Tidak barat saja yang mengkaji peradaban Timur dan menganggap Dunia Timur inferior. Dan bahasa adalah kuncinya.”. katanya. Dia juga berkata, kalau mengaji sesuatu itu harus meletakkan objek kajian secara berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya Nis, sudah berapa kali khatam Al-Qurannya? Dah mau lewat lo rmadhannya!”&lt;br /&gt;“Belum khatam mbak, itupun masih nerusin bacaan sebelum ramadhan kemarin.” Jawabku sedikit malu. Aku sadar, ramadhan ini telah banyak kesia-sian yang aku lakukan. Sore aku sibuk buka puasa bersama di sana-sini, dengan ini dengan itu. Malam. Ah .... terlalu asyik acara televisi untuk dilewatkan. Pagi. Setelah shalat subuh aku tidur lagi. Bangun, setelah amandi langsung berngkat ke kampus, kuliah. Padahal, kata mbak Astri, kalau kita istiqomah beberapa lembar saja setiap selesai shalat fardhu, pastilah kita akan mengkhatamkan bacaan kita dalam satu bulan. Memang benar. Waktu di SMA aku sempat khatam dua kali. Dan buktinya pula, empat jilid tetralogi Pramoedya Ananta Toer aku lahap tidak lebih dari dua minggu. Memang semua butuh prioritas. Aku jadi malu pad diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak boleh tanya tidak? Aku yakin mbak bisa menjawabnya?”&lt;br /&gt;“Orang tanya kok tidak boleh to? Kalau bisa mbak jawab, kalau tidak bisa berarti kita cari jawabannya bersama-sama. Okey!”&lt;br /&gt;“Sebelumnya aku minta maaf, soalnya aku sering ngintip mbak Astri kalau lagi shalat malam. Aku sering lihat mbak nangis. Gimana to mbak kok bisa nangis?”&lt;br /&gt;“Seperti itu gimana makdusnya”, mabk Astri memancingku.&lt;br /&gt;“Yah itu, kok bisa menangis sesenggukan?” Kalau orang cengeng mungkin aku tidak heran. Tapi mbak Astri? Dia membiayai kuliahnya sendiri, dan kadang sempat mengirimkan sebagian ke kampung. Dia juga aktif di organisasi ekstra kampus, di masjid dan juga mengurus desa binaannya di daerah Dlingo.&lt;br /&gt;“Kalau mbak jelasin, nanti dikira kuliah subuh lagi? Kan ini belum subuh!”&lt;br /&gt;“Nggak lagi! Aku tanya serius nih mbak, malah dikira guyon.” Bantahku.&lt;br /&gt;“Nis, di dunia ini kira-kira ada tidak manusia yang hidup tanpa menanggung satu masalahpun? Ada tidak?” aku menggeleng, “tidakkan? Semua orang pasti punya masalah. Ada yang ketika menghadapi masalah ia lari dia lari masalah tersebut, yang justru dia sendiri yang berasalah. Ada yang lari ke drug, ada yang curhat ke orang lain, lewat radio, chatting dan sebagainya. Kamu sendiri gimana?”&lt;br /&gt;“Maksud mbak, kalau lagi ada masalah? Emm.... aku curhat ke teman. Atau aku tulis di buku deary.” Aku jadi ingta, sudah lima deary aku habiskan sejak tiga tahun aku di kota pelajar ini. Tapi kayaknya tidak bakalan dierbitkan seperti punya Ahmad Wahib atau Soe Hok Gie yang terkenal itu. Aku sendiri kadang malu kalau harus baca tumpukan deary itu. Dah tulisannya acak-acakan, tidak mutu lagi.&lt;br /&gt;“Allah adalah tempat mengadu, mengeluh. Dia tempat bergantung semu makhluk kepada-Nyalah aku memumphkan semua keluhku, pintaku.”&lt;br /&gt;“Kalau itu aku tahu mbak, Lagu Tuhan ciptaan Bimbo. Sudah di luar kepala. Tapi tetap aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;“Allah adalah nurun ‘ala nurin, Cahaya di atas cahay. Dia adalah Ruh semesta. Dia tidak bisa hanya didekati dengan akal, logika, tapi dengan ini .....”  mabk Astri menunjuk ke arah dada, “dengan hati. Datanglah pada Nya dengan hati yang bersih, ikhlas dan dipenuhi oleh cinta-Nya. Kaern akecintaan-Nya pada diri-Nyalah Dia menciptakan semesta ini. Pengabdian atas nama cinta, bukan akrena keterpaksaan atau rasa takut semata. Khaufa w thama’a.” Aku hanya diam mendengarkan. Walau ada beberapa yang aku tidak mengerti, tapi aku enggan menanyakannya. Aku takut ketahuan benar-benar DDR alias daya dong rendah.&lt;br /&gt;“Satu lagi Nis, yang menjadikan malam-malam Ramadhan ini berbeda dengan yang lain. Sebentar lagi aku bertemu dan kumpul bareng keluargaku. Kamu tahukan, sudah lima tahun aku belum pulang kampung. Sehingga rasa syukurku semakin bertambah.”&lt;br /&gt;Memang sudah lima tahun ini konon mbak Astri tidak pulang kampung. Tahun pertama dia tidak langsung kuliah, tetapi mencari kerja terlebih dahulu, sembari mengajar TPA di masjid sebelah. Dan bulan januari mendatang, dia akan diwisuda sebagai sarjana saastra Inggris. Kepulangannya sekaligus akan memeberitahu keluarga akan kelulusannya. Dia pernah ditawari untuk menjadi guide di perusahan pariwisata, tapi mbak Astri lebih memilih tawaran menjadi asisten dosen di almamaternya, “biar bisa dapat beasiswa master,” katanya.&lt;br /&gt;“Wah, mbak pasti sudah rindu banget ama keluarga di kampung, ya? Eh... aku dengardi sumatra masih banyak hutannya ya mbak? Berarti mbak pulhut donk, alias pulang ke hutan, bukan pulang kampung!” Selorohku.&lt;br /&gt;“Ngaco kamu. Memang sih, dulu waktu aku pergi ke jogja belum ada listrik, tapi sekarang katanya sudah ada listrik masuk ke kampung mbak. Ah, masa modoh. Orang tuh, kalau sudah cinta dan terlanjur kangeng, jangankan hutan dan lautan, langitpun akan didaki”&lt;br /&gt;“Mana mungkin? Gomkbal kalii...!”&lt;br /&gt;“Lho kok gombal. Nah itu Nabi Muhammad waktu mi’raj sampai ke langit ke tujuh.”&lt;br /&gt;“Masak kita kok dibandingin nabi.” Protesku.”emm.. mbak, kalau sudah sampai di rumah mbak mau ngapain?”&lt;br /&gt;“Pertama, mbak ingin sungkem sama ibu. Aku tak tahu seperti apa sekarang wajah beliau. Pasti sudah semakin tua. Tiap malam selalu terbayang wajah ibu yang penuh cinta, penuh kasih dan kehangatan. Mbak masih ingat, keteika mbak mau berangkat ke jawa, sebagaiman kebnyakan orang melayu, ibu memberi nasihat kepadaku lewat syair yang selalu kuingat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;betapa luas laut&lt;br /&gt;anakku, selalu ada tepian&lt;br /&gt;tetapi tidak semua tepian&lt;br /&gt;pantas jadi pelabuhan&lt;br /&gt;dan betapapun jauah&lt;br /&gt;ombak membawamu mengembara&lt;br /&gt;tentu masih tersisa&lt;br /&gt;sebaris arus mengajakmu pulang&lt;br /&gt;jangan lupakan tepian itu, anakku.i&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, ibu. Kini aku akan segera kembali, ibu.”&lt;br /&gt;“Tepian yang mana mbak, mas ari yang sering datang ke sini tiu ya? He.. he.... atau tepian apa nih? Bakauheni?”&lt;br /&gt;“Terserah kamulah! Yang jelas, Allah adalah sebaik-baik pelabuhan, dan jka butuh sahabat untuk menuju ke etpian, mengapa tidak?”&lt;br /&gt;“Mbak Astri jadi pulang nanti malam? Naik apa mbak?”&lt;br /&gt;“Naik kereta. Oh ya Nis, kmu jadi pulang ke Madiun hari Sabtu kan? Mbak minta tolong, nanti malam antar mbak ke setasiun Lempuyangan. Bisa kan?”&lt;br /&gt;belum sempat aku menjawab, secera serentak kami bangkit dari tempat duduk, setelah mendengar suara sirine tanda imsak dari masjid sebelah. Aku langsung menuang air dari deaspanser. Serempak warga kos yang di ruang tiu tertawa melihat aku seperti orang kebingungan. Rupanya yang aku tuang adalah air panas. Mau tidak mau aku harus mengeluarkannya, kalau tidak ingin lidahku mendidih. Aku menyemprotkannya ke luar. Malangnya Dewi alis Dhe yang jadi korbannya.&lt;br /&gt;“Wah, kayak mbah dukun aja kamu ini, main semprot aja!” Aku jadi tidak enak hati melihat jilbab panjang Dhe basah oleh semprotanku. Wah kayak pemadam kebakaran aja.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;selesai shalat Isa, aku memebantu mbak Astri berkemas. Sengaja tidak terawis di masjid, takut ketinggalan kereta. Dan itu sudah jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, bawaannya banyak sekali mbak? Tidak terlalu berat nih?” tanyaku ketika melihat barang yang akan dibawa mbakAstri.&lt;br /&gt;“Namanya lama tidak pulang kampung. Ini ada oleh-oleh untuk Ibu, kakek, nenek, saudara. Ini pakaian untuk Dea, keponakkanku. Katanya dia sudah sekitar dua tahun.”&lt;br /&gt;“Kok, tidak naek bus langsung aja, mbak? Kan lebih mudah.”&lt;br /&gt;“Mbak janjian ama saudara di Jakarta mau pulang bareng.”&lt;br /&gt;Setelah selesai berkemas, aku meminta mbak Astri menunggu di luar. “Nis, cepat! Nanti ketinggalan kereta.” Panggil mbak Astri dari luar.&lt;br /&gt;Sebentar mbak, aku lagi nyari helm nih.”tidak sekali dua kai, kalau pas lagi butuh, helm pada pergi tidak tahu ke mana.&lt;br /&gt;“Fitrotunnisa.... buruan, ayo... entar kalau mbak ketinggalan kereta aku denda kamu.” Wah, tidak sabar banget mbak Astri, samapai pakai memanggil aku dengan namu lengkapaku, dengan suara nyaring lagi. “tidak pakai hel tidak apa-apa, orang dekat ini kok.” Akhirnya aku keluar hanya dengan membawa satu helm. Karena  aku yang nyetir, maka akulahyang memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motorku melaju dengan kecepatan 45KM/jam, karena aku tahu KA di Indonesia tidak pernah tepat waktu, persis seperti yang dibilang bang Iwan Fals.&lt;br /&gt;“Nis cepet sedikit donk, entar aku telat lho. Kamu akau denada, mau?” mbak Astri mengancam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena di desak, akhirnya aku mulai tarik gas, menambah kecepatan laju motor, meski terasa berat oleh barang bawaan mbak Astri. Karena motor yang melaju begitu cepat dan beban yang berat, aku tidak bisa mengendalikan satang motorku, ketika di bawah jembatan ada sepeda motor melaju cepat dari arah selatan. Duaaaarrr.........motorku menabraknya. Aku melayang ke udara. Kemudian gelap.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mataku menatap secercah cahaya. Ha, itukah Cahaya di atas cahaya. Ku tatap sekelilingku. Serba putih. Ku buka lebih lebar lagi kelopak mataku. Oh bukan, itu cahaya lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, kamu sudah sadar Nis.” Aku seperti kenal suara itu. Aku lihat Dhe dengan jilbab birunya duduk di kusi dekat pembaringnku. “Bapak ama Ibumu lagi istirahat di luar, mencari makan.” Lanjutnya. “kamu sudah ahmir empat hari tidak sadarkan diri.”&lt;br /&gt;“Ada apa denganku Dhe? Aku di mana? Itu kok ada ketupat?” tanyaku dengan suara yang lirih, dan mungkin tidak terdengar oleh Dhe jika dia tidak mendekatkan kepalanya ke arahku.&lt;br /&gt;“kamu jangan terlalu banyak bicara dulu ya, Nis! Ini dah lebaran anak manja. Itu ketupat pamanmu yang bawa kemarin.”&lt;br /&gt;Aku meraba kepalaku, seperti ada yang menempel. Seperti perban. Aku masih loading. Mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu.&lt;br /&gt;“Mbak Astri? Mbak Astri? Mbak Astri mana Dhe? Dhe .. jawab, jangan diam saja! Jawab Dhe..! Ku lihat wajah Dhe memucat pasi. Bibirnya seakan ingin terbuka, tetapi berat.&lt;br /&gt;“Mbak Astri...............................”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa ada air hangat yang mengalir melewati pipi ini. Air yang sama yang sering aku saksikan kular dari mata mbak Astri. Namun sayang ia tidak akan eluar lagi dari mata yang sejuk itu. Oh, mbak Astri. Begitu cepat engkau harus mudik, bertemu kekasihmu, menyatu dengan-Nya. Mbak Astri, begitu sempitkah lautmu, sehingga dengan mudah engkau menemukan tepian untuk berlabuh? Mengapa engkau tidak menunggu sahabat yang akan mengantar dan menemani engkau berlabu? Oh, tidak, engaku tidak sendirian mbak. Yah, aku melihatmu bersama-sama sosok-sosok yang indah, berpakaian serba putih. Aku melihat engkau naik ke langit ke tujuh, seperti Muhammad yang sedang mi’raj. Tapi mengapa di bulan Ramadhan, bukan Rajab? Lailatul qodar? Ku lihat engkau semakin tinggi, kemudian yang terlihat adalah kain yang serba putih yang menghilang berbaur dengan putihnya cakrawala. Lalu muncullah cahaya yang berkelip-kelip dari angkasa, seperti kuang-kunang. Semakin lama semakin banyak, memenuhi angkasa. Kilauan cahaya membuat sakit mataku, aku tidak bisa melihat apa-apa. Gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Imal cemoy.&lt;br /&gt;Puisi Abdul Qadir&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-6960435490566831012?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/6960435490566831012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/09/cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6960435490566831012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/6960435490566831012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/09/cerpen.html' title='Mudik'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-7766672910263266301</id><published>2008-08-19T10:57:00.002+07:00</published><updated>2008-12-23T01:03:38.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Tentang Remaja</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Dalam proses peralihan ini, kenangan akan masa kanak-kanak yang identik dengan masa bermain-main akan saling bergantian dengan keinginan untuk menjadi orang dewasa. Masa-masa ini adalah masa krisi identitas. Dia bukan lagi anak-anak, tetapi juga belum dewasa. Di sinilah kemudian masa remaja bisa dikatakan sebagai masa pencarian identitas atau jati diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja akan senantiasa melakukan hal-hal yang menunjukkan dirinya bukan lagi anak-anak, dan mereka biasanaya akan marah jika ada orang yang menganggapnya masih anak-anak. Remaja akan cenderung berbuat caper alias cari perhatian dari lingkunagnnya. Namun seringkali perbuatan caper-nya ini berlebihan dan melewati batas. Alih-alih untuk menunjukkan siapa dirinya, remaja sering terjerumus kepada kenakalan remaja (juvenile delinquency). Beberepa contoh yang bisa diambil adalah kasus geng motor, kasus geng Nero, tawuran antar pelajar, miras, narkoba dan prilaku free sex. Beberapa hal yang menjadi penyebab kenakalan remaja adalah kurangnya perhatian dari orang tua, pengaruh media, lingkungan dan dangkalnya pengetahuan agama&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya menjadikan seorang anak berkembang tanpa kontrol. Hal ini akan lebih parah lagi apabila anak tersebut berasal dari kalangan broken home. Dalam Islam, orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Untuk itu dia tidak boleh melepas begitu saja pendidikan anak kepada lembaga pendidikan formal. Selain itu, pengaruh lingkungan dan media massa juga sangat besar dalam hal kenakalan remaja ini. Informasi yang bebas, bisa diakses setiap saat kapan saja dandi mana saja melalu internet maupun televisi dan media-media lainnya menjadi kiblat bagi pencarian identitas remaja ini. Ketidakselektifan dalam memilih informasi inilah yang membawa remaja pada perbuatan-perbuatan destruktif tersebut.&lt;br /&gt;Lingkungan pergaulan juga akan menetukan seperti apa perbuatan remaja antinya. Dalam bergaul, remaja biasanya akan mencari apa yang menjadi idola merka. Mereka akan bergabung dengan teman-teman sebayanya yang memiliki karakteristik yang sama. Kemudian para remaja ini biasanya memebentuk satu komunitas. Satu komunitas dengan komunitas yang lain akan memiliki karakteristik yang berbeda. Untuk menjadi bagian dari satu komunitas, maka seorang remaja harus bersikap dan berpenampilan sama dengan anggota komunitasnya. Jika tidak maka dia tidak akan diakui. Kesalah dalam memilih komunitas inilah yang membawa remaja dalam kenakalan remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menjadi penyebab kenakalan remaja adalah dangkalnya pemahaman tentang agama. agama adalah tuntunan bagi umat manusia. Ia berisikan ajran untuk berbuat sebagaimana yang Sang Pencipta kehendaki. Siapa yang memahami agamanya, niscaya dia akan selamat dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaiman diketahui, bahwa manusia lahir dengan fitrhanya. Salah satu fitrah manusia adalah fitrah ketuhanan dan keberagamaan. Dalam diri manusia terdapat satu potensi keagamaan yang sering disebut sebaga rasa keagamaan, yaitu suatu dorongan dalam jiwa yang membentuk rasa percaya kepada sesuatu Dzat Pencipta, rasa tunduk, serta dorongan taat atas aturan-Nya. Sama halnya dengan potensi-potensi lainnya yang ada dalam diri manusia, potensi keberagamaan manusia bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, dan juga bisa hilang tertutupi. Berkembang dan tidaknya rasa agama tersebut bergantung bagaimana seseorang itu menggalinya, yaitu melalui pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa keberagamaan seseorang akan berbeda dari masa ke masa, seiring dengan pertumbuhan orang tersebut. Pada masa remaja, pertumbuhan rasa keberagamaan seiring dengan masa pertumbahan, yaitu masa transisi dari keberagamaan anak-anak yang cenderung bersifat kongkrit dan imitatif serta dooktriner menuju kedewasaaan rasa keagamaan yang mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab serta menjadikan agama sebagai dasar filsafat hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralihan dari masa kanak-kana kepada masa remaja dan kemudian ke masa dewasa ini seringkali tidak diiringi dengan pemahaman keagamaan yang sesuai, yaitu pemahaman yang sama dengan apa yang diperoleh ketika masih anak-anak. Hal ini yang kemudian memunculkan rasa ragu terhadap agama yang  dipeluknya (religious doubt). Religious doubt ini biasanya diekspresikan melalui beberapa prilaku yaitu skeptis terhadap bentuk-bentuk keagamaan, meninggalkan tuugas-tugas keagamaan dan mengkonfrontasikan anata pengetahuan dan agama. adapaun yang menjadi p[eneybab dari religious doubt adalah rasa agama masa kanak-kanak yang terbentuk melalu proses “tanpa tanya”, otoritas orangtuan, tidak adanya referensi atau pembanding, usia remaja yang sudah memasuki tahap fantasi dan kognitif abstraktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal terbut di atas, tentu kita tidak menginginkan generasi muslim kita menjadi lost generation karena jauh dari nilai-nilai agamanya. Kita juga tidak ingin mereka menjadi generasi yang justru akan memperparah kerusakan bangsa ini, karena subbanu al-yaum rijalu al-ghad, pemuda sekrang adalh pemimpin di maas datang. Untuk menangulangi hal tersebut, maka perlu kiranya kita segera menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan jasmani dan rohani remaja ke arah yang lebih baik, memberikan informasi yang konstruktif, membimbinganya dan memberikan pemahaman keagamaan sesuai dengan pertumbuhan kejiwaan mereka serta apa yang mereka butuhkan sejak dini, karena hal itu adalah benteng terbaik bagi remaja. Selain itu, para remaja juga harus diberikan bekal pengetahuan dan keterampilan memimpin (kepemimpinan) sejak dini, agar ia mengetahu tanggungjawabnya sebagai abdi (hamba) dan juga sebaga khalifah Allah di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-7766672910263266301?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/7766672910263266301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/08/tentang-remaja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7766672910263266301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/7766672910263266301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/08/tentang-remaja.html' title='Tentang Remaja'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-4448671552662052631</id><published>2008-08-17T14:45:00.003+07:00</published><updated>2008-12-23T01:04:16.324+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>Dirgahayu RI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SKfXtlPOZSI/AAAAAAAAAJQ/blAMMh_Enf0/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SKfXtlPOZSI/AAAAAAAAAJQ/blAMMh_Enf0/s200/images.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235390269931545890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;DIRGAHAYU RI 63&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-4448671552662052631?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/4448671552662052631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/08/dirgahayu-ri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/4448671552662052631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/4448671552662052631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/08/dirgahayu-ri.html' title='Dirgahayu RI'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SKfXtlPOZSI/AAAAAAAAAJQ/blAMMh_Enf0/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-2198749233567262015</id><published>2008-08-10T06:30:00.006+07:00</published><updated>2008-12-23T01:04:36.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Manusia Integralis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pada tulisan sebelumnya saya telah mengeksplorasi pemikiran Armahedi tentang integrasi ilmu. Pada tulisan ini sedikit akan dibahas tentang integrasi kepribadian atau sosok manusia integralis menurut Armahedi Mahzar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap madzhab pemikiran pastilah mempunyai satu gambaran tentang manusia yang diinginkan, yaitu sosok manusia yang ideal. Nietzsche mempunyai konsep Ubermensch untuk menunjuk sosok manusia ideal,dan Ali Syariati dengan rausyanfikr-nya. Selain itu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan sosok manusia ideal adalah istilah Insan Kamil.  Sosok-sosok inilah, menurut mereka, adalah orang-orang yang dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi satu masyarakat, dan merekalah yang berhak untuk memimpin masyarakat tersebut, karena mereka adalah orang-orang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Melihat bahwa setiap pemikir tidak lepas dari pembahasan tentang manusia, dan manusia unggul khusunya, membuktikan signifikansi hal ini dalam setiap pemikiran. Hal ini dikarenakan manusia adalah subjek yang berperan penting dalam alam ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa keberlangsungan alam ini berada ditangan manusia, baik kemakmuran dan kelestarian maupun kerusakannya. Alam ini akan lestari dan makmur jika penghuninya adalah manusia-manusia yang mempunyai berakhlak mulia, sementara jika manusia-manusia di dalamnya adalah manusia-manusia serakah, individualis, maka mereka hanya akan mempercepat kahancuran alam ini. Kebaikan atau pun keburukan  keduanya bersumber dari diri manusia, sementara kepribadian manusia ini dibentuk melalui pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pemikir lainnya, Armahedi Mahzar juga tidak lupa untuk mengkaji tentang manusia dan merumuskan konsepsi manusia ideal. Meskipun tidak terlalu banyak dia berbicara tentang hal ini, namun penulis kira cukup untuk menjelaskan pandangan Armahedi tentang sosok manusia ideal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya perjalanan intelektualnya menemukan filsafat integralisme, konsepsi manusia ideal ini juga Armahedi peroleh dari sebuah penelusuran panjang ketika dia membahas tentang struktur pemikiran Barat modern. Hal ini dikarenakan manusia sempurna adalah misteri dan juga menjadi mitos, untuk itu metode analisis strukturalisme Levi Staruss digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penyelususran ini Armahedi menemukan struktur individualita modern yang terdiri dari moralita, intelektualita, sensibilita. Moralita adalah aspek individu yang selalu berhubungan dengan salah satu segi alam cita yang bernama etika. Dengan demikan moralita berkaitan dengan prilaku atau ranah psikomotorik dalam diri manusia. Sementara intelektualita adalah kesanggupan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara sadar, dan sensibilita berkait dengan perasaan dan kejiwaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sifat strukturalisme yang menghendaki adanya posisi biner dari struktur yang ada, maka harus dicari pula struktur biner dari ketiga hal tersebut. Tiga hal yang menempati posisi biner tersebut adalah fisikalita, vegetativita dan instinktualita. Jika intelektualita berkaitan dengan cara fakir yang kesadaran manusia, maka instinktualita adalah cara fikir yang tidak berkesadaran, sebagaimana terdapat pada hewan. Jika moralita adalah aspek perilaku yang berkesadaran, maka fisik adalah aspek yang tidak berkesadaran. Demikian juga dengan sensibilita yang merupakan aspek kejiwaan yang berkesadaran, maka vegetativita adalah unsur manusia yang tidak berkeadaran yang menjaga keseimbangan antara instingtualita dan fisikalita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kemudian Armahedi mencari struktur-struktur tersebut dalam Islam. Sebagaimana sifatnya yang wasathan, struktur-struktur tersebut juga harus bisa menjadi penengah dari kedua struktur tersebut, yaitu struktur yang berkesadaran dan struktur yang tidak berkesadaran. Lalu Armahedi mangajukan tiga struktur yang ada dalam Islam, yaitu islam, ihsan dan iman. Iman adalah integrasi antara pengetahuan dogmatasi tentang yang Ghaib dan pengetauhan intleketual. Dengan demikian ia menengahi dari pengetahuan akali dan hewani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Iman menengahi antara akali dan hewani maka ihsan menegahi antara sensibilita dan vegetativita atau kalbi-nabatai. Sementara islam menjadi penengah antara fisikalita dan moralita, sehinga prilaku manusia menunjukkan akhlakul karimah. Dengan demikian akan didapatkan prisma manusia sempurna, manusia integralis sebagaimana terlihat dalam table dibawah ini.&lt;br /&gt;prisma Pribadi Muslim&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SJ4q_tESQXI/AAAAAAAAAJA/noPGM5HNHoo/s1600-h/struktur+manusia.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SJ4q_tESQXI/AAAAAAAAAJA/noPGM5HNHoo/s200/struktur+manusia.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232667090968789362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8442064597273475129-2198749233567262015?l=jendelahabibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/feeds/2198749233567262015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/08/manusia-integralis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2198749233567262015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8442064597273475129/posts/default/2198749233567262015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jendelahabibi.blogspot.com/2008/08/manusia-integralis.html' title='Manusia Integralis'/><author><name>habibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00407340724893986910</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SMrw5MjyffI/AAAAAAAAAJg/lLkKwTc3EqI/S220/kali+code.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SJ4q_tESQXI/AAAAAAAAAJA/noPGM5HNHoo/s72-c/struktur+manusia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8442064597273475129.post-1148999549029039652</id><published>2008-08-07T07:24:00.004+07:00</published><updated>2008-12-23T01:05:00.608+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Rasa Kehilangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SJpDDqbRteI/AAAAAAAAAI4/8PJ1jGLrSLk/s1600-h/rasa.jpeg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_nbY_j6bVMOM/SJpDDqbRteI/AAAAAAAAAI4/8PJ1jGLrSLk/s200/rasa.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231567647351616994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasa kehilangan hanya akan ada jika kita pernah merasa memilikinya. Lalau apa yang kita iliki sebenarnya? Manusia lahir di dunia ini hanyalah sebagatng kar, dalam keadaan bugil, tanpa sehelai kainpun yang membalutnya. Kita lahir dalam keadaan tidak punya apa-apa. Dan kita lahir dalam keadaan tak berdaya. Hanya tangis yang dapat terdengar. Yah tangisan akibat kekagetan yang bayi sat dia keluar dari rahim sang bunda. Kaget karena alam rahim yang penuh kasih sayang dan kehangatan berganti dengan alam dunia yang sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita lahir dalam keadaan miskin, fakir, lalu kita kemudin hidup dengan berbalut pakaian nan indah, berjamu dengan makanan yang lezat, dari mana kita mendapatkannya? Jika kita lahir dalam keadaan tidak berdaya, lalu kemudian kita bisa ini bisa itu, tahu ini tahu itu, dari mana semuanya datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar kita mendapatkannya dari usaha kita, dari kerja kita dari kita belara mengeja A,B,C,D, . . .dst. namun pertanyaan selanjutnya berhakkah kita mengklaim bahwa itu adalah milik kita? Dan pertanyaan yang harus dijawab terkebih dahulu adalah, kita sendiri sebenarnya milik siapa? Mungkin ada yang menjawab, bapak dan ibu saya. Bukankah merka hanya melahirkan kita? Apakah dengan melahirkan berarti dia juga memiliki kita sepenuhnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Allah menciptakan alam ini, maka alam dan isinya ini adalah milikinya. Dengan demikian kita pada nhakikatmnya juga adalah milik sang pencipta. Begitu juga alam dan seluruh isinya ini? Lalau apa yang kita miliki sebenarnya juga adalah milik Allah, bahkan diri kita sendiri juga adalah milik Allah. Kita ketia mengaku
